Ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang menjadi sumber hukum hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah, antara lain:
- Al-Baqarah ayat 218.
- An-Nisa ayat 97–100.
- An-Nahl ayat 41.
- At-Taubah ayat 20.
Untuk menjaga keamanan dan keselamatan, hijrah diatur secara bertahap. Rasulullah SAW sendiri berangkat belakangan.
Sekitar 4 km sebelum sampai di Madinah atau Yastrib, Rasulullah SAW dan rombongan singgah di Quba. Di tempat itu, beliau sempat membangun sebuah masjid. Tempat tersebut awalnya berupa sebuah sumur tua. Peristiwa itu menandakan bahwa bagi Rasulullah SAW, masjid merupakan hal penting dalam Islam sebagai tempat umat menghadapkan wajah kepada Sang Pencipta.
Begitu pula sesampainya di Madinah. Hal pertama yang dilakukan adalah membangun masjid. Tanah yang digunakan merupakan milik dua anak yatim, Sahl dan Suhail, yang dibeli oleh Rasulullah SAW secara sah.
Masjid Nabawi itu awalnya dibangun seluas 1.000 meter persegi. Kemudian, sebuah ruang terbuka di belakang masjid ditutup untuk dijadikan pusat pendidikan Islam yang diberi nama As Suffah, yang dalam bahasa Indonesia berarti serambi atau kamar.
Di As Suffah, Rasulullah SAW melanjutkan upaya pendidikan Islam sebagai kelanjutan dari apa yang telah dilakukan di Daar Arqam, Mekkah. Materi yang diajarkan di As Suffah merupakan peningkatan dari pendidikan sebelumnya. Di tempat ini, diajarkan cara membaca Al-Qur’an, fikih, serta pelajaran yang lebih mengarah pada praktik ibadah.
Banyak kaum Muhajirin atau para pendatang yang miskin karena harta dan barang-barang mereka ditinggalkan di Mekkah. Mereka kemudian memilih tinggal di As Suffah dan disebut Ahlus Suffah. Jika mereka kekurangan biaya, Rasulullah SAW terkadang meminta bantuan kepada kaum Anshar, yaitu orang-orang Yastrib yang kaya dan dermawan.
Beberapa nama yang tercatat dalam sejarah sebagai penghuni As Suffah atau Ahlus Suffah antara lain:
1. Abdullah bin Umar Khattab
Abdullah ikut hijrah dan masuk Islam ketika berusia sepuluh tahun.
2. Abu Hurairah
Abu Hurairah berasal dari Yaman. Ia masuk Islam dan dibaiat oleh Khuwalif, seorang penyebar Islam di Yaman.
Abu Hurairah berangkat ke Madinah dengan berjalan kaki sejauh 1.500 km. Ia sengaja melakukan perjalanan tersebut untuk bertemu Rasulullah SAW.
Ia kemudian masuk As Suffah dan menjadi sahabat Rasulullah SAW. Karena selalu ikut serta ke mana pun Rasulullah SAW pergi, Abu Hurairah tercatat sebagai perawi atau sumber hadis terbanyak, yaitu sebanyak 5.372 hadis.
Di bawahnya terdapat Abdullah bin Umar Khattab yang berhasil menghimpun sekitar 2.500 riwayat.
(*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























