
Pendidikan tinggi pada hakikatnya tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga individu yang mampu memahami dan merespons realitas sosial secara kritis. Karena itu, proses pembelajaran tidak cukup dilakukan di dalam ruang kelas. Mahasiswa perlu berhadapan langsung dengan dunia kerja, masyarakat, dan berbagai dinamika yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui buku ajar.
Semangat itulah yang melandasi pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) ke PT Jawa Pos di Surabaya dan Yayasan Bali Mualaf Development (YBMD) di Bali. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana teori komunikasi, jurnalistik, dan dakwah diterapkan dalam praktik sehari-hari.
Di kantor Jawa Pos, mahasiswa diperkenalkan pada dinamika industri media modern yang terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Melalui sesi diskusi dan observasi di ruang redaksi, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai proses produksi berita, strategi konvergensi media, hingga tantangan yang dihadapi perusahaan pers dalam menjaga kredibilitas informasi di tengah derasnya arus media sosial dan kecerdasan buatan (AI).
Kunjungan tersebut memberikan pemahaman bahwa dunia jurnalistik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menulis berita, tetapi juga menuntut kecepatan, ketelitian, integritas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi. Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah media besar bekerja untuk mempertahankan kepercayaan publik di tengah persaingan informasi yang semakin kompleks.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Bali dengan mengunjungi Yayasan Bali Mualaf Development (YBMD), sebuah lembaga yang bergerak dalam pendampingan dan pembinaan para mualaf. Di tempat ini, mahasiswa memperoleh perspektif baru mengenai dakwah yang tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga melalui pendekatan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan.
Melalui dialog dengan pengelola yayasan dan para mualaf, mahasiswa belajar mengenai pentingnya komunikasi yang inklusif serta kemampuan membangun hubungan sosial di tengah masyarakat yang beragam. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa dakwah pada era modern menuntut sensitivitas budaya, empati, dan kemampuan berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat secara bijaksana.
Selain kunjungan ke institusi media dan lembaga sosial-keagamaan, kegiatan KKL juga diisi dengan observasi budaya di sejumlah destinasi di Bali, seperti Pantai Melasti, Pura Tanah Lot, Desa Penglipuran, dan Pura Ulun Danu Beratan. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami hubungan antara budaya, agama, komunikasi, dan pariwisata yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali.
Dari berbagai rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh banyak pengalaman dan wawasan baru. Namun demikian, terdapat sejumlah catatan yang layak menjadi bahan refleksi. Sebagian besar aktivitas KKL masih berorientasi pada observasi dan diskusi. Mahasiswa lebih banyak menjadi pengamat dibanding terlibat langsung dalam proses kerja maupun kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Di lingkungan media, misalnya, mahasiswa belum sepenuhnya merasakan pengalaman praktik jurnalistik yang sesungguhnya, seperti melakukan peliputan, menyusun berita di bawah tekanan tenggat waktu, atau menghadapi dilema etika jurnalistik. Demikian pula dalam kunjungan ke komunitas mualaf, mahasiswa lebih banyak menerima informasi dan berbagi pengalaman tanpa terlibat secara langsung dalam program pendampingan yang dijalankan yayasan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan KKL ke depan perlu didesain lebih partisipatif. Mahasiswa tidak hanya diajak melihat dan mendengar, tetapi juga diberi kesempatan untuk terlibat, berkontribusi, serta mengasah kemampuan analisis terhadap berbagai persoalan yang ditemui di lapangan. Dengan demikian, pengalaman belajar yang diperoleh akan menjadi lebih mendalam dan bermakna.
Pada akhirnya, KKL memiliki peran penting sebagai jembatan antara dunia akademik dan realitas kehidupan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami bahwa teori yang dipelajari di bangku kuliah bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan harus diuji dan diperkaya melalui pengalaman nyata. Ketika ruang kelas mampu terhubung dengan dunia kerja dan masyarakat, proses pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kemampuan adaptasi, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan. Inilah makna sesungguhnya dari upaya meruntuhkan dinding kelas: menghadirkan pembelajaran yang hidup, relevan, dan membumi. ***
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.































