Oleh: Akhmad Sururi (Plt. Sekjen DPP FKDT)
Kabar duka menyelimuti keluarga besar pegiat pendidikan keagamaan di Indonesia, khususnya komunitas Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT). Dr. Sumitro, pendiri sekaligus pejuang pendidikan MDT di Indonesia, wafat pada Sabtu, 20 Juni 2026 pukul 15.15 WIB di kediamannya di Jakarta Timur.
Sebelum berpulang ke rahmatullah, almarhum diketahui menderita sakit komplikasi dan sempat menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Jakarta Timur. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta seluruh insan pendidikan diniyah di Tanah Air.
Penulis pertama kali memperoleh kabar wafatnya Dr. Sumitro melalui grup WhatsApp FKDT Jawa Tengah. Dalam waktu singkat, berbagai ucapan belasungkawa dan doa mengalir dari para pengurus FKDT serta komunitas Madrasah Diniyah di berbagai daerah. Mereka mengenang almarhum sebagai sosok yang memiliki dedikasi luar biasa terhadap pengembangan dan penguatan Madrasah Diniyah Takmiliyah di Indonesia.
Bagi dunia MDT, Dr. Sumitro bukan sekadar tokoh organisasi. Beliau adalah salah satu perintis lahirnya Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), organisasi yang menjadi wadah perjuangan bersama bagi madrasah diniyah di seluruh Indonesia. Meski penulis belum terlibat dalam proses awal pendirian FKDT, namun masih teringat jelas momentum deklarasi organisasi tersebut di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada 12 April 2012.
Hari itu menjadi tonggak sejarah penting bagi perjuangan Madrasah Diniyah Takmiliyah. Ratusan perwakilan dari berbagai kabupaten dan kota di Indonesia hadir untuk menyatukan langkah dalam memperjuangkan eksistensi dan kemajuan pendidikan diniyah. Di balik lahirnya FKDT, Dr. Sumitro menjadi salah satu motor penggerak yang bekerja dengan penuh kesungguhan dan ketulusan.
Jika berbicara tentang MDT, Dr. Sumitro layak disebut sebagai โkamus berjalanโ Madrasah Diniyah Takmiliyah. Pengetahuan beliau tentang sejarah, regulasi, kurikulum, hingga dinamika pengelolaan MDT sangat luas dan mendalam. Tidak mengherankan jika beliau dipercaya memimpin FKDT pada masa-masa awal perjalanan organisasi tersebut.
Lebih dari itu, beliau bukan hanya seorang pemikir, tetapi juga praktisi pendidikan yang terjun langsung mendidik para santri. Penulis pernah menyaksikan sendiri bagaimana almarhum mengajar dengan penuh kesabaran dan keteladanan di hadapan para santri Madrasah Diniyah di Jakarta. Baginya, pendidikan bukan sekadar teori, melainkan pengabdian yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Komitmen Dr. Sumitro terhadap kemajuan MDT begitu besar. Hampir seluruh pemikiran dan langkah perjuangannya diarahkan untuk memperkuat posisi Madrasah Diniyah Takmiliyah di tengah sistem pendidikan nasional. Melalui kemampuan komunikasi yang baik dan jaringan yang luas, beliau berhasil memperkenalkan MDT kepada berbagai kalangan, termasuk pemerintah dan para pemangku kebijakan.
Berkat perjuangan yang dilakukan secara konsisten, keberadaan MDT semakin mendapat perhatian dan pengakuan. Hal tersebut tentu tidak terlepas dari peran besar almarhum yang tanpa lelah menyuarakan pentingnya pendidikan diniyah sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.
Sebagai seorang santri yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Situbondo, Dr. Sumitro dikenal memiliki semangat juang yang tinggi. Beliau kerap melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk memberikan pendampingan, penguatan kelembagaan, serta motivasi kepada para pengelola MDT di tingkat kabupaten dan kota.
Setiap kunjungan daerah selalu dimanfaatkannya untuk membangun komunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari pejabat pemerintah daerah, anggota legislatif, hingga jajaran Kementerian Agama. Tujuannya satu, yakni memperjuangkan keberlangsungan dan kemajuan Madrasah Diniyah Takmiliyah.
Penulis pernah mendampingi beliau saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dalam kesempatan tersebut, terlihat jelas bagaimana beliau mampu menjelaskan pentingnya MDT kepada para pemangku kebijakan dengan argumentasi yang kuat dan penuh keyakinan. Bagi beliau, memperjuangkan MDT bukan sekadar tugas organisasi, melainkan bagian dari ibadah dan pengabdian kepada umat.
Pada masa-masa setelah tidak lagi aktif memimpin FKDT, almarhum lebih banyak mencurahkan waktunya untuk memperdalam kehidupan spiritual dan memperkuat hubungan dengan para guru serta pembimbingnya. Namun demikian, perhatian dan kecintaannya terhadap MDT tidak pernah surut. Setiap diskusi tentang Madrasah Diniyah tetap disambutnya dengan antusias, seolah-olah perjuangan itu telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya.
Kini sosok yang selama ini menjadi rujukan, sahabat, sekaligus inspirasi bagi pegiat MDT telah berpulang. Namun jejak perjuangan, pemikiran, dan pengabdiannya akan terus hidup dalam perjalanan Madrasah Diniyah Takmiliyah di Indonesia.
Kita semua berdoa semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdian beliau, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga perjuangan yang telah beliau persembahkan untuk pendidikan Islam dan Madrasah Diniyah Takmiliyah menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan, kesabaran, dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini.
Kami bersaksi bahwa almarhum adalah orang baik yang telah mengabdikan hidupnya untuk umat dan pendidikan. Semoga Allah SWT mengumpulkan beliau bersama para ulama, syuhada, dan orang-orang saleh.ย Al-Fatihah.
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































