Opini

Perjalanan Berlatih Menjadi Jurnalis

Oleh : Akhmad Sururi (Sekretaris MWC NU Kec Wanasari Kab Brebes)

Keinginan menjadi jurnalis terbersit saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Untuk mewujudkan keinginan tersebut beberapa kali penulis mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren yang mendatangkan wartawan Jawa Pos, Surya dan fotografer. Penulis aktif sering bertanya seputar dunia jurnalistik saat itu. Setiap ada pelatihan jurnalistik hampir dipastikan mengikuti, sekalipun belum memulai menulis.

Sebagai bentuk kecintaan kepada dunia jurnalistik, penulis berlangganan koran harian dan majalah bulanan Aula. Setiap hari tidak lepas membaca koran terutama rubrik kolom yang di tulis oleh para kolumnis terkenal. Kalau ada kolom tentang tasawuf dan tema keagamaan dibuat kliping khusus satu bendel. Kliping tersebut tersimpan di kardus sampai dibawa ke rumah. Bahkan potongan tulisannya terkumpul dalam satu kardus besar.

Selepas tamat dari Pondok Pesantren tepatnya pertengahan tahun 2001, penulis pulang ke rumah. Sehingga keberlanjutan ketrampilan menulis tidak dilanjutkan. Seiring dengan kesibukan di sekolah akhirnya hampir tidak memiliki kesempatan untuk menulis. Namun pada tahun 2005, penulis diajak oleh seorang teman untuk bergabung dengan koran NU di Kab Tegal. Disela-sela waktu sekolah penulis sempatkan menulis untuk mengisi berita di koran Forga (Forum! Warga). Disamping berita juga menulis artikel singkat. Saat itu tulisannya masih sangat sederhana dan tersimpan di flashdisk.

Setelah koran Forga tutup, penulis kembali konsentrasi dalam dunia pendidikan. Bergelut di bidang pendidikan tidak menyurutkan keinginan untuk menulis. Obsesi untuk menjadi jurnalis terus menyala, walaupun hanya masih pada tataran keinginan yang belum dimulai dengan langkah tindakan menulis, Hal tesebut karena media untuk menulis tidak ada, dan terputus komunikasu dengan teman yang biasa menulis. Hanya mengagumi banyak penulis buku termasuk tulisannya Gus Dur, Emha Ainun Najib, Gus Mus dan Jalaluddin Rahmat. Bukunya banyak yang penulis koleksi.

Keinginan menjadi jurnalis terus diwujudkan dengan hobi membaca dan koleksi buku bacaan. Membeli buku buku memang sejak masih di Pesantren Lirboyo. Setiap mendapat kiriman uang pasti menyisihkan untuk membeli satu buku. Satu bulan minimal satu buku di tambah satu kitab. Buku dan kitab yang diminati saat itu adalah genre tasawwuf.

Hoby koleksi buku sampai sekarang, sehingga setiap mendapatkan rezki pasti membeli buku, adakalanya via online atau ke toko Gramedia. Saat penulis mengikuti kegiatan di luar kota singgah ke Gramedia untuk beli buku minimal satu. Judul yang dipilih tidak lepas dari tema pendidikan, keagamaan, motivasi dan politik. Empat tema tersebut yang sering menjadi bahan untuk mendukung dalam menulis.

Saat menjadi Sekretaris MWCNU Wanasari pertama sekitar tahun 2015, penulis mulai terpanggil kembali untuk menulis. Beberapa kegiatan MWCNU sering dituliskan berita dan dikirim kepada wartawan NU online untuk Wilayah Brebes. Beberapa kegiatan Lailatul Ijtma yang bergilir di ranting se Kec Wanasari penulis ekspos dalam berita di NU online bahkan sebagian pernah dimuat oleh koran Radar Tegal.

Selain menjadi pengurus MWCNU Wanasari, penulis juga menjadi bagian dari Pengurus Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes.  Melalui forum ini penulis terdorong untuk menulis tentang MDT (Madrasah Diniyah Takmiliyah).  Disinilah penulis memiliki semangat baru untuk banyak menulis tentang MDT melalui website milik DPW FKDT Jawa Tengah.

Setiap momentum dan kegiatan FKDT Jawa Tengah penulis membuat artikel dalam bentuk berita atau artikel lepas. Sebelum dipublish penulis mendiskusikan dengan beberapa teman yang memiliki kompetensi menulis. Beberapa tema sempat menjadi bahan diskusi saat pertemuan DPW FKDT Jawa Tengah. Tentu hal ini menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri bagi penulis karena gagasan dan pemikirannya mendapatkan apresiasi positif dari komunitas FKDT.

Menjadi jurnalis terus bergerak seiring dengan kegiatan FKDT dan MWCNU Wanasari yang sering penulis publish lewat beberapa medis online. Lebih dari itu penulis juga menjalin jejaring dengan komunitas jurnalis warga melalui program PPMN (Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara). Di lembaga ini penulis mendapatkan banyak pengetahuan tentang menulis artikel yang dimentori oleh beberapa ahli termasuk H. Bahrul Ulum.

Melalui H Bahrul Ulum, penulis banyak dibimbing untuk menjadi penulis. Banyak pelajaran dan pengamalan yang berharga selama mengikuti program yang dibawah oleh Beliau. Semakin menambah wawasan dan bertambah pengetahuan dan tertantang untuk lebih banyak menulis. Lebih lebih tulisan yang bertemakan sosial politik. Kebetulan PPMN bekerja sama dengan Perludem (Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi) dalam rangka meningkatkan partisipasi politik masyarakat. Melalui forum ini penulis bisa bertemu dan berdiskusi dengan pimred Radar Tegal yang menjadi Ketua KPUD Brebes.

Di saat yang sama penulis berkenalan dengan H Lukman Hakim, aktivis penulis Kompasiana dan penulis buku “Ngaji bareng Kang Kaji Subhan”. Penulis merasa terbimbing dan termotivasi untuk terus bergerak menjadi jurnalis. Dalam beberapa kesempatan Penulis diajak berkunjung silaturahmi dengan tokon intelektual di Brebes untuk mendapatkan pencerahan dan wawasan dunia tulis menulis khususnya tentang biografi tokoh agama. Dengan hal ini penulis tergerak untuk mencari buku tentang sejarah, termasuk buku karya Kuntowijoyo.

Bersama dengan H Lukman, penulis dihubungkan dengan media online aswajanews dan nu online. Penulis sering mengirim tulisan artikel dan berita tentang NU. Disela-sela menjalankan tugas di Madrasah saat istirahat penulis menyempatkan untuk menulis dan membaca. Karena keduanya menjadi satu paket modal untuk menjadi jurnalis. *(Red)

www.youtube.com/@anas-aswaja