Beranda Aktual Angin Laut Tak Sedingin Angin Kumbang

Angin Laut Tak Sedingin Angin Kumbang

0

Angin laut memang terkenal sejuk. Namun, ketika Angin Kumbang mulai menguasai kawasan Pantura Brebes, Tegal, hingga Cirebon, dinginnya terasa jauh lebih menusuk. Bibir menjadi pecah-pecah, kulit mengering, dan gejala flu mulai menyerang tanpa mengenal usia.

Masyarakat pesisir tentu sangat akrab dengan fenomena ini. Di Desa Randusanga Kulon, misalnya, musim Angin Kumbang biasanya datang antara Juni hingga September, dengan puncaknya pada akhir Juli hingga Agustus.

Pada masa itulah muncul pemandangan yang khas. Sarung yang biasanya digunakan menutup kaki berpindah ke pundak dan diselempangkan di leher. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk adaptasi masyarakat pesisir dalam menghadapi terpaan hawa dingin yang ekstrem.

Sarung dilipat tebal, kemudian diselempangkan menyilang atau dilingkarkan di leher. Cara sederhana ini diyakini mampu melindungi dada, pundak, dan leher dari terpaan angin yang kencang. Selain menghangatkan tubuh, tradisi tersebut juga dipercaya dapat mengurangi risiko masuk angin, flu, serta gangguan pernapasan.

Lebih dari sekadar pelindung tubuh, sarung selempang telah menjadi identitas budaya masyarakat Pantura saat musim Angin Kumbang tiba. Posisi sarung di leher membuat seseorang tetap leluasa bergerak tanpa khawatir sarung terkena kotoran di jalan. Dengan demikian, sarung tetap bersih dan dapat digunakan kembali untuk menunaikan ibadah salat.

Saat musim ini datang, pembicaraan tentang dinginnya Angin Kumbang menjadi topik yang akrab di berbagai kalangan. Nelayan, petambak, pemancing, hingga penjual nasi ponggol di pagi hari sama-sama merasakan dampaknya. Para pembeli pun tampak mengenakan jaket tebal atau membalut tubuh dengan kain hangat.

Para pekerja kantoran maupun buruh pabrik juga ikut merasakan perubahan cuaca tersebut. Pendingin ruangan (AC) yang biasanya disetel pada suhu rendah kini dinaikkan ke suhu yang lebih hangat demi menjaga kesehatan dan kenyamanan bersama.

Secara ilmiah, dinginnya Angin Kumbang dipengaruhi oleh rendahnya kelembapan udara. Massa udara kering yang melewati pegunungan, seperti Gunung Ciremai maupun kawasan Gunung Slamet dan Gunung Kumbang, kehilangan banyak kandungan uap air. Udara yang sangat kering memiliki kemampuan menyimpan panas yang rendah sehingga setelah matahari terbenam suhunya turun dengan cepat.

Fenomena ini dikenal dengan sensasi bediding, yakni hawa dingin yang seolah-olah mengisap kelembapan kulit hingga menusuk ke tulang. Karena itulah, dinginnya angin laut tidak mampu menandingi dinginnya Angin Kumbang.

Langit musim kemarau yang cerah tanpa awan juga memperkuat rasa dingin tersebut. Awan sejatinya berfungsi layaknya selimut yang menahan panas bumi. Ketika langit bersih tanpa awan, panas yang tersimpan di permukaan bumi dengan cepat lepas ke angkasa melalui proses yang dikenal sebagai radiational cooling. Akibatnya, suhu udara pada malam hingga dini hari turun secara drastis.

Tak heran jika pada musim seperti ini suara batuk mulai terdengar di berbagai sudut perkampungan. Kondisi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat lebih waspada dan menjaga daya tahan tubuh.

Angin laut memang menghadirkan kesejukan yang menenangkan. Namun, ketika Angin Kumbang berembus, hawa dinginnya mampu menembus hingga ke tulang. Karena itu, jangan anggap remeh musim kemarau di Pantura. Jagalah kesehatan, kenakan pakaian yang hangat, dan tetap waspada terhadap perubahan cuaca.

Sebab, sebagaimana diyakini masyarakat pesisir sejak dahulu, dinginnya angin laut belum tentu mampu menandingi dinginnya Angin Kumbang.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.