Dalam bukunya Tradisi Pesantren yang diterbitkan LP3ES pada 1982, Dhofier menggambarkan adanya tiga pilar yang menjadi benteng kehidupan sebuah pondok pesantren: kiai, santri, dan pondok. Di Jawa Barat, pondok dikenal dengan istilah kobong.
Dhofier membagi santri ke dalam dua jenis. Pertama, santri mukim, yakni mereka yang rumahnya jauh dari pesantren atau kobong sehingga tidak memungkinkan setiap hari pulang-pergi ke pondok. Kedua, santri kalong, yaitu mereka yang rumahnya berada tidak jauh dari pesantren.
Istilah santri kalong itu dianalogikan dengan kehidupan kelelawar. Binatang malam itu baru keluar dari kandangnya selepas magrib atau ketika malam mulai tiba. Begitu pula santri kalong: sore atau malam datang ke pesantren untuk mengaji, setelah itu kembali ke rumah masing-masing.
Secara historis, Dhofier menyebut banyak pondok pesantren didirikan oleh para saudagar Muslim. Mereka memilih menyingkir ke pedalaman karena terdesak oleh VOC, kongsi dagang kolonial Belanda yang memegang monopoli perdagangan di berbagai wilayah Hindia Belanda.
VOC seolah menjadi penguasa bisnis: mau berdagang apa saja, di mana saja, dan menguasai jalur perdagangan yang dianggap menguntungkan.
Karena kondisi itulah, pesantren pada masa awal banyak tumbuh di pedalaman dan pedesaan. Pesantren tidak dibangun di pusat kekuasaan kolonial, melainkan di tempat yang relatif jauh dari jangkauan penguasa.
Dari sanalah tradisi pesantren tumbuh: sederhana, mandiri, dan dekat dengan masyarakat.
Gambaran mengenai pesantren masa lalu juga dapat ditemukan dalam laporan Christiaan Snouck Hurgronje, penasihat pemerintah kolonial Belanda untuk urusan Islam. Snouck datang ke Hindia Belanda dan melakukan pengamatan mendalam mengenai kehidupan masyarakat Muslim, termasuk pesantren.
Menurut gambaran Snouck, bangunan pondok atau kobong pada masa itu umumnya berbentuk segi empat dan dibuat dari bambu. Di desa-desa yang kondisi ekonominya lebih baik, bangunan bisa dibuat dari kayu.
Antara kobong dan sumber air kadang terdapat titian batu.
Di sinilah kehidupan santri tempo dulu terasa begitu sederhana.
Pada pesantren yang lebih maju, kobong kadang sudah berupa beberapa ruangan yang disekat dan dihubungkan dengan pintu. Kondisi ini tentu lebih baik dan lebih bermartabat dibandingkan satu ruangan besar yang dihuni ramai-ramai, dengan para santri tidur bergeletakan.
Umumnya santri belum menggunakan sandal. Setelah mandi, berwudu dan membersihkan badan, mereka berjalan “ndelepak ceker”—telanjang kaki—menapaki titian batu menuju kobong.
Kaki masih basah. Tanah mungkin becek. Batu terasa dingin. Tetapi tidak ada yang mengeluh.
Itulah kehidupan santri.
Ada pula kobong yang terdiri atas dua ruangan besar. Di antara keduanya terdapat lorong panjang. Pada lorong itu terdapat kamar-kamar sempit dengan pintu yang pendek.
Santri yang bertubuh jangkung harus membungkukkan badan ketika hendak masuk kamar.
Jendelanya kecil, biasanya diberi terali dari bilahan bambu atau kayu. Di bawah jendela terdapat tikar pandan atau rotan. Di sampingnya sebuah meja kecil dari bambu atau kayu.
Di atas meja itulah biasanya terdapat buku atau kitab.
Sederhana sekali.
Tetapi dari ruang-ruang sempit itulah lahir orang-orang berilmu.
Jangan membayangkan pesantren tempo dulu memiliki kamar mandi bersih dengan shower, toilet modern, atau aliran air PDAM seperti sekarang. Jarang sekali pondok memiliki fasilitas sanitasi dan jaringan air sebagaimana yang kita kenal hari ini.
Kalau sudah memiliki sumur dan air tanah yang bisa disedot menggunakan pompa, itu pun sudah dianggap cukup maju.
Mandiri Sebelum Negara Hadir
Kalau pesantren berada di pinggir kali, maka sungai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mulai dari mencuci pakaian, mandi, bahkan membuang hajat dilakukan di sana.
Kondisi semacam itu terutama masih dapat ditemui pada pesantren yang keukeuh mempertahankan sistem pembelajaran salafi.
Pesantren model awal benar-benar berdiri di atas kemampuan sendiri.
Belum banyak menikmati kehadiran negara.
Pesantren hidup dari masyarakat. Kiai mengasuh santri, masyarakat ikut menopang keberadaan pesantren, sementara para santri hidup dalam kesederhanaan dan belajar dengan fasilitas seadanya.
Kehadiran negara mulai terasa ketika sebagian pesantren mengadopsi sistem pembelajaran khalafi.
Pesantren dengan model ini kemudian mengenal berbagai istilah seperti pesantren terpadu atau pesantren modern.
Namun, pengertian “modern” dalam konteks pesantren jangan semata-mata dilihat dari gedung yang mentereng, kamar ber-AC, komputer, atau perangkat teknologi yang serba canggih.
Modern lebih tepat digunakan untuk membedakan sistem pembelajaran.
Pesantren tradisional atau salafi identik dengan pola pembelajaran seperti sorogan dan bandungan, dengan kitab kuning sebagai salah satu media utama pembelajaran.
Sementara pesantren khalafi mengembangkan sistem klasikal, menggunakan ruang kelas, kurikulum yang lebih terstruktur, serta memasukkan pelajaran umum di samping pelajaran keagamaan.
Jadi, modern bukan sekadar soal bangunan.
Modern adalah soal sistem.
Dari Ndelepak Ceker ke Ruang Ber-AC
Kalau kita melihat pesantren hari ini, perubahannya luar biasa.
Dulu santri ndelepak ceker dari kamar mandi menuju kobong. Sekarang sebagian santri berjalan di lantai keramik.
Dulu air diambil dari sumur atau sungai. Sekarang tersedia pompa, toren, bahkan jaringan air bersih.
Dulu kitab menjadi harta paling berharga di atas meja kecil. Sekarang santri bisa membuka ribuan kitab melalui layar komputer atau telepon pintar.
Tetapi ada satu pertanyaan penting:
Apakah kemajuan fasilitas otomatis membuat pesantren semakin maju?
Belum tentu.
Sebab kekuatan pesantren sejak awal bukan pada kemewahan bangunannya. Bukan pula pada kecanggihan teknologinya.
Kekuatan pesantren terletak pada kiai, santri, tradisi keilmuan, kemandirian, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kobong boleh berubah menjadi asrama.
Titian batu boleh berubah menjadi jalan beton.
Kitab kuning boleh dibaca melalui layar digital.
Santri boleh tidak lagi ndelepak ceker.
Tetapi jangan sampai yang ikut hilang bersama perubahan itu adalah kesederhanaan, kemandirian, ketekunan mengaji, dan khidmat kepada kiai.
Sebab boleh jadi, justru dari kesederhanaan itulah pesantren tempo dulu membentuk manusia-manusia besar.
(*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.














