Pilpres 2004 merupakan pintu masuk Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK), untuk memenangkan pertarungan menuju kursi kepresidenan.
Pilpres 2004 merupakan salah satu pemilihan presiden paling meriah. Ada lima pasangan calon yang bertarung, yaitu:
Wiranto – Salahuddin Wahid (Nomor Urut 1).
Megawati Soekarnoputri – Hasyim Muzadi (Nomor Urut 2).
Amien Rais – Siswono Yudo Husodo (Nomor Urut 3).
Hamzah Haz – Agum Gumelar (Nomor Urut 5).
Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla (Nomor Urut 4).
Pada putaran pertama yang berlangsung 5 Juli 2004, tiga pasangan calon tersingkir. Tinggal dua pasangan yang melaju ke putaran kedua, yaitu Megawati Soekarnoputri–Hasyim Muzadi dan Susilo Bambang Yudhoyono–Jusuf Kalla.
Dalam pemilihan putaran kedua pada 20 September 2004, pasangan SBY–JK berhasil meraih kemenangan dengan perolehan suara 60,62 persen, sedangkan pasangan Mega–Hasyim memperoleh 39,38 persen.
Mulailah babak baru kepemimpinan nasional yang membangkitkan banyak harapan akan perubahan dan perbaikan di masa depan.
SBY, DARI DESA MENUJU ISTANA
Masa Kecil hingga Letnan Jenderal
Pada 9 September 1949, seorang ibu muda di Desa Tremas berjuang melawan maut. Siti Habibah, yang saat itu baru berusia 16 tahun, melahirkan anak pertamanya dengan selamat. Bayi laki-laki yang sehat itu memiliki berat badan sekitar empat kilogram.
Saat itu belum ada bidan, apalagi dokter ahli kandungan. Yang tersedia hanyalah paraji atau dukun beranak di kampung.
Ayah sang bayi, Bintara Sukoco, tidak menyaksikan kelahiran putra pertamanya karena sedang bertugas di sebuah Koramil di desa lain.
Seminggu kemudian, sang ayah baru pulang ke rumah. Tentu saja, ia gembira melihat putra yang telah lama dinantikan lahir dengan selamat.
Sebagai orang Jawa yang teguh memegang adat, hal pertama yang dilakukannya adalah memberikan nama kepada bayi tersebut: Susilo Bambang Yudhoyono.
Susilo berarti beradab dan senang bersosialisasi. Bambang berarti kesatria atau gagah perkasa. Yudho berarti perang, sedangkan Yono berarti menang. Dengan demikian, nama Susilo Bambang Yudhoyono dimaknai sebagai sosok yang beradab, perkasa, dan selalu menang dalam peperangan.
Selamatan sederhana yang disebut brokohan pun diadakan dengan mengundang sejumlah tetangga untuk makan bersama. Selain nasi, berbagai lauk-pauk turut disuguhkan. Para tetangga hadir untuk menyampaikan ucapan selamat atas kelahiran bayi tersebut.
Bahkan, di luar dugaan, Kepala Desa Tremas turut datang untuk mengucapkan selamat sekaligus menyampaikan bingkisan.
Orang tua SBY berasal dari keluarga Islami. Ibunya merupakan keturunan pendiri sekaligus pemilik Pondok Pesantren Tremas, sedangkan ayahnya, Sukoco, berasal dari keluarga yang memiliki hubungan dengan Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.
Karena itu, sejak kecil SBY tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai Islam.
Pada 1956, ia masuk Sekolah Rakyat Gajah Mada di Desa Tremas.
Sejak kecil, SBY sudah menunjukkan kekagumannya terhadap dunia militer. Ketika ada latihan tentara di kampungnya, ia menyaksikannya dengan penuh perhatian.
Pada 1962, SBY kecil masuk SMP Negeri Pacitan, satu-satunya SMP yang ada di Kabupaten Pacitan, yang terletak di wilayah selatan Jawa Timur. Sekolah tersebut menjadi salah satu sekolah unggulan dan favorit. Karena itu, calon siswa harus mengikuti tes masuk. Alhamdulillah, SBY berhasil lolos.
Selain dikenal memelihara adab, SBY kecil juga mulai menunjukkan watak kepemimpinannya. Dalam berbagai kegiatan, ia kerap ditunjuk sebagai komandan.
Misalnya, ketika sekolahnya mengikuti pawai keliling kota yang diikuti SMP-SMP dari berbagai daerah di Jawa Timur, SBY dipercaya menjadi pemimpin barisan. Barisan yang dipimpinnya pun menjadi salah satu barisan favorit.
Selain memiliki jiwa kepemimpinan, SBY ternyata mempunyai hobi menulis dan ketertarikan terhadap dunia jurnalistik. Ia menggagas pembuatan koran dinding di sekolahnya. Ia pula yang kemudian dipercaya menjadi pengelola, setara dengan pemimpin redaksi koran tersebut. Tulisan teman-temannya dibaca dan disuntingnya dengan baik.
Setelah lulus SMA pada 1969, SBY tidak serta-merta bisa mendaftar ke Akademi Militer Nasional (AMN), yang telah dicita-citakannya sejak masih bersekolah di Sekolah Rakyat.
Masalahnya adalah keterbatasan komunikasi dan informasi. Pada 1969, penerimaan taruna tidak dibuka. Untuk memperoleh informasi yang akurat, SBY terus mengikuti perkembangan berita, salah satunya melalui radio.
Ia baru bisa mengikuti tes dan masuk AMN pada 1970. Salah satu taruna yang menjadi teman seangkatannya adalah Prabowo Subianto, yang sempat tertunda kelulusannya selama satu tahun dan baru lulus pada 1974.
Pada 1973, SBY lulus dan dilantik menjadi letnan dua.
Karena menjadi lulusan terbaik dan penerima penghargaan Adhi Makayasa, ia bersama sembilan lulusan terbaik lainnya mendapat kesempatan memilih kecabangan. SBY sendiri sudah lama menetapkan pilihannya pada kecabangan infanteri.
Itulah awal perjalanan SBY sebagai seorang tentara hingga memasuki masa pensiun pada 2000 dengan pangkat reguler letnan jenderal. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























