Tradisi

Mengungkap Makam Mbah Taslim sebagai Asal Usul Jakatamu

Beberapa hari yang lalu beberapa orang beserta beberapa tokoh agama dan pemerintah desa Jagalempeni menyelenggarakan ritual peletakan baru besar yang bertuliskan “Situs Makam Kasepuhan Mbah Taslim”. Ritual yang peletakan batu tersebut juga diunggah youtube melalui akun chanel Laziznu Jagalempeni.

Menelusuri jejak makam Mbah Taslim yang oleh sekelompok orang dianggap keramat membutuhkan kajian yang mendalam. Sebuah makam tentu tidak terpisahkan dari asal usul atau sejarah makam tersebut sehingga ditemukan bahkan dianggap makam keramat.

Beberapa sumber menyatakan secara lisan bahwa dirinya (salah seorang warga setempat) pernah tahu Al Maghfurlah Kyai Anas Yahya ziarah di lokasi yang terkenal dengan aseman. Di sekitar pohon asem tersebut terdapat makam orang soleh. Kyai Yusuf dari Temekerep juga dijumpai ziarah di lokasi tersebut. Beberapa warga sekitar beberapa kali menyaksikan K Yusuf ziarah dan berdoa di sekitar makam tersebut.

Dari beberapa penuturan yang berkembang belum ditemukan keturunan (nasab) yang bisa menjadi sumber penelitian sejarah. Sementara ini sumber sejarah yang didapatkan terdapat beberapa versi yang sesungguhnya masih berserakan. Beberapa sumber “tinutur” yang bertebaran belum pernah didiskusikan secara ilmiah dengan pendekatan ilmu sejarah.

Situs yang ada dalam bentuk nisan belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hal tersebut karena usia nisan yang terbuat dari kayu dimungkinkan terbuat tidak lebih dari 20 tahun yang lalu. Siapa yang meletakkan nisan tersebut? Sampai sekarang belum ada pernyataan pengakuan secara resmi.

Di samping nisan terdapat baru ukuran agak besar dengan tulisan “Situs Kesepuhan Makam Jakatamu Mbah Taslim”. Saat peletakan batu tersebut beberapa tokoh agama Jakatamu hadir menyaksikan, termasuk Kepala Desa Jagalempeni. Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah NU Jagalempeni Selatan tampak hadir bersama dengan Ketua Pengurus Makam Jagalempeni Selatan.

Sementara konon ceritanya memiliki peninggalan “kendi “untuk berwudhu tetapi sudah hilang. Jadi tinggal hanya sebuah cerita di balik peninggalan ” kendi ” yang disebut “padasan” (kendi untuk berwudhu). Orang-orang dulu di depan rumahnya terdapat sumur dan disampingnya terdapat ” padasan” untuk berwudlu. Sumur tersebut digunakan oleh lingkungan sekitar yang hampir tidak pernah kering sekalipun musim kemarau.

Keberadaan Makam Mbah Taslim yang konon disebut sebagai orang soleh menurut KH Mas Mansur Tarsudi (Mustasyar PCNU Kab Brebes) menjadi asal usul nama pedukuhan Jakatamu. Sebuah pedukuhan yang menjadi pintu masuk dari arah selatan menuju desa Jagalempeni.

Menurut penuturan KH Mansur Tarsudi dengan sanad cerita dari Abahnya (Al Magfurlah Kyai Tarsudi). Kyai Tarsudi mendapatkan kisah ini dari kakeknya dan bersambung sampa Syekh Abdurrahman yang makamnya di Jatirokeh. Syekh Abdurrahman adalah buyut yang menurunkan KH Mansur.

Konon ceritanya, Syekh Abdurrahman pernah berkunjung di rumah salah satu orang soleh pada saat zaman kompeni (tidak jelas tahunnya, tapi saatnya kompeni sedang bercokol di wilayah nusantara). Zaman dulu sesama orang soleh sering bersilaturahmi bukan hanya karena ikatan pertalian darah (geneologis), namun karena memiliki rasa nasionalisme yang sama sehingga sering bertemu salah satunya dalam rangka mengusir penjajah kompeni.

Saat Syekh Abdurrahman bertamu di rumah kediaman orang soleh tersebut yang menurut ceritanya bernama Mbah Taslim banyak anak muda yang berjaga di sekitar kediaman Mbah Taslim. Beliau tergolong tokoh agama yang taat beribadah. Dilihat dari namanya Mbah Taslim termasuk orang yang banyak memasrahkan hidupnya kepada Sang Pencipta. Sikap tawakal, zuhud dan qonaah menjadi prilaku keseharian.

Seluruh pemuda yang masih lajang berjaga selama Syekh Abdurrahman bertamu di rumah Mbah Taslim. Mereka tidak banyak tahu apa yang diperbincangkan antara Mbah Taslim dan Syekh Abdurrahman. Tugas mereka hanya menjaga tamu kehormatan (Syekh Abdurrahman) di rumah Mbah Taslim.

Namun demikian saat Syekh Abdurrahman memasuki kediaman Mbah Taslim tidak banyak orang yang tahu. Bahkan seorang pemudapun tidak tampak ketika awal Beliau masuk dirumah kediaman yang sangat sederhana. Ketika Syekh Abdurrahman selesai bertamu setelah keluar dari kediaman Mbah Taslim, ternyata sekitar rumah sudah berjajar pemuda yang berjaga.

Mereka masih lajang atau disebut jejaka. Jadi semua pemuda yang menjaga tamu (Syekh Abdurrahman) masih perjaka atau lajang. Saat Beliau menyapa mereka dan bertanya, kamu semua siapa? Mereka menjawab, “kami adalah pemuda perjaka yang menjaga tamunya Mbah Taslim”.

” Oh.. berarti kalian semua adalah yang menjaga tamu”, sambung Syekh Abdurrahman. Serentak para pemuda menjawab, “ya.. kami yang berjaga dan melindungi tamu agar tetap aman”. Berangkat dari percakapan antara Syekh Abdurrahman dan para pemuda yang menjaga tamu itulah kemudian muncul istilah “Jakatamu” .

Kalimat “Jakatamu” berasal dari dua kata, pertama “Jaka” dan kedua “Tamu”. Dua kata tersebut dirangkai menjadi “Jakatamu” untuk nama pedukuhan bagian selatan dari desa Jagalempeni. Jadi perjaka (lajang) yang menjaga tamunya “Mbah Taslim” itulah akhirnya menjadi “kocap” atau nama.

Inilah salah satu yang mendasari nama Jakatamu dihubungkan dengan makam leluhur (Mbah Taslim) yang setiap jumat manis sebagian warga masyarakat berkirim doa di tempat tersebut. Tentu hal tersebut bukan satu satunya versi yang menjadi kebenaran mutlak. Karena buku sejarah dalam bentuk babad atau manuskrip sebagai bukti sejarah belum ditemukan sampai sekarang.

Ada versi lain yang tidak terkait dengan makam leluhur. Nama “Jakatamu” berasal dari kata “Jaga” dan “Tamu”. Hal tersebut karena dusun Jakatamu menjadi perbatasan pintu masuk desa Jagalempeni dari arah selatan perbatasan dengan Dukuhrantam.

Versi ini berkaitan dengan masa penjajahan Belanda, dimana pasukan kompeni bercokol di wilayah utara yang disebut dengan Jagalempeni. Kata Jagalempeni berasal dari  jaga dan kompeni. Maksudnya daerah tersebut dijaga oleh pasukan kompeni.

Sementara di wilayah selatan untuk menjaga tamu yang masuk dari arah selatan pasukan kompeni juga berjaga-jaga di perbatasan area masuk desa. Oleh karena itu muncul kalimat “Jagatamu”. Karena untuk mengucapkan huruf “g ” agak berat maka sering diucapkan dengan bunyi huruf “k”, akhirnya menjadi Jakatamu. *(Penulis ; Akhmad Sururi)

Editor: Elisa Nurasri