Google search engine
Beranda blog Halaman 60

Bupati Aep : Karawang harus terbebas dari kabel yang Semrawut

0

Karawang (Aswaja News) – Wargi Karawang, hari ini Bupati Karawang bersama para kepala OPD bersilaturahmi dengan Walikota Bogor Bapak Dedie A Rachim di kantor beliau untuk belajar penataan pengelolaan kabel telekomunikasi.

Banyak DM, komentar dan keluhan masuk ke Bupati Aep mengenai kabel semrawut yang menganggu keindahan dan estetika, InsyaAllah apa yang sudah dilakukan di Kota Bogor akan kami tiru agar Karawang bersih dari kabel semrawut.

Hatur nuhun Pak Walikota sudah menerima silaturahmi dan berbagi ilmu untuk Karawang. (Liputan : Ahmad Z)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Sekda Karawang Sampaikan Capaian Prestasi Hingga Target Percepatan Kinerja 2026J

0

Karawang (Aswaja News) – Sekretaris Daerah Kabupaten Karawang H. Asep Aang Rahmatullah,S.STP., M.P. mewakili Bupati Karawang memimpin arahan setelah senam bersama seluruh Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang.

Dalam arahannya, Sekda mengucap syukur atas pencapaian luar biasa Pemerintah Kabupaten Karawang.

“Alhamdulillah, Bapak Bupati baru saja menerima penghargaan Satyalencana Wira Karya. Dari 518 Kabupaten/Kota di Indonesia, Karawang terpilih berkat dedikasi menjaga ketahanan pangan sebagai Lumbung Padi Nasional. Ini adalah kebanggaan kita semua,” ujar Sekda.

Terkait manajemen SDM, Sekda mengonfirmasi bahwa saat ini seluruh jabatan di lingkungan Pemda Karawang telah terisi untuk memastikan roda pemerintahan berjalan optimal. organisasi yang ramping dan lincah (agile).

Sekda menekankan pesan dari Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) mengenai komitmen tahun 2026. “Kita harus melakukan percepatan kerja. Saya minta komitmen agar di tahun 2026 tidak ada lagi tumpukan pekerjaan di akhir tahun. Semua harus terencana dan tereksekusi lebih awal,” tegasnya.

Mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu, Sekda juga mengingatkan para ASN untuk menjaga kondisi fisik dari ancaman Superflu.

Acara ditutup dengan momen memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, dr. Endang Suryadi, MARS.

Menutup sambutannya, Sekda memberikan pesan filosofis: “Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Mari kita berikan yang terbaik selama masa bakti kita untuk masyarakat Karawang.”

(Liputan : Ahmad Z)

Dukung Program Presiden Prabowo, Kang DS Siapkan Lahan Sekolah Rakyat di Kabupaten Bandung

0

BANJARBARU (Aswajanews) – Bupati Bandung, Dadang Supriatna didampingi Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bandung, Ningning Hendasah menghadiri undangan Peresmian 166 Sekolah Rakyat (SR) oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026) siang.

Peresmian tersebut dihadiri para menteri, kepala daerah dari seluruh Indonesia, serta ribuan guru, siswa, dan tenaga kependidikan. Saat ini telah beroperasi 166 titik Sekolah Rakyat sejak 2025, dan pemerintah berencana membangun 104 titik Sekolah Rakyat permanen, yang akan terus meningkat hingga 200 titik pada tahun 2027.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa Program Sekolah Rakyat bertujuan memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu dan terpinggirkan.

“Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan tidak dipungut biaya. Program ini sudah memberi manfaat nyata bagi banyak siswa,” ujar Presiden Prabowo.

Ia menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat menggunakan sistem asrama, dengan seluruh biaya pendidikan ditanggung pemerintah.

“Syarat masuknya harus berasal dari keluarga miskin. Saya ingin mengubah nasib mereka. Jangan sampai bapaknya pemulung, tukang becak, atau buruh, lalu anaknya tidak bisa lebih maju dan sukses,” tegasnya.

Bupati Bandung, Dadang Supriatna yang juga menjabat Ketua Harian Pengurus Pusat APKASI, menyampaikan dukungan penuh terhadap program tersebut.

“Dengan adanya Sekolah Rakyat, anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan kesempatan menciptakan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan berkualitas, fasilitas maksimal, dan pembiayaan penuh dari pemerintah,” tutur Kang DS.

Untuk mendukung pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Bandung, Kang DS mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan lahan di wilayah Pacira.

“Sebelum sekolah permanen dibangun, kegiatan belajar mengajar sudah dilaksanakan di eks Gedung KONI Kabupaten Bandung, rumah singgah siswa, serta Gedung Mess Atlet di Kompleks SOR Si Jalak Harupat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bandung, Teguh Purwayadi menyampaikan bahwa kehadiran Bupati Bandung dan Kepala Dinas Sosial di Banjarbaru merupakan undangan langsung dari Presiden RI dalam acara peresmian tersebut.

“Bupati Bandung menjadi salah satu kepala daerah yang konsisten mendukung program Presiden, mulai dari MBG, KDMP, hingga Sekolah Rakyat,” ungkap Teguh. ***

Dari Kampung Cibugel Ciwidey, Pengajian Rutin Bahas Tasawuf dan Peran Santri

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Pengajian rutin Ahad Malam Senin digelar di Madrasah Darul Hidayah, Kampung Cibugel, Desa Panyocokan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu malam, 11 Januari 2026. Kegiatan keagamaan tersebut diikuti jamaah setempat dan secara rutin diisi oleh Ustadz Muhamad Mujtahidin atau yang akrab disapa Aa Ujang.

Pengajian ini menjadi agenda keagamaan warga Kampung Cibugel yang terus berlangsung secara konsisten. Selain sebagai sarana pendalaman ilmu agama, kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi dan pertemuan warga dalam suasana sederhana.

Dalam ceramahnya, Aa Ujang menjelaskan tiga ilmu pokok yang wajib dipelajari setiap muslim, yakni fikih, tauhid, dan tasawuf. Ketiga ilmu tersebut berkedudukan sebagai fardu ain atau kewajiban individu yang tidak dapat diwakilkan kepada siapa pun.

Ia menegaskan, di antara ketiga ilmu fardu ain tersebut, tasawuf memiliki kedudukan penting. Tasawuf dipahami sebagai cabang ilmu Islam yang menekankan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), penjernihan akhlak, serta pembinaan hubungan spiritual dengan Allah dalam kerangka ihsan.

Menurut Aa Ujang, tujuan tasawuf adalah membentuk pribadi muslim yang mampu mengendalikan hawa nafsu, berakhlak baik, serta meraih ketenangan batin hingga mencapai makrifat atau pengenalan yang benar kepada Allah.

Selain fardu ain, ia juga menguraikan sejumlah ilmu yang termasuk fardu kifayah. Di antaranya ilmu tajhiz jenazah, nahwu dan sharaf, balaghah, mantiq, filsafat, serta ilmu falak yang berkaitan dengan peredaran bulan dan matahari.

Ia menyebutkan, kewajiban mempelajari ilmu fardu kifayah gugur apabila telah ada sebagian warga dalam satu kampung yang menguasainya. Peran tersebut selama ini banyak dijalankan oleh para santri melalui penguasaan ilmu alat keislaman.

Usai pengajian, jamaah melanjutkan kegiatan dengan ngaliwet atau makan bersama. Jamaah duduk lesehan di atas daun pisang dan menikmati hidangan secara bersama-sama, sebagaimana tradisi yang lazim di lingkungan pesantren.

Suasana kebersamaan tampak hangat dan akrab. Kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat silaturahmi serta memperkuat jalinan persaudaraan antarwarga Kampung Cibugel.

(Reporter: Uus)

Ketua DPD PSI Sumedang Turun Langsung Gotong Royong Perbaiki TPT Longsor di Padasuka

0
Firman Firdaus, Ketua DPD PSI Sumedang

SUMEDANG (Aswajanews) – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Sumedang, Firman Firdaus, turun langsung ke tengah masyarakat dan berbaur bersama warga melaksanakan kerja bakti pascalongsor di Dusun Cibitung, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara.

Longsor terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut secara terus-menerus, sehingga Tembok Penahan Tanah (TPT) di Dusun Cibitung tidak mampu menahan tekanan tanah dan akhirnya ambruk.

Firman Firdaus yang juga merupakan Sekretaris RT di lingkungan Dusun Cibitung RT 03/04, bersama pengurus wilayah dan warga setempat bergerak cepat melakukan perbaikan darurat secara swadaya. Meski tidak didukung anggaran desa, semangat gotong royong warga tetap menyala.

“Walaupun tidak ada anggaran dari desa, warga RT 03/04 tetap melakukan perbaikan secara bersama-sama. Alhamdulillah, saat pekerjaan berlangsung banyak warga yang ikut membantu,” ujar Firman di lokasi.

Bantuan datang dari berbagai pihak, mulai dari tenaga, makanan, hingga donasi uang dari warga sekitar. Hal tersebut menunjukkan kuatnya solidaritas dan kepedulian sosial masyarakat Dusun Cibitung dalam menghadapi bencana.

Firman menegaskan bahwa kerja nyata di lapangan adalah bentuk kepedulian langsung terhadap masyarakat. Ia juga menyampaikan harapannya agar pemerintah desa lebih siap menghadapi bencana alam yang sulit diprediksi.

“Insyaallah kerja nyata akan membuahkan hasil yang diharapkan. Saya juga sudah melakukan lobi ke pihak BPD dan kepala dusun agar ke depan disiapkan anggaran khusus untuk bencana alam,” tegasnya.

Ia pun menyentil pentingnya kesiapsiagaan anggaran desa.

“Jangan sampai anggaran bencana kosong atau kas desa kosong. Tolong ini disampaikan kepada kepala desa,” pungkas Firman. (Red)

Gaspol! PSI Majalengka “Mangprang” hingga Akar Rumput, Parlemen 2029 Harga Mati

0

MAJALENGKA (Aswajanews) – Menindaklanjuti instruksi Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) DPW PSI Jawa Barat di Bandung, Rabu (7/1/2026), Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI Kabupaten Majalengka langsung tancap gas alias “mangprang”.

DPD PSI Majalengka bergerak cepat dengan menggelar rapat internal bersama seluruh jajaran pengurus. Dalam rapat tersebut, instruksi tegas disampaikan kepada pengurus DPD, DPC, kader, hingga simpatisan untuk merapatkan barisan serta segera menindaklanjuti arahan Ketua Umum, khususnya terkait percepatan dan kelengkapan struktur kepengurusan hingga tingkat Dewan Pimpinan Ranting (DPRT).

Ketua DPD PSI Majalengka, Nano S Warning, menegaskan bahwa target rekrutmen dan pembentukan kepengurusan di tingkat desa harus rampung 100 persen paling lambat akhir Februari 2026. Ia menyebut, keberhasilan sejumlah DPD PSI di Jawa Barat yang telah menuntaskan struktur kepengurusan menjadi pemicu semangat bagi PSI Majalengka untuk bergerak lebih cepat, solid, dan terukur.

“Tidak ada alasan untuk lamban. PSI Majalengka harus siap dari sekarang, dari struktur sampai kekuatan di akar rumput,” tegas Nano.

Dorongan konsolidasi juga datang dari Ketua DPW PSI Jawa Barat, Hapidin, yang akrab disapa Abang Ijo. Ia mengarahkan agar DPD PSI Majalengka segera menggelar Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) sebagai langkah strategis memperkuat soliditas internal.

Rakorda tersebut akan menjadi forum konsolidasi menyeluruh bagi pengurus, kader, dan simpatisan, sekaligus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Majalengka. Selain itu, Rakorda juga diproyeksikan sebagai momentum penting dalam rangka verifikasi faktual partai politik bersama KPU, sebagai bagian dari persiapan menghadapi tahapan Pemilu.

DPD PSI Majalengka menegaskan bahwa Pemilu 2029 adalah target utama dan tidak bisa ditawar. Dengan semangat “mangprang”, konsolidasi total hingga akar rumput, serta kepemimpinan Ketua DPD Nano S Warning, PSI Majalengka optimistis mampu menembus parlemen dan memperkuat posisi politik di tingkat daerah.
(Idrus/Nas)

Sempat Vakum, Proyek Rp15,5 Miliar Jalan Sukahaji–Cibeber Akhirnya Bergerak Lagi

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Pekerjaan preservasi ruas Jalan Sukahaji–Cibeber kembali dilanjutkan pada Jumat (9/1/2026), setelah sebelumnya sempat tidak terlihat aktivitas di lapangan. Pantauan Aswajanews.id di Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, menunjukkan satu unit alat berat mulai beroperasi di sisi jalan yang berbatasan langsung dengan jurang.

Berdasarkan papan informasi kegiatan yang terpasang di lokasi, pekerjaan tersebut merupakan paket Preservasi Jalan Sukahaji–Cibeber (MYC) yang berada di bawah kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga.
Proyek preservasi jalan ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp15.527.264.336 dengan masa pelaksanaan 180 hari kalender, sebagaimana tercantum dalam dokumen kontrak.

Pantauan di lapangan menunjukkan alat berat difokuskan pada pekerjaan di tepi badan jalan, khususnya pada pembangunan tembok penahan tanah (TPT). Pekerjaan ini bertujuan untuk memperkuat struktur jalan sekaligus mengantisipasi potensi longsor, mengingat kondisi jalan berada di kawasan berbukit dan berdekatan dengan jurang.

Seorang pelaksana pekerjaan di lapangan mengatakan bahwa aktivitas preservasi baru kembali dimulai pada hari ini. Ia mengakui bahwa pada periode sebelumnya, pekerjaan belum berjalan secara optimal.

“Baru hari ini pekerjaan dilanjutkan kembali,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, sejauh ini pelaksanaan pekerjaan berjalan normal dan belum ditemukan kendala yang bersifat signifikan. Adapun hambatan yang sempat muncul lebih berkaitan dengan keberadaan jaringan utilitas di sekitar badan jalan yang memerlukan penyesuaian teknis.
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan pekerjaan. Curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir turut memengaruhi ritme kerja alat berat di lapangan.

Warga setempat membenarkan bahwa aktivitas pekerjaan kembali terlihat. AJ (35), warga Desa Lebakmuncang, mengaku melihat langsung alat berat mulai beroperasi di lokasi proyek.

“Memang betul, hari ini kami melihat alat berat sudah mulai bekerja lagi,” kata AJ.

Warga berharap pekerjaan preservasi ruas Jalan Sukahaji–Cibeber dapat berjalan lancar dan selesai sesuai jadwal, mengingat jalur tersebut merupakan akses vital bagi mobilitas masyarakat serta memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi.
(Reporter: Uus)

Anggaran Desa Dipertanyakan, Banprov Jabar di Panundaan Tak Jelas Realisasinya

0
An An Romdon Kurniawan, S.Pd.I.

BANDUNG (Aswajanews) – Kepala Desa Panundaan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, An An Romdon Kurniawan, S.Pd.I. mengaku tidak terdapat permasalahan terkait anggaran yang digulirkan kepada Pemerintah Desa Panundaan.
Namun, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun tim investigasi Aswajanews di lapangan, sejumlah bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang diterima Desa Panundaan hingga kini belum direalisasikan. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.

Situasi tersebut dinilai seolah-olah tidak mengindahkan instruksi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, terkait transparansi dan percepatan realisasi bantuan kepada masyarakat desa.

Seorang tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan identitasnya membenarkan bahwa hingga saat ini Bantuan Provinsi Jawa Barat belum terealisasi di lapangan. Bahkan, menurutnya, bantuan lain seperti Bantuan Panas Bumi dan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) juga belum menunjukkan realisasi yang jelas.

Ia menegaskan, hingga Sabtu (10/1/2026), unit kendaraan operasional desa yang bersumber dari bantuan tersebut juga belum terlihat berada di Kantor Desa Panundaan.

Menanggapi hal tersebut, Camat Ciwidey, Nardi Sunardi, menjelaskan bahwa kendaraan operasional desa dijadwalkan akan tiba pada 15 Januari 2026. Apabila pada tanggal tersebut kendaraan belum juga diserahkan, maka pihak dealer akan dikenakan sanksi denda.

Terkait Bantuan Provinsi dan BKK, termasuk Bantuan Panas Bumi, Camat Nardi menyatakan bahwa pihak kecamatan terus melakukan monitoring terhadap Pemerintah Desa Panundaan. Ia menegaskan bahwa seluruh bantuan tersebut ditargetkan akan dituntaskan pada Januari 2026.

Terkuaknya persoalan di Desa Panundaan ini menjadi sinyal kuat agar Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), baik di tingkat Kabupaten Bandung maupun Provinsi Jawa Barat, bersikap lebih serius dan tegas dalam menyikapi potensi kerugian negara akibat dugaan penyimpangan anggaran oleh oknum kepala desa.

Selain itu, aparat penegak hukum (APH), baik Kejaksaan maupun Kepolisian, diharapkan berani bertindak tegas tanpa pandang bulu terhadap oknum kepala desa yang diduga melakukan pelanggaran, tidak hanya menindak mantan kepala desa semata. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar penegakan hukum dilakukan secara tegas terhadap pihak-pihak yang menyengsarakan rakyat.

Sebagai informasi, Polresta Bandung sebelumnya telah menunjukkan progres positif dengan melakukan penahanan terhadap mantan Kepala Desa Panundaan dalam kasus korupsi. Kini, publik menantikan langkah tegas berikutnya terhadap kepala desa definitif apabila terbukti melakukan pelanggaran serupa. (Uus)

“Mar’atush Shāliḥah” dalam Perspektif Al-Qur’an dan Islam: Pilar Moral Keluarga dan Peradaban

0
Oleh: A'isy Hanif Firdaus, S.Ag.

Perempuan menempati posisi yang sangat istimewa dalam Islam. Sejak awal diturunkannya risalah kenabian, Islam hadir sebagai agama yang konsisten mengangkat harkat dan martabat perempuan dari berbagai bentuk ketidakadilan, diskriminasi, dan marginalisasi. Al-Qur’an tidak memandang perempuan hanya sebagai pelengkap kehidupan laki-laki, melainkan sebagai subjek moral dan spiritual yang memiliki tanggung jawab keimanan yang sama di hadapan Allah SWT pada akhirnya. Dalam konteks inilah dengan segala keterbatasan keilmuan yang saya punya dan tentu masih banyak hal lagi yang perlu digali dan dikaji secara mendalam agar konsep mar’atush shāliḥah menjadi kajian sekaligus pemahaman bagi diri saya pribadi yang masih sangat awam, namun merasa penting untuk dikaji dan direnungkan secara mendalam.

Baik, para pembaca budiman yang semoga selalu dalam lindungan Allah dan diberikan kesehatan. Mari kita kupas satu satu pembahasan sederhana ini.

Istilah mar’atush shāliḥah sering dipahami secara sempit dan hanya diartikan sebagai perempuan yang taat kepada suami dan terampil mengurus rumah tangga. Pemahaman tersebut tidaklah sepenuhnya keliru, tetapi berpotensi mereduksi makna kesalehan perempuan dalam Islam itu sendiri. Padahal, Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad ﷺ menghadirkan gambaran bahwa perana perempuan salehah yang jauh lebih luas, komprehensif, dan bermartabat. Kesalehan perempuan tidak hanya semata-mata diukur dari peran domestik saja, akan tetapi juga dari kualitas iman, akhlak, intelektualitas, dan kontribusi sosial di masyarakat.

Di tengah realitas kehidupan modern yang ditandai dengan adanya krisis moral, rapuhnya institusi keluarga, serta derasnya arus globalisasi nilai, konsep mar’atush shāliḥah justru semakin relevan. Perempuan salehah tidak hanya dibutuhkan dalam lingkup keluarga, tetapi juga sebagai pilar pembentuk generasi dan penjaga nilai peradaban masa kini dan akan datang. Oleh sebab itu, tulisan opini ini berupaya mengulas makna, karakter, dan peran mar’atush shāliḥah dalam perspektif Al-Qur’an dan Islam secara komprehensif serta kontekstual dengan tantangan zaman.

Kesalehan Perempuan sebagai Identitas Keimanan

Dalam ajaran Islam, kesalehan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh iman dan takwa. Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh tingkat ketakwaan, bukan oleh status sosial, kekayaan, maupun gender. Prinsip ini ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam keberagaman agar untuk saling mengenal, dan yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa.

Perempuan salehah secara sederhana bisa diartikan perempuan yang menjadikan iman sebagai identitas utama dalam kehidupan. Seluruh peran yang dijalani baik sebagai istri, ibu, anak, maupun anggota masyarakat dipahami sebagai amanah dari Allah SWT yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Kesadaran spiritual tersebut melahirkan sikap hidup yang berorientasi pada nilai, bukan semata-mata pada kepentingan duniawi.

Al-Qur’an menggambarkan perempuan salehah sebagai sosok yang qanitat (taat kepada Allah) dan hafizhatun lil-ghaib (menjaga kehormatan dan amanah ketika tidak diawasi). Gambaran ini menunjukkan bahwa kesalehan sejati bersumber dari kesadaran batin dan integritas moral, bukan dari kepatuhan semu atau tekanan sosial. Kesalehan seperti inilah yang menjadikan perempuan memiliki keteguhan prinsip dalam berbagai situasi kehidupan.

Akhlak Mulia sebagai Manifestasi Kesalehan

Akhlak menempati posisi sentral dalam bangunan kesalehan Islam. Perempuan salehah tercermin dari keluhuran budi pekerti, bukan sekadar dari simbol lahiriah. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kesempurnaan iman diukur dari akhlak yang mulia, dan prinsip ini berlaku universal bagi seluruh umat Islam.

Mar’atush shāliḥah dikenal melalui sikap santun, kesabaran, serta kemampuan menjaga lisan dan perasaan. Dalam interaksi sosial, perempuan salehah mengedepankan etika, empati, dan kejujuran. Budaya ghibah, fitnah, serta ujaran kebencian dihindari karena bertentangan dengan nilai Islam. Akhlak yang terjaga menjadikan kehadiran perempuan salehah membawa ketenangan, bukan kegaduhan.

Dalam lingkungan keluarga, akhlak mulia berperan penting dalam menciptakan suasana sakinah mawadah warohmah. Rumah tangga tidak dipahami sebagai arena pertarungan ego, melainkan sebagai ruang ibadah dan pembelajaran bersama sampai kapanpun. Keteladanan akhlak seorang perempuan menjadi faktor utama dalam pembentukan karakter anak-anak, karena pendidikan paling efektif lahir dari contoh nyata, bukan sekadar nasihat lisan.

Perempuan Salehah dan Tanggung Jawab Keluarga

Islam memandang keluarga sebagai pondasi utama masyarakat. Dalam struktur keluarga, perempuan salehah memegang peran strategis yang sangat menentukan arah dan kualitas generasi. Sebagai pendidik pertama bagi anak-anak (Al-ummu madrasatul ula), perempuan memiliki pengaruh besar dalam menanamkan nilai tauhid, akhlak, dan adab sejak usia dini.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa pernikahan bertujuan melahirkan ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Tujuan tersebut tidak akan terwujud tanpa kesadaran spiritual dan kedewasaan emosional. Perempuan salehah berkontribusi besar dalam membangun relasi keluarga yang sehat melalui kesabaran, komunikasi yang baik, dan sikap saling menghargai.

Namun demikian, Islam tidak menempatkan seluruh beban keluarga di pundak perempuan. Kesalehan perempuan justru tumbuh dalam relasi yang adil dan seimbang antara suami dan istri. Hubungan rumah tangga yang ideal dibangun atas dasar musyawarah, saling menasihati dalam kebaikan, dan saling menguatkan dalam kesulitan. Dalam konteks ini, perempuan salehah bukan sosok pasif, melainkan mitra aktif dalam menjaga nilai dan arah kehidupan keluarga.

Kesalehan Intelektual dan Sosial

Kesalehan dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Perempuan salehah adalah perempuan yang mencintai ilmu dan terus berusaha meningkatkan pemahaman terhadap ajaran agama serta realitas kehidupan. Sejarah Islam mencatat banyak tokoh perempuan berilmu yang berperan penting dalam transmisi pengetahuan, di antaranya Sayyidah Aisyah r.a. yang menjadi rujukan utama dalam hadis dan fikih.

Kesalehan intelektual memungkinkan perempuan memahami ajaran Islam secara kritis dan proporsional. Dengan bekal ilmu, perempuan mampu membedakan antara nilai agama yang autentik dengan tradisi budaya yang dibungkus simbol keagamaan. Kesadaran ini penting agar kesalehan tidak berubah menjadi alat pembenaran ketidakadilan.

Dalam ranah sosial, perempuan salehah hadir sebagai agen kebaikan. Kepedulian terhadap sesama, keterlibatan dalam kegiatan sosial, serta kontribusi dalam bidang pendidikan dan kemanusiaan menjadi wujud nyata kesalehan sosial. Islam tidak melarang perempuan berkiprah di ruang publik, selama nilai etika, kehormatan, dan tanggung jawab tetap dijaga.

Saya mengutip pendapat Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an menafsirkan bahwa konsep kesalehan sebagai keselarasan antara iman dan gerak sosial. Perempuan salehah tidak diposisikan sebagai makhluk pasif, melainkan sebagai subjek perubahan yang berakar pada nilai tauhid. Menurut beliau, perempuan salehah: Memiliki kesadaran sosial, Menjaga moral publik
Berperan aktif dalam membangun masyarakat berkeadilan. dengan demikian kesalehan yang membumi, hadir dalam realitas sosial tanpa kehilangan orientasi akhirat.

Sementara, Syekh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa keluarga yang baik adalah fondasi masyarakat yang sehat. Dalam konteks ini, perempuan salehah berperan sebagai penjaga keseimbangan emosional dan spiritual keluarga.
الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ نِعْمَةٌ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ، وَسَكِينَةٌ لِلْقُلُوبِ، وَأَصْلٌ فِي صَلَاحِ الْأُسَرِ وَالْمُجْتَمَعَاتِ
‘Perempuan yang salehah adalah nikmat di antara nikmat-nikmat Allah, penenteram bagi hati, dan fondasi utama dalam kebaikan keluarga serta masyarakat.’

Bagaimana tantangan Zaman dan Aktualisasi Kesalehan era saat ini ?

Perkembangan teknologi dan globalisasi membawa tantangan serius bagi perempuan muslimah. Arus informasi yang masif, standar kecantikan yang semu, serta budaya materialistik sering kali menggeser orientasi hidup. Dalam situasi seperti ini, konsep mar’atush shāliḥah menuntut keteguhan iman dan kecerdasan spiritual.

Kesalehan perempuan di era digital tidak cukup diwujudkan dalam ruang privat, tetapi juga dalam ruang publik, termasuk media sosial. Etika bermedia, tanggung jawab atas informasi, serta kemampuan menyebarkan nilai kebaikan menjadi bagian dari kesalehan kontemporer. Setiap jejak digital mencerminkan kepribadian dan akhlak, sehingga kehati-hatian menjadi sebuah keharusan.

Walhasil Mar’atush shāliḥah dalam perspektif Al-Qur’an dan Islam merupakan konsep kesalehan yang utuh, membebaskan, dan bermartabat. Konsep ini tidak membatasi perempuan dalam ruang sempit, tetapi justru mengangkat perempuan sebagai hamba Allah yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Perempuan salehah menjadi pilar keluarga, pendidik generasi, serta penjaga nilai-nilai peradaban Islam.

Kesalehan perempuan bukanlah sesuatu yang instan atau bersifat simbolik, melainkan proses panjang yang dibangun melalui iman, ilmu, dan amal saleh. Dalam sosok perempuan salehah, Islam menampilkan wajah rahmat yang lembut, bijaksana, dan penuh keteladanan bagi kehidupan umat manusia.

Penulis berharap narasi ini dapat menjadi bahan refleksi bagi perempuan muslimah untuk memaknai kesalehan secara lebih luas dan bermakna. Kesalehan bukan beban yang mengekang, melainkan jalan menuju kemuliaan dunia dan akhirat. Harapan besar tertuju pada lahirnya generasi mar’atush shāliḥah yang saleh secara personal, kuat secara intelektual, dan aktif secara sosial.

Pada momen ini penulis juga berharap para tokoh agama, pendidik, dan pemangku kebijakan mampu menghadirkan ruang yang adil dan mendukung tumbuhnya perempuan salehah yang berdaya tanpa kehilangan jati diri keislaman. Dengan demikian, nilai-nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dapat terwujud melalui peran perempuan yang tercerahkan, berakhlak, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Wallāhu A‘lam bish-Ṣawāb

Oleh: A’isy Hanif Firdaus, S.Ag. (Mahasiswa Program Pascasarjana
Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim Semaran, Penulis Keislaman, LTN PCNU Kabupaten Brebes)

Generasi Qurrota A’yun: Ikhtiar Membangun Anak Shalih di Tengah Tantangan Zaman

0
Oleh: A'isy Hanif Firdaus, S. Ag.

Ungkapan qurrota a’yun bukanlah istilah asing dalam khazanah Islam. Dalam bentuk sebagai frasa yang syarat makna, doa, dan harapan mendalam orang tua kepada anak-anaknya. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt.

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Artinya: “Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Ayat ini menunjukkan bahwa sejatinya qurrota a’yun bukan sekadar gambaran kebahagiaan emosional saja. melainkan manifestasi dari ketenangan batin, kebanggaan spiritual dan keberlanjutan nilai kebaikan dalam keluarga dan masyarakat. Generasi qurrota a’yun adalah generasi yang tidak hanya membahagiakan orang tuanya secara lahir, tetapi juga menenangkan jiwa mereka karena ketaatan, akhlak, dan kontribusi sosial anak-anaknya.

Dalam konteks kehidupan modern yang penuh distraksi, krisis nilai, dan tantangan moral, harapan melahirkan generasi qurrota a’yun menjadi semakin relevan sekaligus menantang. Anak-anak hari ini tumbuh dalam realitas digital, arus globalisasi, dan perubahan sosial yang cepat. Oleh karena itu, membangun generasi qurrota a’yun tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan doa, keteladanan, pendidikan, dan lingkungan yang kondusif.

Makna Qurrota A’yun dalam Perspektif Islam

Secara bahasa, qurrota a’yun berarti “penyejuk mata”, yakni sesuatu yang membuat mata sejuk ketika memandangnya karena menghadirkan ketenteraman, kebahagiaan, dan rasa syukur. Dalam tradisi Arab, mata yang sejuk adalah simbol kebahagiaan terdalam, bukan kebahagiaan semu yang bersifat sementara.

Dalam perspektif Islam, anak disebut sebagai qurrota a’yun apabila kehadirannya semakin mendekatkan orang tua kepada Allah Swt., bukan sebaliknya. Anak yang shalih bukan hanya berprestasi secara akademik atau sukses secara materi, tetapi juga memiliki integritas moral, ketaatan ibadah, dan akhlak mulia pada akhirnya menjadi kebanggaan bukan karena status sosial, melainkan karena nilai hidup yang dipegangnya.

Dengan demikian, generasi qurrota a’yun adalah generasi yang menghadirkan kesejukan spiritual, keberkahan hidup, dan kesinambungan amal kebaikan. Rasulullah saw. menegaskan bahwa doa anak shalih termasuk amal yang tidak terputus pahalanya bagi orang tua setelah wafat. Hal ini menunjukkan betapa strategisnya peran generasi shalih dalam Islam.

Berbakti kepada Orang Tua sebagai Pilar Utama

Salah satu karakter utama generasi qurrota a’yun adalah birrul walidain berbakti kepada orang tua. Dalam Islam, berbakti kepada orang tua ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi, bahkan disandingkan dengan perintah bertauhid kepada Allah Swt. Banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa kebaikan kepada orang tua merupakan indikator utama kesalehan seorang anak.

Generasi yang berbakti kepada orang tua adalah generasi yang memahami makna pengorbanan, rasa syukur, dan adab. Mereka tidak hanya patuh secara lahir, tetapi juga menjaga perasaan, menghormati pendapat, dan mendoakan orang tua dalam setiap kesempatan. Dalam konteks kekinian, berbakti tidak selalu berarti tinggal serumah, tetapi memastikan bahwa orang tua tetap merasa dihargai, diperhatikan, dan tidak ditinggalkan secara emosional.

Sayangnya, realitas sosial menunjukkan adanya pergeseran nilai. Sebagian anak tumbuh dengan sikap individualistis, kurang empati, dan cenderung memandang orang tua sebagai beban. Fenomena ini menjadi alarm penting bahwa pendidikan akhlak dalam keluarga dan lembaga pendidikan harus diperkuat kembali. Generasi qurrota a’yun hanya dapat terwujud apabila adab didahulukan sebelum ilmu dan karakter dibangun sebelum prestasi.

Akhlak Mulia sebagai Identitas Generasi

Akhlak adalah fondasi utama dalam membangun generasi qurrota a’yun. Dalam Islam, akhlak tidak bersifat opsional, melainkan inti dari ajaran agama. Rasulullah saw. bahkan menyatakan bahwa misi utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Generasi yang shalih bukan generasi yang bebas dari kesalahan, tetapi generasi yang memiliki kesadaran moral, kemampuan mengoreksi diri, dan komitmen pada nilai kebaikan. Akhlak seperti jujur, amanah, rendah hati, tanggung jawab, dan empati harus ditanamkan sejak dini melalui keteladanan nyata, bukan sekadar nasihat verbal.

Di era media sosial, akhlak menghadapi ujian serius. Budaya pamer, ujaran kebencian, dan relativisme moral mudah menyusup ke dalam kehidupan anak-anak. Oleh karena itu, membangun generasi qurrota a’yun berarti menyiapkan anak-anak agar memiliki filter nilai, kecerdasan moral, dan keberanian untuk tetap berada di jalan kebaikan meskipun arus zaman bergerak ke arah sebaliknya.

Peran Orang Tua: Doa, Keteladanan, dan Pendidikan

Tidak dapat dimungkiri bahwa orang tua memegang peran sentral dalam membentuk generasi qurrota a’yun. Doa orang tua adalah senjata spiritual yang tidak pernah lekang oleh waktu. Doa yang tulus, istiqamah, dan disertai usaha nyata akan menjadi cahaya yang membimbing langkah anak-anak.

Namun, doa saja tidak cukup tanpa keteladanan. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Orang tua yang menginginkan anak shalih harus terlebih dahulu menunjukkan kesalehan dalam perilaku sehari-hari. Kejujuran, kesabaran, cara menyelesaikan konflik dan komitmen ibadah orang tua akan terekam kuat dalam memori anak.

Selain itu, pendidikan yang holistik menjadi kunci. Pendidikan tidak boleh dipahami semata sebagai proses akademik, tetapi juga pembinaan karakter dan spiritualitas. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bersinergi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang menumbuhkan nilai-nilai Islam secara kontekstual dan relevan.

Generasi Qurrota A’yun di Tengah Tantangan Zaman

Membangun generasi qurrota a’yun di era modern bukanlah perkara mudah. Tantangan datang dari berbagai arah: kemajuan teknologi, krisis keteladanan publik, disrupsi budaya, hingga tekanan ekonomi. Anak-anak hidup dalam dunia yang serba cepat, instan, dan kompetitif.

Namun, tantangan ini tidak boleh dijadikan alasan untuk pesimistis. Justru di tengah kompleksitas zaman, nilai qurrota a’yun menjadi semakin penting sebagai jangkar moral dan spiritual. Generasi yang shalih bukan berarti generasi yang tertinggal dari perkembangan zaman, tetapi generasi yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dengan nilai dan etika.

Generasi qurrota a’yun adalah generasi yang religius sekaligus rasional, berakhlak sekaligus produktif, taat beragama sekaligus kontributif bagi masyarakat. Mereka mampu menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara nilai spiritual dan tuntutan profesionalisme.

Pada akhirnya, generasi qurrota a’yun bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari ikhtiar panjang dan kesungguhan kolektif. Ia lahir dari doa yang tidak putus, keteladanan yang konsisten, pendidikan yang bermakna, dan lingkungan yang mendukung.

Harapan orang tua untuk memiliki anak yang shalih, berbakti, dan membanggakan adalah harapan yang sangat manusiawi sekaligus religius. Namun, harapan tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab dan kesadaran bahwa membentuk generasi qurrota a’yun adalah proyek peradaban, bukan sekadar urusan keluarga.

Jika setiap keluarga berkomitmen menanamkan nilai iman dan akhlak, jika setiap lembaga pendidikan menempatkan karakter sebagai inti, dan jika masyarakat menghadirkan keteladanan sosial yang baik, maka generasi qurrota a’yun bukan hanya akan menjadi doa, tetapi kenyataan yang hidup dan menghidupkan.

Meskipun pada prakteknya terkadang butuh waktu jangan sampai menyerah dan terbebankan namun tetaplah bersemangat dan jangan patah menyerah. Karena generasi inilah yang kelak tidak hanya menyejukkan mata orang tuanya, tetapi juga menyejukkan wajah bangsa dan peradaban dengan cahaya kebaikan, keteladanan, dan keberkahan.

Aamiin ya rabbal alamin
Wallahu a’lam bishowwab

*A’isy Hanif Firdaus, S. Ag. (Mahasiswa Program Pascasarjana FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis Keislaman, LTN PCNU Kabupaten Brebes)

Korupsi Kuota Haji Terbongkar, Eks Menag Yaqut Jadi Tersangka

0

JAKARTA (Aswajanews) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (YCQ) dan mantan Staf Khusus Menteri Agama Ishfah Abidal Aziz (IAA) alias Gus Alex sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi terkait pengalihan kuota haji tambahan tahun 2024.

Penetapan tersebut disampaikan Juru Bicara KPK Budi Prasetyo dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (9/1/2026).

“Terkait perkara kuota haji, kami sampaikan update bahwa KPK telah menetapkan dua orang sebagai tersangka, yakni Saudara YCQ selaku mantan Menteri Agama dan Saudara IAA selaku staf khusus Menteri Agama pada saat itu,” ujar Budi Prasetyo.

Kasus ini bermula dari adanya kuota haji tambahan sebanyak 20.000 jemaah yang diperoleh Indonesia melalui lobi Presiden kepada Pemerintah Arab Saudi pada tahun 2024. Kuota tambahan tersebut seharusnya diprioritaskan untuk mengurangi panjangnya antrean jemaah haji reguler.

Namun, dalam praktiknya, KPK menduga terjadi penyalahgunaan kewenangan dalam pembagian kuota tersebut.

Pelanggaran Aturan

Dalam proses penyidikan, KPK menemukan sejumlah dugaan pelanggaran, di antaranya:

  • Pelanggaran Undang-Undang Penyelenggaraan Haji, yang mengatur bahwa kuota haji khusus maksimal sebesar 8 persen dari total kuota nasional. Faktanya, kuota tambahan 20.000 jemaah justru dibagi 50:50 antara haji reguler dan haji khusus.

  • Dampak terhadap jemaah, yakni sekitar 8.400 calon jemaah haji reguler yang telah mengantre lebih dari 14 tahun kehilangan kesempatan berangkat pada tahun 2024.

  • Potensi kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp1 triliun. Saat ini, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) masih melakukan perhitungan final untuk memastikan besaran kerugian negara tersebut.

Pasal yang Disangkakan

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Pasal tersebut mengatur tentang perbuatan memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang merugikan keuangan negara, serta penyalahgunaan wewenang karena jabatan.

Penyitaan Aset

Dalam rangka penyidikan, KPK juga telah melakukan penyitaan sejumlah aset yang diduga berkaitan dengan perkara ini, di antaranya rumah, kendaraan bermotor, serta sejumlah uang dalam mata uang dolar Amerika Serikat.

KPK menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas perkara ini demi menjaga integritas penyelenggaraan ibadah haji serta memastikan keadilan bagi para jemaah yang telah dirugikan.

(Sumber: Biro Humas Komisi Pemberantasan Korupsi)

Soroti Lambannya Penanganan Kasus, Kang Iyus Minta Kejati Jabar Jaga Wibawa Hukum

0
Ketua Presidium Corong Jabar, Yusuf Sumpena, SH., S.Pm

BANDUNG (Aswajanews) – Dalam menjaga kedaulatan hukum, penegakan hukum yang tegas dan berkeadilan menjadi hal yang sangat penting demi terciptanya kepastian hukum. Tanpa adanya jaminan kepastian hukum, hukum hanya akan menjadi wacana dan berpotensi menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum.

Rasa keadilan di tengah masyarakat hanya dapat terwujud apabila penegakan hukum dilakukan secara bersih dan transparan. Dengan demikian, kesadaran hukum masyarakat akan meningkat, sekaligus menumbuhkan rasa aman serta perlindungan terhadap hak dan kewajiban warga negara.

Ketua Presidium Corong Jabar, sebuah wadah politisi lintas partai, kepala daerah, akademisi, dan kalangan profesional, Yusup Sumpena, SH, SpM, yang akrab disapa Kang Iyus, menegaskan bahwa aparat penegak hukum harus serius, tegas, cepat, dan tepat dalam menerapkan hukum positif.

“Kepastian hukum hanya dapat terwujud apabila aparat penegak hukum bekerja secara profesional dan berintegritas,” ujar Kang Iyus.

Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap Kejaksaan Agung Republik Indonesia, khususnya Jaksa Agung Prof. Dr. H. Sanitiar Burhanuddin, SH, MH, MM, yang dinilainya serius, cepat, dan transparan dalam menanggapi serta menindaklanjuti berbagai kasus besar di Indonesia.

“Saya berharap langkah dan ketegasan Jaksa Agung dapat menjadi contoh bagi Kejaksaan Tinggi Jawa Barat yang saat ini dipimpin oleh Bapak H. Hermon Dekristo, SH, MH,” tambahnya.

Menurut Kang Iyus, berbagai laporan masyarakat yang masuk ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat harus ditanggapi dan ditindaklanjuti secara serius, cepat, dan tepat. Meski ia memahami bahwa proses penegakan hukum membutuhkan pembuktian dan saksi dalam tahapan penyelidikan maupun penyidikan, namun proses tersebut tidak boleh berlarut-larut.

“Hal ini sangat penting demi kepastian hukum dan rasa keadilan bagi masyarakat Jawa Barat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi saat ini di mana masyarakat tengah mengalami krisis kepercayaan terhadap penegakan hukum.

“Kita harus menjaga kedaulatan hukum dari segala bentuk rekayasa dan intervensi politik maupun kepentingan individu atau kelompok tertentu yang dapat melemahkan, bahkan menghilangkan, wibawa hukum,” pungkas Kang Iyus.

(Red)

Disnaker Karawang Gencarkan Sosialisasi Ketenagakerjaan, UMK 2026 Resmi Naik 5,13 Persen

0

Karawang (Aswaja News) – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang terus aktif menggelar berbagai kegiatan ketenagakerjaan yang melibatkan publik serta disampaikan melalui press release resmi. Sejumlah program strategis tersebut bertujuan meningkatkan kesejahteraan pekerja sekaligus menekan angka pengangguran di daerah.

Sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026, Disnaker Karawang fokus pada sosialisasi kebijakan ketenagakerjaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Seluruh informasi disebarluaskan secara cepat dan transparan melalui platform media sosial resmi pemerintah daerah.

Salah satu agenda penting adalah penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Karawang Tahun 2026 sebesar Rp5.886.853. Nilai tersebut mengalami kenaikan 5,13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penetapan UMK ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja dan menjaga iklim hubungan industrial yang kondusif.

Selain itu, Disnaker Karawang juga menggelar berbagai penyuluhan ketenagakerjaan dan pelatihan bagi alumni Balai Latihan Kerja (BLK). Program ini dirancang untuk membekali pencari kerja dengan keterampilan dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Dalam upaya mendorong inklusivitas, Disnaker Karawang turut menginisiasi dialog bersama sektor perbankan, rumah sakit, dan perhotelan guna memperkuat komitmen penyerapan tenaga kerja penyandang disabilitas di Kabupaten Karawang. Dialog tersebut diharapkan membuka lebih banyak peluang kerja yang setara dan berkeadilan.

Tak hanya itu, Disnaker juga menjalin kerja sama melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah perusahaan, sebagai langkah konkret membuka akses lapangan pekerjaan bagi pencari kerja lokal.

Masyarakat dapat memperoleh informasi resmi terkait kegiatan dan kebijakan ketenagakerjaan melalui akun Instagram @disnakertranskarawang dan @karawangkab.go.id, serta situs resmi Pemerintah Kabupaten Karawang di karawangkab.go.id.

Melalui berbagai program tersebut, Disnaker Karawang menegaskan fokusnya pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas SDM, serta perlindungan hak-hak pekerja di wilayah Kabupaten Karawang.

(Ahmad Z)

Ijazah Jokowi: Perdebatan yang Tak Produktif

0
Oleh; Kamas Wahyu Amboro

Sepanjang tahun 2025 lalu, publik Indonesia kembali disuguhi perdebatan panjang—baik di televisi maupun media sosial—mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Percaya atau tidak terhadap isu tersebut sepenuhnya merupakan hak setiap individu. Namun satu hal yang patut dicatat: Universitas Gadjah Mada telah menyatakan ijazah tersebut asli, Komisi Pemilihan Umum menyatakan sah, dan kepolisian pun menegaskan hal yang sama.

Ironisnya, menjelang akhir 2025 hingga awal 2026, sejumlah tokoh yang paling vokal dalam mempermasalahkan isu ijazah justru ditetapkan sebagai tersangka. Di tengah banyaknya persoalan bangsa yang seharusnya dikritisi, dievaluasi, dan diperjuangkan bersama, publik justru diarahkan pada perdebatan yang minim nilai produktif.

Kalaupun benar ijazah Jokowi asli, lalu apa manfaat konkret dari perdebatan panjang ini bagi bangsa? Paling jauh, perdebatan itu hanya berhenti pada pembuktian administratif, tanpa dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat. Bandingkan dengan diskursus tentang apakah program pemerintahan Prabowo–Gibran benar-benar merata, berdampak langsung bagi masyarakat, dan mampu menjawab problem struktural bangsa. Perdebatan semacam inilah yang melahirkan kritik substantif, menggerakkan kesadaran publik, dan berpotensi menjadi bahan evaluasi bagi penguasa.

Sayangnya, kita masih hidup dalam budaya “menikmati” ketimbang “mencipta”. Menikmati produk luar, menikmati gosip perselingkuhan artis, menikmati kontroversi ijazah, dan menikmati keributan yang sesungguhnya jauh dari persoalan mendasar. Banyak energi publik dihabiskan untuk hal-hal remeh, sementara persoalan substansial sering terabaikan.

Pada titik ini, pemimpin bangsa—baik di tingkat daerah maupun pusat—tidak bisa dilepaskan dari cerminan rakyatnya. Ketika sebagian masyarakat akrab dengan praktik-praktik destruktif, jangan heran jika sebagian elite juga menormalisasi perilaku serupa. Bangsa ini tidak kekurangan isu penting, tetapi sering kali kekurangan fokus.

Hal lain yang tak kalah mengherankan adalah sikap televisi nasional. Bukan rahasia lagi bahwa sebagian besar media arus utama dikuasai oleh para pengusaha yang juga memiliki kepentingan politik. Akibatnya, pemberitaan sering kali tidak berimbang dan cenderung menggiring opini publik sesuai kepentingan tertentu. Dalam konteks ini, mempertontonkan perdebatan soal ijazah Jokowi—asli atau palsu—secara berulang di layar televisi bukan hanya tidak mendidik, tetapi juga tidak membawa maslahat apa pun bagi bangsa dan negara.

Pada akhirnya, bangsa ini membutuhkan diskursus yang mencerahkan, bukan kegaduhan yang menguras energi kolektif. Perdebatan seharusnya mengarah pada perbaikan kualitas hidup rakyat, bukan sekadar memelihara sensasi yang tak produktif. ***

Pemekaran Brebes Selatan, Abah Labib Minta Masyarakat Tenang dan Tidak Terpancing Kepentingan Tertentu

0

BREBES (Aswajanews) – Wacana pemekaran Kabupaten Brebes Selatan kembali mencuat dan terus berkembang. Tim pembentukan Brebes Selatan sebelumnya telah melakukan audiensi dengan Bupati Brebes serta mendatangi DPRD Provinsi Jawa Tengah untuk menindaklanjuti usulan pemekaran tersebut.

Namun, dalam perjalanannya, aspirasi pemekaran kini terpolarisasi ke dalam dua kelompok, yakni yang mengatasnamakan Presidium Pemekaran Brebes Selatan dan Komite Percepatan Pemekaran. Kondisi ini mendapat perhatian serius dari KH Labib Shodik Suchemi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah 1 Benda, Brebes.

Menurut Abah Labib, kelompok presidium dinilai memiliki pemahaman yang lebih komprehensif terkait mekanisme dan prosedur yuridis pemekaran daerah. Hal tersebut tercermin dari sikap mereka yang tidak melakukan gerakan demonstrasi atau langkah-langkah yang berpotensi menimbulkan kegaduhan.

“Sementara kelompok lain yang mengatasnamakan komite percepatan pemekaran justru terkesan memiliki kepentingan tertentu. Ini yang perlu dipertanyakan, ada apa di balik itu? Jangan-jangan ada ‘udang di balik rempeyek’,” ujar Abah Labib.

Ia menegaskan, gerakan pemekaran Brebes Selatan tidak boleh ditunggangi oleh kepentingan pihak-pihak tertentu. Dalam perspektif teologis, Abah Labib mengibaratkan bahwa dalam satu wilayah tidak boleh ada dua kepemimpinan yang saling bertabrakan karena justru akan menimbulkan kerusakan. Atas dasar itu, dirinya menolak untuk dilibatkan dalam Komite Percepatan Pemekaran Brebes Selatan.

Abah Labib juga menyoroti kinerja Bupati Brebes, Hj Paramita Widya Kusuma, yang saat ini tengah fokus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat melalui program Brebes Beres. Salah satu yang paling dirasakan masyarakat adalah percepatan pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan di tingkat kabupaten maupun kecamatan.

“Kami, keluarga besar Pondok Pesantren Al Hikmah 1 Benda, mengapresiasi kebijakan Bupati Brebes yang berpihak kepada rakyat. Jalan-jalan yang sebelumnya rusak kini sudah banyak diperbaiki, dan pelayanan publik juga terus ditingkatkan,” ungkapnya.

Meski tengah fokus pada pembangunan, Bupati Brebes dinilai tetap responsif terhadap aspirasi masyarakat Brebes Selatan terkait pemekaran dengan menerima audiensi secara bijak dan santun.

Abah Labib menegaskan bahwa secara administratif, proses pemekaran Brebes Selatan sejatinya telah disetujui sejak kepemimpinan Bupati Idza Priyanti. Saat ini, pemerintah daerah tinggal menunggu keputusan dari pemerintah pusat.

“Pemekaran itu kewenangan pusat. Moratorium bukan berarti penolakan, melainkan bentuk kehati-hatian negara agar pemekaran benar-benar membawa manfaat jangka panjang,” jelasnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tetap tenang, santun, dan tidak mudah terpancing oleh pihak-pihak yang kurang memahami mekanisme kebijakan pemekaran. Menurutnya, pembentukan daerah baru membutuhkan kesiapan anggaran, kelembagaan pemerintahan yang kuat, serta sumber daya manusia yang memadai.

“Pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua daerah hasil pemekaran langsung membawa kesejahteraan. Ketergantungan fiskal, kapasitas aparatur, dan kualitas pelayanan publik masih menjadi tantangan,” tambah Abah Labib.

Oleh karena itu, ia berharap pemekaran Brebes Selatan benar-benar dipersiapkan secara matang, tidak sekadar pemisahan wilayah administratif, tetapi menjadi sarana nyata untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (Red)

Persib vs Persija, Wagub Jabar Minta Daerah Fasilitasi Nobar

0

BANDUNG (Aswajanews) – Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menggelar nonton bareng (nobar) pertandingan klasik antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta pada lanjutan BRI Super League yang akan berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (11/1/2026).

Ajakan tersebut disampaikan Erwan usai mengikuti rapat koordinasi pengamanan laga Persib–Persija yang digelar di Aula Mapolrestabes Bandung, Kamis (8/1/2026).
Erwan mengungkapkan, dirinya telah meminta kepada seluruh kepala daerah di 27 kabupaten dan kota se-Jawa Barat untuk memfasilitasi kegiatan nobar di wilayah masing-masing, baik di aula kantor pemerintahan maupun di gelanggang olahraga.

“Persib ini bukan hanya milik Kota Bandung, tetapi milik Jawa Barat. Karena itu, saya mengimbau masyarakat dan para kepala daerah untuk melaksanakan nobar di daerahnya masing-masing,” ujar Erwan.

Laga yang kerap dijuluki El Clasico Indonesia tersebut selalu menyedot perhatian besar suporter. Hingga tiga hari menjelang pertandingan, tiket laga dilaporkan telah habis terjual. Kondisi ini membuat pemerintah daerah mengingatkan para bobotoh agar tidak memaksakan diri datang ke stadion.

Erwan juga menyampaikan bahwa aparat keamanan akan melakukan penyekatan di sejumlah titik menuju Stadion GBLA guna memastikan pertandingan berjalan aman dan kondusif.

Sementara itu, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan memastikan pengamanan laga Persib kontra Persija kali ini akan diambil alih langsung oleh Polda Jawa Barat. Langkah tersebut dilakukan untuk mempermudah koordinasi pengamanan dengan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya.

“Pengamanan akan kami ambil alih agar koordinasi dengan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya bisa berjalan lebih baik,” kata Rudi.

Selain pengamanan di lapangan, pihak kepolisian juga akan melakukan pemantauan aktivitas di ruang digital. Media sosial menjadi salah satu fokus pengawasan untuk mengantisipasi adanya ajakan atau hasutan dari oknum tertentu yang berpotensi mengganggu keamanan.

“Semua ruang akan kami monitoring, termasuk ruang siber, agar potensi gangguan bisa diantisipasi,” ujarnya.

Untuk mencegah kehadiran suporter tim tamu, penjagaan ketat juga akan dilakukan di seluruh pintu masuk Kota Bandung, baik melalui jalur kereta api maupun jalur darat.
“Sesuai aturan dari PSSI, dalam pertandingan ini tidak diperbolehkan ada suporter tim lawan yang hadir,” tegas Rudi.
(Bambang Jabar)

Tadinya Hanya Ingin Jadi Santri Malah Punya Pondok Pesantren Terbesar di Jawa Barat

0
K.H. Sahal Suhana

ADA semacam fatwa (petuah) yang cukup populer: gantungkan cita-cita setinggi langit. Tapi jangan salah, dalam perjalanan hidup seseorang semnua tergantung takdir Allah, sebab hasilnya bisa warna-warni kaya lagu pelangi ciptaan AT Mahmud yang alangkah indahnya.

Bisa hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru. Ada yang bisa tercapai seluruhnya atau cuma sebagian, atau malah tidak sesuai dengan yang dicita-citakan sama sekali.
Seperti itulah jalan hidup seorang laki-laki bernama Sahal Suhana. Pria kelahiran Manis Kidul, Desa Suksimut, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan yang kini berusia 71 tahun. Waktu anakp-anak ia bercita-cita ingin jadi santri di pesantren.

Namun takdir Allah menentukan lain, justeru Allah memberinya martabat yang jauh lebih baik. Dia sekarang mrnjadi prmimpin dan pemilik sebuah pondok pesantren yang terbilang besar dan maju. Luas tanahnya saja 8 hektare, santrinya lebih dari seribu. Mungkin termasuk yang terbesar dan termaju di Jawa Barat.
Sahal lahir 11 Juni 1954 di Desa Suksimut, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan. Ketika usia 7 tahun ia ngebet pingin masantren di Babakan Ciwaringin Cirebon Kebetulan pimpinan pondoknya K.H. Abdul Halim guru ngaji Sahal di Ciporang Lebakwangi. Ayahnya Atma Perwata mrmasukan Sahal ke SD Negero 1 Garawangi.
Waktu duduk di SD Sahal oleh orang tuanya masih tidak diizinkan masuk pesantren kakaknya yang sudah bekerja di Jakarta mengusulkan Sahal masuk SMP. Alasannya karena ayahnya akan pensiun sebagai pamong desa.

Jarak antara rumsh dengan sekolah saat itu cukup jauh, sekitar 10 Km dan Sahal setiap hari jalan kaki 2X10km. Kehidupan itu dia jalani dengan senang. Dia juga tetap belajar mengaji kepada Kiyai Halim di Ciporang.

Tahun 1970 Sahal tamat SMP. Sudah kadung gagal.masuk pesantren, ia dimasukkan orang tuanya ke SMA Negeri,I Kuningan. Tahun kedua ia diminta ayahnya untuk tinggal bersama pamannya yang menjadi guru SPG di Kuningan.
Selama tinggal bersama sang paman ia dapat bimbingan belajar. Iapun dengan teman teman SMAN tetap belajar mengaji ke Ciporang.
Lulus SMA tahun 1973 langsung ke Jakarta, seraya ikut testing PNS di Pemprov. DKI, dan lulus. Dengan pangkat awal golongan IIA ia mulai karir sebagai staf pada Sekretaris Dinas Tata Kota.

Karena masih bujangan gajinya sebagai PNS Golongan II dianggap cukup bahkan berlebih. Karena itu Sahal terus berlajar dan pada sore hari kuliah di Fakultas Hukum sebuah universitas dan lulus sebagai sarjana hukum tahun 1988.

Dengan ijazah sarjana pangkatnya loncat ke III/a. Jabatanpun datang sesuai dengan ijazahn ya. ia menjadi Sekretaris Diknas Tata Kota, selanjutnya menjadi Wakil Kepala Dinas.

Hidupnya yang hemat dan jujur maka rezekinya terus berlimpah. Sekarang tiba saatnya ia memikirkan kehidupan sosial.Rezekinya dimanfaatkan untuk membantu orang yang kekurangan,baik di Jakarta maupun di kampung.

Tahun 1994 ia dan istrinya NiningIrmawati mendirikan pondok pesantren yang ia namakan Husnul Khatimah. Pondok pesantren itu diresmikan Bupati Kuningan halaman.
Setelah berumah tangga dengan gadis sekampungnya itu kehidupannya Lebih tertata. Kegiatan sosial tetap berjalan, setehun 2 kali dia membagikan infaq kepada kaumn duafa.. Hampir setiap tahun pergi umrah bersama istri. Kebahagiaan Lebih terasa setelah dikaruniai 4 orang anak

Yang mejehgejutkan adalah langkah nekadnya mengambil pensiun muda. Pada tahun 1999 dalam usia 45 tahun dia resmi pensiun dari Pemda Provinsi DKI Jakarta. Selanjutnya pulang kampung dan masuk Partai Politik Partai Keadilan Sejahtera. Dia sempat menjadi sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten Kuningan tahun 1999-2004.

Tanggal 20 Agustus 2005 suami istri itu menggelar pesta 25 tahun pernikahan . Ada nadzar disitu: Pertama akan menunaikan ibadah umroh, ke-dua akan membeli lahan/ tanah untuk makam keluarga dan ke-tiga akan membangun pondok pesantren tahfids Qur’an.

Waktu kami tour de pasantren tahun 2015 semua nadzar itu sudah dilaksanakan. Tanah makam sudah ada. Pondok pesantren sedang dibangun di atas tanah 8 hektare tak jauh dari Pondok Pesantren Husnul khatimah.

Semua putrinya adalah alumni Ponpesd Husnul Khatimah dan ketiga mantu yang lulusan Al Azhar ikut aktif di Husnul khatimah.

Itulah Sahal Suhana, cita cita cuma jadi santri mslah jadi jendral santri , memiliki dua pondok pesantren besar dan maju. Alhamdulillah. ***

Penulis; DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

Presiden Prabowo Apresiasi Atlet dan Pelatih Indonesia Peraih Prestasi SEA Games ke-33 Thailand

0

JAKARTA (Aswajanews) – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan penghargaan dan apresiasi kepada para atlet serta pelatih Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa pada ajang SEA Games ke-33 Thailand. Acara tersebut berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Pemberian penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan negara atas dedikasi, kerja keras, dan prestasi para atlet yang sukses mengibarkan Merah Putih di kancah olahraga Asia Tenggara.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada seluruh atlet, pelatih, dan ofisial yang telah berjuang membawa Indonesia meraih prestasi membanggakan. Kepala Negara menegaskan bahwa keberhasilan para atlet tidak hanya menjadi kemenangan di arena olahraga, tetapi juga simbol semangat juang, persatuan, dan ketekunan bangsa Indonesia.

“Saya sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, dan sebagai pribadi menyampaikan terima kasih kepada saudara-saudara sekalian atas keberhasilan saudara menjaga kehormatan bangsa Indonesia,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden juga menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendukung pengembangan olahraga nasional, termasuk peningkatan kesejahteraan atlet agar Indonesia semakin berdaya saing di tingkat regional maupun internasional.

“Saya bangga dengan kalian, saya hormat kalian dari hati saya yang paling dalam. Atas nama seluruh rakyat Indonesia, kami beruntung memiliki putra-putri yang penuh semangat. Kita berharap Indonesia tampil terhormat di Asian Games dan Olimpiade. Indonesia adalah negara besar, negara kuat, dan negara yang akan bangkit. Saudara-saudara adalah lambang kebangkitan bangsa Indonesia,” imbuhnya.

Acara penghargaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti oleh seluruh hadirin. Selanjutnya, Presiden Prabowo secara simbolis menyerahkan bonus dan apresiasi kepada perwakilan atlet dan pelatih sebagai bentuk penghargaan atas prestasi yang diraih pada SEA Games ke-33 Thailand.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, melaporkan capaian kontingen Indonesia selama SEA Games ke-33. Ia menyebutkan bahwa Indonesia berhasil meraih 91 medali emas, 111 medali perak, dan 131 medali perunggu dari berbagai cabang olahraga.

Erick juga mengapresiasi kerja keras para atlet, pelatih, serta federasi cabang olahraga yang dinilai telah menunjukkan kolaborasi solid.

“Total dana bonus sebesar Rp465.250.000.000. Ini angka yang luar biasa. Medali emas tunggal sebesar Rp1 miliar, yang terbesar sepanjang sejarah. Medali perak tunggal Rp315 juta dan medali perunggu tunggal Rp157 juta. Selain itu, ada perhitungan tersendiri untuk nomor beregu dan bonus bagi para pelatih,” ujar Erick. (Red)

Kapolres Karawang Pimpin Panen Raya Jagung Serentak Kuartal IV 2025, Dukung Ketahanan Pangan Nasional

0

Karawang (Aswaja News) – Kapolres Karawang AKBP Fiki N. Ardiansyah memimpin kegiatan Panen Raya Jagung Serentak Kuartal IV Tahun 2025 yang dirangkaikan dengan Zoom Meeting nasional bersama Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., Kamis (8/1/2026).

Kegiatan panen raya tersebut berlangsung di Kampung Calung, Desa Karangmulya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang. Acara dipimpin langsung Kapolres Karawang dan dihadiri unsur Forkopimda, Dinas Pertanian, unsur terkait lainnya, serta personel Polri.

Panen Raya Jagung Serentak Kuartal IV ini merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, sekaligus upaya mendorong kesejahteraan petani dan optimalisasi pemanfaatan lahan produktif di wilayah hukum Polres Karawang.

Dalam arahannya melalui zoom meeting, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Polda dan Polres di Indonesia yang aktif mendukung ketahanan pangan, khususnya melalui pendampingan dan pengelolaan lahan pertanian jagung.

Usai mengikuti zoom meeting, Kapolres Karawang bersama Forkopimda dan para undangan turun langsung ke lahan jagung untuk melaksanakan panen secara simbolis. Kegiatan ini mencerminkan sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mendukung sektor pertanian.

Sementara itu, Kapolres Karawang melalui Kasi Humas Ipda Cep Wildan menegaskan bahwa panen raya ini merupakan implementasi nyata peran Polri dalam mendukung program strategis nasional.

“Sesuai arahan Kapolri, Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga hadir memberikan kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan,” ujarnya.

Kapolres Karawang berharap kegiatan ini dapat memotivasi para petani di Karawang untuk terus meningkatkan produksi jagung, sehingga berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

(Liputan: Ahmad Z)

Nahdlatul Ulama Abad Kedua: Dijaga Allah, Dikuatkan Khidmah, Diberkahi Peradaban

0
(Opini Spesial Harlah NU ke-103 Hijriyah / 100 Masehi)

Seratus tiga tahun Hijriyah dan satu abad perjalanan Masehi merupakan fase kematangan peradaban bagi Nahdlatul Ulama. Pada usia inilah NU tidak hanya diuji oleh waktu, tetapi juga oleh tanggung jawab sejarah. Melalui Doa “Allāhumma iḥfaẓ Nahdlatil ‘Ulamā’ quwwatan wa barakah” merepresentasikan keyakinan kolektif bahwa NU senantiasa berada dalam penjagaan Allah, dikuatkan dalam perjuangan dan khidmah, serta dilimpahi keberkahan dalam setiap langkahnya.

Dalam kerangka Ahlussunnah wal Jama’ah, NU berdiri di atas prinsip al-muḥāfaẓah ‘alal qadīmis ṣāliḥ wal akhdzu bil jadīdi al-aṣlaḥ yang berarti menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih maslahat. Prinsip inilah yang menjadi fondasi teologis sekaligus metodologis NU dalam merespons perubahan zaman. Penjagaan Allah (ḥifẓullāh) terhadap NU tampak dari kemampuannya merawat kesinambungan sanad keilmuan klasik, tanpa terjebak pada romantisme masa lalu ataupun gegabah menerima modernitas yang lepas nilai-nilai luhur.

Kekuatan (quwwah) NU bersumber dari nilai-nilai Aswaja yang moderat (tawassuṭ), seimbang (tawāzun), adil (i‘tidāl), dan toleran (tasāmuḥ). Nilai-nilai ini bukan jargon semata, melainkan etos hidup yang diinternalisasikan dalam praktik keagamaan dan sosial warga NU. Dalam konteks kebangsaan, tawassuṭ mencegah NU dari sikap ekstrem; tawāzun menjaga harmoni antara agama dan negara; i‘tidāl menegakkan keadilan sosial; dan tasāmuḥ merawat kemajemukan sebagai sunnatullah. Di sinilah quwwah NU menemukan maknanya: kuat dalam prinsip, lentur dalam pendekatan, dan bijak dalam tindakan.

Sementara itu, Islam Nusantara menjadi manifestasi kultural dari nilai Aswaja yang membumi. Islam Nusantara bukan Islam yang direduksi oleh lokalitas, tetapi Islam yang menjiwai kebudayaan lokal dengan nilai tauhid, akhlak, dan kemaslahatan. Sebagaimana kaidah fikih al-‘ādah muḥakkamah, tradisi dapat menjadi medium dakwah selama tidak bertentangan dengan syariat. Melalui pendekatan inilah NU mampu menghadirkan Islam yang ramah, santun, dan berkeadaban Islam yang tidak hadir dengan wajah marah, tetapi dengan keteladanan dan kebijaksanaan.

Keberkahan (barakah) NU terletak pada kesinambungan amal jama’i yang dilandasi keikhlasan. Dalam perspektif ulama Aswaja, barakah lahir dari niat yang lurus, proses yang benar, dan tujuan yang maslahat. Pesantren, madrasah, majelis dzikir, hingga gerakan sosial NU menjadi ruang-ruang keberkahan yang menumbuhkan ketahanan moral umat. Keberkahan NU juga tampak pada kontribusinya dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai dārul ‘ahdi wasy-syahādah negara kesepakatan dan kesaksian sebuah konsep kebangsaan khas NU yang berakar pada fikih siyasah dan realitas keindonesiaan.

Memasuki abad kedua, tantangan NU semakin kompleks: disrupsi digital, krisis otoritas keagamaan, polarisasi identitas, dan degradasi etika publik. Namun, nilai Aswaja dan spirit Islam Nusantara menyediakan kompas peradaban yang kokoh. Dengan ijtihād jamā‘ī, NU memiliki kapasitas untuk menjawab persoalan kontemporer tanpa kehilangan akar tradisi. Dengan khidmah yang berorientasi maslahat, NU tetap relevan sebagai penjaga umat dan bangsa.

Akhirnya, doa “Allāhumma iḥfaẓ Nahdlatil ‘Ulamā’ quwwatan wa barakah” adalah ikhtiar spiritual sekaligus kesadaran ideologis. Ia menegaskan bahwa kekuatan NU bukan pada kuantitas massa semata, melainkan pada kualitas nilai; bukan pada simbol, tetapi pada substansi khidmah. Selama NU setia pada manhaj Aswaja dan terus merawat Islam Nusantara sebagai jalan dakwah, selama itu pula penjagaan Allah, kekuatan perjuangan, dan keberkahan langkah akan senantiasa menyertai Nahdlatul Ulama.

Akhir kata, Semoga seluruh pengurus Nahdlatul Ulama, baik secara struktural diberbagai tingkatan PRNU, MWCNU, PCNU,PWNU dan PBNU maupun warga Nahdliyin kultural, senantiasa diberikan kemudahan dalam setiap urusannya, dikuatkan langkah dan hatinya, serta tetap istiqamah dan kokoh dalam berkhidmat di jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini.

Izinkan menutup opini sederhana ini dengan pernyataan yang mencerminkan arah gerak NU abad kedua yang menempatkan kemanusiaan dan perdamaian global sebagai agenda utama.

“Nahdlatul Ulama hadir untuk menjaga martabat kemanusiaan dan membangun peradaban dunia yang damai.” –
DR (H.C) KH. Yahya Cholil Staquf
Ketua Umum PBNU Masa Khidmat 2022-2027

Allāhumma waffiq abnā’a Nahḍlatil ‘Ulamā’ fī kulli mawāqi‘i khidmatihim, warbiṭ ‘alā qulūbihim, wajma‘ kalimatahum ‘alal-khair, waṣrif ‘anhumul-fitan mā ẓahara minhā wa mā baṭan. “Wallāhu a‘lam bis–ṣawāb”

Oleh: A’isy Hanif Firdaus, S. Ag. (Mahasiswa Program Magister FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis Keislaman, LTN PCNU Kabupaten Brebes)

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts