Kajian

Makna Kebahagiaan Setelah Ramadhan dan Lebaran dalam Perspektif Kemanusiaan

16
oleh: A'isy Hanif Firdaus

Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah semata, tetapi juga ajang latihan untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Selama sebulan penuh, kita berusaha memahami penderitaan saudara-saudara kita yang kurang mampu dengan menahan lapar dan dahaga. Setelah Ramadhan berlalu, makna kebahagiaan sejati di Hari Raya Idul Fitri ini seharusnya tidak hanya bersumber dari perayaan dan kemeriahan, tetapi juga dari kesadaran bahwa kita telah menjadi pribadi yang lebih peduli dan dermawan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)

Ayat ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati setelah Ramadhan bukan hanya tentang kemenangan atas hawa nafsu, tetapi juga tentang berbagi dengan sesama. Salah satu bentuk kebahagiaan yang diajarkan Islam adalah melalui zakat fitrah, yang diwajibkan sebelum Idul Fitri sebagai bentuk penyucian diri sekaligus kepedulian terhadap kaum yang membutuhkan. Dengan berbagi, kita memastikan bahwa kebahagiaan Lebaran tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang, tetapi juga oleh mereka yang kurang beruntung.

Selain itu, Idul Fitri adalah momen penyatuan umat, di mana perbedaan sosial, status, dan latar belakang dilebur dalam satu ikatan persaudaraan. Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati. ” (QS. Al-Hujurat: 10)

Hari kemenangan setelah Ramadhan bukan hanya tentang kembali menikmati makanan dan minuman, tetapi juga tentang kemenangan hati yang bersih, penuh kasih sayang, dan saling memaafkan. Momen ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak akan hadir jika masih ada kebencian dan permusuhan dalam hati. Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan, baik dengan keluarga, teman, maupun sesama manusia.

Maka, hikmah yang dapat kita petik dari makna kebahagiaan setelah Ramadhan dan Lebaran yang sejati bukan hanya pada aspek individu, tetapi juga dalam dimensi sosial dan kemanusiaan. Jika Ramadhan melatih kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, maka setelah Lebaran adalah saatnya menerapkan pelajaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Kebahagiaan sejati akan hadir ketika kita mampu mempertahankan nilai-nilai kebaikan, kepedulian, dan persaudaraan sepanjang tahun, bukan hanya di bulan suci. ***

A’isy Hanif Firdaus, S.Ag. (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Wahid Hasyim Semarang)_