BANDUNG (Aswajanews.id) – Fenomena politik menarik terjadi ketika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM tampil membela Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di tengah polemik terkait persyaratan ijazah dan wacana pemakzulan.
KDM bahkan melontarkan pujian kepada Gibran. Ia mengingatkan berbagai pihak agar tidak meremehkan sosok wakil presiden tersebut, yang dinilainya memiliki kemampuan intelektual, penguasaan teknologi komunikasi, serta karakter yang terbentuk dari pendidikan keluarga dan tradisi Jawa.
“Jarang berucap. Tapi sekali berucap bisa mengguncang dunia,” ujar Dedi Mulyadi dalam rekaman video yang beredar di media sosial, dikutip Sabtu (10/10/2026).
“Saya ini mengingatkan pada semua. Hati-hati dengan Mas Gibran,” tegas gubernur yang dikenal aktif membuat konten di media sosial itu.
Menurut KDM, usia Gibran yang relatif muda justru menjadi salah satu keunggulannya, terutama dalam memahami perkembangan teknologi komunikasi.
“Usia yang relatif sangat muda itu di zaman sekarang jangan diremehkan. Karena pengetahuan dia tentang teknologi komunikasi sangat tinggi,” ujarnya.
KDM juga menilai latar belakang Gibran sebagai putra Presiden ke-7 RI Joko Widodo membuatnya memahami kebudayaan Jawa, khususnya tradisi Solo, serta nilai-nilai etika dan budi pekerti yang ditanamkan dalam keluarga.
“Bagaimanapun dia itu adalah anak Pak Jokowi. Karena anaknya Pak Jokowi, dia ngerti betul kebudayaan Jawa. Dia ngerti betul bagaimana tradisi Solo,” kata KDM.
Ia menilai pendidikan keluarga tersebut turut membentuk adab dan karakter Gibran.
Selain itu, KDM menyoroti sikap Gibran yang dinilainya tenang, menghormati orang lain, dan tidak mudah menunjukkan emosi.
“Yang kedua yang diberikan oleh Mas Gibran tentang sikap, adab. Tenang. Hormat kepada semua. Selalu membungkukkan badan ketika bertemu dengan yang lebih tua, tidak kelihatan emosional,” ujarnya.
Menurut KDM, tradisi pendidikan Jawa memiliki peran penting dalam membentuk karakter seseorang. Ia menilai Gibran telah mencapai kematangan dalam menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
KDM juga memuji kemampuan intelektual Gibran, terutama dalam memanfaatkan media sosial dan menyampaikan pernyataan yang dinilainya kerap mengejutkan publik.
“Dia memiliki kemampuan intelektual yang memadai. Itu bisa kita lihat dari kemampuan dia dalam bermedia sosial dan memberikan pernyataan-pernyataan yang sering mengguncang publik dan di luar dugaan. Ini dalam tren politik sekarang sangat penting,” tuturnya.
Selain kemampuan intelektual dan pemahaman budaya Jawa, KDM menilai pendidikan spiritual dari orang tua serta tradisi keprihatinan dalam keluarga turut membentuk karakter Gibran.
Atas dasar itu, KDM kembali mengingatkan agar Gibran tidak dipandang sebelah mata oleh para politisi lainnya.
“Yang lain politisinya polos-polos. Yang lain mungkin berucap tidak dengan isinya. Hanya bersikap dengan kata-katanya tapi tidak dengan rasanya,” ujarnya.
KDM kembali menegaskan pandangannya mengenai sosok Gibran yang dinilai memiliki karakter berbeda dibandingkan politisi lain.
“Yang ini (Gibran) hati-hati. Jarang berucap, tapi sekali berucap bisa mengguncang dunia,” tegasnya.
Pernyataan KDM tersebut menjadi sorotan di tengah perbincangan publik mengenai Gibran, termasuk polemik persyaratan pencalonan dan wacana pemakzulan wakil presiden tersebut. (Red)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























