Beranda Pendidikan IPNU/IPPNU Jagalempeni Menjelang Konferensi : Regenerasi dan Miltansi Sebagai Kekuatan Organisasi

IPNU/IPPNU Jagalempeni Menjelang Konferensi : Regenerasi dan Miltansi Sebagai Kekuatan Organisasi

Oleh : Akhmad Sururi (Sekretaris MWC NU Wanasari Brebes)

Sebagai organisasi kepemudaan yang merupakan badain otonom NU, IPNU/IPPNU adalah jenjang awal untuk mengenal NU. Melalui pengkaderan formal Makesta calon anggota IPNU/IPPNU mendapatkan tiket masuk untuk menjadi anggota sekaligus menjalani kewajiban dan mandat sebagai pengurus bagi mereka yang didaulat menjadi bagian struktur pengurus  melalui mekanismenya.

Sebagai struktur badan otonom NU yang digawangi oleh para remaja terpelajar jargon belajar, berjuang dan berraqwa. Ketiga kata ini menjadi komitmen awal untuk menggerakkan IPNU/IPPNU di semua tingkatkan.  Belajar sepanjang hayat sebagai bekal perjuangan agar menjadi pribadi yang bertaqwa.

Pergerakan IPNU/IPPNU ranting Jagalempeni secara struktural hirarkis sebagai bagian dari PAC IPNU/IPPNU Wanasari. Dalam konteks ranting sebagai bagian badan otonom NU Ranting Jagalempeni yang diberikan otoritas menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan PD/PRT dan program kerja.

Perjalanan dan dinamika IPNU/IPPNU Jagalempeni mengalami pasang surut. Hal tersebut tidak lepas dari   peran dan gerak kepengurusan dalam setiap masa baktinya. Kesadaran pengurus sebagai penggerak menjadi motor utama untuk memggerakan organisasi. Namun demikian faktor eksternal juga berpengaruh terhadap perkembangan flutuatipnya organisasi IPNU/IPPNU Jagalempeni.

Penulis mulai bersentuhan dengan IPNU/IPPNU Jagalempeni sekitar tahun 2012. Beberapa kali mengikuti pertemuan rutin dan sedikit urun rembug untuk kemajuan dan pergerakan organisasi. Hal tersebut sangat dibutuhkan untuk mereka yang menjadi pengurus. Sehingga mereka mendapatkan dorongan dan motivasi untuk berkhidmah kepada NU.

Kebesaran dan keberlangsungan organisasi antara lain didasari dengan kebersamaan dan loyalitas serta komitmen dalam menjalankan kegiatan organisasi. Dua hal ini sangat penting untuk mewujudkan proses regenerasi dengan kekuatan militansi.

Beberapa kali program IPNU/IPPNU menjadi bukti kemajuan dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat di tengah tengah masyarakat. Tercatat dalam ingatan sejarah bahwa IPNU/IPPNU Jagalempeni pernah membidani lahirnys Pesantren Ramadlan pada tahun 2015.

Semangat yang tumbuh berkembang dari para pengurus menjadikan IPNU/IPPNU terus eksis bergerak. Tentu dengan dinamika tantangan dan hambatan yang muncul dalam perkembangan organisasi.

Besok Ahad, 9 Juli 2023 akan berlangsung Konferensi tingkat ranting sebagai forum tertinggi  bertajuk “Generasi Berganti, Kederisasi Bergerak, Militansi Harga Mati Untuk Pelajar NU Jagalempeni”. Sungguh tema yang sarat makna dalam Konferensi tingkat ranting yang rencananya akan diselenggarakan di Balai Desa Jagalempeni.

Regenerasi menjadi sebuah keniscayaan dalam orgnisasi. Karena dengan regenerasi secara otomotis akan muncul kaderisasi. Militansi yang dimiliki oleh para kader akan menjadi kekuatan dan ruh dalam menggerakan organisasi. Tanpa regenerasi kita tidak menemukan kompotensi kader sebagai pemimpin organisasi. Tanpa kaderisasi dan militansi maka generasi pengganti tidak memilki modal dan ruh semangat menggerakan organisasi.

Proses regenerasi tidak lepas dari evaluasi untuk mengukur sejuah mana pergerakan dalam menjalankan organisasi. Sehingga langkah kedepan perjalanan organisasi memiliki arah dan program yang strategis dan inovaif. Hal ini sangat penting agar ikhtiat membangun militansi bukan hanya sebatas simbolis tapi akan tertanam dalam hati yang akan melahirkan komitmen berorganisasi.

Semoga melalui Konferensi Ranting IPNU/IPPNU Jagalempeni akan memunculkan generasi baru dengan semangat baru demi mewujudkan dan mengembangkan cita cita besar NU. Oleh karena forum besok akan memiliki makna yang sangat strategis untuk masa depan generasi NU di kalangan pelajar desa Jagalempeni. (*)

Artikulli paraprakBupati Nina Agustina Cetak 1.330 Purna PMI Jadi Wirausahawan Baru
Artikulli tjetërMQK, dari Kitab Tauhid hingga Konteks Kerukunan Indonesia