BREBES (Aswajanews.id) – Di tengah perkembangan wilayah perkotaan Kabupaten Brebes, berdiri sebuah masjid bersejarah yang menjadi saksi perjalanan dakwah Islam selama lebih dari satu abad. Masjid Jami Gandasuli yang berlokasi di Jalan Maulana Malik Ibrahim No. 3, RT 01 RW 02, Kelurahan Gandasuli, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, hingga kini tetap menjadi pusat ibadah sekaligus pelestari tradisi keislaman masyarakat setempat.
Masjid yang berjarak sekitar empat kilometer dari Alun-Alun Brebes tersebut dikenal sebagai masjid tertua kedua di kawasan antara Sungai Kali Pemali dan Sungai Kaligangsa setelah Masjid Agung Brebes. Keberadaannya memiliki nilai historis yang kuat dalam perkembangan Islam di wilayah Pantai Utara Jawa, khususnya di Kabupaten Brebes.
Berdasarkan catatan sejarah masyarakat setempat, Masjid Jami Gandasuli didirikan oleh Haji Asy’ari bin Haji Ansor sekitar tahun 1900 Masehi. Pembangunan masjid dilakukan di atas tanah milik pribadi dan dibiayai sepenuhnya menggunakan harta pribadi beliau sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan masyarakat.
Tidak hanya membangun masjid, Haji Asy’ari juga mewakafkan sejumlah lahan persawahan untuk menopang kebutuhan operasional dan kemakmuran masjid. Untuk menghidupkan aktivitas keagamaan, beliau kemudian mendatangkan seorang ulama dari Sindanglaut, Cirebon, Jawa Barat, yaitu Kyai Amari bin Kyai Salka, yang dipercaya menjadi imam sekaligus pembimbing keagamaan masyarakat Gandasuli.
Kyai Haji Amari lahir pada tahun 1877 dan wafat pada tahun 1962. Makam beliau berada di Kompleks Situs Bersejarah Jamirah-Jaminten, Kelurahan Gandasuli, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Dalam sejarah dakwah Islam di Gandasuli, Kyai Amari dikenal sebagai ulama pertama yang berperan besar dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat dan desa-desa sekitarnya.
Tokoh masyarakat Gandasuli sekaligus Ketua Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Gandasuli, Ustadz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I, menjelaskan bahwa jasa Haji Asy’ari dan Kyai Amari sangat besar dalam perkembangan Islam di wilayah Gandasuli dan sekitarnya.
“Pada sekitar tahun 1900, Mbah Haji Asy’ari membangun Masjid Jami Gandasuli. Untuk menghidupkan kegiatan keagamaan di masjid tersebut, beliau mendatangkan Kyai Amari dari Sindanglaut, Cirebon. Kyai Amari kemudian menjadi ulama pertama dalam babad Gandasuli yang aktif mengajarkan agama Islam dan berdakwah kepada masyarakat,” ujarnya.
Kyai Amari dikenal sebagai ulama kharismatik yang dihormati masyarakat. Dalam berdakwah, beliau menggunakan pendekatan sosial budaya dan tradisi lokal sehingga ajaran Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Di kalangan warga, Kyai Amari juga dikenal sebagai sosok yang memiliki karomah.
Dari pernikahannya dengan Hj. Fatimah, putri Haji Usman, KH Amari dikaruniai sejumlah putra-putri, yaitu Nyai Kona’ah, Nyai Romlah, Nyai Fathonah, Sobriyah, H. Miftah, dan Kyai Nasukha yang kemudian dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Cipeujeuh, Sindanglaut, Cirebon.
Hingga saat ini, Masjid Jami Gandasuli tetap mempertahankan berbagai tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut antara lain pemukulan bedug dan kentongan sebelum azan lima waktu, pembacaan puji-pujian menjelang iqamah, dzikir dan doa bersama setelah salat fardu, serta pelaksanaan salat Subuh dengan qunut.
Setiap malam Jumat, jamaah rutin menggelar tahlil, doa bersama, dan pembacaan Maulid Al-Barzanji yang diiringi hadrah. Kegiatan lainnya meliputi pengajian malam Kamis, tadarus Al-Qur’an setelah salat Subuh, serta pengajian umum dalam berbagai peringatan hari besar Islam.
Tradisi khas yang masih lestari hingga kini adalah takbiran semalam suntuk menjelang Idulfitri dan Iduladha, kuliah Asar selama Ramadan, hingga tradisi makan kupat bersama setelah Salat Id yang diawali dengan saling bersalaman, tahlil, dan doa bersama.
Pada bulan Ramadan, masjid juga menjadi pusat berbagai aktivitas keagamaan seperti salat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, pembagian takjil, serta tradisi membawa berkat pada malam-malam akhir Ramadan yang kemudian dibagikan kepada jamaah setelah tahlil dan doa bersama.
Selain berfungsi sebagai pusat ibadah, Masjid Jami Gandasuli juga menanamkan nilai transparansi dan kepedulian sosial. Pengurus masjid secara rutin mengadakan musyawarah bulanan, menyampaikan laporan keuangan kepada jamaah sebelum Salat Jumat, serta melakukan penghitungan kotak amal dan dana santunan secara terbuka.
Kegiatan sosial lainnya juga terus berjalan, seperti penyediaan makanan dan minuman bagi jamaah setiap Jumat, pembagian nasi bungkus untuk jamaah Salat Subuh Jumat, serta pelaksanaan penyembelihan dan distribusi hewan kurban pada Hari Raya Iduladha.
Dengan sejarah panjang yang dimilikinya, Masjid Jami Gandasuli bukan sekadar tempat ibadah. Masjid ini menjadi simbol keberlanjutan dakwah Islam, pusat pembinaan umat, sekaligus penjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat Brebes dari generasi ke generasi.
(Nuridin/Abdul Hamid Muhtadi)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































