Aktual

PWNU Jabar Gelar Istighosah Kebangsaan Peringati Hari Santri Nasional dan HUT RI ke-78

BANDUNG (Aswajanews.id) – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat menggelar Istighosah Kebangsaan dalam rangka memperingati HUT ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) sekaligus menyambut Hari Santri Nasional (HSN) pada 22 Oktober mendatang yang bertempat di Halaman Gedung Sate Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada Jumat (1/9/2023). Kegiatan tersebut dihadiri oleh 11 Kiai sepuh yang ada di Jawa Barat yakni KH M Nuh Addawami, KH Zamzami Amin, KH A Sarkosi Subki, KH Munawir Abdurrohim, KH Aceng Umar A’lam, KH Anis Mansyur Arsyad, KH Ubaidillah Ruhiat, KH Sofyan Yahya, Habib Syarif Alaydarus, KH Usfuri Ansori, dan KH A Chozin Chumaedy.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat KH Juhadi Muhammad mengatakan, kegiatan ini dalam rangka melaksanakan istighosah kebangsaan yang dipimpin oleh para Ulama dan sesepuh yang ada di Jawa Barat. Ia menyebut, Istigjosah kebangsaan memuat tiga makna penting dalam merefleksikan diri sebagai bangsa yang bermartabat.

Pertama, tafakur napak tilas mujahadah pejuang kemerdekaan.

Kiai Juhadi mengatakan, sejarah kemerdekaan tidak lepas dari peran santri dan ulama yang merupakan tokoh yang berdiri di garis terdepan melawan penjajah pada masa sebelum kemerdekaan di proklamirkan. Ia menjelaskan, para pejuang di masa penjajahan berjuang dengan senjata bambu runcing dan kerikil yang sudah di do’akan oleh para ulama.

Menurutnya, hal tersebut merupakan tirakat yang dilakukan oleh para ulama untuk menghadapi penjajah.

“Warga NU harus menjadi arus utama mengalirkan semangat mujahadah dengan meneladani semangat Mbah Hasyim Asy’ari dan para masayikh NU. Dan bagi NU, NKRI harga mati bukan hanya slogan tetapi layaknya nyala api semangat yang tak akan bisa dipadamkan oleh siapapun,” tegasnya.

Kedua, Tasyakur Nikmat Kemerdekaan.

“Hari ini kita hanya penikmat kemerdekaan. Kita tidak ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan pada masa penjajahan, kita bukan pejuang. Maka sepatutnya mari kita menghargai para pahlawan yang sudah rela menumpahkan darah mereka demi Indonesia yang merdeka dengan,”

Kiai yang juga pimpinan Pondok Pesantren Hidayatuttholibiin Indramayu tersebut mengatakan, sudah selayak kita, para penikmat kemerdekaan menghargai dan meneruskan perjuangan para pahlawan. “Jika dulu para pahlawan berjuang dengan mengangkat senjata, saat kita berjuang dengan menghargai dan menghormati  hasil jerih payah mereka,” jelasnya.

Ketiga, tadabbur rasa kebangsaan.

Kiai Juhadi mengutip tafsir Ruh al-Ma’ani menurut Syekh Syihabuddin Al-Lusi bahwa Tadabbur berarti memikirkan secara mendalam sesuatu urusan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Menurutnya, Syekh Syihabudin menyadarkan kita sebagai warga bangsa yang saat ini sudah merdeka 78 tahun untuk melakukan renungan mendalam, karena tantangan bagi bangsa yang merdeka itu sangat kompleks, baik tantangan di bidang pendidikan, ekonomi, politik, budaya dan juga ketahanan nasional.

“Saya mengajak kepada warga NU untuk tadabbur tentang identitas nasional yang kuat, tentang kedaulatan dan kemerdekaan, perjuangan dan pengorbanan, kebebasan berdemokrasi, pembangunan dan kemajuan, warisan budaya dan tentang jati diri NU sebagai pemersatu dalam Kebhinekaan,” tandasnya.

Sebagai informasi, kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat H Ajam Mustajam, Ketua MUI Jawa Barat KH Rahmat Syafei, Kapolda Jawa Barat, Pangdam III Siliwangi, Kajati, Rais Syuriah PWNU Jawa Barat KH Abun Bunyamin, dan ribuan Nahdliyin yang ada dilingkungan Jawa Barat. Selain itu, mauidzoh hasanah dibawakan oleh salah seorang Rais Syuriah PBNU KH M Mustofa Aqil Siradj. (Sumber : PWNU Jabar)