Memisahkan atau meniadakan nama biola dari Wage Rudolf Supratman sama seperti meniadakan nama Wage Rudolf Supratman dari Kongres Pemuda II pada 27 dan 28 Oktober 1928. Itu merupakan pengingkaran sejarah. Ingat pesan Bung Karno, Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).
Biola dan Wage itu satu kesatuan. Loroning tunggal, kata wong Purworejo.
Sejak diberikan oleh kakak iparnya, Willem Mauritius Van Elsick, atau yang nama Indonesianya Sastro Dihardjocnys, sebagai hadiah ulang tahun ke-17, biola itu nyaris tak pernah berpisah dengan Wage. Ke mana Wage pergi, alat musik sensasional itu selalu dibawa serta, termasuk ke Kongres Pemuda II.
Ada dua versi tentang kelahiran pencipta lagu Indonesia Raya itu. Banyak yang menyebut dia lahir di Jatinegara, Jakarta. Namun, hasil penelitian sejarah menunjukkan bahwa sesungguhnya dia lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 9 Maret 1903.
Namun, karena ayahnya, Sersan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger), Abdul Moein atau Djoemeno Sastro Dihardjo, dimutasi ke Betawi atau Jakarta, Wage dan saudara-saudaranya menyusul ke Jakarta dan tinggal di Jatinegara. Versi itulah yang kemudian menonjol dan menganggap Wage lahir di Jatinegara.
Versi lain dalam sejarah karena salah tafsir seperti itu biasa terjadi dan tak perlu dipersoalkan terlalu dalam. Yang pasti, nama Wage Rudolf Supratman itu pernah ada dan ikut mewarnai sejarah Republik ini.
Pada usia 15 tahun, Wage mengembara ke Makassar mengikuti kakak tertuanya, Roekiyem, yang menikah dengan Van Elsick.
Mungkin karena memiliki kesamaan sebagai pencinta musik, Wage sangat disayangi oleh sang kakak iparnya. Saat ulang tahun Wage yang ke-17, sang kakak menghadiahkan sebuah biola yang kemudian menjadi loroning tunggal WR Supratman.
Sebagaimana karakter orang Jawa yang tak senang berkelana, pada 1923 Wage pulang ke Jakarta. Hanya mampir sebentar di rumah orang tuanya, dia lantas pergi ke Bandung.
Ternyata, selain sebagai pemusik, dalam dirinya bersemayam pula jiwa seorang wartawan. Pada 1924, ia menjadi wartawan Kaoem Moeda di Bandung, lalu menjadi pemimpin redaksi Kaum Kita.
Saat itu, dia sempat bertemu dengan Bung Karno yang sedang menjalani sidang di landraad (pengadilan kolonial) di Bandung. Bung Karno sempat berpesan kepadanya agar ikut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Kehidupan Wage sebagai wartawan sangat sederhana. Bahkan, terkesan sengsara. Ia tinggal di rumah kontrakan yang terbuat dari bambu. Pakaiannya boleh dibeli di pasar loak.
Dia ikut berjuang dan nyaris mati dalam penjara. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























