Era tahun delapan puluhan banyak remaja yang hidup di masjid masjid kampung. Mereka tidur di masjid dan paginya sekolah. Setiap malam masjid tidak sepi dari remaja dan anak anak yang kadang sambil membawa buku pelajaran sekolah. Penulis sendiri termasuk menjadi bagian dari anak anak yang lebih banyak tidur di masjid saat masih sekolah SD sampai MTs.
Menurut penuturan cerita seorang teman ada beberapa bahkan banyak mungkin pejabat atau orang hebat saat ini dulu pada saat anak anak sering tidur di masjid. Mereka yang tidur dimasjid bisa karena senang kumpul dengan teman sebayanya, atau karena memang di rumahnya memiliki keterbatasan tempat tidur.
Saat ini pemandangan malam hari di masjid sudah tidak ada lagi remaja yang tidur atau membawa buku. Remaja masjid sudah tidak tampak lagi di masjid, kecuali pada saat tertentu misalnya peringatan hari besar Islam. Itupun mereka selesai acara langsung pulang ke rumah atau berpindah di area selain masjid.
Kemana sekarang remaja masjid? Hari ini di beberapa tempat ada papan Ikatan Remaja Masjid, akan tetapi remaja atau anak mudanya lebih banyak mencari tempat santai di Cafe atau tempat lainnya. Mereka saat ini sudah jauh dari masjid, karena memang dari sejak kecil kurang mendapatkan pendidikan untuk cinta masjid atau minimal diajak orang tuanya jamaah sholat wajib di masjid.
Oleh karena itu sesungguhnya program Masjid Ramah Anak ( MRA) sangat strategis untuk membangkitkan kembali rasa cinta masjid dengan menjadi masjid menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak anak. Tentu makna menyenangkan tidak diartikan sebagai hiburan akan tetapi masjid sebagai tempat yang nyaman dan senang untuk anak anak.
Kehadiran pemerintah dengan regulasi Program MRA menjadi landasan yang kuat untuk mengkampanyekan masjid ramah anak di masjid kota dan kampung. Meski secara sosiologis antara kota dan kampung berbeda, namun kehadiran MRA membangun kesadaran bersama untuk menjadikan anak anak cinta kepada masjid.
PD Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) DMI memiliki amanah struktural untuk bersama mewujudkan masjid ramah anak. Oleh karena itu ditangan PD PRIMA DMI implementasi MRA bisa dijalankan dengan menggandeng beberapa steakholder di daerah setempat termasuk dengan pemerintah daerah yang memiliki kepentingan mewujudkan Kabupaten layak anak.
Menghidupkan remaja masjid dengan melalui PD PRIMA DMI akan menjadi langkah nyata untuk mengembalikan remaja kita ke masjid dan cinta kepada masjid. Potensi pemuda dilingkungan masjid kita gerakan bersama, termasuk umur mewujudkan Masjid Ramah Anak. ***
Penulis : Akhmad Sururi Sekretaris PD DMI Kab Brebes)



















