Beranda Kajian Status Hukum Nikah dengan Catin Pezina (Tinjauan Fiqih Islam)

Status Hukum Nikah dengan Catin Pezina (Tinjauan Fiqih Islam)

480
0
Oleh; Budi Ali Hidayat (Penulis Buku/Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Cimahi)

Di kalangan sahabat dan fuqaha berselisih pendapat dalam masalahย  pernikahanย  wanita pezina, Jumhur fuqaha membolehkannya sedangkan fuqaha yang lain ada yang mengharamkan mutlak, ada yang membolehkan dengan syarat bertaubat, silang pendapat ini disebabkan oleh adanya mafhum ayat 3 dalam Surat An Nur ayat 3, Firman Allah Taโ€™ala :

ุงู„ุฒู‘ูŽุงู†ููŠ ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ูƒูุญู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฒูŽุงู†ููŠูŽุฉู‹ ุฃูŽูˆู’ ู…ูุดู’ุฑููƒูŽุฉู‹ ูˆูŽุงู„ุฒู‘ูŽุงู†ููŠูŽุฉู ู„ูŽุง ูŠูŽู†ู’ูƒูุญูู‡ูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฒูŽุงู†ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูุดู’ุฑููƒูŒ ูˆูŽุญูุฑู‘ูู…ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ

Artinya

โ€œLaki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukminโ€ (QS. An Nur : 3).

Apakah ayat ini sebagai celaan ataukah sebagai pengharaman (tahrim) ? Dan apakah isim isyarat dalam kalimat ayat ูˆูŽุญูุฑู‘ูู…ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ., kembali kepada zina ataukah pernikahan ? Dalam mengartikan ayat diatas adalah sebagai celaan, bukan sebagai pengharaman, jumhur fuqaha beralasan dengan sebuah hadits sebagai berikut:

ุฃู† ุฑุฌู„ุงู‹ ู‚ุงู„ ู„ู„ู†ุจูŠ ููŠ ุฒูˆุฌุชู‡ ุฃู†ู‡ุง ู„ุง ุชุฑุฏ ูŠุฏ ู„ุงู…ุณ. ูู‚ุงู„ ู„ู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู…: ยซุทู„ู‚ู‡ุงยปุŒ ูู‚ุงู„ ู„ู‡ ุฅู†ูŠ ุฃุญุจู‡ุง. ูู‚ุงู„ ู„ู‡: ยซูุฃูŽู…ู’ุณููƒู’ู‡ุงยป ูˆู‚ุงู„ ู‚ูˆู… ุฃูŠุถุงู‹: ุฅู† ุงู„ุฒู†ุง ูŠูุณุฎ ุงู„ู†ูƒุงุญ ุจู†ุงุก ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุงู„ุฃุตู„

Artinya

โ€œSesungguhnya seorang pria mengadu kepada Rasulullah tentang masalah istrinya bahwa ia tidak pernah menolak orang yang menyentuhnya, maka, berkatalah nabi saw., kepadanya ; ceraikanlah ia. Lalu menjawab pria itu kepada Rasulullah saw., Sesungguhnya aku ini masih mencintainya. Maka Rasulullah berkata kepadanya : Maka peganglah diaโ€ย 

Segolongan fuqaha lagi yakni al Hasan berpendapat, bahwa berdasarkan aturan pokok tersebut, zina dapat menyebabkan fasakhnya perkawinan.[1]

Imam Nawawi menjelaskan tentang perselisihan pendapat dikalangan sahabat;

Pertama haram mutlak menikah dengan wanita pezina, pendapat ini diriwayatkan dari Saidina Ali, Al Barra, dan Aisyah radliyallohu anhum. Pendapat pertama ini sebab melihatย  mafhum Firman Allah SWT dalam Surat An Nur ayat 3 dan sebuah hadits martsab bin martsab al ganawi

Kedua haram jika belum bertaubat, pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu Masโ€™ud, Jabir bin Abdullah, Qatadah, Ibnu Musayyab dan Saโ€™id bin Jabir yakni, penegasan haram menikah dengan wanita pezina. Jika belum bertaubat sebagaimanaย  dalam sebuah Haditsย  Sabda Rasulullah saw : (Artinya) tidak menjadi haram suatu yang haram apabila sudah menjadi halal,โ€[2]

Ketiga diperbolehkan menikah dengan perempuan pezina, pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar dan Ibnu Abbas radliyallohu anhum. Pendapat ini adalah pendapat Mayoritas Fuqaha (empat mazhab).

Namun diantara fuqaha yang membolehkan menikah berselisih tentang pensyaratan pernikahannya wanitaย  pezinaย ย  :

Pertamaย  WAJIB IDDAH

Pendapat ini dikutif dari Imam Hasan Bashry, An Nakhai, Imam Malik, Imam Ahmad Ats Tsaury dan Ishaq bin Rahawaih. Halย  ini mengambil keumuman firman Allah Azza wa Jalla QS. Ath Thalaq ayat 4. Dan hadits Abu Saโ€™id al Khudry tentang tawanan Authas, Hadits Ruwaifi bin Tsabit dan Hadits Abu Dardaโ€™.

Kedua TIDAK ADA IDDAH

Pendapat ini dikutif dari Imam Syafiโ€™I dan Imam Hanafi akan tetapi ada perbedaan diantara keduanya yaitu :

  • Menurut Imam Syafiโ€™I pengantin pria boleh menikah dengan perempuan pezina dan boleh berjimaโ€™ dengannya setelah akad nikah baik sedang hamil atau belum, baik pengantin pria itu yang menzinahinya atau selainnya. Dan, setelah melahirkan tidak ada pernikahan ulang.
  • Menurut Imam Hanafi pengantin pria yang menzinahi perempuan baik hamil atau belum, sah akad nikahnya dan boleh berjima, akan tetapi khusus bagi pengantin pria yang bukan menzinahinya, sah melakukan akad nikah tetapi tidak boleh berjimaโ€™ย  sampai istibraโ€™.,ย  Apabila belum tampak janin dalam rahim maka menunggu hingga tiga kali haid. sama dengan iddah thalak. Adapun bagi yang sudah tampak janin dalam rahim maka ber istibra hingga melahirkan. Dan tidak ada pernikahan ulang.

Fiqih Indonesia (Kompilasi Hukum Islam Inpres No. 1 tahun 1991)

Pendapat keempat ini sesuai yang dipegang hasil konsesus ijma Ulama di Indonesia dan pegangan para Penghulu Nikah dan Hakim di Pengadilan Agama sebagai Fiqih Islam Produk Ulama Indonesia.ย  Kompilasi Hukum Islam BAB VIII, KAWIN HAMIL Pasal 53 :

  • Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
  • Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
  • Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

Dalam suatu situasi dan kondisi yang berkembang di masyarakat sebagai perwujudan metode Khuruj Minal Khilaf ada pengecualian dalam hal Catin pria yang bukan pezina haram menikah dengan : catin wanita pezina yang terkena HIV/AIDS/penyakit kelamin, terkecuali dengan yang menghamilinya.

Sumber Rujukan

  1. Hasyiyah banani, Juz. 1/298, Manahilul Irfan, juz.1/396, Syarah Jalalul mahali, Ushul Fiqih Hasyiyah banani, Juz. 1/298
  2. Falsafah Hukum Islam, M Hasbi Ash Shiddieqy, hal. 373
  3. Bidayatul Mujtahid, juz. 2/5

ูˆุงุฎุชู„ููˆุง ููŠ ุฒูˆุงุฌ ุงู„ุฒุงู†ูŠุฉุŒ ูุฃุฌุงุฒ ู‡ุฐุง ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑุŒ ูˆู…ู†ุนู‡ุง ู‚ูˆู… ูˆุณุจุจ ุงุฎุชู„ุงูู‡ู…: ุงุฎุชู„ุงูู‡ู… ููŠ ู…ูู‡ูˆู… ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: { ูˆุงู„ุฒุงู†ูŠุฉู ู„ุง ูŠูŽู†ู’ูƒูุญูู‡ูŽุง ุฅู„ุง ุฒุงู†ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูุดู’ุฑููƒูŒุŒ ูˆุญูุฑูู‘ู…ูŽ ุฐู„ูƒูŽ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู†ูŽ } ู‡ู„ ุฎุฑุฌ ู…ูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽ ุงู„ุฐู…ูู‘ ุฃูˆ ู…ุฎุฑุฌ ุงู„ุชุญุฑูŠู…ุŸ ูˆู‡ู„ ุงู„ุฅุดุงุฑุฉ ููŠ ู‚ูˆู„ู‡: { ูˆุญูุฑูู‘ู…ูŽ ุฐู„ูƒูŽ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู†ูŽ } ุฅู„ู‰ ุงู„ุฒู†ุง ุฃูˆ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ูƒุงุญุŸ ูˆุฅู†ู…ุง ุตุงุฑ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ู„ุญู…ู„ ุงู„ุขูŠุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุฐู… ู„ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุชุญุฑูŠู… ู„ู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ยซุฃู† ุฑุฌู„ุงู‹ ู‚ุงู„ ู„ู„ู†ุจูŠ ููŠ ุฒูˆุฌุชู‡ ุฃู†ู‡ุง ู„ุง ุชุฑุฏ ูŠุฏ ู„ุงู…ุณ. ูู‚ุงู„ ู„ู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู…: ยซุทู„ู‚ู‡ุงยปุŒ ูู‚ุงู„ ู„ู‡ ุฅู†ูŠ ุฃุญุจู‡ุง. ูู‚ุงู„ ู„ู‡: ยซูุฃูŽู…ู’ุณููƒู’ู‡ุงยป ูˆู‚ุงู„ ู‚ูˆู… ุฃูŠุถุงู‹: ุฅู† ุงู„ุฒู†ุง

ูŠูุณุฎ ุงู„ู†ูƒุงุญ ุจู†ุงุก ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุงู„ุฃุตู„. ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุงู„ุญุณู† : ูˆุฃู…ุง ุฒูˆุงุฌ ุงู„ู…ูู„ุงุนูู†ุฉ ู…ู† ุฒูˆุฌู‡ุง ุงู„ู…ู„ุงุนูู†ู ูุณู†ุฐูƒุฑู‡ุง ููŠ ูƒุชุงุจ ุงู„ู„ุนุงู†.

  1. Majmu Syarah Muhadzab, Juz.17/383

ูุนู† ุนู„ูŠ ุจู† ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจ : ยซุงู†ู‡ุง ุญุฑู…ุช ุนู„ูŠู‡ ุฃุจุฏุงู‹ุŒ ูˆู„ุง ูŠุชุฒูˆุฌู‡ุง ุจุญุงู„ยป.ูˆุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ : ยซุฃูˆู„ู‡ ุณูุงุญ ูˆุขุฎุฑู‡ ู†ูƒุงุญุŒ ูˆุฃูˆู„ู‡ ุญุฑุงู… ูˆุขุฎุฑู‡ ุญู„ุงู„ยป.ูˆุนู† ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ : ยซู‡ู…ุง ุฒุงู†ูŠุงู†ยป ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ: ยซุฅุฐุง ุชุงุจุง ูˆุฃุตู„ุญุงุŒ ู„ู‡ ุฃู† ูŠุชุฒูˆุฌู‡ุงยป.ูˆุนู† ุนุงุฆุดุฉ : ยซู„ุง ูŠุฒุงู„ุงู† ุฒุงู†ูŠู€ู€ู€ู€ูŠู† ู…ุง ุงุฌุชู…ุนุงยป.ูˆู…ู†ู‡ู… ู…ู† ู‚ุงู„: ยซูŠุญู„ู‘ ู„ู‡ ุฃู† ูŠุชุฒูˆุฌู‡ุงยป.ูˆุนู† ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡: ยซู„ู… ูŠุญุฑู‘ู… ุนู„ูŠู‡ ู†ูƒุงุญู‡ุงยป ูˆู‚ุงู„: ยซู…ุง ู…ู† ุชูˆุจุฉ ุฃูุถู„ ู…ู† ุฃู† ูŠุชุฒูˆูŽู‘ุฌู‡ุงยป.ูˆุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ : ยซุฃูˆู„ู‡ ุญุฑุงู… ูˆุขุฎุฑู‡ ุญู„ุงู„ยป.ูˆุนู† ุฌุงุจุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุŒ ูˆู‚ุชุงุฏุฉ ุŒ ูˆุงุจู† ุงู„ู…ุณูŠุจ ุŒ ูˆุณุนูŠุฏ ุจู† ุฌุจูŠุฑ : ยซู„ุง ุจุฃุณ ุฅุฐุง ุชุงุจุง ูˆุฃุตู„ุญุง ูˆูƒุฑู‡ุง ู…ุง ูƒุงู†ยป.ูˆุนู† ุนู…ุฑ : ููŠ ุบู„ุงู… ูุฌุฑ ุจุงู„ุฌุงุฑูŠุฉ ูˆุธู‡ุฑ ุจู‡ุง ุญู…ู„ุŒ ูุฌู„ุฏู‡ู…ุง ุงู„ุญุฏูŽู‘ ูˆุญุฑุต ุฃู† ูŠุฌู…ุน ุจูŠู†ู‡ู…ุง.ูˆุนู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนู…ุฑ : ูˆู‚ุฏ ุธู‡ุฑ ุจุฃู…ุฉู ุญู…ู„ุŒ ูˆุงุชู‘ู‡ู… ุจู‡ุง ุงู„ุบู„ุงู…ุŒ ูุฌู„ุฏู‡ ูˆุฒูˆูŽู‘ุฌู‡ ุจู‡ุง.ูˆู‚ุงู„ ุฃุญู…ุฏ ูˆุฅุณุญุงู‚ : ุฅู† ุชุงุจุง ู…ู† ุงู„ุฒู†ุง ุญู„ู‘ ู„ู‡ ุฃู† ูŠุชุฒูˆู‘ุฌู‡ุงูุนู† ุนู„ูŠ ุจู† ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจ : ยซุงู†ู‡ุง ุญุฑู…ุช ุนู„ูŠู‡ ุฃุจุฏุงู‹ุŒ ูˆู„ุง ูŠุชุฒูˆุฌู‡ุง ุจุญุงู„ยป

Dari Saidina Ali bin Abi Thalib : bahwasanya diharamkan selamanyaย  dan menikah dengan wanita pezina. Dari Ibnu Abbas : awalnya pelacur dan diakhiri dengan nikah, awalnya haram dan diakhiri kehalalan. Dari Ibnu Masโ€™ud : mereka berzina (dalam suatu riwayat), namun, jika mereka bertaubat dan memperbaiki akhlaknya sah menikahinya. Dari Aisah ra : mereka senantiasa berzina, maka jangan dikumpulkan (dinikahkan) apabila melakukan persetubuhan (sehingga orang-orang disekitarnyaย  mengatakan : halal menikah dengan wanita pezina. Dari Abu Bakar ra : tidak diharamkan menikah dengan wanita pezina, (beliau mengatakan lagi) perbuatan taubat lebih utama daripada seseorang g menikah dengan wanita pezina.Dari Jabir bin Abdullah, Qatadah, Ibnu Musayyab dan Saโ€™id bin Jabir : tidak mengapa bagi pria dan wanita pezina menikah jika mereka bertaubat dan memperbaiki akhlaknya tetapi makruh perbuatan tersebut. Dari Umar :ย  jika tampak kelahiran bayi, maka, jilid mereka berdua kemudian asingkan dan nikahkan diantara mereka.Dari Abdullah bin umar : jika sudah tampak kehamilan dan kelahiran bayi, maka rajamlah lalu nikahkan mereka.Berkata Ahmad dan Ishaq : jika mereka bertaubat dari zina maka halal menikah. Dari Jabir bin Abdullah dan Qatadah, Ibnu Musayyab,dan Said Jabir. Tidak mengapa jika mereka bertaubat dan melakukan perbaikan. Namun tercela jika menikah.

  1. Tafsir Thabari, juz18/55, Tafsir Ibnu Kasir, juz. 6/7 , Tafsir Qutubi, 12/167, Tamhid, ibnu abdil bar, qurthubi, juz 15/13, Sunan Turmudzi juz7/176, Sunan Abu Daud juz. 9/19, Sunan Baihaqi juz.10.383

ุญุฏุซู†ุง ู…ู€ุญู…ุฏ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุฃุนู„ู€ู‰ุŒ ู‚ุงู„: ุซู†ุง ุงู„ู€ู…ุนุชู€ู…ุฑุŒ ุนู† ุฃุจู€ูŠู‡ุŒ ู‚ุงู„: ุซู†ู€ูŠ ุงู„ู€ุญุถุฑู…ูŠู‘ุŒ ุนู† ุงู„ู‚ุงุณู… ุจู† ู…ู€ุญู…ุฏุŒ ุนู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนู…ุฑูˆ: ุฃู† ุฑุฌู„ุงู‹ ู…ู† ุงู„ู€ู…ุณู„ู€ู…ูŠู† ุงุณุชุฃุฐู† ู†ุจู€ูŠู‘ ุงู„ู„ู‡ ูู€ูŠ ุงู…ุฑุฃุฉ ูŠู‚ุงู„ ู„ู‡ุง ุฃู…ู‘ ู…ู‡ุฒูˆู„ุŒ ูƒุงู†ุช ุชุณุงูุญ ุงู„ุฑุฌู„ ูˆุชุดุชุฑุท ู„ู‡ ุฃู† ุชู†ูู‚ ุนู„ู€ูŠู‡ุŒ ูˆุฃู†ู‡ ุงุณุชุฃุฐู† ูู€ูŠู‡ุง ู†ุจู€ูŠู‘ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ูˆุฐูƒุฑ ู„ู‡ ุฃู…ุฑู‡ุงุŒ ู‚ุงู„: ูู‚ุฑุฃ ู†ุจู€ูŠู‘ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู…: ุงู„ุฒูŽู‘ุงู†ูู€ูŠูŽุฉู ู„ุง ูŠูŽู†ู’ูƒูุญูู‡ุง ุฅู„ุงูŽู‘ ุฒูŽุงู†ู ุฃูˆู’ ู…ูุดู’ุฑููƒูŒ ุฃูˆ ู‚ุงู„: ูุฃู†ุฒู„ุช ุงู„ุฒุงู†ู€ูŠุฉ.

Dan dalam hadits Amr bin Syuaib dab ayahnya dari kakeknya Abdullah bin Amr bin Ash beliau berkata : Sesungguhnya Martsab bin Abi Martsab al Ghanawy membawa tawanan perang dari Mekkah dan di Mekkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan nama Anaq dan ia adalah teman Martsab. Ia berkata : Maka saya datang kepada Nabi saw., lalu saya berkata : Wahai Rasulullah, saya nikahi Anaq ? Martsab berkata : Maka beliau diam, maka turunlah ayat dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik:, kemudian beliau memanggilku lalu mebacakannya padaku dan beliau bersabda : jangan kamu nikahi diaโ€,

  1. Majmu Syarah Muhadzab, Juz. 17/242

ูˆุฑูˆุช ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง: ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ุณูุฆูู„ ุนู† ุฑุฌู„ู ุฒูŽู†ู‰ ุจุงู…ุฑุฃุฉู ูุฃุฑุงุฏูŽ ุฃู† ูŠุชุฒูˆูŽู‘ุฌู‡ุง ุฃูˆ ุงุจู†ุชู‡ุง ูู‚ุงู„: ยซู„ุง ูŠุญุฑู… ุงู„ุญุฑุงู…ู ุงู„ุญู„ุงู„ูŽ ุฅู†ู…ุง ูŠุญุฑู… ู…ุง ูƒุงู†ูŽ ุจู†ูƒุงุญยป

hadits yang datang dari Aisyah ra : bahwasanya Nabi saw., ditanya tentang laki-laki berzina dengan perempuan terus bermaksud ingin menikahinya serta anak putrinya perempuan tersebut. Menjawab Rasulullah saw : tidak menjadi haram suatu yang haram apabila sudah menjadi halal,

Kifayatul Akhyar juz.1/563, Hasyiyah Bujairami alal khatib, Nihayatul Muhtaj ala Syarhil Minhaz juz. 7/126, Raudlatul Tholibin wa Umdatul Muftin, Juz. 7/360< majmu Syarah Muhadza, juz.16.242ย  ;

ู„ูˆ ู†ูƒุญ ุดุฎุต ุงู…ุฑุฃุฉ ุญุงู…ู„ุงู‹ ู…ู† ุงู„ุฒู†ุง ุตุญ ู†ูƒุงุญู‡ ุจู„ุง ุฎู„ุงู

Jika seseorang menikah dengan perempuan pezina dalam keadaan hamil, maka, sah nikahnya tanpa ada perbedaan pendapat.

:ู‚ุงู„ ุงู„ู…ุตู†ู‘ู ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: (ูˆุฅู† ุฒูŽู†ู‰ ุจุงู…ุฑุฃุฉู ู„ู… ูŠุญุฑูŽู‘ู… ุนู„ูŠู‡ ู†ูƒุงุญูู‡ุง ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: {ูˆุฃูุญู„ ู„ูƒู… ู…ุง ูˆุฑุงุก ุฐู„ูƒู…}

Berkata Imam Nawawi ra : jika seseorang berzina dengan perempuan maka tidak menjadi haram menikahinya. Sebab teks ayat : {ูˆุฃูุญู„ ู„ูƒู… ู…ุง ูˆุฑุงุก ุฐู„ูƒู…}

  1. Majmu Syarah Muhadzab, Juz.16/242

(ูุฑุน) ุฅุฐุง ุฒู†ุช ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู„ู… ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุนุฏุฉุŒ ุณูˆุงุก ูƒุงู†ุช ุญุงุฆู„ุง ุฃูˆ ุญุงู…ู„ุงุŒ ูุฅู† ูƒุงู†ุช ุญุงุฆู„ุง ุฌุงุฒ ู„ู„ุฒุงู†ูŠ ูˆู„ุบูŠุฑู‡ ุนู‚ุฏ ุงู„ู†ูƒุงุญ ุนู„ูŠู‡ุง ูˆุฅู† ุญู…ู„ุช ู…ู† ุงู„ุฒู†ุง ููŠูƒุฑู‡.ู†ูƒุงุญู‡ุง ู‚ุจู„ ูˆุถุน ุงู„ุญู…ู„ุŒ ูˆู‡ูˆ ุฃุญุฏ ุงู„ุฑูˆุงูŠุชูŠู† ุนู† ุฃุจู‰ ุญู†ูŠูู‡ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูˆุฐู‡ุจ ุฑุจูŠุนู‡ ูˆู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุซูˆุฑูŠ ูˆุฃุญู…ุฏ ูˆุฅุณุญุงู‚ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู… ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฒุงู†ูŠู‡ ูŠู„ุฒู…ู‡ุง ุงู„ุนุฏุฉ ูƒุงู„ู…ูˆุทูˆุกุฉ ุจุดุจู‡ู‡ุŒ ูุฅู† ูƒุงู†ุช ุญุงุฆู„ุง ุงุนุชุฏุช ุซู„ุงุซู‡ ุฃู‚ุฑุงุกุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ุญุงู…ู„ุงุงุนุชุฏุช ุจูˆุถุน ุงู„ุญู…ู„ุŒ ูˆู„ุง ูŠุตุญ ู†ูƒุงุญู‡ุง ู‚ุจู„ ูˆุถุน ุงู„ุญู…ู„.ู‚ุงู„ ู…ุงู„ูƒ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡: ุฅุฐุง ุชุฒูˆุฌ ุงู…ุฑุฃุฉ ูˆู„ู… ูŠุนู„ู… ุฃู†ู‡ุง ุฒุงู†ูŠู‡ ุซู… ุนู„ู… ุฃู†ู‡ุง ุญุงู…ู„ ู…ู† ุฒู†ุง ูุฅู†ู‡ ูŠูุงุฑู‚ู‡ุงุŒ ูุฅู† ูƒุงู† ู‚ุฏ ูˆุทุฆู‡ุง ู„ุฒู…ู‡ ู…ู‡ุฑ ุงู„ู…ุซู„.ูˆู‚ุงู„ ุฑุจูŠุนู‡: ูŠูุงุฑู‚ู‡ุง ูˆู„ุง ู…ู‡ุฑ ุนู„ูŠู‡.ูˆุฐู‡ุจ ุงุจู† ุณูŠุฑูŠู† ูˆุฃุจูˆ ูŠูˆุณู ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ุง ุงู† ูƒุงู†ุช ุญุงุฆู„ุง ูู„ุง ุนุฏุฉ ุนู„ูŠู‡ุงุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ุญุงู…ู„ุง ู„ู… ูŠุตุญ ุนู‚ุฏ ุงู„ู†ูƒุงุญ ุนู„ูŠู‡ุง ุญุชู‰ ุชุถุน ูˆู‡ู‰ ุงู„ุฑูˆุงูŠุฉ ุงู„ุงุฎุฑู‰ ุนู† ุฃุจู‰ ุญู†ูŠูู‡.ุฏู„ูŠู„ู†ุง ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ (ูˆุฃุญู„ ู„ูƒู… ู…ุง ูˆุฑุงุก ุฐู„ูƒู…) ูˆู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… (ู„ุง ูŠุญุฑู… ุงู„ุญุฑุงู… ุงู„ุญู„ุงู„) ูˆุงู„ุนู‚ุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ุฒุงู†ูŠู‡ ูƒุงู† ุญู„ุงู„ุง ู‚ุจู„ ุงู„ุฒู†ุง ูˆู‚ุจู„ ุงู„ุญู…ู„ ูู„ุง ูŠุญุฑู…ู‡ ุงู„ุฒู†ุง.ูˆุฑูˆู‰ ุฃู† ุฑุฌู„ุง ูƒุงู† ู„ู‡ ุงุจู† ุชุฒูˆุฌ ุงู…ุฑุฃุฉ ู„ู‡ุง ุงุจู†ุฉ ููุฌุฑ ุงู„ุบู„ุงู… ุจุงู„ุตุจูŠู‡ุŒ ูุณุฃู„ู‡ู…ุง ุนู…ุฑ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูุฃู‚ุฑุง ูุฌู„ุฏู‡ู…ุง ูˆุญุฑุต ุฃู† ูŠุฌู…ุน ุจูŠู†ู‡ู…ุง ุจุงู„ู†ูƒุงุญ ูุฃุจู‰ ุงู„ุบู„ุงู… ูˆู„ู… ูŠุฑ ุนู…ุฑ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุงู†ู‚ุถุงุก ุงู„ุนุฏุฉุŒ ูˆู„ู… ูŠู†ูƒุฑ ุนู„ูŠู‡ ุฃุญุฏุŒ ูุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ุงุฌู…ุงุน ูˆู„ุงู†ู‡ ูˆุทุฆ ู„ุง ูŠู„ุญู‚ ุจู‡ ุงู„ู†ุณุจุŒ ุฃูˆ ุญู…ู„ ู„ุง ูŠู„ุญู‚ ุจุฃุญุฏ ูู„ู… ูŠู…ู†ุน ุตุญุฉ ุงู„ู†ูƒุงุญ ูƒู…ุง ู„ูˆ ู„ู… ูŠูˆุฌุฏ.

  1. Ibid, 16/242

:ู‚ุงู„ ุงู„ู…ุตู†ู‘ู ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: (ูˆุฅู† ุฒูŽู†ู‰ ุจุงู…ุฑุฃุฉู ู„ู… ูŠุญุฑูŽู‘ู… ุนู„ูŠู‡ ู†ูƒุงุญูู‡ุง ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: {ูˆุฃูุญู„ ู„ูƒู… ู…ุง ูˆุฑุงุก ุฐู„ูƒู…} ูˆุฑูˆุช ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง: ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ุณูุฆูู„ ุนู† ุฑุฌู„ู ุฒูŽู†ู‰ ุจุงู…ุฑุฃุฉู ูุฃุฑุงุฏูŽ ุฃู† ูŠุชุฒูˆูŽู‘ุฌู‡ุง ุฃูˆ ุงุจู†ุชู‡ุง ูู‚ุงู„: ยซู„ุง ูŠุญุฑู… ุงู„ุญุฑุงู…ู ุงู„ุญู„ุงู„ูŽ ุฅู†ู…ุง ูŠุญุฑู… ู…ุง ูƒุงู†ูŽ ุจู†ูƒุงุญยปูˆู„ุง ุชุญุฑูŽู‘ู…ู ุจุงู„ุฒู†ุง ุฃู…ูู‡ุง ูˆู„ุง ุงุจู†ุชู‡ุงุŒ ูˆู„ุง ุชุญุฑู…ู ู‡ูŠ ุนู„ู‰ ุงุจู†ู‡ ูˆู„ุง ุนู„ู‰ ุฃุจูŠู‡ ู„ู„ุขูŠุฉู ูˆุงู„ุฎุจุฑูุŒ ูˆู„ุฃู†ู‡ ู…ุนู†ู‰ ู„ุง ุชุตูŠุฑู ุงู„ู…ุฑุฃุฉู ูุฑุงุดุงู‹ ูู„ู… ูŠุชุนู„ูŽู‘ู‚ู‘ ุจู‡ ุชุญุฑูŠู…ู ุงู„ู…ุตุงู‡ุฑุฉู ูƒุงู„ู…ุจุงุดุฑุฉ ุจุบูŠุฑ ุดู‡ูˆุฉ.ูˆุฅู† ู„ุงุทูŽ ุจุบู„ุงู…ู ู„ู… ุชุญุฑูŽู‘ู…ู’ ุนู„ูŠู‡ ุฃูู…ู‡ ูˆุงุจู†ุชูู‡ู ู„ู„ุขูŠุฉ ูˆุงู„ุฎุจุฑุŒ ูˆุฅู† ุฒู†ุง ุจุงู…ุฑุฃุฉู ูุฃุชุช ู…ู†ู‡ ุจุงุจู†ุฉูุŒ ูู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: ุฃูƒุฑู‡ู ุฃู† ูŠุชุฒูˆูŽู‘ุฌูŽู‡ุงุŒ ูุฅู† ุชุฒูˆูŽู‘ุฌูŽู‡ุง ู„ู…

ุฃูุณุฎู’.ูู…ู† ุฃุตุญุงุจู†ุง ู…ู† ู‚ุงู„: ุฅู†ู…ุง ูƒูŽุฑูู‡ูŽ ุฎูˆูุงู‹ ู…ู† ุฃู† ุชูƒูˆู†ูŽ ู…ู†ู‡ุŒ ูุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุฅู† ุนู„ู…ูŽ ู‚ุทุนุงู‹ ุฃู†ู‡ุง ู…ู†ู‡ ุจุฃู† ุฃุฎุจุฑู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ููŠ ุฒู…ุงู†ู‡ู ู„ู… ุชูŽุญูู„ูŽู‘ ู„ู‡.ูˆู…ู†ู‡ู… ู…ู† ู‚ุงู„: ุฅู†ู…ุง ูƒุฑูู‡ูŽ ู„ูŠุฎุฑูุฌูŽ ู…ู† ุงู„ุฎู„ุงู ู„ุฃู† ุฃุจุง ุญู†ูŠูุฉ ูŠุญุฑูู‘ู…ูู‡ุง. ูุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ู„ูˆ ุชุญู‚ูŽู‘ู‚ูŽ ุฃู†ู‡ุง ู…ู†ู‡ ู„ู… ุชุญุฑู‘ู… ูˆู‡ูˆ ุงู„ุตุญูŠุญ ู„ุฃู†ู‡ุง ูˆู„ุงุฏุฉูŒ ู„ุง ูŠุชุนู„ูŽู‘ู‚ู ุจู‡ุง ุซุจูˆุชู ุงู„ู†ุณุจู ูู„ู… ูŠุชุนู„ูŽู‘ู‚ู’ ุจู‡ุง ุงู„ุชุญุฑูŠู… ูƒุงู„ูˆู„ุงุฏุฉ ู„ู…ุง ุฏูˆู†ูŽ ุณุชุฉู ุฃุดู‡ุฑู ู…ู† ูˆู‚ุช ุงู„ุฒู†ุง. ูˆุงุฎุชู„ููŽ ุฃุตุญุงุจูู†ุง ููŠ ุงู„ู…ู†ููŠุฉ ุจุงู„ู„ุนุงู†:ูู…ู†ู‡ู… ู…ู† ู‚ุงู„: ูŠุฌูˆุฒู ู„ู„ู…ู„ุงุนู†ู ู†ูƒุงุญูู‡ุง ู„ุฃู†ู‡ุง ู…ู†ููŠุฉูŒ ุนู†ู‡ุŒ ูู‡ูŠ ูƒุงู„ุจู†ุชู ู…ู† ุงู„ุฒูู‘ู†ุง.ูˆู…ู†ู‡ู… ู…ู† ู‚ุงู„: ู„ุง ูŠุฌูˆุฒู ู„ู„ู…ู„ุงุนู†ู ู†ูƒุงุญูู‡ุง ู„ุฃู†ู‡ุง ุบูŠุฑู ู…ู†ููŠุฉู ุนู†ู‡ ู‚ุทุนุงู‹ุŒ ูˆู„ู‡ุฐุง ู„ูˆ ุฃู‚ุฑูŽู‘ ุจู‡ุง ุซุจุชูŽ ุงู„ู†ุณุจู).ุงู„ุดุฑุญ:ุญุฏูŠุซ ุนุงุฆุดุฉ: ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ุณูุฆูู„ ุนู† ุฑุฌู„ู ุฒู†ู‰ ุจุงู…ุฑุฃุฉู ูุฃุฑุงุฏ ุฃู† ูŠุชุฒูˆุฌู‡ุง ุฃูˆ ุงุจู†ุชู‡ุง ูู‚ุงู„: ยซู„ุง ูŠูุญุฑูู‘ู…ู ุงู„ุญุฑุงู…ู ุงู„ุญู„ุงู„ูŽยป ุฃุฎุฑุฌู‡ ุงุจู† ู…ุงุฌู‡ ูˆุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ ู…ู† ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ุนู…ุฑุŒ ูˆููŠ ุฅุณู†ุงุฏู‡: ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุนู…ุฑ ูˆู‡ูˆ ุถุนูŠู.ูˆุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ ููŠ ุงู„ุณู†ู† ุงู„ูƒุจุฑู‰ ูˆู‚ุงู„: ุชูุฑุฏ ุจู‡ ุนุซู…ุงู† ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ูˆู‚ุงุตูŠ ูˆู‡ูˆ ุถุนูŠูุŒ ู‚ุงู„ู‡ ูŠุญูŠู€ู€ู€ู€ู‰ ุจู† ู…ุนูŠู†ุŒ ูˆุงู„ุตุญูŠุญ: ุนู† ุงุจู† ุดู‡ุงุจ ุงู„ุฒู‡ุฑูŠุŒ ุนู† ุนู„ูŠ ู…ุฑุณู„ุงู‹ ูˆู…ูˆู‚ูˆูุงู‹ ุนู†ู‡. ูˆุฃุฎุฑุฌู‡ ุงู„ุฏุงุฑู‚ุทู†ูŠ ู…ู† ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ุนู…ุฑุŒ ูˆุนุงุฆุดุฉ.ูƒุฑู‡ ุงู„ุฃุตุญุงุจ ู„ู„ุนููŠู ุฃู† ูŠุชุฒูˆุฌ ุฒุงู†ูŠุฉุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ู„ู„ุนููŠูุฉ ุฃู† ุชุชุฒูˆุฌ ุฒุงู†ูŠุงู‹ ู„ู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ู…ุชู‚ุฏู… ููŠ ุงู„ูุตูˆู„ ุงู„ู…ุงุถูŠุฉ: ยซูุนู„ูŠูƒูŽ ุจุฐุงุชู ุงู„ุฏูู‘ูŠู† ุชุฑุจูŽุชู’ ูŠุฏุงูƒยป

Berkata Imam Nawawi ra. Apabila seseorang berzina dengan perempuan maka, tidak menyebabkan haram ketika menikahinya sesuai firman Allah Taโ€™ala{ูˆุฃูุญู„ ู„ูƒู… ู…ุง ูˆุฑุงุก ุฐู„ูƒู…} ย : โ€œDihalalkan padamu selain ituโ€ hadits riwayatย  Aisyah ra : bahwasanya Nabi saw., ditanya tentang laki-laki berzina dengan perempuan terus bermaksud ingin menikahinya serta anak putrinya perempuan tersebut. Menjawab Rasulullah saw : tidak menjadi haram suatu yang haram apabila sudah menjadi halal, bahwasanya yang diharamkan itu perkara yang terjadi dalam pernikahan. Tidak menyebabkan haram disebabkan zina kepada ibu juga anak putrinya (wanita pezina tersebut). Juga sebaliknya karena sesuai ayat dan hadits tadi. Maksudnya perempuan tidak disebut satu ranjang yang belum ada keterikatan muhrim, perbesanan, seperti berpelukan tanpa syahwat. Jika melahirkan seorang anak bayi maka tidak menyebabkan haram baginya menikah dengan ibu serta anak putrinya sesuai ayat dan hadits tadi. Namun jika ada yang berzina dengan perempuan lalu (dalam berselang lama) perempuan tersebut datang dengan membawa bukti anak putrinya (hasil hubungannya dengan pria tersebut), Imam Syafiโ€™I berpendapat : makruh menikah dengan wanita tersebut namun, jika tetap menikah tidak menjadi fasakh. Golongan ashab berkata : bahwasanya kemakruhan dengan diliputi rasa ketakutan, maka atas inilah, jika mengetahui penolakan bahwasanya anak putri wanita tersebut darinya, disebabkan karena haditsย  Nabi saw pada jamanya maka tidak halal baginya. Dan dari golongan fuqaha yang lain berkata : bahwa yang dimaksud makruh agar keluar dari perbedaan pendapat. Sebab sesungguhnya Abu Hanifah mengharamkannya.ย ย ย 

ย Atas inilah jika membenarkan bahwa bayi yang lahir itu akibat darinya maka tidak diharamkan menikahinya inilah pendapat yang shahih. Karena anak yang dilahirkan wanita tersebut tidak ada keterikatan dalam nasab dan belum terikat dalam ikatan muhrim, sebagaimana melahirkan anak yang kurang dari enam bulam dari waktu perzinaan. Fuqaha sebagian mengatakan boleh menikah dengan anak perempuan karena liโ€™an dengan alasan terputus hubungan. Sebagaimana halnya hubungan dari hasil zina. Sebagian lagi haram karena bukan hubungan yang terputus . dan inilah jika mengulang maka tetaplah nasab.

Uraian hadits Aisyah : bahwa nabi saw., ditanya tentang seseorang berzina dengan perempuan kemudian mengadu pada beliau seraya ingin menikahinya atau menikah dengan anak putrinya. Tidak menjadi haram suatu yang haram apabila sudah menjadi halal. Hadits riwayat, Ibnu Majah, Baihaqi dari Ibnu Umar dalam sanadnya : Abdullah bun Umar : Hadits ini dhaif. Seperti petikan yang dikeluarkan oleh Imam Baihaqi dalam Kitab Sunan Baihaqi Al Kubra. Berkata : Usman bin Abdurrahman al Waqashi mengatakan dhaif . namun Yahya bin Muโ€™in hadits ini shahih. Dari Syihab Az Zuhri, dari Ali Hadits Mursal Mauquf. Petikan hadits Darul Quthni riwayat Ibnu Umar dan Aisyah. Sebagian Ashab ada yang menghukumi makruh menikah laki-laki baik dengan wanita pezina, begitu juga sebaliknya, karena sesuai dengan petikan hadits : Peganglah olehmu agama, karena ia akan menyelamatkanmu. โ€ฆโ€ฆโ€ฆโ€ฆโ€ฆโ€ฆโ€ฆโ€ฆโ€ฆโ€ฆ..

ย