Google search engine
Beranda blog Halaman 59

Dana Ketahanan Pangan Dipertanyakan, Transparansi Desa Panundaan Disorot Publik

0

BANDUNG (Aswajanews) – Sejumlah persoalan pembangunan di Desa Panundaan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, menjadi sorotan publik. Kondisi tersebut memunculkan perhatian masyarakat terhadap pelaksanaan program desa yang dinilai belum berjalan optimal dan masih menyisakan berbagai tanda tanya.

Seorang tokoh masyarakat Desa Panundaan, sebut saja Imam (bukan nama sebenarnya), menilai situasi tersebut sebagai bentuk kepedulian warga terhadap kemajuan desa. Menurutnya, hingga kini masih terdapat sejumlah program pembangunan yang belum menunjukkan kejelasan realisasi.

“Situasi seperti ini menimbulkan harapan agar pembangunan desa dapat dipercepat serta dilaksanakan secara transparan dan terukur,” ujar Imam, Sabtu (17/1/2026).

Ia menekankan pentingnya pembinaan dan pendampingan dari pihak terkait agar pemerintah desa mampu menyelesaikan berbagai kendala administratif maupun teknis. Pembinaan yang konsisten dan komunikatif dinilai menjadi kunci agar program pembangunan dapat berjalan sesuai perencanaan.

Selain itu, perhatian masyarakat juga tertuju pada pengelolaan Dana Desa tahap II untuk program ketahanan pangan yang menurut informasi telah dicairkan. Namun hingga kini, kata Imam, masyarakat masih menunggu penjelasan resmi terkait mekanisme penyaluran dana tersebut kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), terlebih di tengah keterbatasan kas desa.

“Kejelasan informasi sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di ruang publik,” tegasnya.

Sorotan terhadap realisasi pembangunan desa juga mengemuka dalam sejumlah pemberitaan media online dan tayangan YouTube yang mengutip keterangan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Dalam pemberitaan tersebut disebutkan bahwa masih terdapat kegiatan pembangunan yang belum berjalan sesuai rencana.

Pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di RW 11 sempat tertunda dan baru diselesaikan setelah difasilitasi melalui Musyawarah Desa Khusus (Musdesus). Sementara itu, proyek jalan dari Bantuan Provinsi Jawa Barat masih dalam tahap pelaksanaan di RW 1 (rabat beton) dan RW 3 (hotmix).

Imam menilai keterlambatan realisasi sejumlah program tersebut tidak dapat dilepaskan dari lemahnya keterbukaan informasi kepada masyarakat. Menurutnya, kondisi ini berpotensi menimbulkan spekulasi dan menurunkan kepercayaan publik terhadap tata kelola pemerintahan desa.

Imam juga menyoroti pernyataan pihak pembina yang dimuat di salah satu media dan menyatakan komitmen untuk memfasilitasi penyelesaian persoalan di Desa Panundaan. Komitmen tersebut dinilainya patut diapresiasi, namun masyarakat berharap adanya kejelasan langkah konkret serta tenggat waktu tindak lanjut.

Di sisi lain, ia menilai adanya kesan lambannya respons dari lembaga pengawasan. Menurutnya, Inspektorat Provinsi Jawa Barat, Inspektorat Kabupaten Bandung, hingga aparat penegak hukum (APH) belum menunjukkan langkah nyata, meskipun realisasi program tahun anggaran 2025 disebut belum berjalan secara jelas.

“Begitu pula dengan Pemerintah Kecamatan yang memiliki kewenangan monitoring dan evaluasi. Jangan sampai muncul kesan adanya pembiaran,” ujarnya.

Ia berharap seluruh pemangku kepentingan segera mengambil langkah konkret agar realisasi pembangunan di Desa Panundaan dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Sebagai warga, kami mengapresiasi perhatian media dan publik. Semoga sorotan ini menjadi penguat sinergi antara pemerintah desa, pembina, dan masyarakat demi tata kelola desa yang lebih baik dan pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya,” pungkasnya.
(Uus/Red)

Skandal Kuota Haji 2024: KPK Telusuri Dugaan Aliran Dana ke Pengurus PBNU

0
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo

JAKARTA (Aswajanews) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Ketua Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Aizzudin Abdurrahman, berperan sebagai perantara dalam kasus dugaan korupsi penentuan kuota haji tambahan dan penyelenggaraan ibadah haji di Kementerian Agama tahun 2023–2024.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, Rabu (14/1/2026), mengatakan penyidik tengah mendalami dugaan aliran dana yang diterima Aizzudin dari biro travel atau Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

“KPK menduga adanya penerimaan uang yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Penyidik akan mengonfirmasi hal tersebut kepada saksi-saksi lain, termasuk menelusuri aliran dananya,” ujar Budi.

Menurut Budi, sejauh ini dugaan penerimaan dana tersebut bersifat individual dan belum mengarah pada institusi PBNU.

“Penerimaannya diduga masih untuk individu yang bersangkutan. Sumbernya diduga berasal dari biro travel atau PIHK. Untuk nominalnya, masih kami dalami karena proses penyidikan masih berjalan,” jelasnya kepada wartawan, Kamis (15/1/2026).

KPK juga masih menelusuri maksud dan tujuan dugaan pemberian uang tersebut.
“Itu juga menjadi materi pendalaman. Mengapa ada dugaan pemberian uang, untuk kepentingan apa, itu yang masih terus disusuri oleh penyidik,” tambah Budi.

Sebelumnya, Aizzudin telah menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK pada Selasa (13/1/2026). Usai diperiksa, ia membantah tudingan adanya aliran dana kepadanya maupun ke PBNU.

“Sejauh ini enggak ya, tidak ada,” kata Aizzudin singkat kepada wartawan sambil meninggalkan kantor KPK. Ia juga menegaskan tidak ada aliran dana ke PBNU.
“Enggak, enggak,” ujarnya.

Aizzudin enggan mengungkap lebih jauh materi pemeriksaan dan menyatakan hal tersebut menjadi kewenangan penyidik KPK. (Red)

Kemah Budaya PWI di Baduy Jadi Refleksi Etika Pers Jelang HPN 2026

0

BANTEN (Aswajanews) – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bersama PWI Provinsi Banten dan PWI Kabupaten Lebak menggelar Kemah Budaya ke Baduy dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Kegiatan bertema “Belajar Mencintai dari Baduy” ini berlangsung selama dua hari, 16–17 Januari 2026, dengan Kabupaten Lebak sebagai tuan rumah.

Sebelum memasuki kawasan adat Baduy, rombongan peserta dilepas secara resmi di Aula Museum Multatuli, Rangkasbitung, Jumat (16/01/2026). Pelepasan dihadiri Asisten Daerah (Asda) III Setda Lebak, Iyan Fitriyana, didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lebak, Anik Sakinah, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Lebak.

Dalam sambutannya, Iyan Fitriyana mengapresiasi PWI Pusat yang memilih Baduy sebagai lokasi Kemah Budaya. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan upaya pelestarian budaya lokal serta penguatan peran pers yang beretika dan berwawasan kebudayaan.

“Baduy mengajarkan nilai kehidupan yang sederhana, jujur, dan selaras dengan alam. Tema Belajar Mencintai dari Baduy menjadi pengingat penting bagi insan pers agar tetap menjaga nurani, etika, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Bidang Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat, Ramon Damora, menegaskan bahwa Kemah Budaya ini merupakan bagian dari refleksi jurnalistik menjelang HPN 2026. Kegiatan tersebut tidak bersifat seremonial semata, melainkan ruang pembelajaran langsung bagi wartawan dalam memahami nilai-nilai kebudayaan.

“Baduy memberi pelajaran tentang mencintai kehidupan secara jujur—mencintai alam, tradisi, dan sesama. Nilai-nilai ini penting dihayati wartawan agar karya jurnalistik tidak hanya informatif, tetapi juga berjiwa dan berempati,” kata Ramon.

Kepala Diskominfo Kabupaten Lebak, Anik Sakinah, turut menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta. Ia berharap kegiatan ini dapat memperkenalkan kekayaan budaya Baduy yang hingga kini konsisten menjaga kelestarian alam dan tradisi leluhur.

“Baduy adalah kebanggaan Kabupaten Lebak. Menjaga alam dan budaya adalah tanggung jawab bersama,” tuturnya.

Ketua PWI Kabupaten Lebak, RA Sudrajat, mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Lebak sebagai tuan rumah Kemah Budaya PWI Pusat dalam rangka menyambut HPN 2026.

“Kami berharap kegiatan ini memberi pengalaman bermakna bagi insan pers sekaligus memperkuat komitmen dalam merawat budaya dan keberagaman,” ujarnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Komisi Pemberdayaan Wartawan Perempuan (KPWP) PWI Pusat, Henny Murniati, Wakil Ketua II PWI Pusat, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Lebak yang menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Kemah Budaya PWI.

Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti dialog budaya bersama tokoh adat Baduy, pengenalan nilai-nilai pikukuh sebagai pedoman hidup masyarakat Baduy, serta refleksi jurnalistik yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan budaya. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan tetap menghormati aturan adat setempat.

Melalui Kemah Budaya ini, PWI Pusat berharap peringatan HPN 2026 menjadi momentum memperkuat jati diri pers nasional yang profesional, beretika, serta peduli terhadap pelestarian budaya dan nilai-nilai kebangsaan. (Red/Rls)

Tak Ada Ampun! Dishub Karawang Buru Parkir Liar Siang dan Malam

0
Yunus Kusriwanto

KARAWANG (Aswaja News) – Tidak hanya siang hari, parkir liar di Karawang kini diburu hingga malam. Dinas Perhubungan Kabupaten Karawang mulai menggelar operasi penertiban intensif untuk membersihkan badan jalan dari kendaraan yang parkir sembarangan. Langkah ini merupakan bagian dari program prioritas kepala dinas dalam menata lalu lintas dan meningkatkan ketertiban di ruang publik.

Kepala Bidang Lalu Lintas, Angkutan, Pengembangan, dan Keselamatan Dishub Karawang, Yunus Kusriwanto, mengatakan bahwa penertiban tidak lagi dilakukan secara terbatas waktu.

“Kami tidak hanya melaksanakan penertiban pada siang hari, tetapi juga pada malam hari. Parkir liar yang mengganggu ketertiban dan keselamatan akan langsung kami tindak,” kata Yunus, Kamis 15 Januari 2025.

Menurutnya, seluruh jajaran di bidang lalu lintas telah diperintahkan untuk lebih aktif melakukan pengawasan di lapangan. Petugas akan bergerak secara langsung jika menemukan kendaraan yang parkir sembarangan, terutama di badan jalan atau area yang dilarang.

“Jika masih ada kendaraan yang parkir di lokasi terlarang dan sopirnya ada di tempat, akan langsung kami usir. Kalau ditinggal, akan kami angkut dan derek,” tegasnya.

Yunus menambahkan, upaya ini dilakukan untuk mengurangi kemacetan, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, serta menciptakan wajah kota yang lebih tertib dan nyaman.

Dishub Karawang juga mengimbau masyarakat, khususnya para pengemudi, agar mematuhi rambu dan aturan parkir yang berlaku. Partisipasi masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan penataan parkir di wilayah Karawang.

(Liputan : Ahmad Z)

Prioritaskan Keselamatan Warga, Bupati Aep Kolaborasikan Penanganan Tanggul Kalimalang

0

Karawang (Aswaja News) – Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh turun langsung meninjau proses penanganan jebolnya tanggul Kalimalang di Desa Margakaya, Kecamatan Telukjambe Barat, Jumat (16/1/2026). Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen Pemerintah Daerah dalam memprioritaskan keselamatan warga terdampak.

Selain meninjau progres perbaikan tanggul, Bupati Aep juga menyempatkan diri berdialog dengan masyarakat yang terdampak luapan air. Ia mendengarkan langsung keluhan warga sekaligus memastikan kebutuhan darurat dapat segera terpenuhi.

“Keselamatan warga adalah yang utama. Pemerintah daerah tidak tinggal diam dan langsung bergerak cepat bersama seluruh unsur terkait untuk menangani kondisi ini,” tegas Bupati Aep di lokasi.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Karawang berkolaborasi dengan BPBD, Dinas PUPR, aparat TNI–Polri, serta pemerintah kecamatan dan desa setempat untuk mempercepat proses perbaikan tanggul. Alat berat telah diterjunkan, sementara petugas gabungan terus melakukan penguatan tanggul darurat guna mencegah meluasnya dampak banjir.

Bupati Aep juga menginstruksikan agar penanganan dilakukan secara terukur dan berkelanjutan, tidak hanya bersifat sementara. Ia meminta OPD terkait segera menyiapkan langkah antisipasi jangka panjang guna mencegah kejadian serupa terulang, terutama di musim penghujan.

Warga Desa Margakaya menyambut baik kehadiran langsung Bupati Karawang di lokasi kejadian. Mereka berharap perbaikan tanggul dapat segera diselesaikan sehingga aktivitas dan kehidupan masyarakat kembali normal.

(Liputan: Ahmad Z)

Pesan Ketua DPC FKDT Brebes Saat Kunjungan Monev Ujian MDT di Miftahul Huda Langkap Bumiayu

0

BREBES (Aswajanews) – Ketua DPC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes, Akhmad Sururi, menyampaikan sejumlah pesan penting kepada peserta Ujian Akhir Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Ula saat melakukan kunjungan monitoring dan evaluasi (Monev) di MDT Ula Miftahul Huda, Desa Langkap, Kecamatan Bumiayu, Kamis (15/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Akhmad Sururi didampingi Wakil Sekretaris DPC FKDT Kab. Brebes Warim, SH, serta Departemen Kesiswaan DPC FKDT Yulianti Khoirunnisa.

Sururi menegaskan bahwa Ujian Akhir MDT bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan menjadi estafet untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, yakni Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustho (MDTW). Menurutnya, menuntut ilmu agama Islam merupakan kewajiban yang tidak boleh terputus karena menjadi bekal kehidupan dunia dan akhirat.

“Belajar tidak boleh mengenal kata berhenti. Termasuk belajar membaca dan menulis. Setiap hari harus ada waktu untuk membaca buku, khususnya buku sekolah dan MDT. Menulis juga penting karena melatih saraf otak dan memperkuat daya ingat,” ujar Akhmad Sururi di hadapan peserta ujian.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa menjadi murid MDT merupakan sebuah kemuliaan dan pilihan Allah SWT. Hal tersebut selaras dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka akan diberi pemahaman tentang agama.

“Empat tahun kalian belajar ilmu agama di bawah bimbingan ustadz dan ustadzah. Maka jangan pernah melupakan jasa para guru. Doakan mereka agar ilmu yang dipelajari menjadi ilmu yang bermanfaat,” pesannya.

Sururi juga mengingatkan bahwa santri MDT diharapkan mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengedepankan akhlakul karimah dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun di lembaga pendidikan formal.

“Murid MDT harus mampu mewarnai lingkungannya dengan akhlak terpuji. Inilah nilai utama yang harus diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat,” imbuhnya.

Sebelumnya, kedatangan rombongan DPC FKDT Kab. Brebes disambut hangat oleh seluruh peserta ujian dengan barisan rapi dan ucapan salam bersama. Suasana tertib dan penuh kekhidmatan mewarnai kegiatan Monev tersebut.

Sementara itu, Ibu Maskuroh, selaku ustadzah MDT Miftahul Huda Desa Langkap Bumiayu, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan DPC FKDT Kab. Brebes. Ia berharap kegiatan Monev ini membawa keberkahan serta menambah semangat para pendidik dalam berkhidmat di Madrasah Diniyah.

(Red/Nas)

Tak Sekadar Studi Wisata, Rihlah Ilmiah SMP PCI Antar Siswa ke Kampus Top Asia

0

BANDUNG (Aswajanews) – SMP Prima Cendekia Islami (SMP PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung, secara konsisten melaksanakan program Rihlah Ilmiah sebagai agenda akademik tahunan yang terprogram untuk seluruh jenjang kelas. Program ini dirancang untuk menanamkan wawasan global, memperkaya pengalaman belajar, serta membangun cita-cita besar peserta didik sejak dini.

Rihlah Ilmiah SMP PCI dibagi berdasarkan jenjang kelas, yakni kelas 7 ke Jakarta, kelas 8 ke Yogyakarta, dan kelas 9 rihlah ilmiah internasional ke Singapura dan Malaysia.

Pada rihlah internasional, siswa kelas 9 mengunjungi Sekolah Indonesia Singapura (SIS) serta sejumlah destinasi edukatif dan wisata di Singapura. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Malaysia dengan menyeberang ke Johor dan berlanjut ke Melaka, kota bersejarah yang menjadi saksi lalu lintas perdagangan internasional abad ke-15 dan 16 di Selat Malaka. Di Melaka, para siswa menyaksikan langsung peninggalan kolonial Portugis, Belanda, dan Inggris.

Untuk memperkuat pengalaman akademik dan wawasan global, rombongan siswa SMP PCI juga mengunjungi Universiti Malaya (UM) di Kuala Lumpur.

“Kami sengaja membawa para siswa ke kampus ternama di Malaysia agar mereka memahami sistem pendidikan tinggi di luar negeri sejak dini,” ujar Ibu Siti Komariah, Ph.D., Ketua Yayasan Pendidikan Prima Cendekia Islami, yang turut mendampingi rombongan.

Menurutnya, penanaman wawasan akademik global penting dilakukan agar siswa memiliki cita-cita besar, termasuk peluang melanjutkan studi ke luar negeri. Universiti Malaya dipilih karena merupakan universitas negeri tertua dan paling prestisius di Malaysia, sekaligus masuk 100 besar universitas dunia.

“Universiti Malaya sangat dihormati di Asia Tenggara dan menjadi tujuan favorit mahasiswa Indonesia karena kualitas akademik serta kedekatan budaya,” ungkap Ibu Siti, doktor sosiologi alumnus Fakulti Sastera dan Sains Sosial Universiti Malaya.

Selama kunjungan di Universiti Malaya, para siswa dipandu oleh dua mahasiswa Indonesia program doktor penerima beasiswa LPDP. Keduanya memberikan motivasi dan berbagi pengalaman studi di luar negeri kepada para siswa.

Sementara itu, Ibu Abhelia Permatasari, S.Pd, Wakil Kepala SMP Prima Cendekia Islami yang turut mendampingi rombongan, menyampaikan bahwa selain kunjungan kampus, para siswa juga mengunjungi sejumlah destinasi edukatif di Kuala Lumpur, seperti Menara Kembar Petronas (Twin Towers), Genting Highlands, Dataran Merdeka, hingga kawasan pemerintahan Putrajaya.

“Rihlah Ilmiah ini menjadi pengalaman luar biasa bagi siswa SMP PCI untuk tumbuh sebagai generasi berwawasan global, menggabungkan unsur pendidikan, budaya, dan motivasi pengembangan diri,” tutupnya.
(Red)

Wakil Ketua DPW FKDT Jateng Tekankan Santri MDT Jangan Putus Belajar Agama di Era Digital

0

BATANG (Aswajanews) – Dewan Pengurus Cabang Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPC FKDT) Kabupaten Batang menyelenggarakan Ujian Akhir Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) secara bersama yang dipusatkan di sejumlah kecamatan. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, Sabtu hingga Ahad, 10–12 Januari 2026, dan diikuti seluruh santri kelas akhir jenjang Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDT Ula).

Saat melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) Ujian MDT di wilayah Kecamatan Wonotunggal, Wakil Ketua DPW FKDT Jawa Tengah, Akhmad Sururi, mengapresiasi pelaksanaan ujian bersama dengan sistem menginap ala pesantren. Menurutnya, konsep tersebut menjadi keunikan tersendiri yang jarang ditemui di daerah lain dan menunjukkan keseriusan FKDT Kabupaten Batang dalam membentuk karakter santri.

Dalam sambutannya pada pembukaan Monev Ujian MDT yang dilaksanakan di Masjid Jami Dukuh Gringgingsari, Desa Ujungsari, Kecamatan Wonotunggal, Sabtu (10/1/2026), Akhmad Sururi menyampaikan sejumlah pesan penting kepada para peserta ujian.

“Meski hari ini kalian mengikuti ujian akhir MDT, sesungguhnya ini bukan akhir dari belajar ilmu agama Islam. Setelah lulus MDT Ula, kalian harus melanjutkan pendidikan agama, baik di pesantren maupun lembaga pendidikan lainnya. Jangan sampai terputus belajar agama, karena Islam mengajarkan kita untuk belajar dari buaian hingga liang lahat,” pesannya.

Sururi juga menekankan pentingnya menjaga hubungan ruhani dengan para guru MDT. Menurutnya, meskipun santri telah lulus, ikatan batin dengan ustadz dan ustadzah tidak boleh terputus.

“Berdoalah untuk guru-guru MDT kalian. Sisipkan doa setelah shalat lima waktu. Guru MDT bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membimbing ruhani kita. Kita bisa beribadah, berakhlak baik, dan beramal saleh karena jasa para guru MDT,” lanjut alumni Pondok Pesantren Lirboyo tersebut.

Menanggapi tantangan era digital, Sururi berpesan agar para santri bijak dalam menggunakan telepon genggam dan media sosial. Ia mengingatkan agar gawai dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, khususnya dalam menunjang pembelajaran, serta menjauhi konten yang dapat merusak pikiran dan akhlak.

“Gunakan HP untuk kemaslahatan masa depan. Jangan membuka aplikasi yang menyesatkan dan mendorong pada perbuatan yang tidak baik,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Sururi menyampaikan doa dan harapan agar seluruh peserta ujian MDT di Kecamatan Wonotunggal diberikan kesehatan dan kemudahan dalam mengerjakan soal ujian.

“Selamat mengikuti Ujian Akhir MDT. Semoga kalian semua menjadi generasi emas yang hebat, berilmu, dan berakhlak,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua DPAC FKDT Kecamatan Wonotunggal, KH Santoso, menjelaskan bahwa pelaksanaan ujian bersama dengan sistem menginap telah berjalan selama beberapa tahun dan menjadi bagian dari pembelajaran kehidupan ala pesantren bagi para santri.

Pembukaan Monev Ujian MDT tersebut diikuti oleh seluruh santri kelas akhir MDT Ula se-Kecamatan Wonotunggal, serta dihadiri para pengawas ujian, sejumlah kepala MDT, dan tokoh agama setempat.
(Red/Nas)

Kades Jagalempeni Sambut Tim Monev Ujian Akhir MDT Kanwil Kemenag Jateng

0

BREBES (Aswajanews) – Kepala Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Ahmad Tajudin, menyambut langsung kehadiran Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Ujian Akhir Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Selasa (13/1/2026).

Kegiatan Monev yang dilaksanakan di MDT As Salafiyah Desa Jagalempeni tersebut dinilai istimewa, karena untuk pertama kalinya dalam pelaksanaan Monev Ujian MDT di Jawa Tengah, seorang kepala desa hadir secara langsung menerima dan menyambut tim dari Kanwil Kemenag.

Dalam sambutan selamat datangnya, Ahmad Tajudin menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kehadiran Tim Monev dari Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Kemenag Kabupaten Brebes, serta jajaran FKDT.

“Saya mengucapkan terima kasih dan selamat datang kepada Tim Monev dari Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Kemenag Kabupaten Brebes, dan FKDT di Desa Jagalempeni, tepatnya di MDT As Salafiyah. Kunjungan ini menjadi spirit dan motivasi bagi para asatidz MDTA As Salafiyah dalam melaksanakan amanah pendidikan keagamaan,” ujar Ahmad Tajudin.

Ia juga mengapresiasi soliditas para guru MDT As Salafiyah yang terlihat dari kekompakan penggunaan seragam saat pelaksanaan Monev.

Sementara itu, Wakil Ketua DPW FKDT Jawa Tengah, Akhmad Sururi, menegaskan bahwa Monev di Desa Jagalempeni menjadi momen yang sangat istimewa.

“Selama kami melaksanakan Monev Ujian MDT di berbagai daerah di Jawa Tengah, baru kali ini seorang kepala desa hadir langsung menyambut Tim Monev dari Kanwil Kemenag Jawa Tengah,” ungkapnya.

Tim Monev Kanwil Kemenag Jawa Tengah yang hadir terdiri dari Misriadi, Solikhatun, dan Prabowo.

Perwakilan Tim Monev Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Misriadi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung pelaksanaan Ujian Akhir MDT di lapangan.

“Kami mendapat tugas dari Kanwil Kemenag Jawa Tengah untuk melaksanakan Monev Ujian MDT di Kabupaten Brebes. Tujuannya adalah memastikan pelaksanaan ujian berjalan sesuai ketentuan dan standar yang telah ditetapkan,” jelasnya.

Turut mendampingi Tim Monev, Kasi PD Pontren Kemenag Kabupaten Brebes, H. Juremi Ahmad Fauzi, bersama Mas Sigit selaku Staf JFU. Hadir pula Wakil Sekretaris DPC FKDT Kabupaten Brebes Warim, SH, Yulianti Khoirunnisa dari bidang kesiswaan, Ketua DPAC FKDT Kecamatan Wanasari Tasiri, Sekretaris Mas Amin, serta sejumlah bendahara DPC FKDT Kabupaten Brebes, di antaranya Sanuri Nursalim.

Seluruh Dewan Asatidz MDTA As Salafiyah Jagalempeni mengaku bangga dan bahagia karena madrasahnya dipercaya menjadi lokasi Monev Ujian Akhir MDT tingkat Kabupaten Brebes. Hal tersebut disampaikan oleh Kyai Slamet Abd Syukur saat memberikan sambutan pada pembukaan Monev Ujian Akhir MDT Tahun Pelajaran 1446–1447 H.

(Red/Nas)

LSM KPAHN Laporkan Proyek Irigasi BBWS Citanduy Rp47 Miliar ke Kejati Jabar

0

BANDUNG (Aswajanews) – Lembaga Swadaya Masyarakat Komite Penyelamatan Aset Harta Negara (LSM KPAHN) resmi melaporkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat, terkait dugaan tindak pidana korupsi pada proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi Utama yang dibiayai melalui Inpres Tahap III.

Proyek dengan nilai kontrak Rp47.007.311.000 tersebut dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero) dengan masa pelaksanaan 59 hari kalender dan masa pemeliharaan 180 hari, berdasarkan kontrak tertanggal 3 November.

Ketua LSM KPAHN menyatakan, laporan itu dilayangkan setelah pihaknya menemukan sejumlah dugaan penyimpangan teknis di lapangan. Salah satunya, pekerjaan pasangan batu dan adukan semen dilakukan dalam kondisi air menggenang, yang berpotensi menurunkan mutu konstruksi.

“Pekerjaan dilakukan di dalam air, adukan semen bercampur lumpur, dan tidak menggunakan mesin molen. Padahal ini proyek bernilai puluhan miliar,” ujarnya di Bandung.

Selain itu, KPAHN juga menyoroti dugaan subkontrak ilegal, di mana pekerjaan diduga dialihkan kepada pihak lain atau perusahaan lokal tanpa prosedur yang sah.

“Jika benar terjadi pemindahtanganan pekerjaan, maka ini melanggar aturan pengadaan barang dan jasa. Kami meminta Kejati Jabar memanggil Kepala BBWS Citanduy dan pihak PT Hutama Karya untuk dimintai keterangan,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak BBWS Citanduy maupun PT Hutama Karya (Persero) belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.

LSM KPAHN berharap Kejati Jawa Barat segera menindaklanjuti laporan ini guna memastikan penggunaan anggaran negara berjalan sesuai aturan dan tidak merugikan keuangan negara.

(Nn / Tim)

Dua Periode Mengabdi, Kades Sukawera Akui Keterbatasan dan Pamit dengan Rendah Hati

0
Suwanto Kepala Desa Sukawera, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu

INDRAMAYU (Aswajanews) – Kepala Desa Sukawera, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Suwanto, menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat Desa Sukawera atas dedikasi, partisipasi, serta pengabdian selama masa kepemimpinannya.

Dalam pernyataannya, Suwanto mengungkapkan rasa terima kasih atas kerja sama yang terjalin dengan baik dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, hingga seluruh warga Desa Sukawera.

Menurutnya, sinergi dan kebersamaan tersebut menjadi kunci utama dalam menjalankan roda pemerintahan serta mendorong pembangunan desa.

Ia juga mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai kegiatan pembangunan, baik melalui sumbangsih tenaga maupun pemikiran. Kontribusi positif masyarakat tersebut dinilai telah memberikan dampak nyata terhadap kemajuan dan perkembangan Desa Sukawera.

Tak lupa, Suwanto menyampaikan permohonan maaf apabila selama dua periode kepemimpinannya masih terdapat kekurangan, kekhilafan, maupun kebijakan yang belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan seluruh masyarakat.

Ia menyadari bahwa sebagai manusia, tidak ada yang luput dari keterbatasan dan ketidaksempurnaan dalam mengambil keputusan maupun menjalankan pemerintahan.

Lebih lanjut, Suwanto berharap semangat kebersamaan dan gotong royong yang telah terbangun dapat terus dijaga dan ditingkatkan. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap mendukung program-program pembangunan desa ke depan demi terwujudnya kesejahteraan dan kemajuan Desa Sukawera.
(Prapto / Herman Tongol)

PWI Kabupaten Bandung dan Diskominfo Perkuat Komunikasi, Bahas Pola Kemitraan Media 2026

0

BANDUNG (Aswajanews) – Insan pers yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan berdomisili di Kabupaten Bandung menggelar tatap muka serta konsolidasi bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Bandung. Kegiatan tersebut berlangsung di Cafe Kampung Buhun, Jalan Katapang Andir, Desa Sangkang Hurip, Kecamatan Katapang, Rabu (14/1/2026).

Pertemuan ini menjadi ajang penguatan komunikasi dan penyamaan persepsi antara insan pers dan pemerintah daerah. Melalui dialog terbuka, kedua belah pihak membahas dinamika relasi media serta upaya membangun sinergi yang lebih sehat dan profesional.

Diskominfo Kabupaten Bandung hadir melalui Kepala Bidang Persandian, Sandi Apriatna, S.TP., sebagai perwakilan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bandung. Kehadiran tersebut mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga ruang dialog dengan insan pers.

Pengurus PWI Jawa Barat, H. Asep Syahrial atau yang akrab disapa Asep Awing, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Diskominfo. Menurutnya, dialog langsung merupakan langkah strategis untuk memperkuat sinergi dalam mendukung pembangunan daerah.

“Kami sebagai insan jurnalis merespons positif kehadiran Diskominfo. Pertemuan ini menyatukan komitmen rekan-rekan untuk mendukung Kabupaten Bandung yang lebih Bedas,” tegas Awing.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bandung, H. Teguh Purwayadi, S.STP., M.Si., melalui Kabid Persandian Sandi Apriatna menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan profesional. Ia menegaskan bahwa kritik konstruktif dipandang sebagai bagian dari upaya peningkatan kinerja institusi.

“Diskominfo membuka ruang dialog secara luas. Setiap masukan kami jadikan bahan evaluasi dalam membangun relasi media,” ujar Sandi.

Ia juga menanggapi persepsi adanya diskriminasi dalam kemitraan media. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari keterbatasan fiskal daerah yang berdampak pada skema anggaran publikasi.

“Sebagian pihak menilai Diskominfo memprioritaskan media arus utama. Namun, jika dilihat dari data anggaran, pola kemitraan relatif konsisten dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Pada tahun anggaran 2025, Diskominfo Kabupaten Bandung mencatat penurunan signifikan dana kemitraan media yang berdampak merata kepada seluruh mitra. Selain itu, kebijakan fiskal nasional juga berpengaruh terhadap berkurangnya dana transfer pusat ke daerah, sehingga mempersempit ruang fiskal Kabupaten Bandung.

“Pengurangan anggaran tidak menyasar kelompok tertentu. Seluruh mitra merasakan dampaknya secara proporsional,” tegasnya.

Sejak 2017, Diskominfo Kabupaten Bandung terus membenahi administrasi kemitraan media guna menciptakan tata kelola yang tertib, transparan, dan terukur. Saat ini, relasi media dikelola melalui tiga pendekatan utama, yakni komunikasi personal, kerja sama formal dengan perusahaan media, serta sinergi melalui organisasi profesi.

Melalui jalur organisasi, Diskominfo menjalin kemitraan dengan PWI, IJTI, serta berbagai forum wartawan lainnya. Langkah ini bertujuan menjaga soliditas dan mencegah polarisasi di kalangan insan pers.

“Kami ingin membangun relasi media yang seimbang dan profesional,” kata Sandi.

Menghadapi tahun kerja 2026, Diskominfo telah merumuskan pola kemitraan baru bersama Kepala Dinas dengan menitikberatkan pada efektivitas publikasi dan kebutuhan strategis daerah. Selain publikasi rutin, Diskominfo juga menyiapkan dukungan publikasi tematik sesuai arahan pimpinan daerah.

“Prinsip kami jelas, merangkul semua pihak. Keterbatasan anggaran tidak boleh memicu pengelompokan,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Diskominfo akan mengonsultasikan pengembangan relasi media kepada Bupati Bandung. Langkah ini diharapkan semakin memperkuat keterbukaan informasi publik dan hubungan yang harmonis dengan insan pers.

“Kami ingin menjaga hubungan yang harmonis dan produktif dengan insan pers,” pungkasnya.
(Red/Nas)

Islam Rahmatan lil ‘Alamin dalam Kajian Rekontekstualisasi Islam Kontemporer

0
Oleh: A'isy Hanif Firdaus, S.Ag.*

Konsep Islam rahmatan lil ‘alamin merupakan salah satu prinsip fundamental dalam ajaran Islam yang menegaskan bahwa kehadiran Islam ditujukan sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta, tidak terbatas pada umat Islam semata. Prinsip ini bersumber dari firman Allah Swt.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Dalam QS. al-Anbiya’ [21]: 107, yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ayat ini menegaskan dimensi universal Islam yang menempatkan nilai kasih sayang, keadilan, kemanusiaan, dan kemaslahatan sebagai orientasi utama ajaran Islam.
Ayat ini menjadi landasan teologis utama konsep Islam rahmatan lil ‘alamin. Kata raḥmah dalam ayat tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kasih sayang emosional, tetapi mencakup nilai keadilan, perlindungan, pembebasan, dan kemaslahatan bagi seluruh makhluk, baik manusia maupun alam semesta.

Menurut Prof. Quraish Shihab, rahmat yang dimaksud dalam ayat ini bersifat universal, sehingga kehadiran Nabi Muhammad saw. dan ajaran Islam semestinya menghadirkan kedamaian dan kebaikan, bahkan bagi mereka yang tidak beriman sekalipun. Oleh karena itu, segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan pemaksaan atas nama agama bertentangan dengan semangat ayat ini.

Dalam konteks masyarakat modern yang ditandai oleh pluralitas agama, budaya, etnis, serta tantangan global seperti radikalisme, eksklusivisme, dan ketimpangan sosial, konsep rahmatan lil ‘alamin menuntut upaya rekontekstualisasi agar tetap relevan dan aplikatif. Rekontekstualisasi Islam kontemporer dimaknai sebagai proses memahami kembali ajaran Islam dengan mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan historis masyarakat modern tanpa melepaskan substansi nilai-nilai normatif Islam.

Islam rahmatan lil ‘alamin dalam kajian kontemporer tidak hanya dipahami secara teologis, tetapi juga secara sosial dan praksis. Islam tidak cukup dipresentasikan sebagai sistem keyakinan yang normatif-doktrinal, melainkan harus hadir sebagai kekuatan moral yang mampu menjawab persoalan kemanusiaan, seperti kemiskinan, ketidakadilan, diskriminasi, kekerasan atas nama agama, serta marginalisasi kelompok rentan, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas. Dengan demikian, rahmat Islam terwujud melalui keberpihakan terhadap nilai kemanusiaan universal (al-qiyam al-insaniyyah).

Selaras dengan narasi diatas KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan bahwa “Islam tidak datang untuk menyeragamkan manusia, melainkan untuk menjaga dan memuliakan kemanusiaan dalam keberagaman.” (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita) Berdasarkan pernyataan tersebut bahwa esensi Islam rahmatan lil ‘alamin terletak pada penghormatan terhadap pluralitas dan martabat manusia. Islam dipahami bukan sebagai alat penyeragaman ideologi, tetapi sebagai kekuatan etis yang menjaga harmoni sosial dan keadilan dalam masyarakat majemuk.

Rekontekstualisasi Islam kontemporer menempatkan maqāṣid al-syarī‘ah sebagai kerangka penting dalam memahami Islam rahmatan lil ‘alamin. Perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta harus dimaknai secara luas sesuai realitas zaman. Dalam konteks ini, menjaga jiwa tidak hanya berarti melindungi dari pembunuhan fisik, tetapi juga menjamin hak hidup yang layak, aman, dan bermartabat. Menjaga akal berarti membuka ruang kebebasan berpikir, pendidikan yang inklusif, serta penolakan terhadap doktrin keagamaan yang menutup nalar kritis.

Islam rahmatan lil ‘alamin juga meniscayakan sikap moderasi beragama (wasathiyyah). Moderasi merupakan jalan tengah antara sikap ekstrem yang kaku dan sikap liberal yang mengabaikan nilai-nilai dasar agama. Dalam konteks Islam Indonesia, prinsip ini sejalan dengan tradisi keislaman Nusantara yang adaptif, toleran, dan dialogis, sebagaimana berkembang dalam praktik pesantren dan pendidikan Islam berbasis kearifan lokal. Pesantren, sebagai institusi pendidikan Islam tradisional, memiliki peran strategis dalam mentransformasikan nilai rahmatan lil ‘alamin melalui pendidikan yang ramah, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan akhlak sosial.

Meskipun demikian Fazlur Rahman menyatakan bahwa “Prinsip moral Al-Qur’an bersifat abadi, tetapi penerapannya harus senantiasa ditafsirkan ulang sesuai dengan perubahan konteks sejarah dan sosial.” (Fazlur Rahman, Islam and Modernity) dari kutipan ini menjadi bisa kita pahami bahwa fondasi metodologis rekontekstualisasi Islam kontemporer. Rahmatan lil ‘alamin tidak cukup dipahami secara tekstual, melainkan harus diwujudkan melalui pembacaan kontekstual yang menjawab tantangan kemanusiaan zaman modern.

Lebih jauh, rekontekstualisasi Islam rahmatan lil ‘alamin menuntut perubahan paradigma dakwah dan pendidikan Islam. Dakwah tidak lagi berorientasi pada klaim kebenaran semata, tetapi pada keteladanan, dialog, dan pemberdayaan. Pendidikan Islam dituntut untuk menanamkan nilai empati, toleransi, dan keadilan sosial sejak dini, sehingga Islam dipahami sebagai agama yang menghadirkan kedamaian dan solusi, bukan ancaman bagi perbedaan.

Dengan demikian, Islam rahmatan lil ‘alamin dalam kajian rekontekstualisasi Islam kontemporer merupakan upaya strategis untuk menghadirkan Islam yang relevan dengan tantangan zaman, tanpa kehilangan akar normatifnya. Islam tidak hanya menjadi sistem keimanan individual, tetapi juga menjadi kekuatan transformatif yang membangun peradaban yang adil, damai, dan berkeadaban. Prinsip rahmat ini menjadi landasan teologis sekaligus etis bagi pengembangan wacana Islam moderat, inklusif, dan humanis di tengah dinamika masyarakat global.

*A’isy Hanif Firdaus, S.Ag. (Mahasiswa Program Magister FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis Keislaman, LTN PCNU Kabupaten Brebes)

FPIPS UPI Bekerjasama dengan Sekolah Indonesia Singapura, Untuk Kemajuan Pendidikan di NKRI

0

BANDUNG (Aswajanews) Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan (UPI) jalin kerjasama dengan Sekolah Indonesia Singapura (SIS). Bertempat di kampus SIS, 20 A Siglap Rd, Singapura Selasa 13 Januari 2026,

“Pada kesempatan tersebut dilakukan penandatangan kerjasama antara pihak SIS dan FLIPS Universitas Pendidikan”.

Sekolah Indonesia Singapura (SIS) dipilih untuk menjadi bagian dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dari Program Studi Pendidikan Sosiologi UPI ungkap Siti Komariah, Ph.D, Sekretaris Prodi Sosiologi UPI.

Kegiatan kerjasama yang akan dilakukan antara Program Studi Pendidikan Sosiologi FPIPS UPI diantaranya penempatan mahasiswa dalam program P3K (Program Penguatan Profesional Kependidikan), yaitu program pelatihan dan praktik mengajar bagi mahasiswa untuk memperkuat kompetensi profesional mereka sebelum lulus. Program ini sebagai bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), ujar Sosiolog UPI ini.

Program P3K di Universitas Pendidikan Indonesia bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman langsung di sekolah, memperkuat keterampilan mengajar, administrasi, dan kegiatan sekolah lainnya. Hal ini akan kami coba terapkan dI Sekolah Indonesia Singapura. Selain itu, kami ingin melakukan kemitraan dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta mempublikasikan hasil kerja samanya dalam jurnal terindeks dan bereputasi, serta melakukan kegiatan-kegiatan lainnya yang disepakati Program Studi Pendidikan Sosiologi dan pihak Sekolah Indonesia Singapura (SIS), ujar Siti Komariah yang juga alumni Universiti Malaya Kualalumpur itu.

Sementara itu, Semuel Kuriake Balubun, S.Pd., Kepala Sekolah Indonesia Singapura menyambut baik kerjasama dengan Program Studi Pendidikan Sosiologi UPI. Kami bersyukur karena dapat saling mengisi, ditengah keterbatasan jumlah guru di SIS. Ditambah lagi, kami memerlukan informasi terbaru atas berbagai kebijakan pendidikan. Kami juga dapat melaksanakan belajar jarak jauh, yang sering kami lakukan dengan berbagai lembaga pendidikan di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Sekolah Indonesia Singapura ini didirikan pada tanggal 20 Mei 1969 merupakan satu-satunya sekolah Indonesia di Singapura. Penyelenggaraan SIS berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tanggal 7 Oktober 1967, dengan Kepala Perwakilan RI sebagai penanggung jawab. Pada tanggal 29 Maret 2016, SIS diakui sebagai salah satu sekolah swasta di Singapura. Nama lembaga berubah menjadi Sekolah Indonesia (Singapura) Limited atau SIS Ltd, ungkap Kepala Sekolah asal Tual Maluku ini.

Sekolah Indonesia Singapura menyediakan layanan untuk siswa Sekolah Dasar, SMP, dan SMA. Siswa yang belajar di sekolah ini berasal dari anak-anak diplomat Indonesia, serta staf Kedutaan Besar Republik Indonesia, para ekspatriat, dan diaspora Indonesia di Singapura. Saat ini, sekolah kami terbuka untuk banyak warga negara Indonesia yang tinggal di Singapura dan mempercayai kualitas pendidikan yang diberikan di sekolah kami.

Tentu saja kerjasama strategis dan saling menguntungkan antara Sekolah Indonesia Singapura (SIS) dengan Program Studi Pendidikan Sosiologi dalam berbagai bentuknya, kami sambut dengan penuh suka cita. Kerja sama ini bisa mencakup bidang akademik, riset, pengabdian masyarakat, hingga internasionalisasi pendidikan pungkas Pak Semuel yang belum genap satu tahun menjabat Kepala Sekolah SIS.***

Warga Majalaya Soroti Dugaan Pembuangan Limbah B3 PT Kartika Aurora Textile

0

BANDUNG (Aswajanews) – Aktivitas PT Kartika Aurora Textile (KAT) yang berlokasi di Jln Raya Rancajigang Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, menjadi sorotan warga. Perusahaan tekstil tersebut diduga membuang air limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) secara tidak semestinya, diduga dilakukan di luar jam pengawasan serta tanpa pengolahan optimal melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Hasil penelusuran media di lapangan pada Selasa (7/1/2026) sekitar pukul 15.30 WIB mengindikasikan bahwa dugaan pembuangan limbah tersebut bukan terjadi satu kali. Sejumlah warga menyebut aktivitas serupa telah berlangsung berulang, terutama pada sore hingga malam hari.

“Kami sering melihat air mengalir dari arah pabrik dengan warna lebih gelap dan bau menyengat. Biasanya muncul sore sampai malam,” ujar seorang warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi pabrik.

Berdasarkan keterangan warga dan hasil pengamatan di sekitar area PT KAT, perubahan warna serta bau air di saluran sekitar pabrik muncul secara berkala. Pola waktu kemunculan tersebut memunculkan dugaan adanya pembuangan limbah yang disengaja di luar jam operasional pengawasan.

“Kondisi ini bukan baru sekali. Sudah cukup lama dan terjadi berulang. Itu yang membuat warga curiga,” kata warga lainnya.

Warga juga menduga air limbah yang dialirkan belum melalui proses pengolahan secara maksimal. Pasalnya, saat air berwarna gelap dan berbau menyengat keluar dari area pabrik, tidak terlihat aktivitas IPAL yang berjalan sebagaimana mestinya.

“Kalau memang diolah, seharusnya terlihat aktivitas IPAL. Tapi saat air itu keluar, kami tidak melihat tanda-tanda pengolahan,” ungkapnya.

Dugaan pencemaran tersebut mulai berdampak pada kehidupan masyarakat sekitar. Sungai yang berada dekat permukiman kini jarang dimanfaatkan warga karena kekhawatiran akan pencemaran.

“Air sungai sekarang tidak berani dipakai. Baunya tidak seperti biasa,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Kondisi ini mendorong warga mendesak pihak berwenang dan dinas terkait untuk segera turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh.

“Kami tidak ingin berasumsi. Tapi kami ingin ada pemeriksaan resmi supaya jelas, aman atau tidak,” tegasnya.

Selain dugaan pembuangan limbah, pengoperasian IPAL PT KAT juga menjadi tanda tanya. Warga menilai IPAL diduga tidak beroperasi secara optimal pada waktu-waktu tertentu, khususnya saat dugaan aliran limbah keluar dari area pabrik. Jika IPAL tidak dijalankan secara konsisten, kondisi tersebut berpotensi menjadi pelanggaran serius terhadap kewajiban pengelolaan limbah industri.

Hingga berita ini diturunkan media masih berupaya mengonfirmasi pihak manajemen PT Kartika Aurora Textile terkait dugaan tersebut, termasuk kondisi teknis IPAL, perizinan lingkungan, serta mekanisme pengelolaan limbah B3 lainnya, seperti pengelolaan oli bekas.

Potensi Pelanggaran Hukum Lingkungan

Jika dugaan tersebut terbukti, PT KAT berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, antara lain:

Pasal 59 ayat (1)
Setiap penghasil limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya
Pasal 60
Setiap orang dilarang membuang limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin
Pasal 104
Pelanggaran pembuangan limbah B3 tanpa izin diancam pidana penjara paling lama 3 tahun dan denda hingga Rp3 miliar.

Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 mewajibkan setiap pelaku usaha memastikan limbah diolah sesuai baku mutu lingkungan serta izin yang dimiliki.

Atas indikasi tersebut, warga dan pemerhati lingkungan mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama aparat penegak hukum untuk melakukan inspeksi mendadak, pengambilan sampel air, serta audit menyeluruh terhadap operasional PT KAT.

Langkah ini dinilai penting guna memastikan ada atau tidaknya pencemaran lingkungan sekaligus mencegah dampak lebih luas terhadap kesehatan masyarakat. Jika terbukti melanggar, PT Karya Aurora Textile dinilai layak dikenai sanksi administratif hingga pidana lingkungan.

Saat dikonfirmasi pada Senin (12/1/2026) melalui pesan WhatsApp, pihak PT Kartika Aurora Textile yang diwakili oleh Bayan belum memberikan klarifikasi substantif.

“Oh baik Pak, saya sampaikan ke pimpinan saya ya Pak,” tulisnya singkat.

Minimnya respons tersebut semakin memperkuat desakan publik agar instansi berwenang segera melakukan audit dan penindakan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (Red)

Pemkab Karawang Tegaskan Perannya Sebagai Pilar Ketahanan Pangan Nasional

0

Kab. Karawang (Aswaja News) – Kabupaten Karawang kembali menegaskan perannya sebagai salah satu pilar utama ketahanan pangan nasional. Hal ini mengemuka dalam siaran langsung CNN Indonesia Newsroom bertajuk “Swasembada Pangan: Karawang Lumbung Pangan Nasional”, Selasa (13/1/2026) pukul 16.48 WIB, yang menghadirkan Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh, S.E. bersama anchor CNN Indonesia Hernof Al Basyir.

Dalam perbincangan tersebut, Bupati Karawang yang disapa Kang Aep memaparkan capaian, tantangan, hingga strategi jangka panjang Pemerintah Kabupaten Karawang dalam menjaga eksistensi daerahnya sebagai sentral produksi padi dan gabah nasional.

Bupati Aep menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian yang menunjuk Kabupaten Karawang sebagai lokasi Panen Raya Nasional. Bahkan, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hadir langsung dalam kegiatan panen raya yang digelar di Kecamatan Cilebar.

“Alhamdulillah, Kementerian Pertanian menunjuk Kabupaten Karawang untuk melaksanakan panen raya, dan Presiden hadir langsung di Cilebar. Daerah ini memang salah satu sentral gabah di Indonesia,” ujar Kang Aep.

Ia menuturkan, panen raya tersebut berlangsung dengan antusiasme tinggi dari masyarakat dan petani. Kondisi padi yang dihasilkan pun dinilai sangat baik, mencerminkan kesuburan lahan dan keberhasilan pengelolaan pertanian di Karawang.

“Alhamdulillah, panen berjalan lancar, padinya bagus, dan ini menjadi kebanggaan bagi kami. Karawang dari dulu memang dikenal sebagai kota lumbung padi,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Aep mengungkapkan capaian produksi gabah Karawang yang melampaui target. Pada tahun 2025, Karawang ditargetkan memproduksi 1,4 juta ton gabah kering panen, dan realisasinya bahkan mencapai 1.400.100 ton, atau surplus dari target nasional.

“Target 2025 itu 1,4 juta ton, dan alhamdulillah kami mencapainya, bahkan lebih. Ini menunjukkan bahwa Karawang masih sangat kuat sebagai sentra produksi pangan,” jelasnya.

Memasuki tahun 2026, Kementerian Pertanian kembali memberikan target peningkatan produksi kepada Karawang. Pemerintah daerah optimistis target tersebut dapat tercapai melalui peningkatan produktivitas, kualitas gabah, serta penguatan peran petani dan kelompok tani.

“Secara kualitas, beras dan gabah Karawang sangat baik. Tinggal bagaimana produktivitasnya terus kita tingkatkan,” ujar Bupati Aep.

Kunci Swasembada: Lahan Sawah Dikunci LP2B
Menjawab tantangan pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan, Bupati Aep menegaskan komitmen Pemkab Karawang dalam menjaga lahan pertanian. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengunci lahan baku sawah dalam skema LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan).

“Kami sudah mengunci lebih dari 87 ribu hektare, hampir 88 ribu hektare lahan sawah dalam LP2B. Itu tidak bisa diotak-atik,” tegasnya.

Kebijakan ini menjadi pondasi utama agar luas lahan pertanian di Karawang tidak terus tergerus oleh pembangunan non-pertanian.

Sebagai bentuk keberpihakan kepada petani, Pemkab Karawang juga memberikan insentif pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) untuk lahan sawah hingga 3 hektare per keluarga, berlaku selamanya.

“Kami ingin masyarakat tetap mau menjadi petani. Maka kami beri stimulus, PBB-P2 gratis untuk maksimal tiga hektar per keluarga,” jelas Bupati Aep.

Ia menegaskan, kebijakan tersebut berbasis keluarga (satu Kartu Keluarga), bukan per individu, agar lebih adil dan tepat sasaran.

Dalam siaran tersebut, Bupati Aep juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut bahwa target swasembada pangan empat tahun berhasil dicapai hanya dalam satu tahun. Tahun 2025, Indonesia tidak melakukan impor beras.

“Pak Presiden menyampaikan bahwa kita tidak impor beras di 2025. Salah satu penopangnya adalah Kabupaten Karawang dengan produksi gabah 1,4 juta ton,” ungkapnya.

Selain itu, Karawang juga menjalin kerjasama food estate dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sekitar 5.000 hektare lahan sawah dikerjasamakan untuk mendukung pasokan beras ke Jakarta, di mana gabah diproduksi di Karawang dan dikelola menjadi beras untuk kebutuhan ibu kota.

Atas kontribusi besar tersebut, Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh menerima Tanda Kehormatan Satya Lencana Wira Karya yang disematkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian Panen Raya Nasional dan Pengumuman Swasembada Pangan, Rabu (7/1/2026).

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan negara atas dedikasi Pemkab Karawang dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Di bawah kepemimpinan Bupati Aep, Karawang masuk 10 besar daerah penghasil beras nasional dan berperan strategis dalam pencapaian cadangan beras nasional sebesar 3 juta ton.
(Liputan : Ahmad Z)

Jejak Spiritual Rasulullah Dihidupkan, Isra’ Mi’raj di Ponpes Darul Muta’alimin Berlangsung Khidmat

0
Penceramah Habib Hasyim bin Muhammad bin Sholeh Al-Hamid, Pimpinan Majelis Al-Hasyimi Jakarta

PEMALANG (Aswajanews) – Pondok Pesantren Salafi Darul Muta’alimin Keboijo, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, menggelar peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Selasa (13/1/2026), bertepatan dengan 23 Rajab 1447 H.

Kegiatan keagamaan tersebut dihadiri para kiai, ulama, habaib, pimpinan pondok pesantren, santriwan-santriwati, serta masyarakat Petarukan dan sekitarnya. Turut hadir Pimpinan Pondok Pesantren Madinah Munawaroh Banyumanik Semarang, KH Yahya Mutamaqin, bersama rombongan.

Peringatan Isra’ Mi’raj diawali dengan pembacaan Maulid Barzanji, dilanjutkan tawasulan, serta lantunan shalawat Nabi yang diiringi grup hadroh, sehingga menambah kekhidmatan dan nuansa religius sepanjang acara.

Acara kemudian dilanjutkan dengan mauidzah hasanah yang disampaikan oleh Habib Hasyim bin Muhammad bin Sholeh Al-Hamid, cucu dari ulama kharismatik Habib Sholeh Tanggul sekaligus pimpinan Majelis Al-Hasyimi Jakarta. Dalam tausiyahnya, Habib Hasyim mengajak jamaah meneladani perjalanan spiritual Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai sarana memperkuat keimanan dan ketakwaan. Ia juga berpesan agar umat Islam senantiasa mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para penerusnya demi meraih keberkahan dari Allah SWT.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muta’alimin, KH Muhammad

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muta’alimin, KH Muhammad, yang mewakili KH Hasan Hayyi Al-Hafid, dalam sambutannya mengingatkan jamaah agar senantiasa mengikuti jejak para ulama dan pendahulu yang istiqamah dalam menegakkan ajaran Islam, serta konsisten dalam beribadah dan menjaga akhlakul karimah.

Peringatan Isra’ Mi’raj ini menjadi momentum penting bagi santri dan masyarakat untuk memperdalam kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus memperkokoh nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

(Red/Muslihul Huda)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Pesilat Asal Denmark Dalami Pencak Silat di Kampung Silat Nagarakembang

0
Kisah Perjalanan Christian Zilstorff Munch-Andersen Mengenal Pencak Silat

BANDUNG (Aswajanews) – Ketertarikan warga negara asing terhadap pencak silat kembali terlihat. Seorang pesilat asal Denmark, Christian Zilstorff Munch-Andersen, memilih datang langsung ke Indonesia untuk menelusuri akar dan filosofi pencak silat, seni bela diri tradisional warisan budaya Nusantara.
Christian mulai mengenal pencak silat sekitar 30 tahun silam.

Tepatnya pada 1992, saat usianya masih 19 tahun, ia diperkenalkan dengan pencak silat oleh seorang pendekar keturunan Indonesia yang bermukim di Belanda. Pendekar tersebut bahkan sempat datang ke Denmark untuk mengenalkan dan mengajarkan pencak silat secara langsung kepadanya.

Sebelum menekuni silat, Christian telah mempelajari beberapa seni bela diri lain, seperti karate dan yudo. Namun, dari seluruh bela diri yang ia pelajari, pencak silat justru menjadi pilihan utama.

Menurutnya, silat memiliki keunikan tersendiri, tidak hanya dari sisi teknik, tetapi juga kaya akan nilai filosofi dan budaya yang tidak dimiliki bela diri lainnya.

Keseriusannya membawa Christian bertemu dengan Perdy Pekor Kon, seorang pendekar keturunan Sunda asal Bandung dengan latar belakang Belanda–Jerman yang menetap di Belanda. Dari sosok inilah Christian mendalami aliran Setia Hati Anoman Bandung, yang kemudian berkembang di Belanda dan sejumlah negara Eropa.

Setelah Perdy Pekor Kon wafat, Christian melanjutkan proses belajarnya kepada murid sang guru, yakni Lui Peranye, seorang keturunan Indonesia yang datang ke Indonesia pasca Perang Dunia II dan mendapat amanat untuk meneruskan ajaran pencak silat. Dari Lui Peranye pula, Christian memperoleh penegasan kuat bahwa pencak silat berasal dari Indonesia.

Dalam perjalanannya, Christian—yang akrab disapa Kris—sempat bertanya kepada gurunya, kepada siapa ia seharusnya berguru dan bersilaturahmi apabila suatu saat datang langsung ke Indonesia. Jawaban tersebut membawanya pada jaringan pencak silat yang memiliki keterkaitan dengan Kementerian Kebudayaan, khususnya di wilayah Bandung dan Jawa Barat.

Melalui program binaan Kementerian Kebudayaan, Kris kemudian diperkenalkan dan diajak berkunjung ke Kampung Silat Nagarakembang. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian sekaligus penguatan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa Indonesia yang kini mendunia.
(Nano)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Para Pensiunan ASN Demo Tuntut Hak Uang Korpri

0

KARAWANG (Aswaja News) – Ribuan pensiunan anggota Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) turun ke jalan menuntut kejelasan pembayaran dana pensiun yang mereka nilai telah “dipangkas sepihak”. Dalam kondisi hujan gerimis, para purnabakti ASN menggelar aksi unjuk rasa pada Senin (12/1/2026), sebagai luapan kekecewaan atas hak yang tak kunjung dipenuhi.

Para pensiunan memprotes selisih pembayaran dana pensiun yang dinilai janggal. Dana yang seharusnya diterima sebesar Rp14 juta, faktanya hanya dibayarkan Rp7 juta tanpa penjelasan yang dianggap memadai. Pemotongan hingga 50 persen ini memicu keresahan luas di kalangan pensiunan ASN.

Aksi tersebut dipimpin Juhdiana, S.Pd., mantan ASN asal Karawang yang juga Ketua Pejuang Dana Korpri Terpending (PDKT). Ia menegaskan, demonstrasi ini merupakan puncak akumulasi kekecewaan panjang terhadap pengurus Korpri Karawang yang dinilai abai terhadap hak-hak pensiunan.

“Kami akan terus menuntut hak kami. Aturan yang ditetapkan tahun 2012 sudah jelas dan seharusnya dihormati,” tegas Juhdiana di tengah aksi.

Ia juga menolak keras penerapan aturan baru yang dinilai merugikan anggota lama Korpri.

“Kalau ada aturan baru, silahkan diberlakukan untuk anggota baru. Jangan merampas hak anggota lama yang sudah dijamin,” ujarnya dengan nada lantang.

Selama aksi berlangsung, para peserta membawa poster dan spanduk bernada protes, menuntut transparansi serta pertanggungjawaban pengelola dana Korpri. Aparat keamanan terlihat berjaga, sementara aksi berlangsung tertib.

Salah seorang perwakilan pensiunan menyebut, ketidakjelasan mekanisme perhitungan dana pensiun telah menimbulkan keresahan serius di kalangan purnabakti ASN.

“Kami tidak meminta lebih. Kami hanya menuntut hak sesuai perhitungan. Rp14 juta itu hak kami, bukan Rp7 juta,” katanya.

Para pensiunan juga mendesak adanya penjelasan terbuka terkait dasar hukum, komponen perhitungan, serta alasan munculnya selisih pembayaran yang dinilai merugikan ribuan anggota Korpri.

Aksi ini kembali menyoroti kredibilitas Korpri Karawang, sekaligus membuka luka lama soal pengelolaan dana dan perlindungan hak pensiunan ASN. Para peserta menegaskan, aksi lanjutan akan dilakukan jika tuntutan mereka kembali diabaikan.

Hingga berita ini diturunkan, para pensiunan masih menunggu kepastian dari pemerintah dan instansi pengelola dana pensiun untuk mengembalikan hak mereka sesuai ketentuan yang berlaku.

(Ahmad Z)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Jaga Tradisi Salaf, Ponpes Darul Muta’alimin Pemalang Gelar Khotmil Kutub Nahwu

0

PEMALANG (Aswajanews) – Puluhan santri Pondok Pesantren Darul Muta’alimin Keboijo, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, mengikuti acara Khotmil Kutub yang digelar di halaman pondok pesantren, Senin (12/1/2026). Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan.

Khotmil Kutub tersebut menandai keberhasilan para santri dalam menuntaskan kajian kitab-kitab dasar ilmu nahwu, yakni Kitab Jurumiyyah, Ammrithi, dan Alfiyah Ibnu Malik. Ketiga kitab ini merupakan fondasi utama dalam memahami literatur keislaman klasik atau yang dikenal dengan kitab kuning.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muta’alimin Keboijo, Romo KH Muhammad, dalam sambutannya menegaskan bahwa Khotmil Kutub bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab santri untuk mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang telah diperoleh.

“Ilmu nahwu adalah kunci untuk membuka khazanah kitab kuning. Setelah khatam, santri harus terus murojaah, menjaga adab, serta mengamalkan ilmunya di tengah masyarakat,” tutur Romo KH Muhammad.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan tawasul, dilanjutkan doa Khotmil Kutub, mauizah hasanah, dan ditutup dengan doa bersama. Acara tersebut turut dihadiri para ustaz, wali santri, serta tokoh masyarakat sekitar yang menyaksikan prosesi dengan penuh khidmat.

Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Darul Muta’alimin Keboijo menegaskan komitmennya dalam menjaga tradisi keilmuan pesantren salaf, sekaligus mencetak santri yang memiliki kedalaman ilmu, kekuatan akhlak, dan kesiapan untuk mengabdi kepada umat.
(Muslihul Huda)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts