Kajian

Akhlak dan Ilmu Menjadi Pondasi Kehidupan Orang yang Berthorikoh

Tema ngaji kali ini, yang penulis ikuti bersama KH. Subhan Ma’mun pengasuh pondok pesantren Assalafiyah (7/4/2023), ngaji puasanan setiap sore hari penulis mengasi judul “Akhlak dan Ilmu Menjadi Pondasi Kehidupan Orang yang Berthoriqoh.”

Sebelum bicara tentang thoriqoh, penulis sedikit memberi pengatar tentang tasawuf, sebagai tambahan informasi untuk pembaca.

Tasawuf dari segi bahasa berasal dari akar kata ‘Shafa’ yang artinya bersih. Sedangkan pada sisi istilah tasawuf adalah ilmu yang mengajarkan tentang cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak serta membangun lahir dan batin untuk mencapai ketenangan abadi.

Tasawuf dapat dikatakan sebuah usaha yang dilakukan manusia untuk memperindah diri dengan akhlak dan bersumber pada al-Quran dan al-Hadits dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Orang tasawuf akan berperilaku memulyakan para guru, mengistikomahkan Dzikir, dan berbuat kasih sayang sesama makhluk Allah Swt.

Tasawuf juga dapat diartikan sebagai sebuah gerakan Islam yang mengajarkan ilmu cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlak, membangun lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf maupun sufisme pada awalnya dapat dikatakan sebuah gerakan zuhud dalam Islam sedangkan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam.

Pada sisi lain, tasawuf merupakan perilaku yang dapat dikatakan meninggalkan hawa, sedangkan hawa sendiri merupakan ketertarikan hati yang berlawanan dengan syariat, sedangkan meninggalkan hawa merupakan perilaku dari orang tasyawuf.

Adapun thorikoh atau tarekat merupakan salah satu jalan yang ditempuh oleh seseorang untuk mendekatkan diri dan mencari ridha Allah Swt agar diberi ketebalan iman dan lebih mencitai Allah Swt selain diri sendiri dan dunia seisinya.

Secara sederhana membedakan tasawuf dan thorikoh adalah; tasawuf usaha mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan cara mensucikan rohani dan memperbanyak ibadah. Thorikoh adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh oleh para ahli tasawuf atau kaum mutashawwifin untuk mencapai tujuan, yaitu dapat lebih dekat dengan Allah SWT

Para pelaku thoriqoh adalah para ulama yang tidak bisa lepas dari dasar al-Quran dan al-Hadits. Sedangkan para ulama merupakan pewaris Nabi, yang mendapatkan warisan ilmu dan akhlaq beliau.

Ilmu dan akhlak menjadi pondasi pegangan yang kuat oleh para pelaku thorikoh agar selalu dijaga dalam kehidupan keseharianya. Para ahli Thorikoh mengatahui kalau lepas dari ilmu dan akhlak akan berdampak pada kehidupan dirinya untuk saat sekarang dan pada masa yang akan datang.

Menjadi perenungan bersama, kalau seseorang meremehkan atau menyampingkan akhlak dalam berbagai hal, (orang jawa bilang tidak ada unggah-ungguh dengan orang lain). Maka akan berdampak pada meremehkan menjalankan ibadah sunnah. Selanjutnya ketika seseorang mengenyampingkan melakukan pada hal-hal yang sunnah, maka akan berdampak pada meninggalkan fardu yang diwajibkan oleh Allah Swt. Sedangkan dampak yang lebih jauh lagi, ketika perintah wajib sudah tidak mau dijalakan maka akan menghang-halangi diri sendiri untuk mengenal Allah Swr, Dzat pencipta dan membuat perhitungan amal perbuatan manusia.

Allah Swt memberi anugrah pada setiap ciptaan-Nya, semuanya dapat melakukan dzikir membaca tasbih sesuai dengan caranya masing-masing, tak kecuali yang namanya batu dan tumbuh-tumbuhan. Namun manusia tidak mengetahui cara bertasbikh mereka. Sebagaima tasbikhnya papah korma yang masih basah, saat digunakan oleh Rasulullah untuk meringankan manusia yang mendapatkan siksa kubur.

Menjadi pengikut Rasulullah Muhammad Saw dengan menjalankan apa yang diperintahkan dari berbagai aspek adalah sebuah usaha untuk menuju kesempurnaan menjadi manusia sebagai sebaik-baik ciptaan Allah Swt dan menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Kehadiran pondok pesantren dalam hal ini merupakan usaha dalam menjaga agama, menjaga akhlak manusia bagaimana manusia memiliki akhlak yang baik dan ilmu yang bermanfaat selama menerima gemblengan di pondok pesantren. Oleh karena itu, semua yang didapatkan dengan usaha keras maka harus dijaganya, seperti ilmu yang dimiliki harus dijaga dengan mengamalkannya, akhlah harus harus dijaga tidak boleh lepas dengan berperilaku sopan santun kepada sesama manusia dan ciptaan Allah lainya, memiliki keturunan shalih dengan orang tuanya berperilaku shalih pula dan harta juga harus dijaga agar keturunannya adalah menjadi keturunan yang kuat.

Sebagai manusia yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, mendapatkan keberkahan dari-Nya dan rumah yang penuh cahaya maka jadilah tempat tinggalnya sebagai tempat sholat dan terisi lantunan ayat-ayat suci al-Quran.

Semoga kita menjadi manusia yang selalu memegang ilmu dan aklak dalam berbaai hal menjalani hidup di dunia. Aamiiin.

(Lukmanrandusanga, Selasa 11 April 2023)