Google search engine
Beranda blog Halaman 56

Pemkab Garut Apresiasi Peran NU dalam Menjaga NKRI dan Islam Moderat

0

GARUT (Aswajanews) – Pemerintah Kabupaten Garut mengapresiasi peran strategis Nahdlatul Ulama (NU) sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta merawat tradisi Islam yang moderat (wasathiyah).

Hal tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) NU yang digelar di Lapangan Desa Pasirwangi, Kabupaten Garut, Jumat (23/1/2026).

Staf Ahli Bupati Garut, Maskut Farid, yang hadir mewakili Pemerintah Daerah, menyampaikan bahwa tema Harlah NU tahun ini, “Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat, untuk Garut Hebat Maslahat”, sangat relevan dengan percepatan pembangunan daerah, khususnya di bidang pendidikan, ekonomi, dan pelayanan publik.

“Pemerintah Daerah menyadari bahwa peran NU tidak hanya di bidang keagamaan, tetapi juga sangat besar dalam mendukung pembangunan daerah, terutama pendidikan, kesehatan, dan penguatan nilai-nilai persatuan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran NU sebagai benteng moral di era digital, khususnya dalam menangkal isu provokatif dan hoaks.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Garut, KH. Atjeng Abdul Wahid, menegaskan pentingnya sikap inklusif dalam berorganisasi. Ia mengingatkan seluruh pengurus NU di semua tingkatan agar tidak membuat sekat dengan masyarakat di luar NU.

“Nahdlatul Ulama harus bisa bersama semua kalangan. Perbedaan adalah modal untuk fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan,” tegasnya.

Ia menambahkan, rangkaian Harlah NU di Kabupaten Garut akan berlanjut pada 26 Januari 2026 di SOR Garut, sekaligus pembukaan Musyawarah Kerja tingkat MWC. Selain itu, sekitar 2.800 kader NU yang telah lulus pendidikan dasar diinstruksikan mengikuti Apel Kader pada 29 Januari 2026 di Masjid Al Jabbar Mekarmukti, yang akan dihadiri perwakilan PB dan PW NU.

(MAZ)

KCP Fashion Week 2026 Tampilkan Kreasi Busana dan Batik Karawang

0

KARAWANG (Aswajanews) – KCP Fashion Week 2026 sukses digelar pada Minggu, 25 Januari 2026, bertempat di Atrium Karawang Central Plaza (KCP Mall). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 WIB hingga selesai ini menyedot antusiasme tinggi dari pengunjung pusat perbelanjaan.

Ajang peragaan busana tersebut menampilkan beragam koleksi fashion dari sejumlah brand nasional maupun lokal. Tidak hanya menjadi hiburan, acara ini juga menjadi ruang promosi bagi industri fashion dan ekonomi kreatif daerah.

Salah satu daya tarik utama KCP Fashion Week 2026 adalah Special Show Batik Karawang, yang menampilkan kekayaan motif batik khas Karawang dalam balutan desain busana modern. Penampilan ini sekaligus mempertegas identitas budaya lokal yang dikemas secara kekinian.

Peragaan busana turut menghadirkan desainer Wayzone by Wahyung, bersama sejumlah brand ternama seperti Matahari, Elizabeth, Sports Station, Eiger, serta beberapa brand lainnya.

Kegiatan yang terbuka untuk umum ini menjadi wadah kolaborasi antara pelaku industri kreatif, pengelola pusat perbelanjaan, dan masyarakat. Melalui gelaran ini, diharapkan sektor fashion dan kriya lokal, khususnya batik Karawang, semakin dikenal luas serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kabupaten Karawang.

(Liputan: Ahmad Z)

PCI Serial Lecture Hadirkan Guru Besar UPI, Siswa SMP PCI Dikenalkan Konsep Smart Museum

0

BANDUNG (Aswajanews) – SMP Prima Cendekia Islami (PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung, kembali menggelar kegiatan unggulannya, PCI Serial Lecture, sebuah agenda bulanan yang menghadirkan guru besar, akademisi, birokrat, serta praktisi untuk memberikan kuliah umum kepada para siswa.

Pada edisi kali ini, PCI Serial Lecture menghadirkan Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus Kepala Museum Pendidikan Nasional Indonesia. Dalam kuliah umumnya yang digelar pada Senin, 26 Januari 2026, Prof. Leli memperkenalkan konsep Smart Museum kepada para siswa SMP PCI.

Dalam pemaparannya, Prof. Leli menegaskan bahwa pembelajaran dari masa lalu tidak hanya bersumber dari buku dan arsip tertulis, tetapi juga dari artefak sejarah yang tersimpan di museum. Menurutnya, museum saat ini telah bermetamorfosis dari sekadar “gudang artefak” menjadi ruang inspirasi, imajinasi, serta digitalisasi.

Salah satu contoh transformasi tersebut adalah yang tengah dikembangkan oleh Museum Pendidikan Nasional UPI. Museum ini menampilkan diorama, artefak, miniatur, hingga koleksi langka dari masa prasejarah hingga era modern. Sebagai museum pendidikan, pengunjung diajak menjelajahi evolusi pendidikan dari zaman kuno hingga modern.

“Kita tidak boleh hanya terpaku pada masa lampau, tetapi harus berorientasi ke masa depan. Museum Pendidikan Nasional menjadi bukti bahwa sejarah masa lalu dapat dinikmati dan diapresiasi untuk masa kini dan masa depan,” ujar pakar museologi asal Ciamis tersebut.

Lebih lanjut, Prof. Leli menjelaskan bahwa Museum Pendidikan Nasional UPI hadir untuk mengubah citra museum yang selama ini terkesan kuno dan hanya mengoleksi barang antik. Melalui konsep Smartcity Museum, museum diharapkan menjadi institusi yang dirindukan, menyenangkan, serta mampu menghadirkan komunikasi interaktif antara masa lalu dan masa kini di era digital.

Transformasi menuju Smart Museum dilakukan dengan pemanfaatan teknologi mutakhir untuk meningkatkan pengalaman pengunjung, pelestarian artefak, serta digitalisasi koleksi. Museum tidak lagi sekadar tempat pameran benda kuno, tetapi menjadi jembatan antara sejarah dan era digital.

Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah teknologi imersif, seperti Augmented Reality (AR) yang mampu “menghidupkan” objek statis melalui rekonstruksi digital atau pemulihan warna asli artefak. Selain itu, Virtual Reality (VR) memungkinkan pengunjung “berpergian” ke lokasi bersejarah atau ke era asal artefak berada.

Ke depan, Museum Pendidikan Nasional UPI juga akan mengintensifkan interaktivitas digital melalui layar sentuh interaktif, galeri arsip digital yang dapat diakses secara bersamaan, serta gamifikasi seperti berburu harta karun digital untuk meningkatkan keterlibatan anak-anak dan remaja.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, dalam waktu dekat Museum Pendidikan Nasional UPI akan menjalin kerja sama dengan Faculty of Archaeology Cairo University serta The National Museum of Egyptian Civilization (NMEC), museum terbesar di dunia yang menampilkan sejarah peradaban Mesir secara komprehensif.

“Kolaborasi ini diharapkan memperkaya pengembangan Smart Museum dan memperluas wawasan generasi muda terhadap sejarah dan peradaban dunia,” pungkas Prof. Leli. (red)

Lomba Miniatur Bus dan Mobil Meriahkan Kampung Budaya Karawang

0

KARAWANG (Aswajanews) – Kampung Budaya Karawang menjadi saksi kemeriahan kegiatan “Funtastic Family & Friends” Lomba Miniatur Bus dan Mobil yang digelar pada Minggu, 25 Januari 2026. Acara ini diselenggarakan oleh TMI (Telulet Mania Indonesia) Chapter Cikampek dan berhasil menarik antusiasme peserta serta pengunjung dari berbagai daerah.

Sejak pagi hari, area lomba telah dipadati puluhan miniatur bus, mobil, dan truk dengan beragam desain unik dan menarik. Para peserta menampilkan kreativitas terbaik mereka dalam beberapa kategori lomba, di antaranya kategori Prestasi, Kreasi, Custom, dan Mobil. Penilaian dilakukan berdasarkan kerapihan, detail pengerjaan, kreativitas, serta kesesuaian dengan ketentuan masing-masing kategori.

Suasana acara berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Tidak hanya diikuti oleh komunitas pecinta miniatur, kegiatan ini juga menjadi tontonan menarik bagi keluarga dan anak-anak yang hadir. Konsep family & friends benar-benar terasa melalui interaksi akrab antara peserta, panitia, dan pengunjung.


Selain perlombaan, panitia juga menyiapkan total hadiah dan doorprize senilai jutaan rupiah, termasuk give away miniatur truk dan mobil, yang semakin menambah semangat para peserta. Piala dan hadiah diserahkan kepada para juara 1, 2, dan 3 di setiap kategori lomba.

Ketua panitia pelaksana, Muji, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar komunitas miniatur sekaligus menjadi wadah positif dalam menyalurkan hobi dan kreativitas.
“Kami berharap event seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi agenda rutin, sekaligus memperkenalkan Kampung Budaya Karawang sebagai ruang kegiatan kreatif yang ramah keluarga,” ujarnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Funtastic Family & Friends tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga hiburan edukatif yang memperkuat kebersamaan komunitas dan masyarakat Karawang.

(Liputan: Ahmad Z)

Kapolri Ungkap Akar Maraknya Judi Online: Pengangguran hingga FOMO

0

JAKARTA (Aswajanews) – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap sejumlah faktor utama yang memicu maraknya praktik judi online di Indonesia. Ia menyebut pengangguran serta fenomena fear of missing out (FOMO) sebagai pemicu dominan yang mendorong masyarakat terjerumus dalam aktivitas ilegal tersebut.

Menurut Kapolri, kondisi tersebut semakin diperparah oleh rendahnya tingkat pendidikan, minimnya pemahaman teknologi, serta tingginya kesenjangan sosial di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Listyo dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi III DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).

“Beberapa hal yang menjadi faktor menjamurnya judi online adalah pengangguran, FOMO, kesejahteraan, pendidikan yang rendah, pemahaman teknologi yang rendah, serta kesenjangan sosial yang tinggi,” ujar Listyo.

Kapolri menegaskan, Polri terus menggencarkan pemberantasan judi online melalui langkah represif dan preventif yang dilakukan secara simultan. Hingga saat ini, kepolisian mencatat capaian signifikan dalam pengungkapan kasus.

“Kita berhasil mengungkap 665 perkara, menetapkan 741 tersangka, menyita aset senilai Rp1,5 triliun, memblokir 5.961 rekening dan 241.013 situs konten judi online, serta melaksanakan 1.614 kegiatan preventif,” jelasnya.

Listyo mengakui, upaya pemberantasan judi online menghadapi tantangan besar karena kejahatan ini bersifat lintas negara dengan perbedaan regulasi di masing-masing yurisdiksi.

“Tantangan terkait dengan pemberantasan ini karena di masing-masing negara memiliki legalitas yang berbeda-beda, termasuk server lintas transaksi, peraturan, dan pajak yang berbeda-beda,” katanya.

Dalam proses penindakan, Polri juga menemukan pola kejahatan keuangan yang semakin kompleks, terutama dalam upaya menyamarkan aliran dana hasil judi online.

“Kita temukan pola layering transaksi dengan melibatkan banyak rekening, bahkan rekening di luar negeri, termasuk perusahaan cangkang, baik di dalam maupun luar negeri,” ungkapnya.

Meski demikian, Kapolri menegaskan Polri akan terus mengoptimalkan seluruh upaya penegakan hukum hingga ke akar jaringan, termasuk melalui pengungkapan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“Polri terus mengoptimalkan upaya pemberantasan judi online, mulai dari pengungkapan website seperti Sprint Harta, Sasa Fun, dan BMW312, penyitaan uang hasil kejahatan, penangkapan tersangka, hingga pengungkapan TPPU,” pungkasnya.
(Red)

Menuju Legalitas Permanen, FKDT Kersana Sosialisasikan IJOP MDTA

0

KERSANA, BREBES ((Aswajanews) – Dewan Pimpinan Anak Cabang Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPAC FKDT) Kecamatan Kersana menggelar kegiatan Sosialisasi Perpanjangan dan Pemutakhiran Izin Operasional (IJOP) Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) menuju izin operasional seumur hidup, Ahad (25/1/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat DPAC FKDT Kersana ini diikuti oleh para pengelola dan perwakilan MDTA se-Kecamatan Kersana. Sosialisasi dibuka secara resmi oleh Ketua DPAC FKDT Kersana, Ustadz Asrori.
Dalam sambutannya, Ustadz Asrori menegaskan bahwa pemutakhiran IJOP merupakan hal krusial bagi keberlangsungan dan penguatan legalitas lembaga pendidikan diniyah.

Menurutnya, kelengkapan administrasi dan keakuratan data menjadi fondasi utama agar MDTA diakui secara hukum dan mudah mengakses berbagai program ke depan

“Pemutakhiran IJOP ini sangat penting agar keberadaan MDTA semakin kuat secara hukum dan administrasi. Data yang akurat juga akan memudahkan lembaga dalam mengikuti berbagai program yang akan datang,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua DPAC FKDT Kersana juga menyampaikan sejumlah agenda strategis organisasi. Di antaranya adalah persiapan Wisuda Akbar Santri MDTA se-Kabupaten Brebes yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 4 Februari 2026, bertempat di Pondok Pesantren Al Hikmah 1. Selain itu, direncanakan pula program ziarah sebagai sarana mempererat ukhuwah dan meningkatkan spiritualitas pengurus serta anggota FKDT.

Tak kalah penting, Ustadz Asrori memberikan pengarahan terkait pengisian data ijazah santri melalui aplikasi SIMADINAH. Ia menekankan bahwa seluruh identitas santri harus diinput sesuai dengan Akta Kelahiran guna menghindari kendala administrasi di masa mendatang.

Materi utama sosialisasi IJOP disampaikan oleh Ustadz Misbahudin. Ia memaparkan secara rinci mekanisme perpanjangan dan pemutakhiran IJOP MDTA menuju izin operasional seumur hidup, meliputi persyaratan administrasi, alur pengajuan, serta penyesuaian data lembaga pada sistem yang berlaku.

Melalui kegiatan ini, DPAC FKDT Kersana berharap seluruh MDTA di wilayahnya semakin tertib secara administrasi, memiliki legalitas yang jelas, serta siap mendukung dan menyukseskan program-program FKDT baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. (Red)

Peran Nahdlatul Ulama dalam Harmonisasi Masyarakat Majemuk

0
*Oleh: A'isy Hanif Firdaus, S. Ag.

Indonesia adalah bangsa besar yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Perbedaan suku, agama, bahasa, budaya, dan tradisi bukanlah sekadar fakta sosial, melainkan identitas yang melekat pada kepribadian bangsa. Dalam konteks ini, menjaga harmoni bukan pekerjaan mudah. Upaya tersebut menuntut kesadaran kolektif, kearifan, dan kehadiran institusi sosial yang mampu merawat perbedaan agar tetap menjadi sumber kekuatan, bukan konflik. Pada titik inilah Nahdlatul Ulama (NU) hadir dan mengambil peran strategis.

Sejak kelahirannya pada tahun 1926, NU tidak hanya memosisikan diri sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan sosial dan kebudayaan masyarakat. NU tumbuh dari rahim tradisi, hidup di tengah masyarakat akar rumput, serta mengakar kuat pada realitas sosial Indonesia. Ketika banyak organisasi kehilangan relevansi karena tercerabut dari konteks sosial, NU justru bertahan dan terus berkembang karena kesadaran kolektif untuk merawat tradisi dan budaya yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat.

Dalam era globalisasi dan disrupsi nilai yang bergerak begitu cepat, keberadaan NU menjadi semakin penting. Tantangan terhadap harmoni sosial, menguatnya politik identitas, serta arus puritanisme yang kerap menafikan kearifan lokal menuntut NU untuk kembali meneguhkan jati diri. Peran tersebut dijalankan bukan sebagai organisasi yang nostalgik, melainkan sebagai gerakan hidup yang terus beradaptasi tanpa kehilangan akar.

Salah satu kekuatan utama Nahdlatul Ulama terletak pada kemampuan membaca realitas masyarakat secara jernih dan membumi. NU memahami bahwa agama tidak hadir di ruang hampa. Ajaran Islam selalu berdialog dengan budaya, tradisi, dan konteks sosial tempat agama itu dipraktikkan. Oleh karena itu, NU tidak memandang tradisi sebagai ancaman terhadap agama, melainkan sebagai medium dakwah dan sarana merawat harmoni sosial.

Tradisi-tradisi seperti tahlilan, yasinan, selametan, haul, maulid Nabi, dan berbagai ritual sosial-keagamaan lainnya bukan sekadar praktik keagamaan, melainkan ruang perjumpaan sosial. Dalam ruang-ruang tersebut, solidaritas dibangun, empati dirawat, dan perbedaan dilebur dalam kebersamaan. NU menjaga tradisi-tradisi ini bukan karena romantisme masa lalu, tetapi karena nilai sosial dan kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.

Dalam masyarakat majemuk, pendekatan kultural semacam ini terbukti lebih efektif dalam membangun harmoni dibandingkan pendekatan yang kaku dan eksklusif. NU tidak memaksakan keseragaman, melainkan menumbuhkan kesadaran bersama bahwa perbedaan merupakan sunnatullah. Prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i‘tidal (adil) bukan sekadar jargon ideologis, tetapi nilai hidup yang dipraktikkan dalam keseharian warga NU.

Lebih jauh, NU memainkan peran penting dalam menjaga integrasi nasional. Sejarah mencatat keterlibatan NU di garda terdepan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Resolusi Jihad 1945 menjadi bukti nyata bahwa NU tidak memisahkan agama dari tanggung jawab kebangsaan. Hingga hari ini, komitmen NU terhadap Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika tetap terjaga secara konsisten.

Di tengah menguatnya narasi transnasional yang kerap bertentangan dengan nilai kebangsaan, NU hadir sebagai penyangga ideologis. NU menawarkan Islam yang ramah, kontekstual, dan selaras dengan kepribadian bangsa Indonesia. Islam yang tidak memusuhi budaya, tidak alergi terhadap perbedaan, serta tidak menjadikan agama sebagai alat konflik sosial.

Keberlangsungan NU hingga hampir satu abad bukanlah kebetulan. Kondisi tersebut merupakan hasil dari kemampuan NU untuk terus beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri. Ketika masyarakat berubah, NU tidak menutup diri. Pesantren-pesantren NU tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga membuka ruang bagi ilmu pengetahuan modern, teknologi, dan wacana global. Seluruh pembaruan tersebut tetap dijalankan dengan berpijak pada nilai-nilai tradisi dan akhlak.

NU juga bertahan karena struktur organisasi yang berlapis dan mengakar kuat. Dari pusat hingga ranting, dari kota hingga pelosok desa, NU hadir dalam kehidupan nyata masyarakat. NU bukan organisasi elitis, melainkan organisasi sosial-keagamaan yang menyatu dengan denyut kehidupan umat. Kondisi inilah yang membuat NU tidak mudah goyah oleh perubahan politik maupun arus zaman.

Dalam konteks harmonisasi masyarakat majemuk, peran NU semakin relevan ketika ruang publik dipenuhi oleh ujaran kebencian, polarisasi, dan konflik identitas. Melalui para kiai, ulama, dan warga, NU terus menyuarakan pentingnya akhlak sosial, dialog, dan persaudaraan. NU tidak memproduksi narasi permusuhan, tetapi menghadirkan narasi kesejukan dan persatuan.

Merawat tradisi dan budaya lokal juga berarti merawat memori kolektif bangsa. NU menyadari bahwa bangsa yang tercerabut dari tradisinya akan mudah kehilangan arah. Oleh karena itu, menjaga budaya lokal bukan sikap anti-modernitas, melainkan strategi kebudayaan untuk memastikan bahwa proses modernisasi berjalan tanpa menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan demikian, NU bukan hanya organisasi yang masih bertahan, tetapi organisasi yang hidup. NU berdenyut bersama masyarakat, tumbuh seiring perubahan, dan terus berikhtiar menjaga keberlangsungan hidup sosial, budaya, serta kebangsaan Indonesia.

Meneguhkan peran Nahdlatul Ulama dalam harmonisasi masyarakat majemuk bukanlah upaya glorifikasi semata, melainkan pengakuan atas kontribusi nyata yang telah dan terus diberikan NU bagi bangsa Indonesia. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, NU hadir sebagai jangkar moral dan kultural yang menjaga keseimbangan kehidupan bersama.

Dengan merawat tradisi dan budaya yang melekat pada kepribadian masyarakat Indonesia, NU membuktikan bahwa agama dan budaya bukan dua entitas yang saling meniadakan, melainkan saling menguatkan. NU mengajarkan bahwa keberagamaan yang sehat adalah keberagamaan yang menumbuhkan kedamaian, bukan kegaduhan; keberagamaan yang merawat kehidupan, bukan memecah belah.

Pada point ini saya berharap kedepan, tantangan NU tentu tidak semakin ringan. Namun, selama NU tetap setia pada akar tradisi, terbuka terhadap perubahan, dan konsisten merawat harmoni sosial, NU akan terus hidup dan relevan. NU akan tetap hadir bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai penjaga peradaban dan penyangga keberlangsungan hidup bangsa Indonesia yang majemuk. Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.

*A’isy Hanif Firdaus, S. Ag. (Mahasiswa Program Pascasarjana FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis Keislaman, LTN PCNU Kabupaten Brebes)

Kajian Subuh Rutin Warnai Masjid Nurul Hidayah Siasem, Jamaah Diajak Istiqamah Menyambut Ramadhan

0

BREBES (Aswajanews) – Masjid Jami Nurul Hidayah, Desa Siasem, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, secara rutin menggelar kegiatan Kajian Subuh setiap hari Minggu. Kegiatan ini diikuti jamaah shalat Subuh dengan menghadirkan para kiai dan mubalig dari berbagai wilayah di Kabupaten Brebes.

Pada Minggu, 25 Januari 2025, kajian Subuh diisi oleh Akhmad Sururi dari Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari. Dalam ceramahnya yang berlangsung sekitar satu jam, ia mengajak jamaah untuk mensyukuri hidayah Allah SWT yang memungkinkan mereka istiqamah melaksanakan shalat Subuh berjamaah sekaligus menghadiri majelis ilmu.

“Pagi ini kita diberi kekuatan dan hidayah untuk shalat Subuh berjamaah dan mengikuti kajian. Tidak semua orang bisa melakukannya. Kita berdoa semoga mereka yang belum bisa berjamaah di masjid, kelak diberi kesempatan dan kemudahan oleh Allah SWT,” ujarnya di awal tausiyah.

Sekretaris MWC NU Wanasari itu menegaskan bahwa shalat Subuh berjamaah yang dilanjutkan majelis ta’lim merupakan sebuah keberuntungan besar. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW tentang “taman surga” yang dimaksud sebagai majelis ilmu dan majelis dzikir, tempat yang dianjurkan untuk disinggahi oleh umat Islam.

Sururi juga menyampaikan sebuah riwayat yang menggugah hati, bahwa andaikan seluruh penghuni kubur dibangkitkan, niscaya mereka akan berbondong-bondong mendatangi majelis ta’lim karena penyesalan semasa hidup tidak memanfaatkannya.

“Penyesalan di alam kubur tidak lagi berguna. Dunia inilah tempat beramal dan menanam kebaikan. Sebagaimana pesan Imam Al-Ghazali, dunia adalah ladang untuk akhirat,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris PD DMI Kabupaten Brebes juga menyampaikan kisah keteladanan seorang sahabat Nabi SAW bernama Sya’ban, yang dikenal sangat istiqamah berjamaah. Meski rumahnya cukup jauh dari Masjid Nabawi, ia selalu hadir lebih awal dan menempati saf depan sebelah kanan sebelum azan dikumandangkan.

Menjelang datangnya bulan Syaban, alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri angkatan 2000 itu mengajak jamaah untuk meningkatkan kualitas ibadah, termasuk memperbanyak puasa sunah. Ia juga mengingatkan keutamaan malam Nisfu Syaban, yang dianjurkan untuk memperbanyak doa dan ibadah.

“Doa pada malam Nisfu Syaban akan cepat diijabah Allah SWT, kecuali bagi orang musyrik, durhaka kepada orang tua, memutus silaturahmi, dan yang terus-menerus mabuk minuman keras,” jelasnya.

Sebagai penutup, Ketua DPC FKDT Kabupaten Brebes mengajak jamaah menjadikan bulan Syaban sebagai momentum membersihkan hati dalam rangka menyambut Ramadhan.

“Rajab telah berlalu sebagai bulan membersihkan jasad. Syaban adalah bulan membersihkan hati. Jika hati bersih, kita akan mampu merasakan keagungan tamu mulia bernama Ramadhan,” pungkasnya.
(Red/Nas)

Saba Desa di Banjarsari, Kang DS Tegaskan Komitmen Perbaikan Rutilahu

0

BANDUNG (ASWAJANEWS) – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Bandung dalam menuntaskan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).

Hingga pertengahan masa kepemimpinannya, Pemkab Bandung telah menyelesaikan 29.327 unit rumah, meski masih tersisa sekitar 15 ribu unit yang perlu ditangani.

Hal tersebut disampaikan Dadang Supriatna saat bermalam di rumah warga dalam rangka kegiatan Bunga Desa di Desa Banyarsari, Kecamatan Pangalengan, Sabtu (24/01/2026).

“Selama tiga setengah tahun kami sudah menyelesaikan 29.327 unit rumah. Namun setelah didata ulang, masih tersisa sekitar 15 ribuan, termasuk di wilayah Pangalengan,” kata Dadang, yang akrab disapa Kang DS.

Menurut Kang DS, Pangalengan menjadi salah satu fokus utama karena banyak rumah tidak layak huni berada di kawasan perkebunan. Penanganannya pun dilakukan melalui pendekatan pentahelix, dengan melibatkan berbagai pihak lintas sektor.

“Karena ini kawasan perkebunan, lahannya berbeda. Maka kita berkolaborasi dengan berbagai sektor dan mitra, termasuk lingkungan perkebunan,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Kang DS
menyebutkan di Desa Banjarsari terdapat 10 unit rumah yang mulai dibangun. Program tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya DPR RI melalui Kang Haji Cucun, serta dukungan dari DPRD Provinsi Jawa Barat.

“Terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu dan bergerak bersama menyelesaikan persoalan rumah tidak layak huni,” ucapnya.

Namun demikian, Kang DS mengakui adanya keterbatasan anggaran pada tahun ini akibat penurunan Transfer ke Daerah (TKD).

” Alhamdulillah, hari ini di Desa Banjarsari ada 12 unit rumah yang akan kita bedah rumah. Termasuk bantuan Kang Haji Cucun (Cucun Ahmad Syamsurijal), Anggota DPR RI dan DPRD Provinsi Jawa Barat juga sudah mulai bergerak dan fokus terhadap bagaimana untuk menyelesaikan rumah tidak layak huni atau rutilahu,” tuturnya.

Saat ini, anggaran yang tersedia baru mampu membiayai sekitar 560 unit rumah melalui desa dan sekitar 2.000 unit melalui sektor perkebunan, atau total 2.560 unit.

Meski begitu, Pemkab Bandung berencana menambah anggaran melalui APBD Perubahan. Hasil pembahasan bersama kepala desa pada peringatan Hari Desa Nasional menjadi dasar penguatan program tersebut.

“Biasanya melalui BKK Bunga Desa bisa enam unit per desa per tahun, sekarang baru dua unit karena harga satuan meningkat. Kebutuhan tambahan anggaran mencapai sekitar Rp16,8 miliar,” jelas Kang DS.

Ia menargetkan, dengan tambahan anggaran tersebut, pembangunan Rutilahu tahun ini dapat mencapai 4.000 hingga 5.000 unit.

Dengan demikian, sisa 15 ribu unit rumah tidak layak huni di Kabupaten Bandung ditargetkan rampung dalam tiga tahun ke depan.

“Kami fokus menyelesaikan Rutilahu karena ujungnya adalah kesehatan masyarakat. Rumah yang sehat akan berdampak pada kualitas hidup warga dan lingkungan,” pungkasnya.***

Tangani Banjir, Bupati Aep Siapkan Pembebasan Lahan Rumah Pompa dan Pastikan Bantuan Logistik Aman

0

KARAWANG (Aswajanews) – Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh bersama anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka meninjau langsung kondisi warga terdampak banjir di Desa Karangligar, Telukjambe Barat pada Sabtu (24/1/26).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Karawang terus berupaya dalam memitigasi banjir yang terjadi di sejumlah wilayah termasuk Karangligar. Salah satu yang tengah ditempuh yaitu pembangunan rumah pompa.

Terkait pembangunan rumah pompa, ia menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten Karawang telah menyiapkan anggaran untuk pembebasan lahan berkolaborasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Karawang.

“Pemerintah daerah untuk anggaran pembebasan tanah udah kami siapkan, udah clear. Kita udah berkolaborasi dengan BPN Karawang,” ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Kementerian terus dilakukan.

“Besar harapan mudah-mudahan juga ke depan apa yang menjadikan keinginan masyarakat, kami sudah koordinasi dengan BBWS dan Kementerian mudah-mudahan di bulan Juli ini selesai,” ujarnya.

Sementara itu, Ia menyebutkan bahwa data yang dihimpun BPBD Karawang pagi ini tercatat sebanyak sebanyak 21 kecamatan dan 53 desa yang terdampak banjir.

“Hingga tadi pagi, ini sudah ada 21 Kecamatan, ada 53 desa tentunya yang terdampak banjir. Kita akan lihat situasi sampai sore ini kira-kira seperti apa,” ujarnya.

Ia menyebutkan upaya lain yang telah dilakukan pemerintah saat ini untuk penanganan banjir di sejumlah wilayah yaitu pendirian posko pengungsian, dapur umum, posko kesehatan, pompa air hingga bantuan sembako.

Dalam kunjungan tersebut, Bupati Aep bersama Rieke Diah Pitaloka menyerahkan bantuan paket sembako secara simbolis kepada warga terdampak banjir. Sebelumnya, rombongan juga telah melakukan peninjauan banjir di Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat. (Liputan : Ahmad Z)

Rekontekstualisasi Kiai NU dalam Menggerakkan Jam’iyyah

0
*Oleh: A'isy Hanif Firdaus, S.Ag.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah memiliki karakter unik dalam sejarah organisasi Islam di Indonesia. Keunikan tersebut terletak pada peran sentral kiai sebagai penggerak utama jam’iyyah, baik dalam dimensi keagamaan, sosial, maupun kebangsaan. Sejak kelahirannya pada tahun 1926, NU tidak dapat dilepaskan dari figur kiai yang menjadi poros otoritas keilmuan, spiritual, dan kultural di tengah masyarakat. Kiai tidak hanya dipandang sebagai pemimpin agama, tetapi juga sebagai penjaga tradisi, penuntun moral, sekaligus pengikat solidaritas sosial warga nahdliyyin.

Namun, perubahan zaman yang begitu cepat menghadirkan tantangan baru bagi peran kiai dalam menggerakkan jam’iyyah. Globalisasi, modernisasi, kemajuan teknologi informasi, serta perubahan karakter masyarakat terutama generasi muda menuntut adanya pembacaan ulang terhadap pola kepemimpinan dan strategi penggerakan jam’iyyah. Otoritas tradisional yang dahulu bersifat taken for granted kini dihadapkan pada rasionalitas publik, keterbukaan informasi, dan kompetisi wacana di ruang digital.

Dalam konteks inilah, rekontekstualisasi peran kiai NU menjadi sebuah keniscayaan. Rekontekstualisasi bukanlah upaya menggeser atau mereduksi peran kiai, melainkan ikhtiar menempatkan kembali peran tersebut agar tetap relevan, efektif, dan bermakna di tengah perubahan sosial. Tulisan ini berupaya mengelaborasi bagaimana rekontekstualisasi kiai NU dalam menggerakkan jam’iyyah dapat dilakukan tanpa kehilangan akar tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman kontemporer.

Kiai NU dan Tradisi Penggerakan Jam’iyyah

Secara historis, kiai NU memiliki posisi yang sangat kuat dalam struktur sosial-keagamaan masyarakat. Kekuatan tersebut bersumber dari tiga hal utama: kedalaman ilmu agama, integritas moral, dan kharisma personal. Dalam tradisi pesantren, kiai bukan sekadar pengajar ilmu, tetapi juga teladan hidup yang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam praktik keseharian. Dari sinilah lahir kepercayaan (trust) masyarakat yang menjadi modal sosial utama dalam menggerakkan jam’iyyah.

Dalam konteks jam’iyyah NU, kiai berfungsi sebagai pengarah utama gerakan organisasi. Keputusan-keputusan strategis NU, baik di tingkat lokal maupun nasional, sering kali tidak lepas dari pandangan dan restu kiai. Model kepemimpinan ini bersifat kultural, di mana ikatan emosional antara kiai dan jamaah menjadi penggerak utama partisipasi warga NU. Pengajian, tahlilan, manaqiban, dan berbagai tradisi keagamaan lainnya menjadi medium efektif dalam mengonsolidasikan jam’iyyah.

Namun, model penggerakan berbasis kharisma personal ini memiliki tantangan ketika berhadapan dengan realitas masyarakat modern. Ketergantungan yang terlalu besar pada figur kiai berpotensi melemahkan sistem organisasi jika tidak diimbangi dengan tata kelola yang partisipatif dan kaderisasi yang berkelanjutan. Di sinilah kebutuhan akan rekontekstualisasi mulai terasa.

Tantangan Zaman dan Perubahan Sosial

Perubahan sosial yang terjadi dewasa ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural. Masyarakat semakin terbuka, kritis, dan terhubung secara global melalui teknologi digital. Generasi muda NU tumbuh dalam ekosistem media sosial yang memungkinkan mereka mengakses berbagai pandangan keagamaan, termasuk yang tidak sejalan dengan tradisi ke-NU-an. Otoritas keagamaan tidak lagi dimonopoli oleh figur lokal, tetapi bersaing dengan ustaz digital, influencer agama, dan wacana transnasional.

Kondisi ini menuntut kiai NU untuk melakukan adaptasi dalam cara berkomunikasi dan menggerakkan jam’iyyah. Pola komunikasi satu arah yang bersifat instruktif perlu dilengkapi dengan pendekatan dialogis dan persuasif. Kiai tidak cukup hanya hadir sebagai pemberi fatwa atau nasihat, tetapi juga sebagai pendengar yang memahami kegelisahan dan kebutuhan umat, khususnya generasi muda.

Selain itu, kompleksitas persoalan sosial mulai dari kemiskinan, ketimpangan pendidikan, radikalisme, hingga krisis ekologi menuntut peran kiai yang lebih luas. Jam’iyyah NU tidak hanya ditantang untuk menjaga tradisi, tetapi juga untuk memberikan solusi nyata atas problem kemanusiaan. Dalam konteks ini, kiai dituntut mampu menggerakkan jam’iyyah ke arah penguatan peran sosial dan pemberdayaan umat.

Rekontekstualisasi Peran Kiai: Dari Sentralistik ke Kolaboratif

Rekontekstualisasi kiai NU dalam menggerakkan jam’iyyah dapat dimaknai sebagai pergeseran peran dari pola kepemimpinan yang sangat sentralistik menuju pola yang lebih kolaboratif dan partisipatif. Kiai tetap menjadi figur sentral, namun tidak lagi bekerja sendiri. Sinergi dengan struktur organisasi NU, pengurus harian, serta badan otonom seperti GP Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU-IPPNU, dan lainnya menjadi kunci penguatan jam’iyyah.

Dalam kerangka ini, kiai berperan sebagai penjaga nilai (value guardian) dan pengarah visi besar jam’iyyah, sementara aspek teknis dan operasional digerakkan secara kolektif. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kelembagaan NU, tetapi juga mendorong lahirnya kader-kader muda yang memiliki rasa kepemilikan terhadap jam’iyyah.

Rekontekstualisasi juga menuntut kiai untuk membuka ruang kaderisasi yang lebih sistematis. Pesantren dan majelis taklim tidak hanya menjadi pusat transmisi ilmu agama, tetapi juga laboratorium kepemimpinan dan keorganisasian. Dengan demikian, jam’iyyah NU tidak bergantung pada satu figur, melainkan memiliki regenerasi yang kuat dan berkelanjutan.

Salah satu aspek penting dalam rekontekstualisasi adalah kehadiran kiai NU di ruang digital. Media sosial dan platform daring telah menjadi arena baru dalam pembentukan opini keagamaan. Ketidakhadiran kiai NU di ruang ini berpotensi menciptakan kekosongan wacana yang diisi oleh narasi keagamaan yang sempit dan eksklusif.

Kehadiran kiai NU di ruang digital tidak harus selalu dalam bentuk ceramah formal. Pesan-pesan singkat, refleksi keagamaan, respons terhadap isu aktual, serta keteladanan sikap moderat dapat menjadi konten dakwah yang efektif. Di sinilah kiai NU berperan sebagai penuntun moral yang menyejukkan, sekaligus penggerak jam’iyyah dalam skala yang lebih luas.

Namun demikian, keterlibatan di ruang digital tetap harus berpijak pada etika dan nilai ke-NU-an. Rekontekstualisasi bukan berarti larut dalam budaya sensasi atau polarisasi, melainkan menghadirkan Islam yang ramah, moderat, dan berakar pada tradisi.

Rekontekstualisasi kiai NU dalam menggerakkan jam’iyyah merupakan ikhtiar strategis untuk menjaga keberlanjutan peran NU di tengah perubahan zaman. Kiai tetap menjadi ruh dan penopang utama jam’iyyah, namun dengan cara gerak yang lebih adaptif, kolaboratif, dan kontekstual. Rekontekstualisasi bukanlah bentuk pengingkaran terhadap tradisi, melainkan usaha merawat tradisi agar tetap hidup dan relevan.

Walhasil dengan memadukan otoritas keilmuan, keteladanan moral, serta keterbukaan terhadap perubahan, kiai NU dapat terus menggerakkan jam’iyyah sebagai kekuatan keagamaan dan sosial yang membawa kemaslahatan. Dalam konteks inilah, jam’iyyah NU tidak hanya bertahan sebagai warisan sejarah, tetapi juga tampil sebagai gerakan dinamis yang mampu menjawab tantangan umat, bangsa, dan kemanusiaan di era kontemporer.

Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.

*A’isy Hanif Firdaus, S.Ag. (Mahasiswa Program FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis Keislaman, LTN Kabupaten Brebes).

Hujan Deras dan Angin Kencang Rusak Rumah Warga di Ciwidey

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah Ciwidey, Kabupaten Bandung, Sabtu (24/1/2026) pagi. Akibatnya, sejumlah rumah warga di Desa Panyocokan mengalami kerusakan dan dua kepala keluarga terpaksa mengungsi sementara.

Informasi yang dihimpun dari warga dan aparat lingkungan menyebutkan, kejadian terjadi sekitar pukul 06.00 WIB di Kampung Nangkerok RT 04 RW 01. Angin kencang datang secara tiba-tiba bersamaan dengan hujan deras dan menerbangkan atap rumah warga.

Saksi kejadian, Ai Karmini, mengatakan warga sempat panik dan keluar rumah untuk menghindari risiko tertimpa bangunan. Salah satu rumah yang terdampak diketahui milik Usep Sudrajat (53), buruh harian lepas.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerusakan bangunan cukup parah dan sebagian perabot rumah tangga basah akibat hujan. Hingga siang hari, rumah terdampak masih ditutup terpal seadanya.

Pihak RT dan RW setempat telah melaporkan kejadian ini kepada pemerintah desa dan instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut.

Sementara itu, Zamzam dari Linmas Satpol PP menyampaikan pihaknya telah berkoordinasi lintas wilayah dan antarinstansi terkait dalam penanganan kejadian di lokasi.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan bersama menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi sewaktu-waktu.

(Reporter: Uus)

Ketika Indonesia Berbicara dengan Bukti: Pidato Presiden Prabowo di World Economic Forum 2026

0

Davos, Swiss (Aswajanews) – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk pertama kalinya tampil sebagai pembicara kunci dalam forum ekonomi global World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, pada 19–23 Januari 2026. Kehadiran ini menandai posisi strategis Indonesia di panggung internasional, sekaligus menjadi momentum bagi Presiden Prabowo memaparkan arah kebijakan dan capaian pemerintahannya setelah satu tahun berjalan.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyoroti situasi global yang kian tidak pasti akibat konflik geopolitik, krisis kepercayaan antarnegara, serta tekanan ekonomi dunia. Di tengah kondisi tersebut, Indonesia justru dinilai sebagai “global bright spot” oleh Dana Moneter Internasional (IMF), dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap stabil dan tangguh.

Presiden Prabowo menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia konsisten tumbuh di atas 5 persen selama satu dekade terakhir. Inflasi terjaga di kisaran 2 persen, sementara defisit anggaran tetap di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menurutnya, capaian ini bukan sekadar optimisme, melainkan hasil kebijakan berbasis bukti, disiplin fiskal, dan konsistensi menjaga kredibilitas negara.

Ia menegaskan, Indonesia memiliki rekam jejak kuat dalam pengelolaan utang. Sepanjang sejarah, Indonesia tidak pernah gagal memenuhi kewajiban utangnya, dan setiap pemerintahan selalu menghormati komitmen ekonomi sebelumnya. Kredibilitas inilah yang menjadi fondasi utama kepercayaan global terhadap Indonesia.

Danantara, Instrumen Strategis Masa Depan

Salah satu sorotan utama pidato Presiden Prabowo adalah pengenalan Danantara Indonesia, sovereign wealth fund (SWF) yang dibentuk untuk mendukung industrialisasi dan pembiayaan sektor-sektor masa depan. Dengan aset kelolaan mencapai USD 1 triliun, Danantara diposisikan sebagai instrumen strategis pertumbuhan jangka panjang sekaligus penguat kemitraan global.

Saat ini, Danantara mengelola lebih dari 1.000 BUMN yang akan dirasionalisasi menjadi sekitar 300 perusahaan dengan tata kelola berstandar internasional. Presiden Prabowo bahkan membuka peluang bagi profesional dan ekspatriat asing untuk memimpin BUMN sebagai bentuk komitmen terhadap profesionalisme, efisiensi, dan transparansi.

Efisiensi Anggaran dan Program MBG

Dalam dua bulan pertama masa pemerintahannya, Presiden Prabowo melakukan efisiensi anggaran yang menghasilkan penghematan USD 18 miliar dari penghentian program-program yang dinilai tidak efektif. Dana tersebut dialihkan ke program berdampak langsung, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program MBG yang dimulai pada 6 Januari 2025 berkembang pesat. Dari 190 dapur pada hari pertama, kini mencapai 21.102 dapur yang melayani 59,8 juta penerima manfaat per hari, mencakup anak-anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia yang hidup sendiri. Presiden Prabowo bahkan menyebut skalanya akan melampaui jumlah makanan harian yang diproduksi McDonald’s secara global.

Selain meningkatkan kualitas gizi, program ini juga menggerakkan ekonomi rakyat dengan melibatkan lebih dari 61.000 UMKM, menciptakan ratusan ribu lapangan kerja, dan berpotensi menyerap hingga 1,5 juta tenaga kerja langsung.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia merupakan fondasi pertumbuhan jangka panjang. Pemerintah telah merenovasi 16.140 sekolah, melengkapi ratusan ribu sekolah dengan panel digital interaktif, serta menargetkan modernisasi 60.000 sekolah dalam beberapa tahun ke depan.

Pemerintah juga membangun sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga termiskin sebagai strategi memutus kemiskinan struktural. Hingga kini, 166 sekolah berasrama telah berdiri, dengan target 500 sekolah berasrama dan 500 pusat unggulan pendidikan.

Di sektor kesehatan, pemerintah menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis tahunan bagi 70 juta warga, kebijakan yang dinilai rasional untuk meningkatkan produktivitas dan menekan beban biaya kesehatan jangka panjang.

Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi

Presiden Prabowo menegaskan bahwa iklim investasi tidak akan tumbuh tanpa kepastian hukum. Dalam satu tahun pertama pemerintahannya, Indonesia telah menyita 4 juta hektare perkebunan dan tambang ilegal, menutup lebih dari 1.000 tambang ilegal, serta mencabut izin puluhan korporasi yang melanggar hukum.

Langkah ini disebut sebagai penegakan hukum kehutanan dan sumber daya alam paling berani dalam sejarah Indonesia. Presiden Prabowo menyebut praktik tersebut sebagai greednomics—ekonomi keserakahan—yang harus dihentikan demi keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.

Menutup pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan visinya menjadikan Indonesia negara modern yang terintegrasi dengan ekonomi global, namun tetap berlandaskan keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan pemerintahan yang bersih. Misi utamanya, tegas Prabowo, adalah menghapus kemiskinan ekstrem dan kelaparan, serta memastikan rakyat kecil memiliki harapan dan masa depan.

Pidato Presiden Prabowo di WEF 2026 bukan sekadar laporan capaian, melainkan pernyataan posisi Indonesia sebagai negara yang stabil, kredibel, dan siap menjadi mitra global. Dengan pendekatan berbasis bukti, ketegasan eksekusi kebijakan, dan keberpihakan pada rakyat, Indonesia menegaskan diri sebagai kekuatan ekonomi baru yang tumbuh dengan stabilitas dan keadilan.

(Kontributor: Kamas Wahyu Amboro)

Ambruknya Atap SMAN 1 Susukan Bukan Sekadar Cuaca, SOP Konstruksi Dipertanyakan

0

CIREBON (Aswajanews) – Runtuhnya atap bangunan outdoor di SMAN 1 Susukan, Kabupaten Cirebon, tidak dapat lagi dipandang semata-mata sebagai dampak cuaca. Peristiwa ini justru mengindikasikan adanya dugaan kelalaian serius dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP) konstruksi pada fasilitas pendidikan yang seharusnya mengedepankan aspek keselamatan.

Bangunan outdoor yang ambruk diketahui memiliki dimensi sekitar panjang 20 meter, lebar 18 meter, dan tinggi kurang lebih 15 meter. Dalam perspektif teknik sipil, ukuran tersebut tergolong bentang lebar yang sejak tahap perencanaan mewajibkan perhitungan struktur khusus, analisis beban angin, serta keterlibatan tenaga ahli bersertifikat.
Namun, berdasarkan fakta di lapangan, struktur utama bangunan tersebut menggunakan baja ringan canai dingin.

Mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 8399:2017, baja ringan pada umumnya diperuntukkan bagi bangunan sederhana dengan bentang terbatas, berkisar 6 hingga 9 meter dan dalam kondisi tertentu maksimal 12 hingga 15 meter dengan rekayasa khusus.
Penggunaan baja ringan pada bentang 18 hingga 20 meter dengan ketinggian mencapai 15 meter memperkuat dugaan ketidaksesuaian spesifikasi material terhadap fungsi dan tingkat risiko struktur.

Kondisi ini semakin krusial karena bangunan bersifat terbuka tanpa dinding penahan, sehingga sepenuhnya terekspos tekanan angin dari berbagai arah.
Sorotan utama juga mengarah pada perhitungan beban angin. Berdasarkan SNI 1727:2020, setiap bangunan wajib dirancang untuk menahan tekanan angin lateral serta efek uplift.

Fakta bahwa atap roboh akibat hembusan angin dari arah bawah ke atas mengindikasikan bahwa beban rencana angin diduga tidak diperhitungkan secara memadai.
Ironisnya, bangunan tersebut telah lama digunakan sebagai area aktivitas siswa. Hingga kini, belum terdapat informasi terbuka terkait uji kelayakan struktur, audit teknis berkala, maupun kepemilikan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sebagaimana diwajibkan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 dan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021.

Insiden terjadi pada Rabu, 21 Januari 2026, sekitar pukul 14.45 WIB, saat angin kencang disertai hujan gerimis melanda lingkungan sekolah. Atap bangunan outdoor roboh dan menimpa area lapangan yang tengah digunakan untuk aktivitas siswa.

Dalam peristiwa tersebut, seorang siswi kelas X (E) bernama Yusi mengalami luka ringan setelah sempat tertimpa reruntuhan atap. Guru dan siswa lainnya segera memberikan pertolongan dan mengevakuasi korban untuk mendapatkan penanganan medis.

Kepala SMAN 1 Susukan, Ukendi Andriyana, menyampaikan bahwa angin datang cukup kencang dan menyapu dari bawah ke atas hingga merobohkan atap bangunan outdoor.
Namun secara teknis, kalangan ahli menegaskan bahwa faktor cuaca ekstrem seharusnya telah menjadi bagian dari perhitungan awal konstruksi. Ketika struktur gagal menahan tekanan alam, evaluasi tidak dapat berhenti pada faktor cuaca semata.
Pihak sekolah juga meluruskan informasi yang beredar di media sosial terkait adanya korban jiwa. Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Susukan, Danal Alam, menegaskan bahwa seorang guru yang meninggal dunia memiliki riwayat penyakit jantung dan wafat setelah membantu proses evakuasi siswa, bukan akibat tertimpa bangunan.

Sementara itu, Kapolsek Susukan IPTU Kelani memastikan tidak terdapat korban meninggal dunia akibat runtuhnya bangunan tersebut. Pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab ambruknya atap.
Sejumlah pakar konstruksi menilai, bangunan pendidikan dengan bentang dan ketinggian seperti atap outdoor SMAN 1 Susukan seharusnya menggunakan struktur baja profil berat, seperti WF atau H-Beam, atau sistem rangka khusus berupa truss baja maupun space frame.

Penggunaan baja ringan sebagai struktur utama tanpa sistem pengendalian beban angin yang memadai dinilai berpotensi besar menyebabkan kegagalan struktural dini, sebagaimana tercermin dalam insiden ini.
Runtuhnya atap bangunan outdoor SMAN 1 Susukan menjadi peringatan keras bahwa keselamatan infrastruktur pendidikan tidak boleh dikompromikan. Dugaan kelalaian dalam penerapan SOP konstruksi menuntut audit teknis menyeluruh, evaluasi perizinan, serta pertanggungjawaban yang transparan agar kejadian serupa tidak kembali terulang. (Red)

Pengembangan Kasus Lukman yang diamankan di Bangle, Polres Karawang Ringkus Pemasok Sabu di Green Harmony

0

KARAWANG (Aswaja News) – Kepolisian Resor Karawang melalui Satresnarkoba yang dipimpin oleh AKP Maulana Yusuf Bahtiar, berhasil mengungkap kasus peredaran narkotika jenis sabu di wilayah Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang. Pengungkapan tersebut bermula dari laporan masyarakat yang curiga terhadap aktivitas mencurigakan seorang pria di lingkungan perumahan.

Kapolres Karawang AKBP Fiki N. Ardiansyah melalui Kasi Humas Ipda Cep Wildan menyampaikan bahwa pelaku pertama berinisial Lukman (37) diamankan pada Rabu (21/1/2026) sekitar pukul 12.00 WIB di kawasan Perumahan Citra Kebun Mas, Desa Bengle, Kecamatan Majalaya.

“Pelaku bukan merupakan warga setempat dan terlihat mondar-mandir di sekitar rumah warga. Saat diamankan, pelaku tertangkap tangan oleh warga ketika diduga hendak melakukan sistem mapping atau penempelan narkoba,” jelas IPDA Cep Wildan.

Dalam pengamanan tersebut, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa 20 paket narkotika jenis sabu, terdiri dari 15 paket dalam sedotan bening dan 5 paket dalam sedotan hitam, 1 unit handphone merk Oppo warna biru, serta 1 unit sepeda motor Honda Scoopy warna merah yang diduga digunakan pelaku untuk menjalankan aksinya.

Kasi Humas menambahkan, saat hendak diamankan, pelaku sempat membuang barang bukti ke selokan. Namun aksi tersebut diketahui warga yang kemudian segera menghubungi pihak kepolisian. Petugas dari Satresnarkoba Polres Karawang bersama Polsek Majalaya langsung mendatangi lokasi untuk mengamankan pelaku beserta barang bukti.

“Hasil interogasi awal, pelaku mengakui bahwa narkotika jenis sabu tersebut rencananya akan diedarkan dengan cara ditempel di lokasi tertentu,” ungkapnya.

Berdasarkan keterangan pelaku Lukman, petugas dari Satresnarkoba Unit Satu Ipda adit fanji Purnomo, kemudian melakukan pengembangan kasus dan berhasil meringkus pemasok narkotika berinisial Yatna Sulasmana alias Corang pada Jumat (23/1/2026) sekitar pukul 04.00 WIB di sebuah rumah di Perumahan Green Harmony Residence Blok E5/7, Desa Pasirjengkol, Kecamatan Majalaya.

Dari hasil penggeledahan badan dan tempat, petugas menemukan barang bukti narkotika jenis sabu dengan berat total 10,39 gram, berupa beberapa paket plastik klip berisi kristal putih yang disimpan dalam bungkus rokok dan potongan sedotan, 1 unit timbangan digital, serta 1 unit handphone merk Vivo.

“Pelaku kedua mengaku mendapatkan narkotika jenis sabu dari seseorang berinisial ‘I’ yang saat ini masih dalam pengejaran, ” tambah Kasi Humas.

Kedua pelaku beserta seluruh barang bukti kini telah diamankan di Satuan Reserse Narkoba Polres Karawang untuk menjalani pemeriksaan dan pengembangan lebih lanjut guna mengungkap jaringan peredaran narkoba yang lebih luas.

Polres Karawang mengapresiasi peran aktif masyarakat dalam membantu kepolisian memberantas peredaran narkotika dan mengimbau warga untuk tidak ragu melaporkan setiap aktivitas mencurigakan di lingkungan masing-masing.

“Perang terhadap narkoba membutuhkan peran serta seluruh elemen masyarakat. Kami mengajak warga Karawang untuk terus bersinergi dengan kepolisian demi menjaga lingkungan yang aman dan bersih dari narkoba,” pungkas Ipda Cep Wildan.
(Liputan : Ahmad Z)

Pengendara Motor Tewas Dilindas Kendaraan Misterius, Polres Karawang Selidiki Kasus Tabrak Lari

0

KARAWANG (Aswajanews) – Polres Karawang melalui Kapolres Karawang AKBP Fiki N. Ardiansyah, yang disampaikan oleh Kasi Humas IPDA Cep Wildan, membenarkan telah terjadi peristiwa kecelakaan lalu lintas dengan modus tabrak lari di wilayah Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang.

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 23 Januari 2026 sekitar pukul 19.00 WIB, bertempat di Jalan Raya Balonggandu, Dusun Kertasari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang.

Dalam kejadian tersebut, korban diketahui bernama Yadi (63), warga Dusun Bambu H. Amin RT 002 RW 007, Desa Jatiwangi, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang.

IPDA Cep Wildan menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi dan hasil olah tempat kejadian perkara, kecelakaan bermula saat korban mengendarai sepeda motor nomor polisi T-2192-SZ dari arah Cikampek menuju Cirebon. Setibanya di lokasi kejadian, sepeda motor yang dikendarai korban melindas lubang di jalan sehingga korban terjatuh ke badan jalan.

“Setelah terjatuh, dari arah belakang datang kendaraan lain yang belum diketahui jenis maupun nomor polisinya dan melindas korban, kemudian langsung melarikan diri,” jelas Kasi Humas.

Saksi mata dalam peristiwa tersebut yakni Dayat (52), warga Dusun Kertasari RT 01 RW 05, Desa Balonggandu, Kecamatan Jatisari, yang melihat langsung kejadian tersebut.

Menindaklanjuti peristiwa itu, petugas kepolisian telah melakukan sejumlah tindakan, di antaranya mendatangi dan mengecek TKP, memeriksa serta mencatat keterangan saksi, mengamankan barang bukti, serta melimpahkan penanganan perkara ke Unit Gakkum Lantas Polres Karawang.

“Saat ini kasus kecelakaan tabrak lari tersebut masih dalam penanganan Unit Gakkum Satlantas Polres Karawang dan pelaku tengah dalam proses pencarian,” tambah IPDA Cep Wildan.

Polres Karawang mengimbau kepada masyarakat yang mengetahui informasi terkait kendaraan atau pelaku tabrak lari tersebut agar segera melapor ke pihak kepolisian guna mempercepat proses penyelidikan.
(Liputan : Ahmad Zidin)

Larang Peliputan dan Ancam Wartawan, Akun TikTok Serdadu IB 87 Dipolisikan

0

BANDUNG (Aswajanews) – Sebanyak 50 wartawan dari berbagai media dan organisasi jurnalis secara resmi melaporkan akun TikTok Serdadu IB 87 ke Direktorat Siber Polda Jawa Barat, Jumat (23/01). Laporan tersebut terkait dugaan pelanggaran Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, serta dugaan penghinaan dan penistaan terhadap profesi wartawan.

Para wartawan yang tergabung dalam Aliansi Media mendatangi Direktorat Siber Polda Jabar dengan membawa sejumlah barang bukti berupa video dan tangkapan layar dari berbagai media sosial, khususnya dari akun TikTok Serdadu IB 87 dan akun @wajah_pribumi. Seluruh bukti tersebut telah diserahkan dan diterima pihak kepolisian.

Salah seorang wartawan, Asep, saat dimintai keterangan mengatakan bahwa pernyataan yang diunggah akun TikTok Serdadu IB 87—yang diduga milik seorang warga Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung—telah secara terang-terangan melarang wartawan dari luar wilayah Cikancung untuk melakukan peliputan.

“Pernyataan tersebut jelas melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Kebebasan Pers. Tidak ada satu pun pihak yang berhak melarang kerja jurnalistik yang sah,” tegas Asep.

Tak hanya itu, pemilik akun TikTok Serdadu IB 87 dan @wajah_pribumi juga diduga melakukan pengancaman terhadap salah seorang wartawan melalui pesan WhatsApp, termasuk ancaman akan mendatangi rumah korban.

Akun Serdadu IB 87 dan @wajah_pribumi 870407, yang diduga dimiliki oleh seseorang bernama Iwan Baplang, disinyalir telah melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta Undang-Undang Pers, baik melalui konten media sosial maupun komunikasi pribadi yang bersifat intimidatif.

Penghinaan dan pengancaman tersebut kini telah resmi dilaporkan ke Polda Jawa Barat. Pihak Direktorat Siber Polda Jabar menyatakan laporan sudah diterima dan telah memenuhi unsur pasal yang dilaporkan.

“Laporan ini sudah masuk ranah Undang-Undang ITE. Saat ini kami terima laporannya, dan sebelum ditindaklanjuti lebih lanjut, yang bersangkutan akan kami undang untuk dimintai keterangan. Jika tidak kooperatif, statusnya akan kami tingkatkan,” ujar salah seorang anggota Direktorat Siber Polda Jabar.

Kasus ini menjadi sorotan serius insan pers, karena dinilai sebagai bentuk intimidasi dan ancaman nyata terhadap kebebasan pers serta keselamatan wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik.
(Red)

Cuaca Buruk, Pagelaran Wayang Golek Putra Giri Harja 3 Hardesnas 2026 Ditunda

0
Dalang Putra Giri Harja 3 H. Dadan Sunandar Sunarya, didampingi Kepala Desa Banjarsari Deni Shahidin

Bandung (Aswajanews.id) — Pagelaran wayang golek Putra Giri Harja 3 yang dijadwalkan menjadi penutup peringatan Hari Desa Nasional (Hardesnas) 2026 tingkat Kabupaten Bandung di Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Jumat (23/1/2026), ditunda akibat hujan deras disertai angin kencang.

Cuaca buruk melanda wilayah Pangalengan sejak siang hingga sore hari dan dinilai tidak aman bagi pelaksanaan pertunjukan.

Dalam keterangannya, Dalang Putra Giri Harja 3 H. Dadan Sunandar Sunarya, didampingi Kepala Desa Banjarsari Deni Shahidin, menyampaikan bahwa penundaan dilakukan demi keselamatan penonton dan kru pendukung.

Hingga waktu pelaksanaan yang dijadwalkan, kondisi cuaca di lokasi belum menunjukkan perbaikan. Panitia memutuskan menunda pagelaran hingga situasi dinilai memungkinkan.

Pagelaran wayang golek tersebut semula dirancang sebagai hiburan rakyat sekaligus penutup rangkaian Hardesnas 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bandung. (Red)

Hujan, Lumpur, dan Hari Desa di Banjarsari

0

BANDUNG (Aswajanews.id) — Jumat pagi (23/1/2026), Lapangan Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, dingin dan basah. Hujan turun sejak pagi, angin sesekali menyapu lapangan. Tanah lembek, sepatu basah. Namun peringatan Hari Desa Nasional (Hardesnas) Tingkat Kabupaten Bandung tetap digelar.

Sejumlah peserta merapatkan jaket. Ada yang menggosokkan telapak tangan, ada yang menghentakkan kaki ke tanah, sekadar mengusir dingin. Payung dan jas hujan jadi pemandangan biasa. Upacara berlangsung singkat, tanpa banyak seremoni.

Bupati Bandung Dadang Supriatna berdiri sebagai inspektur upacara. Ia didampingi Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb. Di sekelilingnya, jajaran Forkopimda, pimpinan DPRD, sekretaris daerah, camat, kepala desa, serta tamu undangan lain bertahan di udara Pangalengan yang menusuk.

Dalam sambutannya, Kang DS, sapaan yang lebih sering terdengar ketimbang nama lengkapnya, tidak berpanjang kata. Ia langsung bicara soal desa.

“Desa hari ini bukan lagi penonton,” katanya. “Desa sudah jadi aktor pembangunan.”

Kalimatnya pendek. Pesannya jelas. Pembangunan, menurut dia, tidak bisa terus dilihat dari atas. Desa bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan ruang hidup yang menentukan ketahanan pangan, sosial, budaya, hingga ekonomi kerakyatan.

Peringatan Hardesnas 2026 di Kabupaten Bandung dipusatkan di Pangalengan dan dirangkai dengan Program Bunga Desa, Bupati Ngamumule Desa. Melalui program ini, pemerintah daerah membuka berbagai layanan publik di lokasi kegiatan. Sejumlah warga tampak memanfaatkan layanan administrasi kependudukan, pemeriksaan kesehatan, hingga pelayanan sosial yang dibuka sehari penuh.

Di sela kegiatan, Kang DS meluncurkan program Sapoci Kades, Sepasang Pohon Cinta Kepala Desa. Program ini mengajak para kepala desa bersama pasangan menanam dan merawat sepasang pohon di lingkungan masing-masing sebagai simbol komitmen menjaga alam.

“Mencintai desa berarti menjaga alamnya,” ujar Kang DS.

Dalam rangkaian Hardesnas ini pula, pemerintah daerah melantik pejabat kepala desa persiapan, yakni Desa Persiapan Mekarwangi di Kecamatan Pangalengan, Pandanwangi di Kecamatan Cileunyi, dan Giriwangi di Kecamatan Cilengkrang, sebagai upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Bupati Bandung juga menyampaikan capaian pembangunan desa yang menunjukkan tren positif. Saat ini, tercatat 199 desa berstatus mandiri, 69 desa berstatus maju, dan dua desa berstatus berkembang. Tidak ada lagi desa berstatus tertinggal di Kabupaten Bandung.

Menjelang sore, kegiatan Hardesnas ditutup dengan pagelaran wayang golek. Hujan masih turun tipis saat peserta mulai meninggalkan lapangan. Tapak sepatu tertinggal di tanah basah, menandai satu hari desa yang dijalani dalam dingin dan lumpur, tapi tetap selesai.

(Reporter: Uus)

Resmikan Jembatan Bakan Tambun-Ciselang, Bupati Aep Tegaskan Komitmen Pemerataan Infrastruktur

0

KARAWANG (Aswajanews) – Pemerintah Kabupaten Karawang resmi meresmikan Jembatan Bakan Tambun-Ciselang penghubung tiga kecamatan yakni Cikampek, Tirtamulya dan Lemahabang. Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh didampingi Wakil Bupati, Sekretaris Daerah dan unsur Forkopimda Kabupaten Karawang pada Kamis (22/1/26).

Pembangunan jembatan yang telah lama dinanti tersebut dilaksanakan dengan dua tahap dengan total anggaran mencapai kurang lebih Rp8 miliar. Jembatan Bakan Tambun-Ciselang memiliki panjang jembatan 45 meter dan lebar 6 meter.


Dalam sambutannya, Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh menyampaikan apresiasinya kepada seluruh jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) atas kinerja yang diberikan dalam pembangunan jembatan Bakan Tambun-Ciselang.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran Dinas PUPR terkait pembangunan jembatan ini,” ujarnya.

Ia berharap dengan adanya pembangunan jembatan tersebut mampu memudahkan akses serta membuka roda perekonomian masyarakat sekitarnya.

“Dan tentunya ini juga membuka roda perekonomian, juga mudah-mudahan jembatan ini memberikan nilai manfaat banyak terhadap masyarakat,” harapnya.

Sebagai penutup, ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Karawang berkomitmen untuk terus terus melanjutkan pembangunan infrastruktur secara masif dan berkeadilan di seluruh wilayah Karawang.

“Kami sebagai Pemerintah Kabupaten Karawang tentunya dalam infrastruktur terus kami genjot dan yang menjadikan skala prioritas itu adalah infrastruktur harus secara merata,” ujarnya.
(Ahmad Z)

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts