Kyai Kampung merupakan predikat ketokohan orang alim yang hidup di kampung dengan nilai-nilai ketulusan yang tinggi. Ketulusan dalam berkhidmat kepada masyarakat yang betul-betul tanpa pamrih, kecuali hanya berharap kepada ridla Allah Swt semata. Segala aktivitas hidupnya hanya untuk mengabdi dan membina umat, untuk mengenal dan beribadah kepada Allah Swt.
Soal Ketulusan Amaliah
Meski tidak terlihat secara kasat mata tapi bisa dilihat pada perilaku sikap dan pembicaraan yang muncul dari kyai kampung. Karena memang sesungguhnya tulus ikhlas itu rahasia Allah Swt, hanya Allah dan hambaNya (Kyai Kampung) yang tahu. Ikhlas itu rahasia Allah yang Malaikatpun tidak mengerti.
Oleh karena itu makna ikhlas sebagaimana disampaikan oleh Ulama tasawuf adalah beramal ibadah hanya karena Alloh semata. Amal ibadah yang terlihat oleh mata laksana jasad dan ikhlas itu sebagai ruhnya amal. Maka amal tanpa ikhlas bagai makhluk tak bernyawa alias mati. Menyuguhkan bangkai dihadapkan Sang Raja tentu tidak punya makna atau tertolak.
Apa yang dilakukan oleh Kyai Kampung bukan ingin mendapatkan pujian dari umatnya atau mendapatkan sesuatu dalam bentuk materi. Setiap ada kematian datang mulai takziyah, mensholati, tahlil sampai tujuh hari tidak ada niatan apa apa kecuali karena mengharap ridha Allah Swt semata.
Bagi Kyai Kampung yang selama hidupnya menjadi imam rawatib di masjid tidak pernah mengharapkan pemberian finansial dari pengurus masjid.
Terus dari mana Kyai Kampung mencukupi kebutuhan hidupnya? Ada Kyai Kampung yang kesehariannya bertani dengan bercocok tanam di sawah. Ada pula yang berdagang dirumahnya yang diurus oleh Sang Istri. Ada juga yang berdagang di pasar, setiap pagi pergi ke pasar untuk jualan makanan, buah atau barang kebutuhan hidup rumah tangga. Sekian profesi yang dijalani oleh Kyai kampung tidak pernah terlibat dengan urusan perbankan.
Dengan kesederhanaan hidup mencukupi kebutuhannya dari maisyah (mata pencaharian) yang dijalani setiap hari. Cara berpakaian, tempat tinggal dan kendaraan yg dimiliki mencerminkan kesederhanaan yang tidak silau dengan kemewahan kehidupan modern.
Semua itu berangkat dari ketulusan dan keikhlasan menjalani hidup. Pola hidup zuhud yang diterapkan bukan zuhud ala Syekh Abu Hasan Asdzili tapi mengikuti manhajnya Ibrahim Ibnu Adham,Hujatul Islam Imam Ghozali dan beberapa ulama sufi lainnya yang mengedepankan kesederhanaan dan hidup bersahaja jauh dari kemewahan. ***