TASIKMALAYA (Aswajanews.id) – Program Manager The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, Nanda Dwinta Sari, mendorong perluasan model Desa Damai Berkelanjutan (DDB) ke sejumlah wilayah di Indonesia melalui penguatan kapasitas jaringan masyarakat sipil. Program ini bertujuan mengembangkan pembangunan desa yang inklusif dengan melibatkan kepemimpinan perempuan.
Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan Training of Trainers (ToT) Replikasi dan Adaptasi Model Desa Damai Berkelanjutan bagi Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan di Desa Cipakat, Kabupaten Tasikmalaya, pada 13–14 Oktober 2026.
Kegiatan ini diikuti perwakilan Jaringan Women, Peace and Security (WPS) Indonesia dari Aceh, Sulawesi Tengah, dan Ambon yang dipersiapkan untuk mengembangkan model DDB di wilayah masing-masing. Perwakilan dari sembilan desa sekitar Cipakat juga mengikuti kegiatan untuk mempelajari penerapan model serupa.
Di bawah pengembangan AMAN Indonesia, model DDB mengintegrasikan agenda perempuan, perdamaian, dan keamanan dengan pembangunan desa berkelanjutan. Perempuan ditempatkan bukan sekadar sebagai penerima manfaat atau korban konflik, melainkan sebagai aktor pencegahan konflik, pengambil keputusan, dan pembangun perdamaian.
Nanda menjelaskan, model DDB dikembangkan berdasarkan pengalaman AMAN Indonesia memperkuat kepemimpinan perempuan melalui Sekolah Perempuan Perdamaian (SPP) sejak 2007. Pengalaman tersebut menjadi landasan integrasi agenda WPS dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Desa, sekaligus memperkuat partisipasi perempuan dan kelompok rentan dalam pengambilan keputusan.
Di Desa Cipakat, perempuan dan kelompok rentan dilibatkan secara bermakna serta diberi ruang untuk memengaruhi pengambilan keputusan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya terdampak konflik, tetapi juga mampu mencegah konflik dan membangun perdamaian.
Model DDB diterapkan melalui 10 indikator, meliputi perlindungan perempuan dan anak, mekanisme penanganan kekerasan, penguatan ekonomi desa berbasis koperasi, pendidikan kritis bagi perempuan, Forum Aspirasi Perempuan, paguyuban lintas kelompok, festival budaya yang merawat keberagaman dan lingkungan, forum anak, digitalisasi informasi, serta kesiapsiagaan bencana dan adaptasi iklim.
Pelaksanaannya dikoordinasikan Tim Tangguh DDB yang melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat, dengan keterwakilan perempuan sebesar 50 persen. Tim ini mengoordinasikan program, membangun kerja sama antarpihak, mendukung deteksi dini potensi konflik dan kekerasan, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa.
Desa Cipakat menjadi lokasi pembelajaran karena pengalamannya dapat menjadi referensi bagi wilayah lain. Melalui kunjungan lapangan dan dialog dengan pemerintah desa, Tim Tangguh DDB, Sekolah Perempuan Perdamaian, serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD), peserta mempelajari penerapan model tersebut di tingkat komunitas.
Kepala Desa Cipakat, Dadan Ridwan, mengatakan kolaborasi dengan AMAN Indonesia mendorong penguatan kelembagaan desa, khususnya pemberdayaan perempuan. Kerja sama tersebut memunculkan berbagai gagasan untuk memperkuat kelembagaan sekaligus meningkatkan optimisme perempuan agar terlibat dan memimpin berbagai kegiatan desa.
Pengalaman Cipakat menjadi bahan pembelajaran untuk merumuskan strategi replikasi. Namun, penerapannya tidak sekadar menyalin praktik yang ada, melainkan menyesuaikannya dengan kondisi sosial, budaya, kelembagaan, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Selama dua hari pelatihan, peserta mempelajari praktik DDB, menganalisis kerentanan wilayah, mendalami strategi pengorganisasian masyarakat, memperkuat kelembagaan, serta mengidentifikasi peluang kemitraan dengan pemerintah desa.
Peserta juga menyusun rencana aksi replikasi untuk wilayah masing-masing, mencakup penentuan indikator prioritas, kebutuhan pendampingan, strategi kolaborasi, dan mekanisme pemantauan program.
Pemerintah Kecamatan Singaparna turut mendukung kegiatan tersebut. Camat Singaparna, Tono Haeruman, melalui Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial, Ranny Tien Subarkah, berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan di daerah masing-masing.
Melalui penguatan kapasitas jaringan masyarakat sipil dan penyusunan rencana aksi, AMAN Indonesia mendorong pengembangan model DDB di lebih banyak wilayah. Upaya ini diharapkan memperkuat kolaborasi masyarakat sipil dengan pemerintah desa sekaligus memperluas partisipasi perempuan dalam membangun komunitas yang inklusif, aman, dan tangguh.***
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























