Google search engine
Beranda blog Halaman 292

“Majeng” dan Pelangi Indah di Jawa Tengah

0
Kakanwil Kemenag Jateng, Dr. H. Musta'in Ahmad, SH, MH

SEMARANG (Aswajanews.id) – Capaian Kota Salatiga (peringkat 3) dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2021 dan konsistensi prestasi IKT sebelumnya patut diapresiasi. Kota Surakarta (peringkat 9) melengkapi capaian Kota Salatiga, sekaligus membentuk raihan istimewa Jawa Tengah dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2021.

Capaian ini tentu tidak lepas dari kontribusi Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah pada aspek insersi, adaptasi, dan pelaksanaan, moderasi beragama pada ranah pendidikan. Pasalnya, sesuai dengan amanah yang tercantum dalam RPJMN 2020 – 2024, pendidikan menempati posisi strategis terkait penguatan moderasi beragama di mana toleransi (tasamuh) menjadi salah satu nilai dasarnya.

Kakanwil Kemenag Jateng, Dr. H. Musta’in Ahmad, SH, MH

Terkait hal tersebut, Direktorat Pendidikan Agama Islam berkesempatan menemui Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Tengah, Musta’in Ahmad, Selasa (12/4/2022), dalam kaitan penyusunan Feature Moderasi Beragama pada Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Wawancara dipandu Kasubag TU Direktorat PAI dan tim media PAI.

“Majeng” menjadi motto Kanwil Kemenag Jateng. Bisa diceritakan apa sesungguhnya makna dan filosofi “Majeng” tersebut?

Majeng adalah spirit agama untuk menjadi lebih baik dari kemarin. Dalam konsep tersebut, status hari ini harus lebih maju dari kemarin. Untuk maju itu membutuhkan spirit dan etos. Kalau bekerja hanya sekedar bekerja, binatang juga bekerja dalam pengertian tersebut. Manusia bekerja dengan etos. Makna etos itu kemudian berkembang pada deret pengertian “Majeng” itu sendiri. Yang pertama adalah semangat untuk menjadi lebih baik, yang kedua adalah negara hadir. Dalam pengertian ini, negara hadir dalam keruwetan yang dihadapi masyarakat. Ketiga, kesediaan untuk berani berkompetisi; konsep ini mewujud di antaranya dorongan pada anak-anak kita untuk berkompetisi dalam kapasitas kependidikan mereka.

Dari akronimnya, “M” adalah moderat, yakni berada dalam posisi yang tidak berlebih-lebihan. Keseimbangan antara hak dan kewajiban adalah pengertian awalnya. Namun karena kita melayani umat beragama, ketepatan maknanya kemudian terletak pada sikap beragama yang moderat. Kita harus percaya diri bahwa beragama yang tepat adalah beragama yang moderat. Harapannya, aparatur Kanwil Kemenag di semua lini pelayanan, akan mampu menunaikan kewajibannya dengan baik. Sementara itu, “A” adalah akuntabilitas, “JE” adalah jernih, dan “NG” adalah ngayomi.

Kembali ke Salatiga. Dalam pemahaman saya, Salatiga itu kota yang spiritualistik yang didukung penerimaan terhadap cerita rakyat. Pada saat Sunan Pandanaran meninggalkan dunia keningratan, beliau menuju Tembayat untuk lengser keprabon madhep ing pandhito; menjadi ulama di Tembayat didampingi oleh istrinya.

Dalam perjalanan Sunan Pandanaran, terjadi friksi antara istri dan para perampok mengenai harta tersebut. Dari friksi tersebut timbul sikap saling menyalahkan. Tanpa menekankan kesalahan pada istri dan perampoknya, Sunan Pandanaran lebih melihat pada kesalahan pihak ketiga (ego duniawi) yang kemudian dipahami sebagai “salah tiga”, seterusnya menyatu menjadi “Salatiga”. Makna cerita rakyat ini begitu simbolik dan kuat.

Nama Salatiga, sesuai cerita rakyat yang bisa ditemukan dalam catatan sejarah, memiliki makna dan pesan kuat bahwa untuk menjadi rukun dan guyub itu mengalahkan materi. Ini merupakan alam bawah sadar dari pembentukan kota. Salah satu contoh dan dampaknya, kerelaan untuk menjadi guyub ini mendorong banyak pihak untuk bersekolah di Salatiga. Jadi, nilai spiritualitas warga ini menjadi dasar yang kuat membentuk semangat menerima keragaman pada diri warga Salatiga.

Salatiga dan Jawa Tengah, bagi saya adalah “kal-bunyaani al-marshuus”, satu tubuh yang membangun kebersamaan. Langit itu indah, bukan karena kesendirian lintang kemukus, melainkan karena keberadaan bermacam bintang dan rasi yang kita kenal. Semua harus bersinar. Itu artinya kita tidak bisa sendiri, harus bekerja sama. Pada saat Rasulullah meninggal, baju perang beliau masih tergadai di salah satu penganut Yahudi.

Di Salatiga, Katolik dan Protestan itu membentuk harmoni dan kerja sama yang baik. Mereka saling melengkapi kekurangan guru agama, karena anak-anak butuh pelajaran agama. Kerja sama ini menginspirasi umat agama lain untuk membentuk kerja sama dan kolaborasi. Dalam analogi kapak 212 Wiro Sableng, saya sendiri dulunya (sewaktu kecil) menyukai komik, saya menggambarkan bahwa kapak dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai masalah. Potensi konflik dan intoleransi perlu diredam dengan kapak 267. Dalam konsep guru kesenian, 267 ini terbaca sebagai notasi re – la – dan si. Kita bisa menyebutnya sebagai kapak relasi.

Bagaimana pandangan Bapak mengenai penguatan moderasi beragama di Jawa Tengah, khususnya Kota Salatiga, dalam kaitan capaian pada Indeks Kota Toleran 2021?

Penguatan moderasi beragama merupakan hal penting yang senantiasa diupayakan oleh Pemerintah Kota Salatiga bersama dengan instansi pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat beserta seluruh anggota masyarakat. Dengan tingginya keberagaman di Salatiga, penguatan moderasi beragama yang dilakukan semua pihak dapat memperkuat toleransi di antara berbagai umat beragama.

Dalam upaya penguatan moderasi beragama yang ditempuh Kantor Kementerian Agama Jawa Tengah, di antaranya, bersama dengan Pemerintah Kota Salatiga dan FKUB, bersama-sama menggelorakan konsep moderatisme dalam setiap kegiatan yang bersentuhan dengan agama atau keagamaan. Selain itu, kita juga menjalankan kerja sama lintas agama dengan prakarsa Rumah Moderasi yang terbentuk melalui Badan Kerja Sama Gereja-Gereja Salatiga (BKGS). Langkah ini seterusnya melahirkan Forum Komunikasi Penyuluh Lintas Agama (FKPLA).

Keberagaman sesungguhnya sudah menjadi warna dasar bangsa Indonesia, dengan segala dinamikanya. Dalam konteks kontestasi warna keragaman tersebut, apa sesungguhnya yang menjadi, katakanlah, niché (titik beda), di Salatiga khususnya atau Jawa Tengah pada umumnya, dari khazanah keragaman lainnya?

Di Salatiga, tinggal bersama lebih dari 30 suku bangsa Indonesia dengan 6 agama. Dalam kehidupan bersama di Salatiga, sikap toleran, menghargai perbedaan, dan senantiasa mengupayakan kemanfaatan bersama merupakan kondisi yang dapat dilihat sehari-hari. Salatiga, bagi saya, sekali lagi, adalah selayaknya pelangi dengan keberagamannya yang membentuk sebuah keindahan yang dipancarkannya karena kehendak untuk menjaga dan merawat harmoni di dalamnya.

Dalam pelangi yang indah itu, saya bisa mengambil contoh tentang kegiatan pawai atau parade tahunan yang melibatkan semua agama. Jangan lupa dan silakan dinilai bersama, betapa peran serta dan kehadiran negara dari unsur apapun yang mencerminkan dan menyajikan pelayanan tanpa membedakan agama.

Sebagaimana arahan dan target capaian moderasi beragama yang dicanangkan Menag Yaqut Cholil Qoumas pada launching aksi moderasi beragama, bisa Bapak sampaikan peta jalan insersi, adaptasi, dan pelaksanaan moderasi beragama pada Kanwil Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah? Bagaimana kiat dan perangkat kebijakan yang disiapkan dalam mewujudkan peta jalan tersebut?

Kepada seluruh jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, saya selalu menekankan langkah insersi moderasi beragama. Dalam konteks pendidikan Islam, khususnya Pendidikan Agama Islam, kami selalu dalam posisi siaga dan adaptif dalam upaya penguatan moderasi beragama dalam pengembangan kurikulum mapel Pendidikan Agama Islam dan budi Pekerti (PAI) Kurikulum 2013 dan juga Kurikulum Merdeka.

Dalam konteks praksis, kami juga menginsersi moderasi beragama dalam kegiatan Kemah Rohis Tahun 2019, kegiatan Kemah Rohis Virtual Tahun 2020 dan Tahun 2021 bekerja sama dengan DPW Asosisasi Guru PAI Indonesia (AGPAII) Provinsi Jawa Tengah.

Pada momen Ramadan seperti sekarang, kami juga menjadikan moderasi beragama sebagai tema utama dalam kegiatan Pesantren Ramadhan Virtual 2022 yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata pelajaran (MGMP) PAI jenjang SMA/SMK Provinsi Jawa Tengah Tahun 2022.

Dalam pandangan Bapak sendiri, apa makna dan pesan dasar moderasi beragama beserta sembilan nilainya?

Makna moderasi beragama (sembilan nilai: tengah-tengah, tegak lurus, toleransi, musyawarah, perbaikan, kepeloporan, kewarganegaraan, anti kekerasan, dan ramah budaya) adalah memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

Kita tahu, bentuk ekstremisme terejawantahkan dalam dua kutub pembelahan yang berlebihan. Dalam pembelahan tersebut terdapat dua kutub yang saling berlawanan. Terdapat satu kutub kanan yang sangat kaku dalam beragama, yakni memahami ajaran agama dengan membuang jauh-jauh penggunaan akal, sementara di pihak yang lain justru sebaliknya, sangat longgar dan bebas dalam memahami sumber ajaran agama.

Menjadi moderat bukan berarti menjadi lemah dalam beragama, dengan sikap cenderung terbuka dan mengarah kepada kebebasan. Menjadi moderat juga bukan berarti tidak memiliki militansi, tidak serius, atau tidak sungguh-sungguh dalam mengamalkan ajaran agamanya.

Dalam perspektif kebijakan dan implementasi moderasi beragama Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah, apa dan bagaimana pendekatan yang ditempuh Kanwil Kemenag Jawa Tengah dalam konteks Pendidikan Agama Islam di sekolah?

Dalam mengimplementasikan moderasi beragama di tingkat satuan pendidikan, secara struktural posisi Kementerian Agama, harus diakui, teramat lemah. Kementerian Agama tidak mempunyai otoritas struktural untuk melakukan pembinaan di satuan pendidikan sekolah. Otoritas yang dimiliki Kementerian Agama sebatas pada penguatan kompetensi Guru dan Siswa (Pengurus Kerohanian Islam/ROHIS jenjang SMA/SMK).

Pada lingkup yang terbatas tersebut, peluang mengimplementasikan penguatan moderasi beragama dimaksimalkan dengan memperkuat jalinan koordinasi dengan Forum Kerja Sama Guru (FKG) PAI jenjang TK, Kelompok Kerja Guru (KKG) PAI jenjang SD, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI jenjang SMP dan SMA/SMK, serta menjalin kerja sama dengan Asosisasi Guru PAI Indonesia (AGPAII) untuk menginisisasi kegiatan-kegiatan keagamaan Islam, sebagai media insersi moderasi beragama di kalangan siswa sekolah yang memeluk agama Islam.

Apa harapan Bapak pada pemangku kepentingan Pendidikan Agama Islam dalam kaitan insersi, adaptasi, dan implementasi moderasi beragama?

Pemilihan penguatan moderasi beragama sebagai program prioritas idealnya didukung pula dengan prioritas anggaran. Anggaran dibutuhkan dalam rangka mengimplementasikan program kerja dalam bentuk aksi dan serangkaian kegiatan.

Dalam lingkar relasi seperti itu, perlu ada sinkronisasi program dan kegiatan antara Kemenag Pusat dan Daerah yang didukung dengan alokasi anggaran yang memadai. Dengan adanya sinkronisasi program, kegiatan, dan anggaran, maka upaya pencapaian target dan indikator penguatan moderasi beragama akan lebih terukur dan efektif.

Dalam upaya tersebut, saya menilai dan terus mengupayakan secara bersama, peran berbagai pihak, baik pada ranah pendidikan (guru dan pengawas) maupun kepenyuluhan berbagai agama, untuk terus menghadirkan sajian layanan pendidikan yang diminati anak-anak dan kepenyuluhan yang baik.

Sajian layanan pendidikan terkait moderasi beragama ini kami tempuh dengan menghadirkan standar minimal pengetahuan dan praktik keberagamaan dan keberagamaan sesuai jenjang dan tingkat pendidikan mereka, semacam basic standards, misalnya bagaimana agar anak-anak mengetahui konsep berwudhu dan guru mengawasinya dalam rutinitas. Standar pengetahuan agama harus disertai dengan bimbingan praktik dalam keseharian mereka.

Mari, kita terus menumbuhkan rasa keterpanggilan bekerja sama dan membangun harmoni, makin memperindah pelangi dan langit keberagamaan dan keberagaman Jawa Tengah pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. (Sumber: Kemenag Jateng/Moh Khoeron)

www.youtube.com/@anas-aswaja

PD Pontren Kemenag Brebes Canangkan 99 MDTW

0
Oleh : Akhmad Sururi

Gagasan 99 MDTW (Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustho) setingkat SMP/MTs pada lembaga formal dilatarbelakangi karena jenjang MDTW di Kab Brebes sangat sedikit. Jumlah lembaga yang terdaftar di Kemenag hanya 9 MDTW, belum berbanding lurus dengan anak anak yang mestinya mengikuti layanan pendidikan MDTW. Mereka yang pagi sekolah di SMP/MTs tidak mau masuk ke MDTW dengan alasan capek dan lainnya.

Sementara jumlah lembaga MDTA di Kab Brebes mencapai 723 lembaga yang tersebar di 17 kecamatan. Dengan jumlah siswa yang variatif tiap kelas, total santri MDTA se-Kab Brebes 45.657. Jumlah tersebut juga belum sebanding dengan peserta didik SD/MI yang mestinya mengikuti pendidikan MDTA. Masih ada sekitar 35 presen anak-anak SD/MI yang belum mengikuti pendidikan MDTA. Mereka lebih memilih bermain atau kegiatan lain.

Dalam rangka peningkatan layanan pendidikan untuk MDTW, Kasi PD Pontren Kemenag Kab Brebes, saat itu dijabat oleh Dr H Akrom Jangka Daosat menggulirkan ide untuk mewujudkan 99 MDTW di Kab Brebes. Gagasan tersebut setelah Beliau melihat kondisi MDTW yang sangat sedikit serta pemahaman keagamaan yang sangat minim untuk peserta didik setingkat SMP. Sementara angka 99 MDTW mengiblat kepada Asamaul Husna yang berjumlah 99. Dengan harapan melalui berdirinya 99 MDTW akan terwujud generasi yang bisa memahami dan meneladani baik (Asmaul Husna) dalam kehidupan sehari-hari.

Sedikitnya lembaga MDTW sangat berpengaruh dengan perkembangan pemahaman keagamaan untuk siswa SMP. Sehingga gagasan yang dimunculkan menjadi ide besar yang membutuhkan peran masyarakat dan pemerintah dengan kebijakannya. Hari ini kalau hanya mengandalkan peran masyarakat tanpa dukungan dari Pemerintah rasanya perlu perjuangan keras dari tokoh yang peduli terhadap pendidikan keagamaan.

Sejalan dengan gagasan tersebut, Penulis pernah mendiskusikan bersama dengan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga,Ibu Caridah. Gayung bersambut, respon yang positif dari Kepala Dinas, meskipun saat itu masih sebatas wacana dan menjadi mimpi besar Kepala Dinas Pendidikan. Mimpi besar dan harapan besar agar peserta didik di SMP Negeri bisa mengikuti pembelajaran di MDTW. Sebagai bentuk keterkaitan antara SMP dan MDTW untuk penilaian mapel PAI di SMP salah satunya  bersumber dari penilaian di MDTW. Dengan model seperti ini maka antara SMP dan MDTW ada keterikatan pada proses pembelajaran khususnya untuk Mapel PAI.

Lebih dari itu saat diskusi di ruang Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Ibu Caridah selaku Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab Brebes menghendaki Kemenag bisa memberikan surat edaran untuk SD se Kab Brebes agar mengikuti pembelajaran di MDTA. Harapan ini bertujuan agar anak anak pada usia pendidikan dasar mendapatkan pengetahuan agama yang cukup. Selama ini jam tatap muka mapel agama Islam di SD/SMP sangat minim, sehingga untuk sampai pada tahapan pengamalan dan pemahaman serta penghayatan dalam beragama dibutuhkan tambahan jam pembelajaran.

Pemikiran peserta didik SMP agar mengikuti pembelajaran di MDTW menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter dan penguatan profil pelajar Pancasila.  Dua hal tersebut menjadi amanat pemerintah yang harus dilaksanakan oleh lembaga pendidikan formal. Sinergitas lembaga pendidikan formal dan pendidikan MDT dalam penguatan profil pelajar Pancasila menjadi bagian dari mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Semoga gagasan mewujudkan 99 MDTW akan terlaksana dengan keterlibatan semua pihak (pemerintah dan masyarakat). Mewujudkan keterpanggilan dan kepedulian kepada pendidikan keagamaan dibutuhkan kesadaran pentingnya pendidikan untuk generasi masa depan. Hadirnya pendidikan keagamaan akan bisa mengurangi tindakan kenakalan remaja dan kriminalitas. (*)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Konsolidasi Relawan Acep-Gina untuk Karawang Lebih Maju

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Tim pemenangan bersama para relawan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Karawang 2024 – 2029 Acep Jamhuri – Gina Fadlia Swara gelar kegiatan Konsolidasi. Pemenangan Cabup dan Cawabup Karawang bertemakan “Karawang Maju Bersama Menuju JAMUGA (Jaya, Mulya, Tohaga) bertempat di RM Indo Alam Sari Karawang, Sabtu (14/9/2024).

Hadir dalam acara ketua DPRD Karawang, pengurus DPP Partai Gerinda, pengurus dan jajaran DPD Partai Gerindra Jawa Barat, pengurus DPC Partai Gerindra Karawang, para Ketua Ranting dan para kader Partai Gerindra serta seluruh tim pemenangan dan relawan Pasangan Acep – Gina se-Kabupaten Karawang.

Dalam sambutannya Acep Jamhuri mengajak kepada masyarakat dan seluruh tim pemenangan serta relawan untuk selalu menjaga Karawang.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua jajaran pengurus partai Gerindra dari DPP, DPC, DPD Jabar dan pengurus ranting serta seluruh jajaran partai atas support dan dukungannya. Dan tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Ketua DPRD yang juga sudah memberikan supportnya. Dan di hari ini dalam acara kegiatan konsolidasi yang bertepatan dengan HUT Karawang ke 391 ini saya berpesan, kita harus bangga dan tetap semangat untuk menjaga Karawang, kedepan harus bisa membangun Karawang lebih baik lagi,” ucapnya.

“Dan kepada para kader kader Gerindra saya titip yang ada dipeloksok jaga dan bangun Karawang lebih baik, ajak semuanya untuk bisa lebih melestarikan khasanah dan nama baik budaya Karawang. Ini Kota kita (ieu lembur urang-red) Karawang punya gue (Karawang nu aing-red),” serunya di hadapan ratusan relawan.

“Kita ingin membawa masyarakat Karawang JAMUGA, Jaya, Mulya dan Tohaga. Jangan sampai ada orang Karawang yang kelaparan. Semua masyarakat karawang harus Jamuga. Gaskeun, Abringkeun, Jadikeun,” tandasnya.

Di kesempatan yang sama, Gina Fadlia Swara mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan yang hadir. “Saya ucapkan terima kasih kepada jajaran DPP Partai Gerindra, KSB dari 30 Kecamatan seKabupaten Karawang, 300 pengurus ranting partai, sayap partai, Satria, PPIR, Pira dan seluruh relawan relawan lain. Saya merasa senang sekali, hari ini di acara Acep – Gina bisa hadir dalam acara Konsolidasi Pemenangan untuk memberikan pengarahan dalam pemenangan,” paparnya.

“Tidak ada santai santai untuk bergerak dalam waktu 2,5 bulan untuk dukung Acep – Gina. Tokoh tokoh penting di Karawang Insya Allah mendukung Acep – Gina. Untuk itu kita harus lebih kenceng bergerak dan ramaikan spanduk didaerah masing masing,” tandasnya.

“Partai Gerindra adalah partai komando. Jadi kita harus siap dan loyal, jangan bicarakan kebelakang dan harus jalankan keputusan pimpinan kita. Loyal, berani, militan dan pantang menyerah,” tandasnya.

“Jangan ada perpecahan diantara kita. Kita harus kompak dan terus bergerak. Kita harus contoh pak Prabowo. Jatuh bangkit, jatuh bangkit dan akhirnya jadi Presiden,” terangnya.

“Kita jangan sombong. Saya sangat terharu dan bangga atas dukungan dari semua pihak. Kedepan mari kita bangun Karawang ke arah yang lebih baik lagi. Kita jaga dan lestarikan adat dan budaya Karawang, mari bersama sama kita bangun,” pungkasnya.

Sementara itu Cellica Nurrachadiana mantan Bupati Karawang yang turut hadir dalam acara tersebut mengajak untuk bisa mengoptimalkan secara bersama sama untuk memperjuangkan pasangan Acep – Gina di Pilkada Karawang mendatang.

“Tidak ada sebuah proses tanpa awal, tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Akan kita perjuangkan bersama sama. Saya meyakini punya harapan menang. Berkaca dari dasar dasar tersebut itu terlihat dari 24 kursi partai besar. Dan dari sinilah bisa kita gerus bersama dan optimalkan, yakin kita menang 65 sampai 70 persen,” bebernya.

“Dari 309 ranting harus bisa bergerak semuanya. 42 ribu spanduk terpasang dari semua partai. Ketokohannya teh Gina jadi anggota DPRD provinsi. Ketokohannya Acep Jamhuri lintas partai pengalaman 30 tahun di ASN,” urainya.

“Saya berbicara kepentingan Kabupaten Karawang harus lebih baik, bukan kepentingan pribadi. Karawang harus lebih baik dari kepemimpin saya. Estafet kepemimpinan lama harus diadopsinya untuk lebih baik dan jangan ditinggalkan. Saya yakin Acep-Gina jadi pemimpin terbaik Karawang,” papar teh Celli di hadapan ratusan relawan dan pendukung.

“Hanya 2,5 bulan, waktu yang sebentar kita harus bergerak, jangan berleha leha, kita punya presiden Prabowo. Dan saya akan turun langsung dengan semua pihak untuk sama sama bergerak, untuk kekuatan yang kurang kuat, kita kuatkan. Karena tidak akan ada kekuatan kalau sendiri sendiri. Gaskeun, Abringkeun, Jadikeun,” tandasnya menyerukan.

“Saya hanya berpesan, jangan sombong tetap kita harus bekerja dan bekerja. Harus koordinasi dan komunikasi dengan semua partai pendukung, dan yang susah susah saya akan turun langsung,” tutupnya. *(Red)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Ketua DPRD Pimpin Sidang Paripurna HUT Karawang ke-391

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Bertempat di ruang sidang Rapat Paripurna DPRD Ketua DPRD Kabupaten Karawang, H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.H., beserta seluruh jajaran menyampaikan Selamat Memperingati HUT Karawang ke-391 yang mengusung Tema “Karawang KASEP, Kolaboratif, Aman, Sehat, Empati dan Produktif”.

Dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD juga ada pembacaan sejarah panjang terbentuknya Kabupaten Karawang dan pembacaan nama-nama Bupati sejak Karawang berdiri hingga saat ini, serta pencapaian yang telah diraih oleh Bupati Pada masa kepemimpinannya, Sabtu (14/09/24).

Ketua DPRD Karawang H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.H., saat diwawancara usai rapat paripurna mengatakan, tentunya dengan HUT Karawang yang ke-391 semoga terus menciptakan sistem penyelenggara pemerintahan yang kolaboratif sehingga menjadikan Karawang Sejahtera, Maju, Adil Makmur sesuai dengan tema Karawang KASEP ke-391 ini.

“Harapan besar kami justru dengan adanya ulang tahun Karawang dan kita sama-sama meningkatkan kesejahteraan, terus mengevaluasi apa yang menjadi kekurangan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada Masyarakat,” harap Ketua DPRD Karawang.

“Mudah-mudahan ini cepat selesai apa yang menjadi PR kita kaitan dengan mengatasi pengangguran,” tutup Ketua DPRD Karawang. *(Red)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Kabupaten Banjarnegara Siap Sukseskan Porsadin Jawa Tengah

0
Rapat Kordinasi Panitia Porsadin Jawa Tengah di aula Kemenag Banjarnegara

BANJARNEGARA (Aswajanews.id) – Perhelatan Pekan Olahraga dan Seni antar Diniyah PORSADIN tingkat Provinsi Jawa Tengah akan digelar di Kab Banjarnegara pada Jumat sampai dengan Sabtu, 20 s.d 21 September 2024. Berbagai persiapan teknis tengah dilakukan oleh Panitia Daerah dan Panitia Propinsi Jawa Tengah.  Bertempat di aula Kemenag Kab Banjarnegara berlangsung Rapat Kordinasi Panitia untuk yang terakhir dengan membahas segala persiapan pembukaan, perlombaan dan penutupan.

Rapat Kordinasi Panitia Porsadin Jawa Tengah di aula Kemenag Banjarnegara

Dalam kesempatan tersebut, Akhmad Sururi selaku Steering Committee (Ketua Panitia Pengarah) mengatakan, rapat ini adalah rapat yang terakhir yang merupakan tahapan perencanaan kegiatan Porsadin di Kab Banjarnegara. Beberapa persiapan teknis secara maraton sudah dibahas bersama dengan Panitia Daerah dibawah komando Gus Zahid. Segala persiapan dari Pemda Banjarnegara dan Kementerian Agama Banjarnegara sudah hampir finishing. Jadi ibarat orang hajatan, tinggal menunggu Pembukaan besok hari Jumat, 20 September 2024.

“Kita berharap semua persiapan yang sudah dilakukan oleh Panitia bisa berjalan dengan sukses dan lancar. Hari ini, Sabtu 14 September 2024, adalah pertemuan atau rapat cheking terakhir persiapan pelaksanaan kegiatan Porsadin dengan mengundang Ketua dan Sekretaris DPC FKDT Kab/Kota se-Jawa Tengah dan dewan Juri. Sehingga setelah pertemuan ini diharapkan semua disiapkan dengan sebaik baiknya,” kata Akhmad Sururi d ihadapan peserta rapat.

Pada saat awal sambutan pengarahan, Akhmad Sururi menegaskan bahwa kegiatan Porsadin menjadi bagian dari wahana memperkuat Ukhuwah antar Madrasah Diniyah di Jawa Tengah. Lebih dari itu perlombaan yang kita laksanakan untuk mengukur potensi dan kompetensi santri diniyah baik dibidang seni maupun olahraga. Oleh karena itu kepada dewan juri agar melaksanakan tugas secara profesional agar hasil dari Porsadin tingkat Provinsi Jawa Tengah betul betul layak untuk maju di tingkat nasional.

“Kepada semua ketua DPC FKDT Kab/Kota se-Jawa Tengah saya minta jangan hanya mencari kemenangan atau juara dengan mengedepankan ego sentris daerah masih masing. Akan tetapi kita junjung sportifitas, kejujuran, kompetensi dan keadilan. Ini sangat penting agar peserta yang lolos betul betul berdasarkan penilaian yang profesional,” imbuh Wakil Ketua DPW FKDT Jawa Tengah.

Senada dengan Akhmad Sururi, Kabid PD Pontren Kanwil Kemeng Jawa Tengah melalui Ketua Tim MDT, Hj Aini Sa’adah berpesan agar semua dewan juri bersikap adil dan profesional. Sportifitas harus kita jaga, karena Porsadin Jawa Tengah menjadi bagian dari seleksi, maka kita berharap bisa menghasilkan bibit yang hebat untuk maju di tingkat nasional.

“Dalam rangka hal tersebut, insya Allah Kanwil Kemeng akan merencanakan kegiatan pembekalan untuk peserta yang lolos di tingkat propinsi. Jadi untuk persiapan dan pembekalan peserta agar ada traning center dengan karantina selama 2 hari,” kata Hj Aini.

Saat pembukaan dalam Rapat tersebut, Gus Zahid selaku Ketua Panitia Daerah mengatakan semua kepanitiaan sudah siap. Lokasi lomba dan penginapan peserta juga sudah dipersiapkan oleh Panitia. Khusus untuk olahraga kami melibatkan Koni Kabupaten yang hari ini bisa dihadirkan. “Banjarnegara siap menyukseskan Porsadin Jawa Tengah, semoga ramai, meriah dan lancar meskipun dengan sederhana,” kata Gus Zahid.

Rapat yang diselenggarakan di aula kantor Kemenag Kab Banjarnegara, dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris DPC FKDT Kab/Kota se-Jawa Tengah. Hadir dalam kesempatan tersebut Dewan Juri Porsadin dan Panitia Daerah. Ketua DPW FKDT Jawa Tengah, Kyai Abdul Rohman juga hadir dan memberikan sambutan Penutupan. *(Red)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Ribuan Nasi Tumpeng Dibuang ke Tong Sampah, Ini Kata Panitia HUT ke-391 Karawang

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Rangkaian HUT ke-391 Karawang, sebanyak 1600 nasi tumpeng membentuk peta kabupaten Karawang menghiasi halaman Plaza Pemda Karawang, Sabtu (14/09/24).

Rekor Muri Peta Terbesar dari Rangkaian Tumpeng

Puncak kegiatan Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-391 berlangsung meriah. Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang menggelar berbagai rangkaian kegiatan yang diawali dengan Apel Besar atau Upacara Hari Jadi Karawang ke-391 di Lapangan Karangpawitan dilanjutkan Sidang Paripurna bertempat Aula Sidang Gedung Paripurna DPRD Kabupaten Karawang lalu Tumpengan dengan Tema Rekor Muri Peta Terbesar dari Rangkaian Tumpeng di Halaman Kantor Bupati, Plaza Pemda Karawang.

Sebanyak 1.600 tumpeng berjajar membentuk Peta Karawang hingga memecahkan Rekor Muri. Diketahui, Rekor Muri ini merupakan kolaborasi Pentahelix antara Pemkab Karawang, perusahaan, sekolah dan stakeholder lainnya yang dipersembahkan untuk Kabupaten Karawang. Namun mirisnya, paket -paket nasi tumpeng yang harganya tentu tidak murah tersebut harus dibuang sia-sia karena rusak dan basi.

“Jadi pada hari ini izinkan kami dari musium rekor dunia Indonesia akan memberikan piagam penghargaan rekor dunia untuk Pemerintah Kabupaten Karawang,” ujar Senior Manajer MURI, Triyono.

Dari vidio amatir yang beredar di media sosial, paket-paket nasi tumpengan itu dibuang begitu saja oleh petugas kebersihan ke tempat sampah.

Kondisi ini sungguh ironis, mengingat hari ini, Sabtu (14/9/2024), adalah Hari Jadi Kabupaten Karawang, dan di hari jadinya ini Nasi Tumpeng yang memiliki makna yang sakral dan sprititual yang mendalam. Sebagai simbolisme rasa syukur kepada Tuhan justru dibuang-buang.

“Tumpeng itu Simbol Sakral, bagaimana Petani Karawang akan Berkah hasil taninya, jika Nasi yang berasal dari padi dibuang -buang terlebih lagi diacara Hari Jadi Karawang, dimana kebahagiaan harusnya untuk masyarakat Karawang,” kata Rudi, salah seorang warga masyarakat dari Cilamaya Wetan yang mengaku prihatin dengan kondisi tersebut.

“Sangat Mubazir sekali, Jangan karena demi pecah Rekor Muri, essensi makna yang sakral dari Nasi Tumpeng diperlakukan seperti itu, sementara masih banyak warga Karawang yang harus banyak menahan lapar dalam menjalani kehidupannya sehari-hari,” sesalnya.

Diketahui, dari rilis resmi Diskominfo Kabupaten Karawang, bahwa menurut hasil verifikasi Museum Rekor Indonesia (Muri) tercatat Peta Karawang seluas 25×30 meter dengan nasi tumpeng sebanyak 1.600 tumpeng merupakan rekor Muri terbesar di dunia.

Terkait informasi dan potongan video yang beredar di medsos, mengenai sejumlah nasi tumpeng yang dimusnahkan pihak panitia sudah klarifikasi. Panitia Penyelenggara melakukan upaya prventif, karena sebagian nasi tumpeng tersebut sudah tidak layak makan dan demi menghindari kejadian yang tidak diinginkan, pihak panitia memilih segera membersihkannya.

Nasi tumpeng yang telah melalui proses pemeriksaan oleh panitia dibagikan kepada masyarakat Kabupaten Karawang untuk bisa dinikmati.

Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang melalui Diskominfo menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyaman akibat informasi tersebut. *(Red)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Mengenal Tradisi Bobotan, Upacara Khas dari Kabupaten Indramayu

0
NYARIS PUNAH - Upacara tradisional bobotan yang biasa dilaksanakan masyarakat Indramayu sekitar tahun 1960-1980an

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Salah satu karya budaya dari Kabupaten Kuningan yaitu Bobotan berhasil ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Penetapan tersebut resmi dicatat oleh negara melalui Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI pada 23 Agustus 2024 lalu.

NYARIS PUNAH – Upacara tradisional bobotan yang biasa dilaksanakan masyarakat Indramayu sekitar tahun 1960-1980an

Bobotan sendiri merupakan upacara tradisional yang biasa dilaksanakan masyarakat Kabupaten Indramayu sekitar tahun 1960-1980an. Saat ini, Upacara Bobotan dapat dikatakan nyaris punah karena hanya masyarakat di kecamatan tertentu yang masih melakukan kegiatan tersebut.

Istilah Bobotan memiliki banyak makna. Dalam bahasa Jawa, Bobotan diartikan berat. Selain itu Bobotan juga berasal dari kayu milik Buyut Babar, namanya kayu bobotan. Kayu ini sekarang menjadi alat yang digunakan dalam upacara Bobotan. Kayu bobotan sampai sekarang masih disimpan penduduk setempat maupun keluarganya yang berada di kejauhan.

Lalu siapa Buyut Babar itu? Menurut laman Kemendikbudristek RI, dulu ada seorang prajurit Bagelan yang bernama Sutra Jiwa dari Mataram pernah menetap di Desa Pangkalan, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. Alasan Sutra Jiwa menetap di desa tersebut karena kalah berperang. Suatu ketika, Sutra Jiwa bertemu dengan utusan dari Cirebon saat sedang memeriksa daerah perbatasan. Seorang utusan dari suatu kerajaan atau kesultanan, tentunya memiliki ilmu kedigdayaan dan tokoh asal Cirebon ini menyimpan ilmu Macan Siliwangi. Utusan Cirebon menyangka bahwa Sutra Jiwa berpihak pada kompeni (Belanda). Dituduh demikian, Sutra Jiwa pun tidak menerimanya. Mereka kemudian berkelahi. Perkelahian berjalan seimbang dan berakhir dengan babar (wafat). Dari peristiwa itulah, masyarakat kemudian menyebut keduanya dengan istilah Buyut Babar.

Upacara Bobotan dilaksanakan berkaitan dengan keturunan. Misalnya, apabila memiliki anak pertama laki-laki dan anak bungsu laki-laki, maka untuk menyelamatkan jiwa kedua anaknya harus mengadakan Upacara Bobotan. Caranya adalah, kedua anak ditimbang atau dibobot dengan kayu bobotan. Supaya seimbang, timbangan sebelahnya diberi tambahan berat yang sama.

Selain itu, upacara ini juga dilaksanakan apabila memiliki anak tunggal laki-laki atau perempuan. Upacara Bobotan juga dapat dilakukan jika satu keluarga memiliki tiga orang anak, tapi anak kedua sudah meninggal.

Tujuan upacara ini adalah untuk memohon keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa, agar mendapat keselamatan di dunia dan juga akhirat. Ini sekaligus sebagai salah satu cara untuk memupuk kerukunan persaudaraan kekeluargaan. Selain itu, agar anak mendapatkan keselamatan, perlindungan, dan kemuliaan.

Jalannya upacara bobotan dimulai dengan menimbang anak. Bobot isi timbangan harus seimbang dengan berat badan anak. Bila isi timbangan lebih banyak, maka anak tersebut akan mendapatkan kemuliaan di kemudian hari. Barang-barang yang ditimbang adalah barang-barang yang dianggap berharga, seperti pakaian, emas, perak, uang, beras, dan lain-lain. Selanjutnya, barang-barang tersebut menjadi harta kekayaan anak sebagai bekal untuk hidupnya.

Penimbangan dilakukan oleh juru timbang. Saat menimbang, juru timbang melantunkan kidung dengan lantunan syair bahasa daerah. Sambil mendengarkan lantunan kidung, sang anak yang ditimbang melemparkan uang ke tempat yang sudah disediakan. Uang tersebut nantinya menjadi milik juru timbang. Juru timbang biasanya akan mengantongi uang kurang lebih satu juta sampai lima juta tergantung tingkat ekonomi si empunya hajat. *(Sumber: Kemendikbudristek RI)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Fair Bertarung, Duet Duo Gunawan Potensial Menang

0
Tolak Politik Uang (ilustras)

KAB BANDUNG (Aswajanews.id) – Duet Duo Gunawan sangat potensial memenangkan kontestasi pemilihan kepala daerah di Kabupaten Bandung pada 27 November 2024 mendatang.

Elektabilitas pasangan ini cukup kokoh untuk terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati jika tak ada tsunami politik. Kesimpulan itu terlihat dari hasil pemberitaan dan media sosial terkait preferensi pemilih warga Kabupaten Bandung terhadap calon Bupati, wakil Bupati dan isu-isu politik lainnya.

Tolak Politik Uang (ilustras)

Direktur Jamparing Institut, Dadang Risdal Aziz mengatakan, jika tak ada tsunami politik seperti kandidat yang curang dan money politic, maka pasangan Sahrul Gunawan-Gun Gun Gunawan punya potensi kuat untuk memenangkan kontestasi politik lima tahunan di Kabupaten Bandung.

“Merujuk pada pemberitaan dan sosial media, potensi menang tersebut karena baik Sahrul maupun Gun Gun sama-sama punya elektabilitas yang tinggi. Sebagai cabub, Sahrul unggul cukup jauh dari cagub Dadang Supriatna. Begitu juga sebagai cawabub, Gun Gun unggul dibanding cawabub Alie Syakieb,” kata Dadang Risdal dalam keterangannya kepada media Sabtu, 14 September 2024.

Yang menarik, kata Risdal, dalam simulasi yang semakin mengerucut, misalnya elektabilitas Sahrul semakin naik, dari 50,5 ke 60%. Apalagi dalam simulasi head to head, Sahrul Gunawan semakin meroket.

elektabilitas lebih unggul

Dadang Risdal mencontohkan simulasi dua calon, elektabilitas Sahrul Gunawan tembus ke angka 60% saat berhadapan dengan Dadang Supriatna yang hanya 36,5%.

Kendati demikian, Dadang Risdal mengingatkan bahwa data survei juga mengungkapkan, masih ada 54,1% pemilih yang berkategori soft supporter (pemilih cair). Yaitu, gabungan antara mereka yang sudah punya pilihan tapi bisa berubah dengan yang belum punya pilihan sama sekali.

“Jumlah pemilih yang mayoritas itulah, yang sering saya sebut sebagai lahan tak bertuan. Artinya, pemilih yang masih bisa diperebutkan oleh siapa saja. Termasuk, kandidat yang saat ini masih rendah elektabilitasnya,” jelasnya.

Sementara itu, lanjut Risdal, sampai sekarang yang memiliki kandidat yang punya strong supporter tembus di angka 30% adalah Gun Gun Gunawan yang memiliki pemilih militan.

“Dari data tersebut, sebenarnya masih terbuka peluang buat siapa saja untuk menang. Hanya, duet Duo Gunawan lebih punya peluang besar,” ujar Dadang Risdal. (*)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Pj Bupati Cirebon Jamin Stok Pangan Aman hingga Beberapa Bulan ke Depan

0
Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya meninjau kondisi gudang di Tuk Kedawung, Cirebon

KABUPATEN CIREBON (Aswajanews.id) – Pemerintah Kabupaten Cirebon memastikan ketersediaan pangan, khususnya beras, berada dalam kondisi aman untuk beberapa bulan mendatang. Hal ini disampaikan oleh Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya, yang menyebutkan bahwa stok beras di wilayahnya mencapai 35 ribu ton.

Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya meninjau kondisi gudang di Tuk Kedawung, Cirebon

“Informasi dari Bulog, ketersediaan pangan untuk Cirebon, khususnya Kabupaten Cirebon, sudah aman. Untuk beras saja, tersedia 35 ribu ton, dengan 14 ribu ton tersimpan di salah satu gudang di Kabupaten Cirebon,” katanya usai meninjau kondisi gudang di Tuk Kedawung, Cirebon, Kamis (12/9/2024).

Ia menambahkan, bahwa penyaluran bantuan pangan di Kabupaten Cirebon akan mencapai 2.800 ton, sementara penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) diperkirakan sekitar 1.000 ton per bulan.

Selain beras, Wahyu juga menyebutkan, bahwa stok komoditas lain, seperti gula dan minyak goreng masih mencukupi.

“Cadangan gula ada 62 Ton dan minyak goreng 17 ton. Jadi, untuk beberapa komoditas yang menjadi perhatian kami, stoknya cukup aman,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Cabang Cirebon, Ramaijon Purba menegaskan, bahwa ketersediaan beras di wilayahnya sangat aman, dengan stok mencapai 61 ribu ton. Bulog Cirebon telah menyerap 76 ribu ton gabah dan beras dari panen lokal.

“Kami menyerap gabah 5.400 Ton dan beras 72.500 Ton. Jika disetarakan dengan beras, totalnya 76 ribu ton. Kebutuhan penyaluran wilayah kami hanya 6.100 ton, artinya stok ini bisa bertahan hingga 10 bulan ke depan,” ungkap Ramaijon.

Ia berharap, panen tidak terganggu, sehingga beras yang ada saat ini dapat tersalurkan sebelum masa panen berikutnya, guna menjaga kesegaran dan kualitas stok.

Dengan ketersediaan yang memadai, Pemerintah Kabupaten Cirebon optimis dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat tanpa kendala dalam waktu dekat. (Diskominfo)

www.youtube.com/@anas-aswaja

75 Ribu Tiket Whoosh Terjual Selama Libur Maulid Nabi

0
Situasi para penumpang Whoosh di Stasiun Padalarang, KBB, Sabtu (14/9/2024). ANTARA

BANDUNG (Aswajanews.id) – PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menyebutkan sebanyak 75 ribu tiket kereta cepat Whoosh telah terjual selama periode libur panjang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Situasi para penumpang Whoosh di Stasiun Padalarang, KBB, Sabtu (14/9/2024). ANTARA

“Saat ini tiket yang sudah terjual sudah mencapai sekitar 75 ribu tempat duduk untuk perjalanan tanggal 13 sampai dengan 16 September. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat penjualan tiket masih terus berlangsung,” kata Eva di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (14/9/2024).

Eva mengungkapkan peningkatan penumpang mulai terjadi sejak 13 September 2024. Di tanggal tersebut, jadwal keberangkatan di sore dan malam hari selepas pulang kerja menjadi salah satu incaran para penumpang dengan mayoritas okupansi dari kereta Whoosh yang beroperasi mencapai 98 persen.

Eva mengatakan KCIC sendiri menyiapkan sebanyak 48 perjalanan kereta cepat Whoosh yang mampu mengangkut 28.000 penumpang per hari saat periode libur panjang akhir pekan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW 13 sampai 16 September 2024.

“Total terdapat ketersediaan tempat duduk sebanyak 115.392 untuk perjalanan Whoosh masa libur panjang mulai 13 hingga 16 September 2024,” kata Eva.

Eva mengungkapkan KCIC sangat antusias menyambut libur panjang Maulid Nabi Muhammad ini dengan mempersiapkan operasional kereta cepat Whoosh secara optimal.

“Kami berharap masyarakat bisa memanfaatkan layanan ini untuk bepergian dengan nyaman dan cepat selama liburan,” katanya.

Adapun mayoritas penumpang keberangkatan Halim turun di Stasiun Padalarang dan melanjutkan perjalanan dengan KA Feeder menuju Stasiun Bandung.

Dia menambahkan pada periode tersebut, KCIC tetap menjual tiket dengan skema dynamic pricing atau tarif dinamis dengan menawarkan harga lebih hemat pada periode perjalanan tertentu.

“Menyambut periode libur panjang ini, KCIC menerapkan skema tarif dinamis dimana tarif kereta menyesuaikan hari dan jam keberangkatan hingga rute yang dipilih dengan tarif termurah Rp150 ribu di jam-jam tertentu,” kata Eva. (*)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts