Google search engine
Beranda blog Halaman 50

TMMD ke-127 Perkuat Desa Cipelah Jadi Desa Siaga Bencana

0

BANDUNG (Aswajanews) – Komitmen membangun desa tidak hanya diwujudkan lewat pembangunan fisik, tetapi juga penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Hal itu terlihat dalam kegiatan pelatihan mitigasi dan tanggap darurat yang digelar di Aula Kantor Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Rabu (18/2/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Tahun 2026 yang menggandeng BPBD Kabupaten Bandung dalam penguatan kapasitas masyarakat tingkat desa.

Sekitar 60 peserta mengikuti pelatihan tersebut, terdiri dari unsur perangkat desa, Babinsa, perwakilan Kodim 0624/Kabupaten Bandung, kepala dusun, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader PKK hingga Linmas. Kehadiran lintas elemen ini menunjukkan keseriusan membangun sistem penanggulangan bencana berbasis kolaborasi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Diki Sudrajat, S.T., M.Si., menegaskan bahwa wilayah Rancabali memiliki karakter geografis berbukit dengan intensitas hujan cukup tinggi.

Kondisi tersebut membuat potensi bencana seperti tanah longsor, banjir, dan angin kencang perlu diantisipasi sejak dini.

“Mitigasi bukan hanya soal penanganan saat bencana terjadi, tetapi bagaimana masyarakat mampu mengenali risiko, menyiapkan langkah pencegahan, hingga memahami prosedur evakuasi,” ujarnya.

Ia menekankan, desa tangguh bencana harus memiliki sistem pelaporan cepat, koordinasi yang jelas, serta kesiapan sumber daya manusia yang memadai.

Pelatihan ini menjadi fondasi awal membentuk pola pikir siaga di tingkat akar rumput.

Sementara itu, Sekretaris Desa Cipelah, Rosidin, menyampaikan bahwa program TMMD memberikan dampak signifikan bagi desa, karena tidak hanya menyentuh pembangunan infrastruktur, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat.

“Ketika aparatur desa dan warga memiliki pemahaman yang sama tentang risiko dan penanganan bencana, maka respon akan lebih cepat dan terarah,” katanya.

Materi pelatihan mencakup pemetaan risiko bencana desa, langkah mitigasi berbasis lingkungan, prosedur tanggap darurat, serta perlindungan kelompok rentan.

Selain itu, peserta juga didorong membangun koordinasi antarwilayah dusun agar sistem peringatan dan pelaporan berjalan efektif.

Melalui kegiatan ini, sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan pemerintah desa semakin diperkuat.

Harapannya, Desa Cipelah mampu menjadi contoh desa yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga siap menghadapi berbagai potensi ancaman bencana secara mandiri dan terorganisir. (Red)

Jelang Ramadan, Asep Saefulloh Tekankan Penguatan Layanan KUA dan Tata Kelola Zakat

0
H. Asep Saefulloh, Plt Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bandung

BANDUNG (Aswajanews.id) – Pelaksana Tugas Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bandung, H. Asep Saefulloh, menegaskan pentingnya penguatan layanan keagamaan menjelang Ramadan 1447 H, terutama pada Kantor Urusan Agama (KUA) dan pengelolaan zakat di wilayah Kabupaten Bandung.

“Kami telah menyampaikan arahan dan pembinaan agar pelayanan di KUA terus ditingkatkan, terlebih di bulan suci Ramadan. Bukan hanya pelayanan rutinitas, tetapi juga peningkatan kegiatan keagamaan dan sosial,” ujarnya, Rabu, 18 Februari 2026, di kantor tempat ia bertugas.

Menurut Asep, Ramadan merupakan momentum penting bagi jajaran Kementerian Agama untuk memperkuat fungsi pelayanan publik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karena itu, seluruh KUA di Kabupaten Bandung diminta menjaga kesiapan layanan, baik dari sisi administrasi, pembinaan umat, maupun aktivitas sosial keagamaan.

Ia menyebut, pembinaan internal telah dilakukan sebagai langkah antisipatif agar layanan berjalan optimal selama periode dengan intensitas kegiatan keagamaan yang meningkat. Selain pelayanan pernikahan dan administrasi keagamaan, KUA juga didorong mengisi Ramadan dengan kegiatan edukatif dan sosial yang memberi dampak langsung bagi warga.

Dalam aspek pengelolaan zakat, Asep menekankan pentingnya koordinasi lintas pemangku kepentingan. Menurutnya, sinergi dengan berbagai pihak diperlukan agar penghimpunan dan pendistribusian zakat tetap berjalan tertib serta sesuai regulasi yang berlaku.

Ia menambahkan, tata kelola zakat harus dilaksanakan secara profesional dan akuntabel, mengingat dana yang dihimpun berasal dari kepercayaan masyarakat. Karena itu, penguatan komunikasi dan pengawasan menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik.

Di sisi lain, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di lingkungan Kemenag Kabupaten Bandung dijadwalkan menggelar program “Gebyar Ramadan”. Kegiatan tersebut antara lain berupa pembagian sembako kepada anak yatim, dhuafa, dan lansia di sekitar kantor serta pada satuan kerja di bawah naungan Kemenag.

Terkait evaluasi internal pelayanan KUA maupun pengelolaan zakat dalam enam bulan terakhir, ia menyampaikan bahwa pembinaan dan penguatan koordinasi terus dilakukan sebagai bagian dari proses peningkatan kualitas layanan. Upaya tersebut, menurutnya, menjadi komitmen berkelanjutan dalam menjaga standar pelayanan publik di lingkungan Kementerian Agama.

Dengan sejumlah langkah tersebut, Kemenag Kabupaten Bandung berharap pelayanan keagamaan selama Ramadan 1447 H dapat berjalan lancar serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

(Reporter: Uus)

Viral di Medsos, Warga Grebeg Pedagang Obat Terlarang di desa Lemah makmur Tempuran Karawang

0

KARAWANG (Aswajanews) – Puluhan warga Desa Lemahmakmur Kecamatan Tempuran Kabupaten Karawang menggeruduk sebuah warung yang diduga menjual obat-obat terlarang jenis hexymer dan tremadol (obat golongan opioid—narkotika sintetis).yang terletak di Dusun Wagirserut RT 03/RW 01, Selasa sore 17 Pebruari 2026.

Warga yang didominasi emak-emak didampingi pemerintah desa setempat geruduk “Kios Aceh” itu karena geram, kesal dan sudah meresahkan masyarakat lantaran kios obat tersebut, jelas-jelas meracuni masa depan anak-anak remaja.

Situasi hampir tidak bisa dibendung, warga menemukan bukti obat terlarang lalu membantingnya karena sudah terlalu lama menahan dan menunggu momen yang tepat untuk menggeruduk peredaran obat terlarang itu.

Sumber di lokasi menyatakan kekhawatirannya, karena sebagian besar pembeli obat-obatan itu anak-anak dan remaja.

“Kami khawatir generasi kedepan akan rusak mentalnya karena mengkonsumsi obat-obatan yang tidak seharusnya mereka konsumsi. Itu kan obat-obat yang dilarang.” Kata sumber.

Warga, meminta agar aparat pemerintah untuk secepatnya bertindak dan mengambil langkah pencegahan.

“Karena, jika dibiarkan berlarut-larut, bagaimana nasib anak-anak ke depan ? Harus keluar dari kampung ini sekarang juga,” ujar salah satu warga dengan kesal.

Sampai berita ini dipublikasikan, Selasa (17/2/2026), warga masih menunggu pihak Kepolisian.

“Karena kasus seperti itu banyak terjadi di beberapa wilayah di kabupaten Karawang, terkonfirmasi ada sekitar 70-an kios obat yang beroperasi, walau beberapa sudah digerebek oleh warga tapi mereka seakan hilang satu tumbuh seribu,” ungkap seorang warga yang tidak ingin disebut namanya.

Terkonfirmasi, bahwa peredaran obat keras dengan berkedok kios pulsa, barang-barang sembako, dan lain-lain itu seakan lenggang kangkung, lantaran peredarannya seperti baik-baik saja, jauh dari pantauan pihak berwajib, seolah semua sudah terstruktur rapih dengan jaringan masif tanpa ada yang ‘mengganggu’.


Sementara, warga masih menunggu tindakan cepat aparat Kepolisian setempat. Sebagian warga berujar, apa perlu melapor sama Damkar ?
(Ahmad Z)

Gudang Sunyi, Barang Impor Menumpuk: Ada Apa dengan Penegakan Hukum?

0

BANDUNG (Aswajanews) – Aktivitas distribusi barang impor di kawasan pergudangan Pasar Induk Gedebage, Kota Bandung, terhenti hampir tujuh bulan. Meski demikian, sisa bal-bal pakaian impor masih terlihat tersimpan di dalam gudang, memunculkan tanda tanya besar terkait status dan legalitasnya.

Pantauan di lokasi, Senin (16/02/2026), tepatnya di Blok A25, menunjukkan sejumlah bal pakaian impor masih tersusun rapi. Beberapa di antaranya telah terbuka. Namun, tidak terlihat aktivitas bongkar muat maupun kendaraan distribusi seperti yang sebelumnya rutin keluar-masuk kawasan tersebut.
Seorang pemilik kantin di sekitar lokasi mengungkapkan bahwa suasana kawasan pergudangan mendadak sepi sejak pertengahan tahun lalu.

“Sudah hampir tujuh bulan tidak ada pengiriman. Dulu truk keluar masuk terus, sekarang kosong,” ujarnya.

Saat awak media mencoba melakukan konfirmasi langsung ke salah satu gudang, terlihat masih ada sejumlah bal barang impor tersimpan di dalam. Namun, situasi sempat memanas.

Seorang penjaga gudang menyebut barang tersebut milik “orang luar”. Ia juga meminta awak media menghapus dokumentasi yang telah diambil serta segera meninggalkan lokasi.

Sikap tertutup tersebut justru menimbulkan pertanyaan publik: mengapa dokumentasi harus dihapus jika aktivitas tersebut legal dan tidak bermasalah?

Dasar Hukum dan Kewenangan Negara
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan (perubahan atas UU Nomor 10 Tahun 1995), setiap barang impor yang masuk ke wilayah pabean Indonesia wajib melalui prosedur kepabeanan, termasuk pemberitahuan pabean, pembayaran bea masuk, serta pengawasan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Selain itu, Pasal 23A UUD 1945 menegaskan bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang. Artinya, setiap aktivitas impor bukan hanya persoalan perdagangan, tetapi juga menyangkut kewajiban penerimaan negara.

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap arus barang impor guna melindungi industri dalam negeri serta memastikan optimalisasi penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan perpajakan.

Jika benar barang tersebut merupakan sisa impor lama, publik berhak mengetahui:
Apakah barang telah melalui proses kepabeanan yang sah?
Apakah kewajiban bea masuk dan pajaknya telah dipenuhi?
Mengapa distribusi terhenti, namun stok masih tersimpan berbulan-bulan?

Perlu Transparansi dan Penegakan Hukum
Penghentian aktivitas selama tujuh bulan tanpa penjelasan resmi membuka ruang spekulasi. Apakah ini dampak pengetatan impor? Ataukah terdapat persoalan administrasi dan perizinan?

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pengelola gudang maupun instansi berwenang di wilayah Kota Bandung terkait status barang tersebut.
Jika ditemukan pelanggaran, aparat penegak hukum dan otoritas kepabeanan wajib bertindak tegas. Persoalan impor ilegal atau penyimpanan barang tanpa kejelasan status bukan sekadar urusan pergudangan, melainkan menyangkut kepastian hukum, perlindungan pelaku usaha lokal, serta potensi kerugian negara.

Media ini akan terus menelusuri fakta di balik keberadaan bal-bal barang impor yang masih tersimpan di kawasan Pasar Induk Gedebage. Publik menunggu kejelasan.
(Red)

Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada hasil Sidang Isbat (penetapan) 1 Ramadan 1447 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

“Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” ujar Menag dalam konferensi pers usai Sidang Isbat.

“Musyawarah mengacu pada hasil hisab dan rukyat yang dilakukan oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama dan ormas-ormas Islam, serta dikonfirmasi oleh petugas pengamat di sedikitnya 96 titik pengamatan di seluruh Indonesia,” terangnya.

Menag menjelaskan, berdasarkan paparan, ketinggian hilal di seluruh wilayah NKRI masih berada di bawah ufuk, dengan rentang antara -2° 24‘ 43“ (-2,41°) hingga -0° 55‘ 41“ (-0,93°). Sementara itu, sudut elongasi berada pada kisaran 0° 56‘ 23“ (0,94°) hingga 1° 53‘ 36“ (1,89°).

Artinya, secara hisab, posisi hilal di seluruh wilayah NKRI belum memenuhi kriteria Visibilitas Hilal yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu tinggi hilal minimum 3° dan sudut elongasi minimum 6,4°.

“Dengan demikian, bukan hanya belum memenuhi kriteria imkan rukyat, tetapi secara astronomis hilal belum mungkin terlihat, sehingga secara hisab data hilal hari ini tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS,” jelas Menag.

Pertimbangan kedua, hasil hisab tersebut terkonfirmasi oleh laporan para perukyat yang diturunkan Kementerian Agama. Tahun ini, rukyat dilaksanakan di 96 titik pengamatan yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

“Tidak ada laporan hilal terlihat dari seluruh titik pengamatan. Bahkan di negara-negara Islam lainnya, belum ada yang memenuhi kriteria imkan rukyat, dan kalender Hijriah Global versi Turki pun tidak memulai Ramadan esok hari,” ujar Menag.

“Berdasarkan hasil hisab dan tidak adanya laporan rukyat hilal, Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” tegas Menag.

Menag berharap keputusan ini memungkinkan seluruh umat Islam di Indonesia memulai ibadah puasa secara bersama-sama. “Semoga momentum ini menjadi simbol kebersamaan umat Islam sekaligus mencerminkan persatuan kita sebagai anak bangsa dalam menyongsong masa depan yang lebih baik,” pesannya.

“Apabila terdapat sebagian umat Islam yang memiliki keyakinan berbeda dalam penetapan awal Ramadan, kami mengimbau agar perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan. Jadikan perbedaan sebagai kekayaan dan mozaik indah bangsa Indonesia. Kita sudah berpengalaman hidup dalam perbedaan, tetapi tetap kokoh dalam persatuan,” tuturnya.

Turut membersamai Menag, Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i, Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang, Ketua Umum MUI Anwar Iskandar, dan Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad.

Sidang Isbat juga dihadiri oleh para pimpinan ormas Islam, para ahli falak dan astronomi dari perguruan tinggi, serta perwakilan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Informasi Geospasial, Planetarium Jakarta, dan anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.

(Biro Humas dan Komunikasi Publik)

Dishub Karawang Tutup Permanen Akses Jalan Irigasi Bendasari Usai Kecelakaan Maut

0

KARAWANG (Aswajanews) – Dinas Perhubungan Kabupaten Karawang memastikan akses Jalan Irigasi di Kampung Bendasari, Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, ditutup secara permanen menyusul kecelakaan maut yang melibatkan truk kontainer dan mobil sedan hingga menewaskan tiga orang.

Penutupan dilakukan di dua arah sekaligus, yakni dari Jalan Baru menuju ke bawah maupun dari arah bawah menuju Jalan Baru. Kebijakan ini diambil sebagai langkah tegas untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa di ruas jalan yang dinilai tidak layak dilintasi kendaraan bertonase besar.

Kepala Dishub Karawang, Muhana, menegaskan bahwa jalan tersebut merupakan jalan kabupaten yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan berat. Kondisi geometrik jalan yang sempit serta memiliki kontur menurun dinilai sangat berisiko apabila tetap dilintasi truk besar.

“Akses jalan dari Jalan Baru menuju ke bawah maupun dari bawah menuju Jalan Baru akan ditutup permanen. Ini sesuai arahan kepolisian karena jalan tersebut bukan jalur untuk kendaraan berat,” ujar Muhana, Senin (16/2/2026).

Keputusan tersebut merupakan tindak lanjut hasil koordinasi dengan aparat kepolisian sebagai bagian dari upaya preventif pascakecelakaan tragis yang merenggut tiga korban jiwa. Dishub menilai keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan lalu lintas di wilayah tersebut.


Pada hari yang sama, petugas Dishub juga melakukan evakuasi terhadap mobil sedan yang tertimpa truk kontainer di lokasi kejadian. Proses pengangkutan dilakukan pada Senin siang dengan menerjunkan sejumlah personel serta kendaraan derek guna mempercepat penanganan.

Mobil sedan korban telah berhasil dievakuasi dan selanjutnya dibawa ke Polres Karawang untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, truk kontainer yang terlibat kecelakaan masih berada di lokasi kejadian karena proses evakuasinya harus menunggu muatan dikeluarkan terlebih dahulu.

Dishub Karawang menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Unit Lalu Lintas Polres Karawang untuk melakukan rekayasa lalu lintas di sekitar ruas jalan tersebut seiring pemberlakuan penutupan permanen. Rekayasa arus kendaraan diperlukan guna memastikan kelancaran mobilitas warga sekaligus mencegah kemacetan di titik-titik alternatif.

Selain penutupan akses, Dishub juga mengimbau masyarakat, khususnya pengemudi kendaraan besar, agar mematuhi rambu dan ketentuan kelas jalan yang telah ditetapkan. Pengendara diminta memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan laik jalan serta menjaga kebugaran fisik sebelum melakukan perjalanan.

“Kami mengingatkan kepada seluruh pengguna jalan untuk selalu mengutamakan keselamatan. Pastikan kendaraan dalam kondisi baik dan pengemudi dalam keadaan prima. Jangan memaksakan melintas di jalur yang bukan peruntukannya,” tegas Muhana.

Penutupan permanen akses Jalan Irigasi Bendasari ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam meningkatkan keselamatan berlalu lintas di wilayah Karawang Timur, sekaligus menjadi peringatan agar setiap pengguna jalan lebih disiplin terhadap aturan dan fungsi kelas jalan.

(Ahmad Z)

Insan Pers dan Prima Kolaborasi Gelar Bakti Sosial, Jelang Bulan Ramadhan

0

BANDUNG (Aswajanews) – Organisasi Pemuda keagamaan Perhimpunan Remaja Mesjid (Prima) menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan insan pers dalam mengawal pembangunanu di Kabupaten Bandung. Hal ini disampaikan oleh Pembina Prima Citeureup Dayeuhkolot bapak Adi, di sela-sela acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang diselenggarakan oleh Insan Pers Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kab.Bandung yang berlangsung di Desa Tribakti Pangalengan, Senin (16/2/2026).

​Kegiatan yang berlangsung di Desa Tribakti Mulya, Kecamatan Pangalengan tersebut diisi dengan aksi sosial pembagian sembako kepada masyarakat setempat. Acara ini juga menjadi momentum menyambut bulan suci Ramadhan melalui kolaborasi nyata antara jurnalis dan organisasi kepemudaan.

​ Dalam kehadirannya, Adi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas undangan kolaborasi dari PWI. Ia menilai peran pers sangat krusial dalam kemajuan daerah.

​”Kami sangat mendukung acara tersebut guna untuk lebih meningkatkan hubungan antara pers dan masyarakat, serta bersinergi dalam pembangunan di Kabupaten Bandung,” ujar Adi.

​Ia juga menambahkan bahwa sejauh ini hubungan antara Prima dan insan pers di Kabupaten Bandung berjalan sangat harmonis dan saling mendukung.

Dirinya menekankan ​komitmen sosial dan lingkungan ​selain berpartisipasi dalam bakti sosial HPN, Prima juga tengah bersiap melaksanakan serangkaian aksi nyata lainnya.

Adi mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat, Prima akan fokus pada kegiatan bantuan kemanusiaan dan lingkungan.

Dirinya menjelaskan ada ​beberapa agenda prioritas Prima meliputi dalam ​penanganan banjir dimana ini melakukan aksi bantuan dalam rangka penanganan banjir di wilayah Dayeuhkolot.

Selain itu ada ​Kegiatan prioritas Lingkungan melaksanakan berbagai aktivitas bertema lingkungan hidup secara berkesinambungan dalam Sinergi Pentahelix untuk memperkuat kerja sama lintas sektor untuk membantu program-program pemerintah dan kebutuhan masyarakat.

​Menutup pembicaraannya, Adi berharap agar kegiatan sosial seperti yang dilakukan Insan Pers PWI ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan untuk membantu meringankan beban masyarakat.***

HPN 2026 di Kabupaten Bandung: Saat Wartawan Turun Tangan Menyapa Warga

0
Umi Romlah, warga Desa Gandasari, memanjatkan doa pada HPN 2026 di Kabupaten Bandung

BANDUNG (Aswajanews.id) – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kabupaten Bandung tidak berhenti pada seremoni. Senin (16/2/2026), sejumlah insan pers memilih turun langsung ke masyarakat, menyalurkan bantuan sosial di dua titik berbeda sebagai bagian dari refleksi peran pers di tengah kehidupan sosial.

Di Lapangan Tok Tak, RT 06 RW 04 Desa Gandasari, Kecamatan Katapang, bantuan sembako dibagikan kepada warga menjelang Ramadan. Suasana berlangsung sederhana, tanpa panggung besar dan tanpa protokoler berlebihan. Wartawan yang sehari-hari terbiasa memegang alat rekam dan buku catatan, kali ini tampak memanggul paket bantuan dan menyapa warga satu per satu.

Ketua RW 04 Desa Gandasari, Dadang SOG, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai kehadiran insan pers secara langsung di lingkungan warga menjadi pesan tersendiri bahwa profesi wartawan tidak terpisah dari realitas sosial masyarakat.

“Ini bukan hanya soal bantuan, tapi perhatian. Warga merasa diperhatikan,” ujarnya di sela kegiatan.

Salah seorang warga, Umi Romlah, bahkan menyampaikan doa secara langsung di lokasi pembagian. Ia berharap para wartawan yang terlibat diberikan kelancaran dan keberkahan dalam menjalankan tugasnya. Doa itu terucap spontan, mencerminkan kedekatan yang terbangun dalam suasana yang hangat.

Rangkaian kegiatan berlanjut di Gedung Aula Desa Tribakti Mulya, Kecamatan Pangalengan. Di lokasi tersebut, peringatan HPN juga ditandai dengan potong tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Momentum itu tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga ruang silaturahmi antara pers dan unsur pemerintahan desa.

Kepala Dusun Desa Tribakti Mulya yang mewakili pemerintah desa menyampaikan apresiasi atas langkah sosial yang dilakukan. Menurutnya, kolaborasi seperti ini menjadi contoh bahwa elemen masyarakat dapat berjalan beriringan.

Ucapan terima kasih juga disampaikan Ibu Ai, warga Kampung Ciruntah RT 3 RW 04. Ia mengaku bantuan tersebut terasa berarti menjelang Ramadan, ketika kebutuhan rumah tangga meningkat.

Insan pers dan warga berfoto usai penyaluran bantuan HPN 2026 di Desa Tribakti Mulya

Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari organisasi kepemudaan Prima Citeureup Dayeuhkolot. Pembinanya, Adi, menegaskan bahwa sinergi antara pemuda dan insan pers perlu terus dirawat, terutama dalam kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan warga.

Koordinator kegiatan, H. Asep Sahrial atau Kang Awing, mengatakan bahwa aksi sosial tersebut merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan, bukan agenda satu kali. Ia menyebut insan pers Kabupaten Bandung berencana melanjutkan kegiatan berbagi takjil selama Ramadan mendatang dengan sasaran masyarakat di sejumlah titik, termasuk para pengemudi ojek.

“Insyallah kita lanjutkan di bulan Ramadan. Pers harus hadir, bukan hanya memberitakan, tapi juga berbagi. Salam Bedas untuk rekan-rekan semua — Bedas, Bedas, Bedas wel,” ujarnya.

Di tengah berbagai dinamika yang mengiringi dunia pers, langkah sederhana ini menjadi pengingat bahwa kekuatan utama wartawan tetap terletak pada kedekatan dengan publik. HPN 2026 di Kabupaten Bandung pun dimaknai bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan penguatan fungsi sosial yang terus dijaga.

(Reporter: Uus)

Berkah HPN 2026, Suara Terima Kasih Ojek Pangkalan untuk Insan Pers Kabupaten Bandung

0

BANDUNG (Aswajanews) – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kabupaten Bandung diisi dengan aksi nyata. Kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Insan Pers menggelar bakti sosial dengan menyalurkan ratusan paket sembako kepada warga di Kecamatan Katapang dan Pangalengan, menjelang Ramadan 1447 Hijriah.

Kegiatan yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung itu diawali di Desa Gandasari, Kecamatan Katapang. Sebanyak 250 paket sembako dibagikan kepada warga lanjut usia dan masyarakat kurang mampu.

Aksi kemudian berlanjut ke Desa Tribaktimulya, Kecamatan Pangalengan. Selain kaum ibu dan warga prasejahtera, bantuan juga menyasar para pengemudi ojek pangkalan yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari jasa angkutan lokal.

Koordinator kegiatan, H. Asep Syahrial yang akrab disapa Haji Awing, mengatakan peringatan HPN seharusnya tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum memperkuat kepedulian sosial.

“Kami ingin Hari Pers Nasional menjadi momen berbagi. Wartawan bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga hadir dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Haji Awing, di lokasi Kegiatan Desa Tribakti Mulya, Pangalengan Senin 16/02/2025.

Ucapan terima kasih pun mengalir dari para penerima manfaat. Tidak hanya dari kalangan emak-emak, tetapi juga para tukang ojek pangkalan di Desa Tribaktimulya.

Salah seorang pengemudi ojek pangkalan menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima menjelang Ramadan.

“Kami para ojek pangkalan mengucapkan terima kasih kepada Insan Pers Kabupaten Bandung dan khususnya kepada Bapak H. Asep Syahrial yang akrab disapa Haji Awing. Alhamdulillah, menjelang Ramadan kami mendapat berkah sembako dari kegiatan Hari Pers Nasional ini. Bantuan ini sangat berarti bagi kami dan semoga menjadi amal kebaikan untuk semuanya,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.

Dengan mengusung semangat “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat,” peringatan HPN 2026 di Kabupaten Bandung diharapkan tidak hanya memperkuat peran pers sebagai pilar demokrasi, tetapi juga sebagai bagian dari solusi sosial di tengah masyarakat.***

Pawai Ta’aruf Sambut Ramadhan 1447 H, Warga Nahdliyyin Kedawon Tebar Syiar Islam

0
Ketua Tanfidziyah NU Kedawon, Sya’roni Ika, SH.

BREBES (Aswajanews) – Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) bersama warga Nahdliyyin Desa Kedawon menggelar Pawai Ta’aruf yang berlangsung semarak dan penuh khidmat, Senin sore (16/02). Kegiatan ini menjadi momentum syiar Islam sekaligus ajang mempererat ukhuwah antarwarga.

Ratusan peserta yang terdiri dari pelajar, badan otonom (banom) NU, ibu-ibu Muslimat, Fatayat, lembaga pendidikan, serta masyarakat umum tampak antusias mengikuti pawai yang mengambil rute mengelilingi wilayah desa. Dengan membawa spanduk dan poster bertema Ramadhan, bendera NU, serta diiringi lantunan shalawat dan takbir, pawai berlangsung tertib dan penuh kegembiraan.

Ketua Tanfidziyah NU Kedawon, Sya’roni Ika, SH., menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak, khususnya PR Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kedawon yang menjadi motor penggerak terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Pawai Ta’aruf merupakan tradisi tahunan warga Nahdliyyin Kedawon dalam menyambut bulan penuh berkah.

“Selain sebagai ungkapan rasa syukur, kegiatan ini juga menjadi sarana dakwah kultural yang ramah dan membumi, sesuai dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Mudah-mudahan kita semua yang hadir di sini tergolong orang-orang yang berbahagia menyambut bulan suci Ramadhan,” ujarnya.


Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW: “Man fariha bi dukhuli Ramadhan, harramallahu jasadahu ‘alan niran” yang bermakna bahwa barang siapa bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka. Rasulullah SAW juga menyampaikan kabar gembira bahwa Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan; pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

“Pawai ini bukan sekadar arak-arakan. Kita tetap menjaga etika sebagai warga Nahdlatul Ulama. Ini adalah bentuk syiar Islam dan pengingat bagi kita semua agar mempersiapkan diri lahir dan batin menyambut Ramadhan,” pungkasnya.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari para kiai, pengurus ranting NU, serta tokoh pemuda desa. Kehadiran mereka menjadi penyemangat tersendiri bagi generasi muda untuk terus mencintai tradisi keagamaan yang diwariskan para ulama.

Doa bersama dipimpin oleh Rais Syuriah PRNU Kedawon, Kyai Abdul Mukhit.

Sebagai informasi, pawai dimeriahkan sejumlah grup drumband dari MI Miftahul Athfal 01 Kedawon, MI Miftahul Athfal 02 Kedawon, MI Al Umariyyah Kedawon, SDN Kedawon, rombongan MTs Miftahul Ulum, TK Mashitoh NU Al Hikam Kedawon, serta grup drumband Syubbanul Wathon PR GP Ansor Banser Dusun Kedawon.

Dengan mengusung semangat kebersamaan dan cinta Ramadhan, Pawai Ta’aruf warga Nahdliyyin Kedawon diharapkan mampu menumbuhkan semangat ibadah, memperkuat persaudaraan, serta menjaga tradisi keislaman khas Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat.

(Pewarta: A’isy Hanif Firdaus)

Ahmad Tarmizi: “Barisan Terdepan” Transparansi Publik di Jawa Barat

0
Ahmad Tarmizi, S.E, Aktifis dan Penggiat Anti Rasuah

BANDUNG (Aswajanews.id) – Di tengah panggung politik Jawa Barat yang kerap diwarnai retorika tanpa substansi, Ahmad Tarmizi, S.E., tampil sebagai antitesis. Aktivis lintas zaman ini secara tegas memposisikan diri sebagai “Barisan Terdepan” dalam menjaga transparansi publik, membawa semangat disiplin militer ke dalam perjuangan melawan ketidakadilan sistemik.

Lahir dan besar di lingkungan asrama militer sebagai putra Pelda CPM (Purn) Moch. Alwi, Tarmizi ditempa dalam kultur ketegasan dan integritas. Karakter “Anak Kolong” yang melekat padanya bukan sekadar identitas sosial, melainkan kompas moral dalam menavigasi kerasnya intrik politik.

“Kejujuran dan ketegasan adalah warisan terbesar ayah saya. Di lapangan, nilai itu harga mati,” tegas Tarmizi, yang kini tengah menempuh studi Magister Manajemen SDM di ARS University.

Produk Pergolakan Sejarah

Tarmizi bukan figur instan hasil polesan citra. Ia lahir dari dinamika perjuangan panjang:

  • Panglima Jalanan – Memimpin Serikat Mahasiswa Untuk Rakyat saat gelombang Reformasi 1998, mempertaruhkan keselamatan demi perubahan politik nasional.

  • Mata Rakyat – Mendirikan LSM Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) pada 2018, dengan misi mengawal kebijakan dan membongkar inefisiensi birokrasi.

  • Pena Tajam – Meluncurkan Media Jurnal Tipikor pada 2023, menjadikan data sebagai instrumen utama dalam mengungkap praktik korupsi.

Memasuki 2026, Tarmizi kembali melakukan manuver strategis dengan mendirikan Komunitas Peci Hitam. Bagi dirinya, komunitas ini bukan sekadar wadah sosial, melainkan gerakan moral yang menyinergikan religiusitas dan nasionalisme demi mengembalikan “hati nurani” dalam praktik politik daerah.

Gagasan, Bukan Sekadar Jabatan

Sebagai salah satu figur yang turut membidani lahirnya Partai NasDem di Cimahi, Tarmizi memahami bahwa perubahan sistemik membutuhkan jalur struktural. Pengalamannya sebagai calon legislatif pada 2019 memperlihatkan bahwa baginya, politik adalah sarana memperjuangkan gagasan pro-rakyat, bukan sekadar kompetisi meraih kursi kekuasaan.

Kini, dengan latar belakang ekonomi, kedisiplinan lapangan, serta kekuatan media sebagai alat kontrol sosial, Ahmad Tarmizi menegaskan posisinya sebagai salah satu tokoh paling vokal dalam mendorong pembersihan sistem pemerintahan di Jawa Barat.

Ia tidak sekadar mengamati. Ia mengawasi.

(Red)

Tragedi di Kolong Jembatan CKM: Kontainer Masuk Jalan Sempit, Tiga Nyawa Melayang

0

KARAWANG (Aswajanews) — Suasana Minggu malam di kawasan jalan irigasi Bandasari mendadak berubah mencekam. Sebuah kecelakaan maut terjadi di Kolong Jembatan Perum Citra Kebun Mas (CKM) pada Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Peristiwa tersebut merenggut tiga korban jiwa dan menyisakan duka mendalam bagi warga sekitar.

Menurut keterangan Kasat Lantas Polres Karawang, AKP Sudirianto, SH., MM., polisi telah mengamankan sopir kontainer beserta seluruh barang bukti ke Mapolres.

“Kami sudah mengamankan sopir kontainer dan barang bukti, kemudian melaporkan kejadian ini, dan semuanya saat ini berada di Polres Karawang,” ujar AKP Sudirianto.

Proses evakuasi berlangsung dramatis. Petugas dibantu warga harus bekerja selama kurang lebih 2,5 jam untuk mengevakuasi korban serta mengamankan kendaraan. Lokasi yang sempit dan minim pencahayaan membuat penanganan berjalan penuh kehati-hatian.

Fakta mencengangkan terungkap: jalur tersebut bukan peruntukan kendaraan besar. Namun kontainer bermuatan minyak goreng justru masuk ke jalan sempit di bawah jembatan.

Polisi menduga kendaraan diarahkan oleh seseorang di lokasi (pak ogah) hingga akhirnya terjadi kecelakaan fatal.

“Kami akan memanggil saksi-saksi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Muatan kendaraan berupa minyak goreng yang akan dibawa ke gudang,” tambahnya.

Peristiwa ini membuat warga sekitar syok. Lokasi yang selama ini hanya dilalui kendaraan kecil mendadak menjadi titik maut. Banyak warga kini mempertanyakan pengawasan jalur serta keberadaan pengarah jalan liar yang kerap berdiri di kawasan tersebut.

Pihak kepolisian menegaskan penyelidikan masih berlangsung guna memastikan kronologi dan penyebab pasti kecelakaan.

Sementara itu, aparat mengimbau pengemudi kendaraan besar agar tidak memasuki jalur permukiman tanpa panduan resmi, demi mencegah tragedi serupa terulang kembali. (Red)

Megengan, Tradisi Sejarah Budaya Lokal Desa yang Lestari Kirim Doa Leluhur Sambut Bulan Suci Ramadan

0
Ditulis oleh Handika.SP, mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Prodi Sejarah

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan kembali menggelar tradisi Megengan sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus ungkapan rasa syukur dalam menyambut bulan penuh berkah.

Megengan merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Jawa yang dilaksanakan menjelang Ramadan. Di Desa Pelem, tradisi ini diisi dengan kegiatan kirim doa untuk arwah leluhur yang dilakukan secara bergantian di setiap rumah warga. Pelaksanaan doa dibagi berdasarkan kelompok lingkungan atau perwilayahan, sehingga seluruh masyarakat dapat berpartisipasi secara tertib dan merata.

Setiap malam menjelang Ramadan, satu rumah menjadi tuan rumah pelaksanaan doa bersama. Warga sekitar berkumpul dengan membawa hidangan sederhana seperti nasi berkat, apem, dan jajanan tradisional yang kemudian didoakan serta dibagikan kepada jamaah yang hadir. Suasana khidmat terasa saat lantunan tahlil dan doa dipanjatkan bersama, menciptakan nuansa religius yang hangat dan penuh kebersamaan.

Selain dilaksanakan dari rumah ke rumah, sebagian warga juga menggelar Megengan di masjid dan langgar (musala) setempat. Tradisi ini menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga sekaligus menguatkan nilai-nilai spiritual sebelum memasuki bulan Ramadan.

Prosesi doa biasanya dipimpin oleh tokoh adat desa yang juga dikenal sebagai ulama lokal. Kehadirannya menjadi simbol perpaduan antara nilai budaya dan ajaran agama yang berjalan harmonis di tengah masyarakat. Dalam tausiyah singkatnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan, memperbanyak ibadah, serta membersihkan hati sebelum memasuki Ramadan.

Kepala Desa Pelem menyampaikan bahwa tradisi Megengan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan warisan budaya yang sarat makna. “Melalui Megengan, kita diajak untuk mendoakan leluhur, mempererat persaudaraan, dan mempersiapkan diri secara lahir dan batin menyambut Ramadan,” ujarnya.

Warga berharap tradisi Megengan di Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Bagi masyarakat setempat, Megengan bukan hanya bagian dari budaya, tetapi juga identitas dan wujud kebersamaan dalam menyongsong bulan suci Ramadan. ***

Tragedi di Kolong Jembatan CKM: Kontainer Masuk Jalan Sempit, Tiga Nyawa Melayang

0
Kasat Lantas Polres Karawang, AKP Sudirianto, SH., MM.

KARAWANG (Aswajanews) — Suasana Minggu malam di kawasan jalan irigasi Bandasari mendadak berubah mencekam. Sebuah kecelakaan maut terjadi di Kolong Jembatan Perum Citra Kebun Mas (CKM) pada Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Peristiwa tersebut merenggut tiga korban jiwa dan menyisakan duka mendalam bagi warga sekitar.

Menurut keterangan Kasat Lantas Polres Karawang, AKP Sudirianto, SH., MM., polisi telah mengamankan sopir kontainer beserta seluruh barang bukti ke Mapolres.

“Kami sudah mengamankan sopir kontainer dan barang bukti, kemudian melaporkan kejadian ini, dan semuanya saat ini berada di Polres Karawang,” ujar AKP Sudirianto.


Proses evakuasi berlangsung dramatis. Petugas dibantu warga harus bekerja selama kurang lebih 2,5 jam untuk mengevakuasi korban serta mengamankan kendaraan. Lokasi yang sempit dan minim pencahayaan membuat penanganan berjalan penuh kehati-hatian.

Fakta mencengangkan terungkap: jalur tersebut bukan peruntukan kendaraan besar. Namun kontainer bermuatan minyak goreng justru masuk ke jalan sempit di bawah jembatan.

Polisi menduga kendaraan diarahkan oleh seseorang di lokasi (pak ogah) hingga akhirnya terjadi kecelakaan fatal.

“Kami akan memanggil saksi-saksi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Muatan kendaraan berupa minyak goreng yang akan dibawa ke gudang,” tambahnya.

Peristiwa ini membuat warga sekitar syok. Lokasi yang selama ini hanya dilalui kendaraan kecil mendadak menjadi titik maut. Banyak warga kini mempertanyakan pengawasan jalur serta keberadaan pengarah jalan liar yang kerap berdiri di kawasan tersebut.

Pihak kepolisian menegaskan penyelidikan masih berlangsung guna memastikan kronologi dan penyebab pasti kecelakaan.

Sementara itu, aparat mengimbau pengemudi kendaraan besar agar tidak memasuki jalur permukiman tanpa panduan resmi, demi mencegah tragedi serupa terulang kembali. (Ahmad Z)

Pemuda Asal Pacitan Inisiasi Gerakan 1000 Buku untuk Anak Ende

0

ENDE (Aswajanews) — Pemuda asal Pacitan, Helmy Yusuf Evendi dan kawan-kawan, menginisiasi gerakan “1000 Buku untuk Anak Ende” sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan pendidikan anak-anak di Ende, Nusa Tenggara Timur. Gerakan ini merupakan respons atas tragedi yang terjadi di Ngada, sekaligus upaya mencegah agar peristiwa serupa tidak terulang kembali, khususnya di wilayah Ende.

Kegiatan awal gerakan berbagi buku dilaksanakan pada Minggu sore, 15 Februari 2026, di beberapa titik perkampungan di wilayah Kota Ende. Dalam kegiatan tersebut, Helmy dan kawan-kawan bekerja sama dengan Grab wilayah Ende membagikan ratusan buku tulis dan bolpoin kepada anak-anak. Kehadiran relawan dan mitra dalam kegiatan ini disambut antusias oleh anak-anak dan masyarakat setempat.

Helmy mengatakan, gerakan ini lahir dari kepedulian terhadap kebutuhan dasar pendidikan anak, khususnya alat tulis yang menjadi bagian penting dalam proses belajar mereka.

“Buku dan bolpoin mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi anak-anak, itu adalah alat untuk belajar, bermimpi, dan membangun masa depan mereka,” ujar Helmy.

Helmy menegaskan bahwa gerakan 1000 buku ini tidak akan berhenti pada tahap awal, melainkan akan terus berlanjut secara bertahap dengan menjangkau lebih banyak anak-anak di berbagai wilayah, sebagai bentuk kontribusi nyata dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar pendidikan.


Gerakan ini diharapkan menjadi pengingat bersama bahwa kepedulian terhadap pendidikan anak adalah tanggung jawab semua pihak, serta menjadi langkah nyata dalam membangun masa depan generasi muda yang lebih baik.

Di akhir pernyataannya, Helmy menegaskan bahwa esensi gerakan ini terletak pada kepedulian, bukan pada besarnya kontribusi.

“Gerakan ini mengingatkan semua pihak bukan soal tentang besar dan kecilnya peran dan kontribusi kita, namun bagaimana kita bisa berperan sesuai dengan kemampuan kita masing-masing,” tutup Helmy. (Red)

Bandung Jadi Tuan Rumah Istighotsah GP Ansor, Tegaskan Komitmen Jaga NKRI

0
Istighotsah GP Ansor Jawa Barat di Ponpes Darul Ma’arif, Kabupaten Bandung

BANDUNG (Aswajanews.id) – Kabupaten Bandung menjadi tuan rumah Istighotsah, doa bersama sekaligus Munggahan yang digelar Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Kecamatan Margaasih, Minggu (15/2/2026). Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Pengurus Pusat dan Pengurus Wilayah dari sejumlah provinsi, di antaranya Aceh, Nusa Tenggara Timur, Bali, serta kabupaten/kota se-Jawa Barat.

Dalam sambutannya, Bupati Bandung Dadang Supriatna berharap Gerakan Pemuda Ansor terus menjaga kedamaian bangsa dan negara, khususnya di Kabupaten Bandung, serta mempertahankan komitmen terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia menegaskan, peran GP Ansor tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan bangsa sejak organisasi tersebut berdiri pada 24 April 1934.

“Jangan sampai semangat menjaga NKRI padam. Kemerdekaan negara kita tidak terlepas dari peran Ansor,” ujar Dadang.

Menurutnya, GP Ansor tidak hanya berfokus pada pengawalan ulama, tetapi juga berkolaborasi dengan umara, termasuk Pemerintah Kabupaten Bandung, dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dadang menyebut kontribusi GP Ansor turut mendukung terciptanya kondisi Kabupaten Bandung yang stabil, aman, dan kondusif sehingga pembangunan dapat berjalan dengan fokus.

Sementara itu, Ketua PW GP Ansor Jawa Barat Subhan Fahmi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan ikhtiar batiniah untuk keselamatan bangsa, keberkahan organisasi, serta bentuk pengabdian kepada kiai dan NKRI.

“Munggahan bukan sekadar tradisi, tetapi momentum untuk saling menguatkan. Melalui istighotsah ini kami berupaya menitipkan doa bagi keselamatan bangsa agar senantiasa dalam lindungan Allah SWT,” ucap Fahmi.

(Uus)

Bupati Aep Tegaskan THM di Karawang Wajib Tutup Selama Ramadan

0

KARAWANG (Aswaja News) – Pemerintah Kabupaten Karawang mengambil langkah tegas dalam menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 H / 2026 M. Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh, menegaskan bahwa seluruh Tempat Hiburan Malam (THM) wajib menghentikan operasionalnya secara total. Hal tersebut disampaikan Bupati dalam Rapat Pembahasan Pelaksanaan Bulan Suci Ramadan bertempat di Aula It 3 Gedung Singaperbangsa, Sabtu (14/2/2026).

Rapat tersebut dihadiri langsung oleh unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Karawang, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Karawang serta tamu undangan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Aep menginstruksikan agar penutupan THM dilakukan mulai dari H-1 sebelum puasa hingga H+3 setelah Idul Fitri 1447H/2026M. Ia juga memberikan peringatan bagi para pengusaha yang mencoba membandel.

“Kita tidak akan mengizinkan segala apapun bentuk tempat hiburan malam (beroperasi) selama bulan suci Ramadan. Saya tegaskan kali ini, THM yang melanggar akan kami cabut izin operasionalnya,” tegasnya.

Selain penutupan THM, Pemerintah Kabupaten Karawang juga menetapkan beberapa poin krusial untuk menjaga ketertiban dan menghormatan bulan suci ramadan yang tertuang dalam Surat Edaran Bupati Karawang Nomor: 267 Tahun 2026 Tentang Himbauan Selama Ramadan 1447H/2026M.

Adapun didalamnya mengimbau mulai dari pemberantasan penyakit masyarakat (perjudian, prostitusi, serta peredaran minuman beralkohol), larangan memasang reklame/poster/publikasi serta pertunjukan film atau pertunjukan lainnya yang bersifat pornografi, pornoaksi dan erotisme, pembatasan aktivitas restoran hingga pembatasan penggunaan pengeras suara luar di masjid/musholla sampai pukul 22.00 WIB.

Bupati Aep berharap seluruh pihak, mulai dari instansi pemerintah hingga pelaku usaha, dapat bersinergi dalam menegakkan regulasi yang ditetapkan terkait himbauan selama bulan suci ramadan 1447H/2026M.

(Liputan. ; Ahmad Z)

KPAD Kota Bandung Gelar OPSGAB Yustisia, Pulangkan 30 Pelajar Luar Kota yang Berkeliaran Dini Hari

0

BANDUNG (Aswajanews)Komisi Perlindungan Anak Daerah Kota Bandung (KPAD) mengambil langkah tegas dalam menjaga keamanan dan pemenuhan hak anak di wilayahnya.

Pada Sabtu dini hari (14/02/2026), KPAD bersama Dinas Sosial Kota Bandung (Dinsos), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Bandung (DP3A), serta Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung (Satpol PP) menggelar Operasi Gabungan (OPSGAB) Yustisia di sejumlah titik rawan pusat kota.

Operasi tersebut menyisir sejumlah kawasan strategis, mulai dari Perempatan Lima, Asia Afrika, Masjid Agung, Kepatihan, Kebon Kalapa, Pendopo, Otista hingga Kautamaan Istri. Kegiatan ini menjadi bentuk pengawasan langsung terhadap potensi kerentanan anak pada jam-jam rawan malam hari.

Dalam penyisiran, petugas mendapati sekelompok remaja yang masih berkeliaran hingga dini hari. Hasil pendataan menunjukkan sekitar 30 remaja berstatus pelajar tingkat SMP ditemukan di lokasi, dan seluruhnya diketahui berasal dari luar Kota Bandung.

Sebagai langkah preventif, para remaja tersebut didata dan langsung dipulangkan ke daerah asal menggunakan armada truk Satpol PP.

Petugas juga menemukan anak-anak di bawah umur yang dibawa orang tuanya bekerja hingga larut malam. Terhadap kondisi tersebut, petugas memberikan peringatan keras sekaligus edukasi kepada para orang tua agar memastikan anak-anak tetap memperoleh hak pendidikan serta tidak berada di lingkungan kerja yang berisiko.

Wakil Ketua KPAD Kota Bandung, M. Arif Djajanagara, S.H., M.Kn., yang turut turun langsung ke lapangan menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar penertiban administratif.

“Langkah penertiban dilakukan semata-mata sebagai bentuk pencegahan risiko dan perlindungan terhadap anak, mengingat kerentanan mereka pada jam rawan malam hari sangat tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua KPAD Kota Bandung, Ita Dianawati, S.Pd., menyampaikan bahwa operasi ini melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk Dinsos yang dipimpin dr. H. Yorisa Sativa, M.Kes dan DP3A di bawah arahan Dra. Uum Sumiati, M.Si.

“Kami berkomitmen terus menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemenuhan hak anak melalui kolaborasi lintas OPD, aparat penegak hukum, dan masyarakat sipil. Ini adalah langkah nyata mewujudkan Kota Bandung sebagai Kota Layak Anak dan Ramah Anak, yang menjadi program prioritas Bapak Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan,” tegasnya.

(Red)

Geplak Indramayu Santuni Warga Cidempet, Rumah Ambruk Diterpa Angin Kencang

0

INDRAMAYU (Aswajanews) – Organisasi Gerakan Pers Lurus Akurat Kritis (Geplak) Kabupaten Indramayu sigap memberikan santunan berupa uang tunai kepada Bapak Tamas, warga Desa Cidempet Blok Kebun Pring RT 01 RW 01, Kecamatan Arahan, Sabtu siang (14/02/2026).

Bantuan tersebut diserahkan setelah rumah sederhana milik Bapak Tamas ambruk akibat diterpa angin kencang beberapa hari lalu.

Ketua Geplak, Ali Zaidan, menegaskan bahwa organisasi gabungan wartawan ini hadir untuk menjembatani aspirasi masyarakat.

“Kami dari Geplak adalah gabungan wartawan yang ada di Indramayu. Meski baru terbentuk, kami akan terus bergerak cepat menyambung suara rakyat ke pihak berwenang. Untuk kasus Bapak Tamas ini, kami menyerahkan bantuan uang tunai sebagai bentuk kepedulian awal. Kami juga menekankan kepada Dinas Sosial, Diskimrum, dan pihak terkait lainnya agar segera memberikan perhatian serius, termasuk rehabilitasi rumah layak huni bagi warga rentan seperti beliau,” tegas Ali saat menyerahkan bantuan di lokasi kejadian.

Bapak Tamas yang tinggal bersama seorang cucu yatim piatu mengisahkan kondisi rumahnya yang sudah lama memprihatinkan.

“Rumah saya ini sudah dua tahun kondisinya reot parah, roboh sana-sini. Memang tahun kemarin ada petugas dari dinas yang datang melihat dan mencatat kondisi rumah saya. Tapi sampai sekarang belum ada bantuan nyata, hingga akhirnya rumah ambruk diterpa angin. Apalagi umur saya sudah renta, jelas tidak bisa berbuat apa-apa sendiri. Saya hanya bisa menghidupi satu cucu yatim piatu ini dengan susah payah,” tuturnya dengan suara bergetar kepada awak media.

Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler, Kuwu Cidempet, Mahfudin, sedang mengikuti kegiatan di luar daerah dan belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut.

Sekretaris Jenderal Geplak, Endri Yuza, menambahkan bahwa bantuan tersebut melibatkan donatur internal dan program kerja organisasi.

“Kami dari Geplak memang baru seperti umur setamat jagung, tapi sesuai moto kami ‘Gerakan, Pers, Lurus, Akurat, Kritis’, kami akan terus bergerak. Bantuan uang tunai untuk Bapak Tamas ini murni dari donatur internal Geplak dan dukungan awal dari mitra. Ke depan, program kerja kami mencakup advokasi bantuan sosial rutin, koordinasi dengan instansi seperti Dinsos untuk program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), serta monitoring donasi dari swasta agar tepat sasaran. Kami ingin jadi jembatan antara rakyat dan pemerintah,” pungkas Endri.

Peristiwa ini kembali menggarisbawahi urgensi penanganan rumah tidak layak huni di wilayah pedesaan, sekaligus menunjukkan peran aktif organisasi masyarakat dalam mengawal dan memperjuangkan bantuan sosial agar tepat sasaran. (Sn)

Reforestasi Tak Cukup Seremoni, Eyang Memet Dorong Kaderisasi dan Pemeliharaan

0
Eyang Memet bersama peserta kegiatan penghijauan di Blok Malaberes, Pasirjambu, Kabupaten Bandung.

BANDUNG (Aswajanews.id) — Upaya pelestarian keanekaragaman hayati dinilai tidak cukup berhenti pada kegiatan penanaman pohon. Diperlukan kaderisasi serta pemeliharaan berkelanjutan agar program reforestasi memberi dampak jangka panjang.

Ketua Yayasan Panata Giri Raharja, Eyang Memet, menyampaikan hal tersebut melalui pesan singkat, Sabtu (14/2/2025), terkait kegiatan penghijauan di Blok Malaberes, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.

Menurut dia, tantangan terbesar reforestasi justru berada pada tahap pascatanam. Tanpa sistem pemeliharaan serta monitoring dan evaluasi yang konsisten, kegiatan penghijauan berpotensi berhenti pada aspek seremonial.

“Reforestasi bukan hanya tentang menanam, tetapi memastikan tanaman itu tumbuh dan terawat. Monitoring dan evaluasi harus berjalan,” ujarnya.

Ia menilai pembangunan karakter dan kesadaran ekologis perlu menjadi bagian terintegrasi dalam setiap program penghijauan, termasuk dalam skema Menanam Bibit Gratis (MBG). Tanpa perubahan pola pikir, kata dia, keberlanjutan program sulit terjaga.

Lebih lanjut, Eyang Memet menekankan pentingnya kaderisasi agar gerakan pelestarian lingkungan tidak bergantung pada figur tertentu. Regenerasi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan program di tingkat masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, ia menilai kualitas lingkungan memiliki keterkaitan dengan kualitas hidup warga. Lingkungan yang terjaga, menurut dia, berpengaruh terhadap ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Ia juga mengaitkan kondisi lingkungan dengan persoalan sosial, termasuk isu stunting, yang menurutnya tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan pangan bergizi serta keberlanjutan sumber daya alam.

Menurut dia, pendekatan yang terukur dan partisipatif menjadi kunci agar pelestarian keanekaragaman hayati tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan gerakan berkelanjutan.

(Reporter: Uus)

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts