Beranda Nasional Aktual Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Keteladanan Dua Perempuan Salehah

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Keteladanan Dua Perempuan Salehah

11
0

BREBES (Aswajanews.id) – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali mengenang sejarah kelahiran Rasulullah sekaligus meneladani perjuangan dan keteguhan iman para perempuan salehah.

Di Masjid Jami Baiturrahim, Dukuh Jagalempeni Selatan, Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, jamaah mengikuti rangkaian pembacaan kitab Barzanji selama bulan Rabiul Awal. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap malam, mulai 1 hingga 12 Rabiul Awal, selepas salat Magrib hingga menjelang salat Isya.

Pada malam puncak peringatan Maulid Nabi, Senin malam Selasa, 24 Agustus 2026, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 H, jamaah berkumpul di aula utama Masjid Jami Baiturrahim dalam suasana khidmat.

Dalam ceramahnya, Akhmad Sururi, Sekretaris PD DMI Brebes, menyampaikan kisah tentang dua perempuan salehah yang dalam tradisi kisah keagamaan disebut hadir menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW, yakni Siti Asiyah, istri Fir’aun, dan Siti Maryam, ibunda Nabi Isa AS.

Keteguhan Iman Siti Asiyah

Sururi mengisahkan keteguhan Siti Asiyah dalam mempertahankan keimanannya. Meski bersuamikan Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, Siti Asiyah tetap meyakini bahwa hanya Allah SWT yang wajib disembah.

Kisah Siti Maryam

Menurut Sururi, keteguhan tauhid tersebut tetap dipertahankan Siti Asiyah meskipun harus menghadapi siksaan berat dari Fir’aun.

“Pagi harinya Siti Asiyah disuruh menyembah suaminya sebagai Tuhan. Akan tetapi, suruhan tersebut berubah menjadi penyiksaan karena Siti Asiyah tetap kukuh tidak akan pernah menyembah selain Allah. Dia hanya bertauhid kepada Allah,” tuturnya di hadapan jamaah.

Sururi melanjutkan, Siti Asiyah akhirnya menghadapi siksaan berat hingga wafat dalam keadaan mempertahankan keimanannya. Kisah tersebut, kata dia, menjadi gambaran tentang keteguhan seorang perempuan dalam mempertahankan akidah meskipun berada dalam tekanan yang luar biasa.

Selain Siti Asiyah, Sururi juga mengutip keterangan KH Mustofa Aqil, Sekretaris MWC NU, mengenai Siti Maryam.

Siti Maryam dikenal sebagai perempuan suci yang mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia merupakan ibunda Nabi Isa AS yang melahirkan putranya atas kehendak dan kuasa Allah SWT.

Dalam kisah kelahiran Nabi Isa AS, Maryam berada dalam kondisi lemah dan mendekati pohon kurma. Atas kehendak Allah, pohon tersebut digerakkan sehingga buah kurma dapat dinikmati untuk membantu menguatkan tubuhnya.

Sururi kemudian mengaitkan keteladanan kedua sosok tersebut dengan kehidupan masa kini. Menurutnya, kisah dua perempuan salehah itu mengajarkan pentingnya ketulusan, kesucian hati, serta keteguhan iman.

Ia bahkan menyebut kehadiran Siti Asiyah dan Siti Maryam dalam kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai gambaran peran perempuan yang membantu proses persalinan.

“Dalam bahasa sekarang menjadi bidan. Ini artinya, ibu-ibu yang akan melahirkan pilihlah bidan setempat yang memiliki ketulusan hati dan kebersihan batin,” ungkap Sururi.

Mengakhiri ceramahnya, Sururi mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebagai momentum meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Ia mengajak jamaah memperbanyak membaca shalawat dan menghidupkan sunah-sunah Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW akan mendorong seorang muslim merasakan manisnya iman dan ibadah.

“Sesungguhnya orang yang cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad dapat merasakan manisnya iman dan ibadah. Itulah yang membedakan manusia sebagai hamba Allah dengan hewan yang tidak memiliki kewajiban beribadah,” pungkasnya. (Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini