Google search engine
Beranda blog Halaman 37

Percepat Penurunan Stunting, Karawang Kick Off PMT Pangan Lokal dan Pekan Imunisasi Dunia 2026

0

KARAWANG (Aswaja News) – Pemerintah Kabupaten Karawang terus mengakselerasi upaya penurunan stunting melalui peluncuran program strategis Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal dan Gebyar Pekan Imunisasi Dunia (PID) 2026.

Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Karawang, H. Maslani, di Posyandu Melati, Desa Gintungkerja, Kecamatan Klari, pada Kamis (9/4/2026) pagi.

Program ini menyasar ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) serta balita yang mengalami masalah gizi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah daerah dalam menciptakan generasi sehat dan bebas stunting, sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Barat yang menargetkan angka stunting turun hingga 5 persen pada tahun 2026.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Karawang menjelaskan bahwa program PMT tidak hanya berfokus pada peningkatan berat badan semata, tetapi lebih jauh bertujuan memperbaiki status gizi secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, H. Maslani menegaskan pentingnya ketepatan sasaran dalam pelaksanaan program tersebut. Ia menyebutkan bahwa penanganan gizi balita harus dilakukan secara serius dan terukur.

“Angka stunting kita saat ini berada di 17,6 persen. Target kita harus turun menjadi 14,08 persen di tahun ini. Tujuannya bukan sekadar menaikkan berat badan, tetapi memastikan status gizi anak benar-benar membaik secara permanen,” tegasnya.

Melalui sinergi program PMT berbasis pangan lokal dan kampanye imunisasi, Pemerintah Kabupaten Karawang optimistis dapat mempercepat penurunan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya bagi ibu dan anak.

(Ahmad Z)

Jabar Menuju “Kota Madrasah”, Kemenag Siapkan Kompetisi dan Beasiswa Santri Unggul

0

SUMEDANG (Aswajanews) – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Dudu Rohman, membuka kegiatan Silaturahmi Akbar dan Seminar Pendidikan bagi Guru RA/Madrasah yang digelar oleh Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Sumedang di GOR Tajimalela, Sabtu (11/4/2026).

Dalam sambutannya, Dudu Rohman melontarkan gagasan besar agar Jawa Barat menjadi “Kota Madrasah”. Ia pun mengajak seluruh peserta yang hadir untuk menyepakati visi tersebut.

“Apakah hadirin setuju kalau Jabar ini menjadi Kota Madrasah?” tanyanya, yang langsung disambut serempak dengan jawaban “Setujuuu” dari para peserta, diiringi tepuk tangan meriah.

Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Nyanyu Khodijah, Maman Imanul Haq, Dony Ahmad Munir, serta jajaran pengurus PGMI tingkat provinsi dan daerah.

Siapkan Generasi Unggul Berbasis Kitab Kuning

Dudu Rohman mengungkapkan bahwa meski dirinya merasa belum banyak menorehkan prestasi, ia memiliki tekad kuat bersama para guru madrasah untuk melahirkan generasi unggul melalui gagasan Kota Madrasah.

Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah menggelar kompetisi bagi siswa madrasah pada tahun 2026. Ia juga meminta setiap daerah menyiapkan sedikitnya 25 siswa madrasah aliyah yang memiliki kemampuan memahami dan mengaji kitab kuning.

Selain itu, Dudu berharap adanya dukungan dari DPR RI, khususnya Komisi VIII, untuk memberikan beasiswa kepada para siswa tersebut. Nantinya, mereka akan disebar ke berbagai perguruan tinggi, baik di Jawa Barat, nasional, bahkan hingga bertaraf internasional.

“Ini semua untuk membentuk generasi khairul ummah. Jika mahasiswa kita memahami kitab kuning, itu akan berdampak besar terhadap kehidupan sosialnya,” ujarnya.

Menurut Dudu, kebangkitan madrasah merupakan tanggung jawab bersama. Ia menekankan pentingnya tiga komponen utama dalam dunia pendidikan, yakni kepala madrasah, guru dan pengawas, serta dukungan masyarakat.

Ke depan, Kemenag Jawa Barat akan menggelar berbagai kompetisi berprestasi, tidak hanya di bidang sains dan olahraga, tetapi juga dalam baca tulis Al-Qur’an dan kitab kuning.

Ia juga mengungkapkan rencana pembentukan delapan madrasah unggulan di Jawa Barat yang akan menjadi rujukan, tidak hanya bagi masyarakat Jabar, tetapi juga daerah lain di Indonesia.

“Jadi, saya punya mimpi, tidak perlu jauh-jauh ke Jawa Timur, karena di Jabar juga akan ada madrasah unggulan,” pungkasnya. (Red)

Estafet Kepemimpinan Lapas Karawang Resmi Bergulir, Ma’ruf Lanjutkan Kepemimpinan Christo

0

KARAWANG (Aswaja News) – Estafet kepemimpinan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Karawang akhirnya resmi bergulir. Sosok baru, Ma’ruf Prasetyo Hadianto, kini mengemban amanah setelah dilantik dan diambil sumpah jabatannya dalam prosesi khidmat di Lapas Kelas I Cirebon, Sabtu (11/4/2026).

Pelantikan ini dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, Kusnali, bersama sejumlah pejabat UPT lainnya. Momen ini bukan sekedar seremonial, melainkan bagian dari langkah strategis untuk menyegarkan organisasi sekaligus memperkuat kinerja pemasyarakatan di Jawa Barat.

Dalam rangkaian acara, tongkat kepemimpinan resmi diserahkan dari pejabat sebelumnya, Christo Toar, kepada Ma’ruf Prasetyo. Pergantian ini menjadi simbol kesinambungan sekaligus harapan baru bagi peningkatan kualitas layanan dan pembinaan di Lapas Karawang.

Diketahui, sebelum menempati posisi ini, Ma’ruf Prasetyo Hadianto menjabat sebagai Kepala Lapas Kelas IIB Tulungagung. Sementara itu, Christo Toar kini dipercaya mengemban tugas baru sebagai Kepala Lapas Kelas I Malang.

Tak hanya pergantian pucuk pimpinan, estafet juga terjadi di organisasi pendamping. Kepemimpinan Dharma Wanita Persatuan secara simbolis diserahkan dari Ny. Meylany Christo kepada Ny. Epa Ma’ruf, menegaskan pentingnya peran keluarga dalam mendukung tugas pemasyarakatan.

Suasana pelantikan berlangsung penuh khidmat, diselimuti nuansa haru dan kebersamaan. Dukungan mengalir dari jajaran pejabat dan petugas Lapas Karawang yang hadir, menandai optimisme terhadap kepemimpinan baru.

Dengan dilantiknya Ma’ruf Prasetyo, harapan besar pun disematkan: terciptanya sinergi yang lebih kuat, peningkatan profesionalisme, serta sistem pemasyarakatan yang semakin akuntabel dan berdampak nyata bagi masyarakat.

(Liputan : Ahmad Z)

Wamenag Tekankan Pancasila sebagai “Kausa Prima” dalam Pembinaan ASN Kemenag Jabar

0

BANDUNG (Aswajanews) – Wakil Menteri Agama RI, Muhammad Syafii, menegaskan pentingnya penguatan ideologi Pancasila sebagai fondasi utama bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Pembinaan ASN dan Pelayanan Publik Menuju Kemenag Berdampak yang digelar di Aula Yohanes Paulus, Gedung Keuskupan Bumi Silih Asih, Bandung, Jumat (10/4/2026).

Dalam arahannya, Wamenag yang akrab disapa Romo itu mengingatkan bahwa Indonesia berdiri di atas empat konsensus dasar, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika. Keempatnya, menurut dia, terus disosialisasikan oleh MPR hingga ke seluruh pelosok Nusantara, bahkan kepada warga negara Indonesia di luar negeri.

Romo menegaskan, Pancasila bukanlah konsep yang disusun secara teoritis semata, melainkan hasil kristalisasi nilai-nilai luhur yang telah hidup di tengah masyarakat Indonesia sejak lama.

“Kalau ingin memahami Indonesia, maka lihatlah Pancasila. Di dalamnya tercermin karakter bangsa yang berketuhanan, berkemanusiaan, bersatu, berkerakyatan, dan berkeadilan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai “Kausa Prima” atau sebab utama yang menjadi landasan dari seluruh sila lainnya. Menurutnya, setiap upaya mewujudkan kemanusiaan, persatuan, demokrasi, hingga keadilan sosial harus berakar pada nilai ketuhanan.

“Tidak ada keadilan tanpa landasan Ketuhanan. Tidak boleh ada persatuan tanpa dasar Ketuhanan. Semua aspek dalam Pancasila harus bernafaskan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, Dudu Rohman, menyampaikan berbagai upaya peningkatan kualitas pendidikan madrasah. Salah satunya melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama di Jawa Barat, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), dan Universitas Pasundan (UNPAS).

“Kami ingin mendorong lahirnya madrasah unggul dengan kualitas pendidikan yang semakin baik melalui kolaborasi strategis ini,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga tengah merancang program penguatan kompetensi siswa madrasah, termasuk kemampuan membaca kitab kuning serta pengembangan potensi di bidang lain seperti olahraga.

Plt. Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jabar, Nur Rochmat Robi Abdulrohim, menambahkan bahwa pemilihan lokasi kegiatan di Gedung Keuskupan Bumi Silih Asih merupakan simbol upaya merajut harmoni antarumat beragama.

“Kami ingin membangun kebersamaan dan memperkuat harmoni keberagamaan, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik di tengah keterbatasan,” pungkasnya.

Kegiatan ini diikuti oleh para pejabat administrator Kanwil Kemenag Jabar, kepala kantor Kemenag kabupaten/kota se-Jawa Barat, kepala madrasah tingkat Tsanawiyah dan Aliyah, serta para penyuluh lintas agama. (Kontributor : Tri Budiono)

Praperadilan Dikabulkan, Tapi Tetap Dituntut: Ada Apa dengan Kasus James Gunawan?

0

KAB. BANDUNG (Aswajanews) – Kasus dugaan penggelapan yang menjerat James Gunawan menyisakan tanda tanya besar. Bagaimana mungkin seseorang yang penetapan tersangkanya telah dinyatakan tidak sah oleh pengadilan, justru tetap berlanjut hingga ke meja hijau?

James, yang menjabat sebagai Direktur Kepatuhan di PT Mitra Citarum Air Biru (MCAB), kini duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Bale Bandung. Ia dilaporkan oleh rekannya sendiri, Ismaul Harist, yang juga merupakan Direktur Operasional di perusahaan tersebut.

Perkara ini berawal dari sebuah laptop yang dipersoalkan. Pihak terdakwa bersikukuh bahwa perangkat tersebut adalah pemberian pribadi, bukan aset perusahaan. Namun, Jaksa Penuntut Umum (JPU) berpendapat sebaliknya dan menjadikannya dasar dakwaan penggelapan.

JPU bahkan menuntut James dengan hukuman dua tahun penjara menggunakan Pasal 488 KUHP sebagai dakwaan primair serta Pasal 486 KUHP sebagai alternatif. Langkah ini dinilai berlebihan oleh kuasa hukum terdakwa, Ari Sukma SH.

“Ini bukan perkara besar. Nilainya kecil, barangnya pun sudah bekas,” tegas Ari.

Fakta di persidangan memperkuat argumen tersebut. Saksi dari kalangan pengusaha laptop menyebut nilai barang hanya sekitar Rp2 juta hingga Rp2,2 juta. Bahkan, saksi ahli menegaskan bahwa kerugian di bawah Rp2,5 juta masuk kategori tindak pidana ringan (tipiring), sesuai Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012.

Namun yang paling mengundang sorotan adalah fakta bahwa sebelumnya Pengadilan Negeri Bale Bandung telah mengabulkan praperadilan yang diajukan James. Putusan itu secara tegas menyatakan bahwa penetapan tersangka oleh Polsek Dayeuhkolot tidak sah dan batal demi hukum.

Pertanyaannya, mengapa perkara ini tetap berlanjut?

Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan tercederainya prinsip kepastian hukum. Dalam negara hukum, putusan pengadilan seharusnya menjadi rujukan utama, bukan diabaikan.

Tak hanya itu, substansi perkara pun dinilai janggal. Jika yang dipermasalahkan adalah hilangnya data keuangan perusahaan, tanggung jawab semestinya berada pada pihak yang mengelola data tersebut secara langsung.

“Direktur kepatuhan bukan pengelola data keuangan. Seharusnya akuntan perusahaan yang dimintai pertanggungjawaban,” ujar Ari.

Kasus ini pun memunculkan dugaan adanya konflik internal di tubuh perusahaan yang berujung pada proses hukum.

Kini, publik menanti sikap majelis hakim: apakah akan melihat perkara ini sebagai kasus pidana serius, atau justru sebagai persoalan ringan yang dipaksakan menjadi besar?

Satu hal yang pasti, perkara ini bukan sekadar soal sebuah laptop. Ini adalah ujian bagi konsistensi penegakan hukum dan keadilan itu sendiri.

(Bambang K)

Kapolda Jabar Sambangi Pesantren di Ciamis, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

0

BANDUNG (Aswajanews) – Kepolisian Daerah Jawa Barat terus memperkuat sinergi dengan kalangan pesantren melalui kegiatan silaturahmi yang digelar di Pondok Pesantren Darussalam Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jumat (10/04/2026).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kapolda Jawa Barat, Rudi Setiawan, bersama jajaran pejabat utama Polda Jabar. Turut hadir pula Kapolres Ciamis, Hidayatullah, beserta para pejabat Polres dan Kapolsek jajaran.

Dari pihak pesantren, kegiatan dihadiri pimpinan pondok, Fadlil Yani Ainusyamsi, para pengasuh, santri, serta tamu undangan lainnya.

Rangkaian acara diawali dengan penyambutan hangat dari pihak pesantren, ditandai dengan pengalungan sorban kehormatan kepada Kapolda Jabar sebagai simbol diterimanya beliau sebagai bagian dari keluarga besar santri. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada 42 penerima yang terdiri dari santri dan tenaga pendidik, serta pemberian paket umrah kepada empat orang sebagai bentuk kepedulian sosial.

Dalam sambutannya, Kapolda Jabar menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis sebagai pilar pendidikan di Indonesia. Tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, pesantren juga membentuk karakter yang kuat dalam nilai akhlak, spiritualitas, dan kebangsaan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan, serta menanamkan sikap saling menghormati antar sesama.

“Sinergi antara kepolisian dan pesantren sangat penting dalam menjaga stabilitas keamanan. Kolaborasi ini diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan harmonis,” ujarnya.

Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Ciamis menyampaikan apresiasi atas kunjungan Kapolda Jabar dan jajaran. Kehadiran kepolisian dinilai sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap dunia pendidikan dan masyarakat.

Menurutnya, dukungan Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban menjadi faktor penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di lingkungan pesantren.

Kegiatan ini juga mendapat sambutan positif dari masyarakat dan keluarga besar pesantren. Silaturahmi tersebut dinilai mampu mempererat hubungan emosional antara Polri dan masyarakat, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara kepolisian dan pesantren semakin kuat, serta mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjaga keamanan dan membangun generasi muda yang berakhlak dan berdaya saing di masa depan. (Red)

Polisi Tegaskan Profesionalitas Penanganan Kasus Dugaan Pembunuhan di Ciawi

0

BANDUNG (Aswajanews) – Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol. Hendra Rochmawan S.I.K., M.H menyampaikan perkembangan penanganan perkara dugaan tindak pidana pembunuhan yang disertai pencurian dengan kekerasan dan/atau penganiayaan yang terjadi di wilayah Ciawi, Kabupaten Bogor. Penyampaian ini sebagai bentuk keterbukaan informasi kepada publik serta komitmen institusi dalam menjaga kepercayaan masyarakat.

‎Kasus tersebut berawal dari laporan Polisi yang diterima Polsek Ciawi pada 10 April 2025, yang kemudian ditindaklanjuti melalui serangkaian proses penyelidikan dan penyidikan. Dalam perkembangannya, penanganan perkara dilimpahkan ke Polres Bogor guna pendalaman lebih lanjut oleh jajaran Satuan Reserse Kriminal.

‎Peristiwa terjadi pada Selasa, 8 April 2025, sekitar pukul 23.40 WIB di Exit Tol Ciawi Gadog, Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi. Tersangka berinisial M. Ridwan Maulana diduga melakukan tindak pidana terhadap korban Yoga Firdaus yang merupakan pengemudi taksi online.

‎Adapun modus operandi yang dilakukan tersangka yakni dengan memesan jasa transportasi online, kemudian meminta korban berhenti di tengah perjalanan. Saat korban dalam kondisi tidak waspada, tersangka melakukan aksi kekerasan menggunakan cairan berbahaya yang mengakibatkan korban mengalami luka serius.

‎Akibat kejadian tersebut, korban meninggal dunia dan kendaraan milik korban berupa mobil Suzuki Ertiga warna putih turut dibawa kabur oleh tersangka. Hingga saat ini, kendaraan tersebut masih dalam proses pencarian oleh pihak kepolisian.

‎Dalam proses pengungkapan kasus ini, penyidik telah memeriksa sembilan orang saksi serta mengamankan sejumlah barang bukti penting, mulai dari dokumen kendaraan, pakaian korban, hingga perangkat telepon genggam yang diduga berkaitan dengan perkara.

‎Serangkaian tindakan kepolisian juga telah dilakukan secara prosedural, mulai dari gelar perkara, penetapan tersangka, hingga penangkapan pada 19 November 2025. Selanjutnya, tersangka dilakukan penahanan dan berkas perkara dinyatakan lengkap oleh Jaksa Penuntut Umum pada 9 Maret 2026.

“‎Menanggapi adanya pernyataan dari salah satu pihak pengacara yang menyebutkan dugaan salah tangkap serta menimbulkan berbagai komentar di tengah masyarakat, Polres Bogor menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Seluruh proses penanganan perkara telah dilakukan berdasarkan alat bukti yang sah, keterangan saksi, serta prosedur hukum yang berlaku.” ujar Kombes Hendra, Jum’at (10/4/2026)

‎Polres Bogor memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dilakukan secara profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

‎Kabid Humas Polda Jabar juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi, serta tetap mempercayakan proses hukum kepada aparat penegak hukum hingga tuntas demi terciptanya rasa keadilan. (Sumber: Bid Humas Polda Jabar)

Jodoh, Rezeki, dan Ketegangan Zaman: Membaca Ulang dalam Perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah

0
Oleh: A'isy Hanif Firdaus, S.Ag., M.Pd.*

Di tengah dinamika kehidupan modern saat ini yang kondisinya sedang diserang berbagai macam kondisi ekonomi yang cenderung tidak stabil dan persoalan lainnya perbincangan tentang jodoh tidak lagi sesederhana persoalan hati yang saling menemukan antara keduanya. Pembahasan ini telah bertransformasi menjadi diskursus kompleks yang melibatkan kesiapan baik ekonomi, status sosial, bahkan konstruksi citra diri di ruang publik. Dalam realitas tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah jodoh benar-benar sekadar takdir yang menunggu waktu, atau harus “dipersiapkan” dengan standar-standar duniawi yang semakin tinggi?

Yuk mari kita bahas lebih dalam perspektif Maqasid al-Sharia, pernikahan tidak hanya dipahami sebagai relasi personal antara dua individu, tetapi sebagai instrumen untuk mewujudkan tujuan-tujuan utama syariat (maqāṣid al-syarī‘ah). Pernikahan menjadi jalan untuk menjaga agama (hifz al-din), menjaga jiwa (hifz al-nafs), serta menjaga keturunan (hifz al-nasl). Dengan demikian, jodoh itu tidak hanya berkaitan dengan kecocokan emosional, melainkan bagian dari bangunan kemaslahatan yang lebih luas jangka panjang.

Dalam tradisi keagamaan misalnya, terdapat keyakinan kuat bahwa pernikahan dapat membuka pintu rezeki. Narasi ini sering dipahami secara sederhana, bahkan terkadang secara instan, seolah pernikahan menjadi solusi ekonomi. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, makna “rezeki” tidak selalu identik dengan peningkatan materi. Rezeki dapat hadir dalam bentuk ketenangan batin, keberkahan hidup, dan kemudahan dalam menjalani ujian kehidupan. Perspektif ini menegaskan bahwa rezeki tidak hanya berkaitan dengan angka, tetapi juga rasa cukup dan ketenteraman hidup.

Namun, keyakinan tersebut sering berhadapan dengan realitas zaman yang ditandai oleh budaya Post-truth. Dalam era ini, standar kehidupan tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh realitas objektif, melainkan oleh persepsi yang dibentuk melalui media sosial dan tekanan lingkungan. Seseorang dianggap “layak menikah” ketika telah memiliki pekerjaan mapan, penghasilan tertentu, rumah, kendaraan, dan berbagai simbol keberhasilan lainnya. Tanpa standar tersebut, pernikahan sering dipandang sebagai risiko yang amat terlalu besar.

Akibatnya, banyak individu terjebak dalam dilema antara keyakinan spiritual tentang keberkahan pernikahan dan tuntutan rasional modern yang menekankan kesiapan material. Tidak sedikit yang menunda pernikahan bukan karena tidak siap secara mental atau spiritual, tetapi karena belum memenuhi ekspektasi sosial yang kian hari kian terus meningkat.

Di titik inilah kearifan lokal pesantren menemukan relevansinya. Konsep manut dengan guru atau “nrimo ing keadaan” hadir sebagai penyeimbang. Konsep ini bukan ajaran untuk menyerah pada keadaan, melainkan sikap menerima dengan lapang dada setelah melakukan ikhtiar terbaik. Dalam nilai tersebut terkandung keseimbangan antara usaha dan tawakal, antara kerja keras dan keikhlasan. Setiap individu tetap dituntut untuk berusaha mencari penghasilan, mempersiapkan diri, dan memperbaiki kualitas hidup namun tidak menggantungkan ketenangan hidup semata pada capaian materi.

Walhasil dengan demikian, konsep jodoh dalam perspektif ini perlu dipahami secara proporsional. Jodoh memang bagian dari takdir Ilahi, tetapi tetap harus dijemput dengan usaha. Pernikahan dapat menjadi pintu rezeki, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab dan kesiapan dasar. Standar modern tidak sepenuhnya keliru, tetapi perlu ditempatkan secara wajar agar tidak berubah menjadi beban yang menyesakkan.

Maka, banyak individu yang belum menemukan jodoh bukanlah sesuatu yang keliru atau kegagalan yang harus disesali. Dalam perspektif yang lebih luas, kondisi tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari proses pematangan diri yang sedang berlangsung. Setiap perjalanan hidup memiliki waktu persiapan masing-masing, termasuk dalam urusan pernikahan. Kesabaran dan ketulusan hati menjadi fondasi penting dalam menanti waktu yang tepat, bukan sekadar dalam hitungan duniawi, tetapi dalam kesiapan lahir dan batin untuk jangka panjang.

Dalam kerangka ini, penantian tidak lagi dimaknai sebagai kekosongan, melainkan sebagai ruang pembentukan diri. Proses tersebut menjadi bagian dari ikhtiar spiritual dan sosial untuk menyambut pertemuan yang lebih matang, lebih bertanggung jawab, dan lebih penuh keberkahan.

Pada akhirnya, jodoh bukanlah perlombaan menuju kesempurnaan duniawi, melainkan perjalanan menuju keberkahan hidup. Jodoh tidak selalu datang ketika semua aspek telah sempurna, tetapi sering menjadi jalan menuju proses penyempurnaan kehidupan itu sendiri. Di tengah hiruk-pikuk tuntutan zaman, kebutuhan paling mendasar bukan sekadar kepastian materi, melainkan keyakinan yang teguh, usaha yang sungguh-sungguh, serta hati yang mampu menerima dengan penuh keikhlasan.

Wallahu A’lam Bis Showaab

 

OTT Ribuan Mihol di Indramayu Disorot: Dinilai Sudah Cukup Kuat untuk Proses Hukum

0

INDRAMAYU (Aswajanews) – Penangkapan ribuan minuman beralkohol (mihol) melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Kabupaten Indramayu menuai sorotan tajam. Pasalnya, tindakan tersebut dinilai telah memiliki dasar kuat untuk ditindaklanjuti ke ranah hukum.

Operasi Tangkap Tangan (OTT) sendiri identik dengan tindakan spontan aparat saat menemukan adanya pelanggaran di lapangan. Dalam konteks ini, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang bertugas di bawah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan secara langsung, tanpa harus menunggu operasi terencana dengan surat perintah dari pimpinan.

Namun, Ruslandi mengkritisi penanganan hasil OTT tersebut. Ia menyayangkan adanya dugaan pelepasan barang bukti yang sebelumnya telah diamankan, padahal keberadaan barang tersebut dinilai ilegal.

Menurutnya, langkah tersebut justru mencederai rasa keadilan dalam penerapan Peraturan Daerah (Perda) di Indramayu.

“Untuk OTT tersebut sudah cukup kuat untuk ditindaklanjuti ke ranah hukum. Ibarat ada mayat di jalan, pasti langsung ditangani aparat, tidak mungkin dibiarkan,” tegasnya.

Ia menambahkan, seharusnya Satpol PP menjalankan proses administratif hingga penyelidikan dan penyidikan secara menyeluruh guna memastikan kepemilikan barang serta menentukan pertanggungjawaban hukum pihak terkait.

Alih-alih dilepaskan, barang bukti tersebut semestinya menjadi dasar penegakan hukum yang tegas. Jika benar terjadi pelepasan, Ruslandi menilai hal itu berpotensi menimbulkan dugaan adanya permainan atau praktik tidak transparan.

“Jangan sampai setelah barang keluar, baru dibangun argumentasi untuk membenarkan tindakan tersebut. Itu justru memperkuat indikasi adanya kongkalikong,” pungkasnya.

(A.N. Irsyad)

“Di Antara Surga dan Neraka: Tangisan Seorang Hamba dalam Syiir Al-I’tiraf”

0

Di bawah langit malam yang sunyi, seorang hamba menengadahkan kedua tangannya. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi pipi yang penuh penyesalan. Dalam diam, ia tidak sedang meminta dunia, tidak pula mengeluh tentang hidup. Ia hanya mengakui—bahwa dirinya penuh dosa, lemah, dan tak layak.

Begitulah gambaran yang begitu kuat dari makna Syiir Al-I’tiraf, sebuah lantunan doa yang sering dinisbatkan kepada Abu Nawas. Syiir ini bukan sekadar rangkaian kata indah, tetapi jeritan hati seorang manusia yang sadar akan keterbatasannya di hadapan Sang Pencipta.

“Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan…”
Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli surga.

Kalimat pembuka itu seakan menampar kesadaran kita. Betapa sering manusia merasa cukup dengan amalnya, merasa pantas atas kebaikannya. Namun syiir ini justru mengajarkan kerendahan hati yang hakiki—bahwa surga bukanlah sesuatu yang bisa kita klaim, melainkan anugerah yang hanya bisa diharapkan.

Namun di sisi lain, ada ketakutan yang tak kalah besar.

“Wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi…”
Dan aku tak kuat menghadapi panasnya neraka.

Di sinilah manusia berada: di antara harapan dan ketakutan. Tidak cukup baik untuk merasa aman, tetapi juga tidak cukup kuat untuk menanggung azab. Sebuah posisi yang menggugah hati untuk terus mencari jalan pulang.

Syiir ini kemudian membawa kita pada pengakuan yang lebih dalam—tentang dosa yang tak terhitung.

“Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali…”
Dosaku sebanyak butiran pasir.

Betapa sering manusia meremehkan kesalahan kecil, padahal jika dikumpulkan, ia menjadi gunung yang menyesakkan. Hari demi hari, umur berkurang, namun dosa justru bertambah. Sebuah ironi kehidupan yang sering luput dari kesadaran.

Namun, di tengah keputusasaan itu, cahaya harapan tetap menyala.

“Fa hablii taubatan waghfir zunuubii…”
Maka anugerahkanlah aku taubat, dan ampunilah dosaku.

Inilah inti dari Syiir Al-I’tiraf: bukan sekadar pengakuan, tetapi juga permohonan. Bahwa seburuk apa pun seorang hamba, pintu ampunan Allah selalu terbuka. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi-Nya untuk diampuni.

Puncaknya adalah kepasrahan total:

“Fa in tathrud faman narjuu siwaaka…”
Jika Engkau menolak, kepada siapa lagi aku berharap?

Kalimat ini adalah inti tauhid—bahwa tidak ada tempat kembali selain kepada Allah. Tidak ada sandaran lain, tidak ada harapan selain Dia. Seorang hamba datang dengan tangan kosong, penuh dosa, namun tetap membawa satu hal: harapan.

Di banyak pesantren di Indonesia, syiir ini dilantunkan setelah adzan. Suaranya lirih, menyentuh, menembus relung hati. Ia bukan hanya tradisi, tetapi pengingat—bahwa sebelum kita berdiri menghadap Allah dalam shalat, kita harus terlebih dahulu menundukkan hati, mengakui dosa, dan memohon ampun.

Syiir Al-I’tiraf mengajarkan kita satu hal sederhana namun mendalam:
bahwa menjadi hamba bukan tentang merasa suci, tetapi tentang berani mengakui diri dan kembali.

Dan mungkin, di antara gelapnya dosa dan terang harapan itu, kita semua sedang berjalan—menuju ampunan-Nya.

(Fajar Shiddiq)

Presiden Prabowo Kunker ke Magelang, Disambut Gubernur Akademi Militer, Rano Maxim Adolf Tilaar

0

MAGELANG (Aswajanews)– Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan kerja ke Kota Magelang, Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026), dengan agenda meninjau aktivitas industri kendaraan listrik di PT VKTR Sakti Industries.


‎Kedatangan Presiden di Lapangan Sapta Marga, Akademi Militer (Akmil) Magelang sekitar pukul 11.10 WIB disambut langsung oleh Gubernur Akademi Militer, Rano Maxim Adolf Tilaar.

‎Penyambutan berlangsung dengan protokoler kenegaraan dan pengamanan ketat dari aparat gabungan.

‎Presiden tiba setelah sebelumnya bertolak dari Jakarta menuju Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, dan melanjutkan perjalanan menggunakan helikopter TNI AU menuju Magelang.

‎Dalam kunjungan tersebut, Presiden turut didampingi oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.



‎Usai penyambutan, Presiden melanjutkan perjalanan darat menuju PT VKTR Sakti Industries untuk melaksanakan peninjauan fasilitas produksi kendaraan listrik.

‎Kunjungan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mendorong penguatan industri ramah lingkungan dan percepatan ekosistem kendaraan listrik nasional.

‎Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan, Presiden dan rombongan kembali ke Akademi Militer Magelang melalui jalur yang sama dan tiba pada pukul 13.04 WIB untuk transit singkat.

‎Selanjutnya, pada pukul 13.19 WIB, Presiden bersama rombongan lepas landas menuju Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, sebelum melanjutkan penerbangan kembali ke Jakarta.

‎Seluruh rangkaian kunjungan kerja Presiden RI di wilayah Magelang berlangsung aman dan lancar di bawah pengamanan ketat gabungan TNI dan Polri.
‎(Sn/Rilis)

Genap Satu Tahun Melawan Stroke

0
Oleh: Lukman Nur Hakim, S.Psi.,M.Pd.

Tulisan ini merupakan kisah singkat dari istriku, Widiyawati, yang terkena serangan stroke. Perjuangannya kini genap satu tahun dilaluinya (20 April 2025). Kisah ini saya (Lukman, suami) coba tuangkan dalam lembar sederhana di tangan pembaca. Semata untuk berbagi cerita, semoga ada sedikit ilmu dan manfaat yang bisa diambil.

Penyakit kadang datang secara tiba-tiba, meskipun gejalanya sudah terasa sebelumnya. Seperti sakit kepala hebat yang muncul mendadak tanpa sebab jelas, pusing, kehilangan keseimbangan, serta pandangan yang sering kabur. Namun, karena kesibukan kerja dan padatnya aktivitas, gejala tersebut kerap terabaikan. Berbeda dengan proses penyembuhan yang membutuhkan waktu panjang, terapi rutin, serta kedisiplinan dalam kontrol medis.

Stroke merupakan kondisi gawat darurat medis yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang secara tiba-tiba. Hal ini menyebabkan sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi hingga mati dalam hitungan menit. Akibatnya, bagian tubuh yang dikendalikan oleh area otak tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik.

Stroke yang dialami istriku adalah jenis hemoragik, yaitu pecahnya pembuluh darah di otak sebelah kiri yang menyebabkan pendarahan. Saat itu, setelah diperiksa di rumah sakit, tekanan darahnya diketahui sangat tinggi.

Beberapa kondisi yang dialami istriku saat terkena stroke antara lain:

Pertama, kelumpuhan atau kelemahan anggota gerak.
Saat serangan terjadi, tubuhnya tiba-tiba lemas, tidak bisa bergerak, bicara tidak jelas, dan bibir terlihat sedikit mencong. Saya segera membawanya ke rumah sakit dengan bantuan tetangga. Alhamdulillah, setibanya di sana langsung ditangani dokter.

Setelah beberapa hari perawatan, ia mulai dilatih memiringkan badan, duduk, dan terus dipantau tekanan darahnya. Kelumpuhan tidak terjadi pada seluruh tubuh, melainkan pada tangan dan kaki kanan. Ia masih bisa belajar makan sendiri menggunakan tangan kiri.

Awalnya, setiap gerakan terasa sangat sakit. Namun, latihan harus terus dilakukan agar otot tidak kaku atau mengecil. Kondisi kekakuan (spastik) ini terjadi karena gangguan sinyal antara otak dan otot, sehingga otot terus berkontraksi dan sulit digerakkan.

Kedua, gangguan bicara.
Ucapan yang keluar sering tidak jelas. Kalimat yang paling sering diucapkan saat itu adalah, “Aku ingin pulang.” Ia juga sering kesulitan menyampaikan maksud, bahkan cenderung menggunakan kata “itu” untuk banyak hal.

Untuk melatih kemampuan bicara, ia rutin membaca buku anak-anak dengan gambar besar dan kata sederhana. Selain itu, membaca Al-Qur’an, melantunkan sholawat, serta latihan meniup balon menjadi bagian dari terapi harian untuk melatih otot mulut dan pernapasan.

Ketiga, gangguan kognitif.
Daya ingat dan konsentrasi menurun. Hal sederhana seperti mengingat huruf, jadwal, atau menyampaikan keinginan menjadi sulit. Pernah suatu hari ia meminta jeruk, tetapi menyebutnya “takmir masjid.” Hal ini sempat membingungkan keluarga.

Kejadian lain yang tak terlupakan, saat ia terus mengatakan “Aku ingin pulang” sambil memegang rambutnya. Ternyata, maksudnya adalah ingin memotong rambut. Setelah dipahami, suasana yang tadinya tegang berubah menjadi lega dan penuh haru.

Keempat, perubahan emosi.
Sebelum sakit, istriku dikenal tegar dan tidak mudah menangis. Namun setelah stroke, ia sering menangis tanpa sebab yang jelas. Anak-anak pun sampai berkata, “Ibu sekarang seperti anak kecil.”

Alhamdulillah, setelah satu tahun perjuangan, banyak perubahan yang terjadi. Ia sudah bisa berjalan ke kamar mandi sendiri, tidak mudah menangis, bisa dibonceng motor, menyapu meski sedikit-sedikit, bercerita, mengaji, serta mengingat kembali niat sholat dan doa-doa untuk anak-anaknya.

Ikhlas dan ridha menerima penyakit menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan. Emosi yang semakin stabil serta tekanan darah yang kembali normal menjadi tanda kemajuan yang luar biasa. Dukungan keluarga yang selalu mendampingi juga menjadi sumber semangat untuk terus bangkit dan menjalani hidup dengan lebih baik.

Sehat selalu istriku. Aamiin.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendoakan proses kesembuhan istriku.
Jazakumullah ahsanal jaza.

Pelantikan DPAC FKDT : Memperkuat Sinergitas MDT Menuju Generasi Cilacap Berakhlak

0
Oleh : Akhmad Sururi Wakil Ketua DPW FKDT Jateng

Komunitas Madrasah Diniyah Takmiliyah yang tergabung dalam Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) dalam hal ini DPC FKDT Kab Cilacap akan menyelenggarakan Pelantikan DPAC FKDT (Dewan Pengurus Anak Cabang Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah) Kecamatan secara serentak di hotel Sindoro Cilacap. Acara tersebut rencananya akan dihadiri oleh pejabat dilingkungan Pemkab Cilacap dan Kemenag serta beberapa tokoh agama. Kabid PD Pontren Kanwil Kemenag Jawa Tengah juga direncanakan hadir bersama dengan Pengurus DPW FKDT Jawa Tengah.

Sebagai forum yang mewadahi Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) eksistensi FKDT berperan penting dalam melakukan kordinasi bersama dengan Kementerian Agama dan Pemda Kab Cilacap. FKDT menjadi entitas yang bisa menggerakkan peran masyarakat dan pemerintah daerah dalam ikut serta membangun peradaban melalui.jalur pendidikan keagamaan.

Wujud keberpihakan Pemda Kab Cilacap bantuan sebesar Rp 4,5 Juta yang digelontorkan untuk 600 MDT di Cilacap. Hal tersebut menjadi bukti Pemkab Cilacap memilki perhatian yang serius terhadap Pendidikan Keagamaan yang didalamnya ada MDT, TPQ dan Pondok Pesantren. Tentu hal ini melalui proses komunikasi dan pendekatan yang intens sebagai langkah atau proses.munculnya kebijakan Pemda Kab Cilacap yang bermanfaat untuk pendidikan keagamaan.

Kehadiran FKDT Kab Cilacap sebagai penggerak komunitas MDT diharapkan dapat mewujudkan kemandirian dengan senantiasa menjalin kemitraan yang solid bersama Pemda dan Kemenag. Hal ini sangat penting mengingat eksistensi MDT membutuhkan penguatan regulasi dari pemerintah. Sementara secara internal FKDT harus bergerak untuk peningkatan kualitas pendidikan.

Sinergitas dan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan beberapa kelompok masyarakat menjadi energi positif yang dapat memajukan FKDT di Kab Cilacap. Hal ini sangat penting mengingat tantangan ke depan lembaga pendidikan keagamaan di butuhkan langkah antisipasi bersama untuk menyelamatkan generasi melalui penguatan pendidikan keagamaan.

Melalui momentum Pelantikan DPAC FKDT Kecamatan se Kab Cilacap yang dilanjutkan dengan Raker diharapkan dapat menyusun agenda strategis empat tahun kedepan untuk mewujudkan FKDT berdaya. Semua kepengurusan yang akan dilantik sudah menyiapkan diri untuk berkhidmah untuk Madrasah Diniyah. ***

Harlah FKDT ke-14 : Menjaga Harmoni Memperkuat Sinergi

0
Oleh : Akhmad Sururi, Wakil Sekretaris Jenderal DPP FKDT

Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah dalam hitungan hari akan merayakan Hari Ulang tahun yang ke 14 (14 April 2012 – 14 April 2026). Secara simbolis perayaan Hari Ulang Tahun akan dilaksanakan secara sederhana di kantor DPP FKDT, tepatnya di Jl Salemba Tengah Jakarta Pusat. Adapun untuk perayaan dalam bentuk show of force akan diselenggarakan Istighosah dan Apel Akbar Guru Madin se-Indonesia.

Harlah FKDT menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran Madrasah Diniyah dalam membangun karakter umat. Dengan tema “Menjaga Harmoni, Memperkuat Sinergi”, diharapkan seluruh elemen dapat terus memperkuat kebersamaan, mempererat koordinasi, serta meningkatkan kontribusi nyata dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.

Menjaga harmoni kepengurusan mulai dari tingkat bawah sampai dengan tingkat atas menjadi spirit kekuatan bersama untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. FKDT hadir dengan komunitas MDT (Madrasah Diniyah Takmiliyah) menjadi pilar bangsa yang memiliki peran signifikan dalam mewujudkan generasi yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Tidak bisa kita bayangkan bagaimana akhlak generasi bangsa tanpa kehadiran MDT di republik tercinta ini.

Sebagai entitas bangsa yang secara khusus bergerak dalam segmentasi pendidikan, menjaga harmoni dengan pemerintah juga mutlak dibutuhkan. Hal tersebut karena pemerintah sebagai regulator memilki otoritas untuk mewujudkan pendidikan keagamaan memiliki daya kemajuan. Meskipun sesungguhnya seluruh MDT yang berdiri di tengah tengah masyarakat adalah milik masyarakat akan tetapi kebijakan regulasi pendidikan ada di tangan pemerintah.

Dalam beberapa kesempatan pertemuan dengan pengurus DPC FKDT Kab/Kota di wilayah Republik Indonesia, Ketua Umum DPP FKDT, KH Lukman Hakim selalu berpesan agar FKDT selalu menjaga soliditas kepengurusan dan harmoni dengan pemerintah kab/kota setempat. Pesan ini sangat memilki makna untuk berbagi peran dalam memperkuat pendidikan karakter melalui lembaga pendidikan MDT.

Upaya ini menjadi kekuatan bersama dalam mewujudkan generasi Indonesia yang hebat dan berakhlak. Oleh karena itu sinegisitas pemerintah dan kelompok masyarakat termasuk FKDT mm menjadi suatu keniscayaan yang harus selalu terpelihara. Lebih dari itu mendorong masyarakat untuk membangun kesadaran pentingnya pendidikan keagamaan dibutuhkan kolaborasi beberapa pihak elemen bangsa.

FKDT sebagai ormas yang berbasis pendidikan keagamaan non formal dalam hal ini MDT (Madrasah Diniyah Takmiliyah) juga perlu memperkuat jalinan sinergi dengan lembaga pendidikan formal. Hal ini sangat penting karena murid MDT pada pagi harinya mengikuti kegiatan pembelajaran pada sekolah formal. Oleh karena itu pola sinergitas diharapkan terbangun ekosistem pendidikan yang berporos kepada tujuan pendidikan nasional.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, MDT telah terbukti hadir mencetak generasi bangsa yang menjaga harmoni antara agama dan negara. Sehingga agama menjadi ruh dan spirit dalam mewujudkan Indonesia yang damai dan harmonis dalam naungan bhineka tunggal Ika. Komunitas MDT yang tergabung dalam FKDT menyadari betul bahwa Indonesia yang terdiri dari beragam suku, adat dan budaya dengan ribuan pulau dapat menyatu karena kekuatan idiologi kebangsaan dan harmoni yang terbangun sangat kuat.

Melalui momentum Harlah ke 14 FKDT semua elemen yang tergabung dalam barisan FKDT senantiasa menjaga harmoni internal di lingkungan kepengurusan semua tingkatan. Hal tersebut akan berdampak terhadap harmoni FKDT dengan pemerintah dan kelompok masyarakat yang ikut bersama mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Penguatan sinergitas terus dilanjutkan sebagai langkah kongkrit untuk mewujudkan generasi hebat dan berakhlak. Secara implementatif bisa menyusul kerja sama dengan beberapa pihak yang berperan dalam peningkatan mutu pendidikan keagamaan di republik Indonesia. ***

23 Desa di Indramayu Terima Truk KDMP, Distribusi Resmi Digelar di Makodim 0616

0

INDRAMAYU (Aswajanews) – Melalui Kodim 0616/Indramayu, PT Agrinas resmi mendistribusikan kendaraan truk untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di wilayah Kabupaten Indramayu. Sebanyak 23 unit kendaraan diserahkan dalam kegiatan yang digelar di Makodim 0616/Indramayu, Jumat (10/4/2026).

Komandan Kodim 0616/Indramayu, Letkol Arm Tulus Widodo, menyampaikan bahwa proses selanjutnya adalah pendistribusian perlengkapan penunjang kendaraan.

“Selanjutnya kami akan mendistribusikan rak serta kelengkapan lainnya yang harus ada di koperasi yang sudah terbangun,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam kegiatan tersebut dilakukan serah terima secara simbolis dari PT Agrinas kepada Plt Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan dan Perindustrian (Kadiskopdagin) Indramayu. Selanjutnya, kendaraan diserahkan kepada para pengurus atau ketua KDMP di desa-desa yang pembangunannya telah rampung 100 persen.

Sementara itu, Plt Kadiskopdagin Indramayu, H. Mardono, menegaskan bahwa setelah serah terima dilakukan, pengelolaan menjadi tanggung jawab koperasi dengan pendampingan teknis dari dinas.

“Setelah diserahkan, maka sudah menjadi ranah koperasi. Untuk teknis manajemen, akan dibina oleh Dinas Koperasi,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa program tersebut sejalan dengan harapan Presiden Prabowo Subianto agar koperasi desa dapat berkembang optimal.

“Kami akan menerapkannya sesuai dengan peraturan yang berlaku,” pungkasnya.

Daftar Desa Penerima Kendaraan Truk KDMP di Indramayu:

  1. Tegalmulya – Krangkeng
  2. Longok – Sliyeg
  3. Kalimati – Jatibarang
  4. Lombang – Juntinyuat
  5. Kenanga – Sindang
  6. Sindang – Sindang
  7. Karanganyar – Pasekan
  8. Pilangsari – Jatibarang
  9. Bondan – Sukagumiwang
  10. Sukamulya – Tukdana
  11. Wanasari – Bangodua
  12. Loyang – Terisi
  13. Manggungan – Terisi
  14. Wirakanan – Kandanghaur
  15. Purwajaya – Krangkeng
  16. Tanjakan – Krangkeng
  17. Srengseng – Krangkeng
  18. Karangsong – Indramayu
  19. Rambatan Kulon – Lohbener
  20. Kiajaran Wetan – Lohbener
  21. Juntikebon – Juntinyuat
  22. Sukaslamet – Kroya
  23. Luwunggesik – Krangkeng

(Herman/Tongol)

Tidak Menaikkan Harga BBM, Risiko APBN Bengkak

0
Oleh: Dedi Asikin

Rakyat di akar rumput tentu bersorak gembira saat mendengar kabar harga BBM bersubsidi—Pertalite dan Solar—tidak jadi naik. Di tengah tekanan ekonomi, keputusan ini seolah menjadi angin segar. Namun, euforia itu perlu disikapi dengan hati-hati.

Menurut Wisnu Wardhana, SH, MH, dalam diskusi “Ngadu Bako”, kebijakan tidak menaikkan harga BBM sangat mungkin hanya bersifat sementara. Wartawan yang juga berprofesi sebagai pengacara itu menilai, langkah tersebut berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Ia mengungkapkan, pemerintah harus menambah anggaran sekitar Rp41 triliun akibat lonjakan harga minyak dunia. Saat ini, harga minyak telah menembus 98 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN yang dipatok di angka 70 dolar AS per barel.

Artinya, untuk menjaga harga BBM tetap stabil, pemerintah harus menutup selisih tersebut dengan dana tambahan di luar anggaran subsidi energi yang sebelumnya sudah mencapai Rp341 triliun.

Sumber dana itu, menurut Wisnu, berasal dari efisiensi atau pemangkasan anggaran di berbagai kementerian dan lembaga yang dilakukan pada masa Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Masalahnya, tren harga minyak dunia masih menunjukkan kecenderungan naik. Bahkan, dalam skenario terburuk, harga bisa menembus 130 dolar AS per barel. Jika itu terjadi, beban subsidi energi akan semakin berat dan berpotensi membuat APBN kian tertekan.

Di sisi lain, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, justru mengusulkan penghapusan subsidi BBM. Ia mendorong agar harga BBM disesuaikan dengan harga keekonomian.

Jika kebijakan tersebut diterapkan, maka konsekuensinya cukup jelas: harga BBM, listrik, hingga LPG akan mengalami kenaikan. Wisnu memperkirakan harga keekonomian BBM bisa mencapai Rp15.000 per liter, bahkan Solar berpotensi menembus di atas Rp20.000 per liter.

Kenaikan harga energi global sendiri tidak lepas dari faktor geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang diprediksi berlangsung panjang. Salah satu isu krusial adalah potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia, yang memicu kekhawatiran pasar global.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat diharapkan dapat menyikapi kebijakan pemerintah secara realistis, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak ekonomi yang mungkin terjadi ke depan. ***

Salak Heritage Club dan AMKI Pusat Jalin Aliansi Strategis

0

INDRAMAYU (Aswajanews) – Sebuah langkah strategis dalam memperkuat gerakan pelestarian warisan budaya sekaligus penguatan ekosistem media nasional resmi dimulai melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Salak Heritage Club (SHC) dan Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat.

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan oleh Ketua Umum Salak Heritage Club, Hengky Effendi, S.E., M.A. dengan Ketua Umum AMKI Pusat, Ir. Tundra Meliala, M.M., GRCE., CPCC bertempat di Hotel Salak The Heritage, Kota Bogor, Rabu (8/4/2026).

Momentum penting ini, turut disaksikan oleh Pembina Utama SHC, Djoko Sungkono, serta Penasihat SHC, Mayjen TNI (Purn.) Dr. Markoni, S.H., M.H., memberikan dukungan penuh terhadap lahirnya kolaborasi strategis antara komunitas heritage dan jaringan media nasional.


Penandatanganan MoU ini juga dihadiri Sekjen AMKI Dadang Rachnat, S. H, dan Humas Rendi Herdiana, menandai dimulainya kerja sama dalam berbagai bidang, antara lain:

  • Penguatan literasi sejarah dan budaya bangsa melalui media konvergensi
  • Promosi dan publikasi warisan budaya Nusantara
  • Pengembangan program edukasi heritage berbasis media digital
  • Pembangunan jejaring nasional komunitas budaya dan media
  • Dukungan komunikasi strategis terhadap program-program kebangsaan

Ketua Umum SHC, Hengky Effendi, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari visi besar Salak Heritage Club untuk menjadikan gerakan heritage sebagai kekuatan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sumber inspirasi masa depan bangsa. Melalui kolaborasi dengan AMKI, kami ingin menjadikan heritage sebagai gerakan nasional yang disebarkan melalui kekuatan media konvergensi,” ujar Hengky.

Sementara itu, Ketua Umum AMKI Pusat Tundra Meliala menegaskan bahwa peran media sangat penting dalam merawat ingatan kolektif bangsa.

“Media memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga narasi sejarah dan identitas bangsa. Kerja sama dengan Salak Heritage Club membuka ruang sinergi antara dunia media dan komunitas pelestari budaya,” ungkapnya.

Pembina Utama SHC Djoko Sungkono menilai bahwa kolaborasi ini merupakan langkah visioner yang mempertemukan kekuatan budaya dengan kekuatan komunikasi publik.

Menurutnya, ketika gerakan heritage bersinergi dengan media nasional, maka pesan-pesan kebangsaan dapat menjangkau masyarakat lebih luas dan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga warisan bangsa.

Acara penandatanganan MoU ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kebangsaan di lingkungan historis Hotel Salak The Heritage, yang menjadi simbol kuat pertemuan antara nilai sejarah, budaya, dan masa depan Indonesia.

Melalui kemitraan strategis ini, Salak Heritage Club dan AMKI Pusat, diharapkan dapat menjadi motor penggerak lahirnya berbagai program nasional yang mengangkat nilai-nilai heritage, kebudayaan, dan identitas bangsa dalam era media digital dan konvergensi informasi.

Kolaborasi ini juga menjadi tonggak awal bagi terbentuknya ekosistem gerakan heritage nasional yang melibatkan komunitas, media, akademisi, serta berbagai elemen masyarakat dalam menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia. (Sn)

Hubb al-‘Ulūm dan Ittihād al-‘Ulamā’: Relevansi Pemikiran KH Hasyim Asy’ari dalam Menjawab Krisis Keilmuan dan Disintegrasi Umat

0
Oleh: A'isy Hanif Firdaus, S.Ag., M.Pd.*

Pemikiran Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari tidak hanya penting dalam konteks sejarah perjuangan bangsa Indonesia, tetapi juga memiliki relevansi yang sangat kuat dalam menjawab tantangan umat Islam kontemporer. Dua konsep penting yang sering menjadi fondasi pemikirannya adalah hubb al-‘ulūm (cinta terhadap ilmu) dan ittihād al-‘ulamā’ (persatuan ulama).

Dalam pandangan penulis, kedua konsep ini bukan sekadar ajaran normatif, melainkan strategi peradaban yang hingga kini belum sepenuhnya diimplementasikan secara optimal di tengah masyarakat Muslim.

Konsep hubb al-‘ulūm dalam pemikiran KH Hasyim Asy’ari berangkat dari kesadaran bahwa ilmu merupakan pilar utama kemajuan umat. Dalam karya monumentalnya, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, beliau menekankan bahwa ilmu tidak dapat dipisahkan dari adab. Perspektif ini menjadi kritik tajam terhadap kecenderungan modern yang seringkali menempatkan ilmu semata sebagai instrumen pragmatis untuk mencapai kepentingan material.

Bagi KH. Hasyim Asy’ari, ilmu yang tidak dilandasi adab justru berpotensi merusak tatanan sosial, karena kehilangan dimensi etis dan spiritualnya.

Dalam konteks kekinian, kita dapat menyaksikan bagaimana krisis moral di berbagai sektor seringkali disebabkan oleh minimnya internalisasi nilai-nilai adab dalam proses pendidikan. Banyak individu yang berpendidikan tinggi, namun tidak mampu menunjukkan integritas, tanggung jawab sosial, maupun kepedulian terhadap sesama. Fenomena ini menunjukkan bahwa semangat hubb al-‘ulūm belum sepenuhnya dipahami sebagaimana yang dimaksud oleh Hasyim Asy’ari, yaitu sebagai kecintaan terhadap ilmu yang melahirkan kesalehan pribadi dan sosial sekaligus.

Hubb al-‘ulūm menurut KH. Hasyim Asy’ari juga mengandung dimensi keberlanjutan keilmuan. Ilmu harus diwariskan dari generasi ke generasi melalui sistem pendidikan yang kuat, seperti pesantren. Dalam hal ini, peran pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional menjadi sangat strategis dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam.

Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan spiritualitas. Oleh karena itu, melemahnya perhatian terhadap lembaga-lembaga pendidikan berbasis nilai seperti pesantren dapat berdampak pada pudarnya semangat hubb al-‘ulūm dalam masyarakat.
Namun demikian, kecintaan terhadap ilmu saja tidak cukup untuk membangun kekuatan umat. Di sinilah pentingnya konsep ittihād al-‘ulamā’. KH Hasyim Asy’ari menyadari bahwa ulama memiliki peran strategis sebagai pemimpin moral dan intelektual dalam masyarakat. Akan tetapi, peran tersebut hanya dapat berjalan efektif apabila para ulama mampu bersatu dalam visi dan misi yang sama. Persatuan ulama bukan berarti meniadakan perbedaan pendapat, melainkan mengelola perbedaan tersebut dalam kerangka ukhuwah dan kemaslahatan umat.

Dalam sejarahnya, gagasan ittihād al-‘ulamā’ menjadi salah satu landasan berdirinya Nahdlatul Ulama. Organisasi ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah keagamaan, tetapi juga sebagai sarana konsolidasi ulama dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk kolonialisme.

Dalam konteks ini, Hasyim Asy’ari menunjukkan bahwa persatuan ulama memiliki dimensi politis yang sangat penting, yaitu sebagai kekuatan untuk melawan penindasan dan memperjuangkan keadilan.
Jika kita refleksikan pada kondisi saat ini, tantangan yang dihadapi umat Islam tidak kalah kompleks dibandingkan masa lalu. Globalisasi, perkembangan teknologi, serta dinamika politik yang semakin kompleks menuntut adanya kepemimpinan ulama yang solid dan visioner. Namun, realitas menunjukkan bahwa fragmentasi di kalangan ulama masih menjadi persoalan serius. Perbedaan pandangan seringkali berkembang menjadi konflik terbuka yang justru melemahkan posisi umat Islam secara keseluruhan.

Dalam pandangan penulis, fenomena ini menunjukkan bahwa semangat ittihād al-‘ulamā’ belum sepenuhnya terwujud. Padahal, dalam kondisi dunia yang semakin terhubung, perpecahan internal justru akan semakin memperburuk posisi umat Islam dalam percaturan global. Oleh karena itu, upaya untuk membangun kembali persatuan ulama menjadi sangat mendesak. Persatuan ini tidak harus bersifat struktural, tetapi dapat dimulai dari kesamaan komitmen terhadap nilai-nilai dasar Islam, seperti keadilan, kemanusiaan, dan kemaslahatan.

Menariknya, jika kita mengkaji lebih dalam, hubb al-‘ulūm dan ittihād al-‘ulamā’ merupakan dua konsep yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Kecintaan terhadap ilmu akan melahirkan ulama-ulama yang berkualitas, sementara persatuan ulama akan memastikan bahwa ilmu tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan umat. Tanpa ilmu, persatuan akan kehilangan arah. Sebaliknya, tanpa persatuan, ilmu akan kehilangan kekuatan transformasinya.

Dalam konteks pendidikan modern, integrasi antara kedua konsep ini menjadi sangat penting. Sistem pendidikan tidak hanya harus mampu menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran kolektif untuk bekerja sama dalam membangun masyarakat. Hal ini dapat diwujudkan melalui kurikulum yang menekankan pada pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai kebersamaan, serta penghargaan terhadap perbedaan.

Selain itu, peran teknologi juga perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat semangat hubb al-‘ulūm dan ittihād al-‘ulamā’. Di era digital, akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi semakin mudah. Namun, kemudahan ini juga diiringi dengan tantangan berupa penyebaran informasi yang tidak akurat dan potensi disinformasi. Dalam situasi ini, ulama memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi rujukan yang kredibel dan mampu memberikan panduan yang benar kepada masyarakat.

Di sisi lain, teknologi juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi di antara para ulama. Platform digital dapat digunakan untuk membangun jaringan keilmuan yang lebih luas, sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan secara lebih intensif.

Dengan demikian, semangat ittihād al-‘ulamā’ dapat diwujudkan dalam bentuk yang lebih kontekstual dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Sebagai penutup, pemikiran KH Hasyim Asy’ari tentang hubb al-‘ulūm dan ittihād al-‘ulamā’ merupakan warisan intelektual yang sangat berharga bagi umat Islam. Kedua konsep ini tidak hanya relevan dalam konteks sejarah, tetapi juga memiliki signifikansi yang sangat besar dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.

Dalam pandangan penulis, revitalisasi kedua konsep ini merupakan langkah strategis untuk membangun kembali kekuatan umat Islam, baik dalam aspek keilmuan maupun sosial.
Oleh karena itu, diperlukan komitmen bersama dari berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan masyarakat luas, untuk menginternalisasikan nilai-nilai hubb al-‘ulūm dan ittihād al-‘ulamā’ dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan demikian, umat Islam dapat kembali menjadi kekuatan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga solid secara sosial dan mampu memberikan kontribusi positif bagi peradaban dunia.

DAFTAR REFERENSI
1. Asy’ari, Hasyim. Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim. Jombang: Maktabah Turats Islamy.
2. Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.
3. Fealy, Greg. Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952–1967. Yogyakarta: LKiS.
4. Bruinessen, Martin van. Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Yogyakarta: Gading Publishing.
5. Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia. Jakarta: LP3ES.
6. Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana.
7. Wahid, Abdurrahman. Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren. Yogyakarta: LKiS.

*A’isy Hanif Firdaus, S. Ag., M.Pd. (Alumni Program Studi Magister FAI Unwahas Semarang, Sekretaris PRNU Kedawon, LTN PCNU Kabupaten Brebes)

Kakanwil Kemenag Jabar Lantik 107 Pejabat Fungsional dan 9 Administrator

0

BANDUNG (Aswajanews) – Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat menggelar pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan fungsional serta pejabat administrator di lingkungan Kanwil Kemenag Jabar, Rabu (8/4), di Aula Kanwil Kemenag Jawa Barat.

Sebanyak 107 pegawai jabatan fungsional resmi dilantik, terdiri dari 104 penghulu dan 3 perencana. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pelantikan 9 pejabat administrator sebagai bagian dari penguatan struktur organisasi dan peningkatan kinerja kelembagaan.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, H. Dudu Rohman, menegaskan bahwa rotasi, mutasi, dan promosi merupakan hal yang wajar dalam dinamika organisasi.

“Rotasi dan promosi ini adalah bagian dari penyegaran organisasi. Saya berharap yang dilantik hari ini dapat segera beradaptasi dengan tugas dan fungsi yang baru,” ujarnya.

Ia menekankan tiga aspek utama yang harus dijaga dalam menjalankan amanah jabatan, yakni integritas, profesionalitas, serta rekam jejak kinerja. Ketiganya dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap Kementerian Agama.

Selain itu, Kakanwil juga menyampaikan empat fokus utama yang harus menjadi perhatian para pejabat, yaitu penguatan zona integritas, pengembangan madrasah unggul, peningkatan kualitas layanan publik di KUA dan unit layanan lainnya, serta menjaga kerukunan umat beragama.

“Kita berhadapan langsung dengan tokoh agama dan masyarakat. Kuncinya adalah silaturahmi, komunikasi yang baik, dan keteladanan,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap praktik penipuan yang mengatasnamakan pejabat Kementerian Agama terkait mutasi maupun promosi jabatan.

“Jika ada yang mengatasnamakan saya, Pak Menteri, atau pejabat lain dan meminta uang, jangan dipercaya. Semua proses ini nol rupiah,” tegasnya.


Pelantikan ini diharapkan mampu memperkuat kinerja organisasi sekaligus menghadirkan layanan keagamaan yang profesional, transparan, dan berdampak luas bagi masyarakat.

Daftar Pejabat yang Dilantik:

  1. Dr. H. Ohan Burhan, M.Pd.I – Kepala Kemenag Kabupaten Purwakarta
  2. Dr. H. Agus Sutisna, S.Ag., M.Pd. – Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Jabar
  3. Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim – Kepala Kemenag Kabupaten Majalengka
  4. H. Slamet, S.Ag. – Kepala Kemenag Kabupaten Cirebon
  5. H. Enjat Mujiat, S.Ag., M.H. – Kepala Kemenag Kabupaten Bogor
  6. H. Dede Supriatna, S.Ag., M.Pd.I. – Kepala Kemenag Kota Depok
  7. H. Mahmudi Affan Rangkuti, S.Pd.I., M.EI – Kepala Kemenag Kota Bogor
  8. Dr. H. Ujang Ruhiat, S.Ag., M.Ag. – Kepala Kemenag Kabupaten Bekasi
  9. Dr. Junit Sihombing, S.Th., M.Th. – Pembimbing Masyarakat Kristen Kanwil Kemenag Jabar

(Kontributor: Novam Scorpiantrien)

Bupati Lucky Gerak Cepat Pulangkan Tujuh Pekerja Terlantar di Papua

0

INDRAMAYU (Aswaja.lnews) – Bupati Indramayu, Lucky Hakim, bergerak cepat (gercep) memerintahkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Indramayu untuk segera memulangkan tujuh pekerja asal Indramayu yang terlantar di perantauan, tepatnya di kawasan Sermayam, Merauke, Papua Selatan.

Kepala Disnaker Indramayu, Endang Ismiati, mengatakan pihaknya langsung menindaklanjuti perintah tersebut. Seluruh biaya pemulangan para pekerja akan ditanggung oleh Baznas Kabupaten Indramayu.

“Pak Bupati sudah memerintahkan kami agar segera memulangkan tujuh pekerja yang terlantar di Papua. Semua biaya pemulangan ditanggung Baznas,” ujar Endang kepada Radar Indramayu di ruang kerjanya, Rabu (8/4/2026).

Endang menjelaskan, pihaknya atas perintah bupati bergerak cepat setelah sebuah video memilukan viral di media sosial yang memperlihatkan kondisi para pekerja asal Indramayu yang terlantar akibat ditinggal mandor.

Disnaker kemudian berhasil menghubungi Catu Wijaya, perwakilan pekerja asal Desa Rajasinga, Kecamatan Terisi.

Catu menuturkan, tujuh pekerja tersebut bekerja sebagai kuli bangunan dalam proyek pembangunan barak TNI di Yonif TP 818/YUBOI. Namun, harapan untuk mendapatkan penghasilan layak justru berubah menjadi penderitaan. Mereka mengaku tidak menerima hak sesuai perjanjian awal, bahkan ditinggal oleh mandor yang membawa mereka ke Papua.

“Atas perintah Pak Bupati Lucky, kami langsung mencari tahu keberadaan mereka. Alhamdulillah sekarang sudah bisa menghubungi Pak Catu, tinggal menunggu kesiapan untuk dipulangkan ke Indramayu,” jelas Endang.

Ia menambahkan, Disnaker bersama Dinas Sosial dan Baznas telah siap memfasilitasi pemulangan para pekerja. Namun saat ini, para pekerja masih mengurus upah yang belum dibayarkan oleh mandor.
“Kami sudah siap memulangkan. Jika mereka sudah siap, tiket pesawat segera kami beli,” pungkas mantan Camat Sliyeg tersebut.

Ketujuh nama pekerja yang terlantar di  Papua adalah Mulyadi, Yogi Setiawan, Catu Wikaya, warga Desa Rajasinga, Kecamatan Terisi, Ahmad Malik Ibrahim, warga  Desa Jatimulya, Jayadi, warga Desa Cikawung, Carwadi, warga Desa Plosokerep, Kec. Terisi dan , Rasim, warga Blok Sarmita, Desa Puntang, Kec. Losarang. (Sn)

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts