Menjadi seorang ustaz yang hidup di kampung memiliki cerita tersendiri. Beragam karakter santri atau murid dengan segala tingkah lakunya kerap mewarnai perjalanan seorang ustaz, terutama ketika menerima santri baru yang ingin belajar mengaji.
Kisah ini cukup menarik untuk dibagikan kepada pembaca. Melalui tulisan sederhana ini, penulis berharap cerita tersebut dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat sekaligus bahan introspeksi bagi para ustaz dalam menghadapi anak-anak yang baru mulai belajar mengaji.
Menghadapi santri baru dengan berbagai latar belakang dan kondisi, seorang ustaz sebaiknya melakukan pendekatan terlebih dahulu. Mulai dari memahami usia, perilaku, hingga latar belakang keluarga dan orang tuanya. Hal ini penting demi menjaga keberlangsungan majelis pengajian yang sedang dirintis.
Namanya juga anak kampung, tentu ada beberapa perbedaan dengan anak-anak yang tumbuh di perkotaan, baik dari segi pendidikan, pergaulan, maupun cara berpakaian.
Tingkah laku lucu terkadang muncul ketika anak-anak mulai bergabung menjadi santri. Apalagi, ada yang datang tanpa diantar orang tuanya, melainkan bersama teman-teman sepermainannya. Bahkan, ada pula yang datang tanpa membawa kitab atau perlengkapan mengaji.
Di sinilah terlihat ketulusan seorang ustaz kampung. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mereka tetap berusaha mengelola majelis ilmu dan membimbing anak-anak agar mengenal agama.
Ada sebuah cerita menarik yang terjadi sekitar tahun 1990-an. Kala itu, seorang remaja datang menemui seorang ustaz dengan maksud ingin belajar mengaji. Namun, kondisinya cukup memprihatinkan. Mulutnya tercium bau alkohol, matanya terlihat merah, dan bicaranya tidak jelas.
Saat itu, sang ustaz sedang mengondisikan anak-anak yang baru mulai belajar mengaji. Tiba-tiba, datanglah remaja yang sedang mabuk tersebut.
“Pak Ustaz, saya ikut ngaji boleh?” tanya remaja itu sambil berpegangan pada tiang bambu yang menjadi penyangga rumah tempat pengajian.
“Boleh,” jawab Pak Ustaz singkat.
“Tapi, badan dan bajumu kotor. Sebaiknya mandi dulu, ya!”
Remaja yang ingin mengaji itu pun menuruti perintah sang ustaz dan bergegas menuju kamar mandi.
Belum selesai, Pak Ustaz kembali berpesan, “Mandi yang bersih, pakai sabun dan sampo!”
“Baik, Pak Ustaz,” jawabnya.
“Nanti setelah mandi, makan dulu supaya kuat mengajinya.”
Dalam hati, remaja itu bergumam, “Enak juga, ya. Mau ngaji saja disuruh makan dulu.”
Kita tinggalkan sejenak calon santri yang sedang mandi. Mari beralih kepada sosok ustaz yang tetap sibuk mengajar anak-anak di emperan rumahnya.
Dengan penuh kesabaran, Pak Ustaz membimbing para santri. Kegiatan diawali dengan berdoa bersama, dilanjutkan menghafal surat-surat pendek yang dipandu sang ustaz, kemudian membaca Al-Qur’an secara bersama-sama.
Waktu terus berjalan hingga kegiatan pengajian selesai. Anak-anak pun satu per satu pulang ke rumah masing-masing.
Tak lama kemudian, remaja yang tadi mandi datang menghampiri Pak Ustaz.
“Pak Ustaz, kok ngajinya sudah selesai? Katanya saya boleh ikut ngaji,” protesnya.
“Kamu mengajinya besok saja. Mandinya lama sekali, sih!” jawab Pak Ustaz.
Remaja itu kemudian menjelaskan, “Kata Pak Ustaz, mandinya harus bersih dan pakai sampo. Jadi, mandinya lama, dong!”
Dalam hati, Pak Ustaz bergumam, “Memang sengaja saya suruh mandi lama supaya kamu tidak ikut mengaji dulu. Bagaimana mungkin orang yang sedang mabuk langsung ikut mengaji? Apa kata dunia!”
Kisah sederhana tersebut menggambarkan kecerdikan seorang ustaz kampung dalam menghadapi situasi yang tidak mudah. Meskipun mungkin tidak memiliki banyak pengalaman dalam menangani persoalan semacam itu, ia mampu mengambil langkah yang dianggap paling tepat menurut pertimbangannya saat itu.
Alih-alih mengusir atau memarahi remaja tersebut, sang ustaz memilih cara yang lebih halus. Ia menunda keikutsertaan remaja itu dalam pengajian tanpa harus mempermalukan atau menyakiti perasaannya.
“Sekarang pulang dulu. Besok datang pakai sarung dan peci,” pesan Pak Ustaz.
“Ya, Pak Ustaz. Terima kasih. Assalamu’alaikum,” jawab remaja itu.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas sang ustaz.
Begitulah sepenggal kisah kehidupan seorang ustaz di kampung dengan segala dinamika dan keterbatasannya. Di balik kesederhanaan itu, tersimpan pelajaran tentang kesabaran, kebijaksanaan, dan cara menghadapi orang lain tanpa harus melukai perasaannya.
Namun, ada satu hal penting yang patut menjadi renungan: keinginan seseorang untuk belajar agama, sekalipun datang dalam kondisi yang kurang baik, sesungguhnya dapat menjadi pintu awal menuju perubahan.
Seorang ustaz tidak hanya bertugas mengajarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi juga membimbing akhlak dan membuka jalan bagi siapa pun yang ingin memperbaiki diri. Karena itu, ketegasan memang diperlukan, tetapi hendaknya tetap disertai pendekatan yang bijaksana, penuh kasih sayang, dan tidak menutup kesempatan seseorang untuk bertobat.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa membimbing manusia membutuhkan kesabaran, kebijaksanaan, dan hati yang lapang. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























