Pendidikan

Rikza Chamami, Putra Daerah Pekalongan Sabet Juara 1 Kaligrafi Nasional

PEKALONGAN (Aswajanews.id) – Muhammad Rikza Chamami, putra sulung pengurus Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pekalongan Yusrol Hafidz berhasil menjadi juara satu lomba kaligrafi jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada ajang Madrasah Fest 2023 tingkat nasional. Pengumuman pemenang dilakukan pada Sabtu (12/8/2023) bertempat di Gading Serpong, Tangerang, Provinsi Banten.

Dihubungi Aswajanews, Ahad (13/8) Rikza anak pertama dari 3 bersaudara mengaku sangat senang atas keberhasilannya ini. Ia bersyukur karena ini merupakan salah satu cita-citanya. “Alhamdulillah, perasaan saya sangat senang. Saya bercita-cita ingin jadi kaligrafer internasional,” ucapnya.

Disampaikan, Rikza yang masih kelas 5 di MIS Karanganyar, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, mengatakan ia mendapatkan hadiah uang senilai Rp 5 juta, sertifikat, medali, dan plakat.

“Alhamdulilah ada hadiah dari orang-orang terdekat juga, juga dapat hadiah dari Kemenag Kabupaten Pekalongan. Uang hadiah ini akan saya tabung buat pendidikan di masa depan,” tambahnya.

Ayah Rikza Chamami, Yusro Hafidz yang menjadi anggota Dept. Olahraga, Seni dan Budaya PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan menyampaikan, putranya sudah terbiasa mengikuti lomba kaligrafi sejak kelas 2 MI kala itu pada ajang Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI).

“Sudah sampai tingkat provinsi tapi belum berhasil. Sering ikut lomba di kampus UIN Pekalongan juga dan sebagainya,” katanya.

Terkait persiapan mengikuti Madrasah Fest 2023 lanjutnya, Yusrol mengatakan bahwa persiapan Rikza sangat mendadak. Seleksi tingkat Jateng hanya punya waktu membuat karya satu hari, lalu dikumpulkan di Salatiga.

“Dalam satu hari dia berkarya, dan alhamdulilah terpilih sebagai yang terbaik setelah melalui proses babak enam besar, sehingga berhak mewakili Jateng di tingkat nasional,” imbuhnya.

Di tingkat nasional, ada persiapan selama satu bulan. Menurutnya, Rikza harus belajar lagi dan mengasah bakat kemampuannya melukis pakai cat. “Kami juga minta saran ke guru-guru yang lain, selain itu juga persiapan alat-alat, dan alhamdulilah ada yang membantu sehingga lancar,” jelasnya.

Yusrol mengatakan bahwa Rikza belajar kaligrafi dari ibunya. Sementara dari ayahnya Rikza belajar seni mewarnai. Selain kepada kedua orang tuanya, Rikza juga belajar kaligrafi kepada ustadz Fathurrohman, ustadz Abdul Kadir, Ustadz Zamrudin, dan kepada kaligrafer internasional.

“Alhamdulilah Rikza punya guru banyak. Kami sering sowan ke mereka. Setelah juara nasional Rikza masih harus banyak belajar kepada guru-gurunya, demi mewujudkan keinginan menjadi kaligrafer internasional,” pungkasnya.

Rikza, selain mahir membuat kaligrafi juga punya bakat dalam hal mewarnai dan menggambar sejak TK. Sudah ada 30-an piala yang berhasil dimenangkannya, baik dari lomba kaligrafi atau menggambar. *(Kontributor: Khairul Anwar)