Secara umum, kata ayem sepadan dengan rasa nyaman, damai, aman, sentosa, teduh, rukun, dan tenang. Dalam ranah psikologis internal, ayem mencerminkan dinamika mental yang stabil; sebuah ketenangan batin, kepasrahan total, dan hilangnya konflik di dalam pikiran individu. “Mesin” psikologis inilah yang menentukan apakah seseorang bisa tetap damai atau tidak, terlepas dari seberapa kacau situasi yang sedang terjadi di sekitarnya.
Dalam kontek tasawuf, ayem diartikan sebagai kondisi thuma’ninah atau pencapaian tingkatan Nafs al-Mutma’innah, yaitu kondisi jiwa yang telah mencapai kedamaian mutlak dan kestabilan spiritual karena seluruh ruang di hatinya telah dipenuhi oleh rasa ingat kepada Allah SWT (zikrullah).
Makna ayem bagi orang Jawa sendiri merupakan kondisi batin yang damai, sebagai puncak
ketenteram batin yang tidak bergantung pada kondisi materi, melainkan pada kemampuan menyelaraskan diri dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta (manunggaling rasa) dan terbebas dari gejolak emosi negatif (kemrungsung),bebas dari gejolak nafsu meskipun situasi di luar sedang kacau.
yang menjadi muara tertinggi dari keberhasilan hidup.
Pendidikan tentang berperilaku ayem merupakan kristalisasi dari kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Jawa yang ada secara turun-temurun.
Ayem bagi penulis sendiri memiliki mana kata yang lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan. Dimana kondisi ayem bagi seseorang tentu sangat diharapkan. Sederhananya ayem dalam dunia kerja (usaha), mendidikan anak, usia tua dan beribadah.
Ayem dalam dunia Kerja, bagaimaba bekerja fokus pada melakukan kewajiban terbaik tanpa didikte oleh ambisi yang merusak ketenangan batin. Ayem Menyikapi hasil dan rezeki yang didapat
Begitu juga Ayem bersama anak dan keluarga, menjalankan ikhtiar secara maksimal, mendidik dan mengarahkan anak, tidak memaksakan ambisi atas ambisi sendiri, berusaha.merespons terhadap kegagalan yang ditemukan dalam perjalanan hidup, berusaha
Melepaskan ketergantungan, selanjutnya menitipkan masa depan anak dan keluarga seutuhnya kepada Allah Swt.
Ayem di usia yang sudah tidak muda, lebih memilih Fokus ibadah dan spiritual, atau
menemukan kesibukan ringan,
menjaga silaturahmi yang berkualitas, bersyukur atas kemandirian anak dengan melepaskan kendali penuh jalan yang ditempuhnya.
Ayem dalam Ibadah kepada Allah Swt. merupakan puncak kekhusyukan dan kepasrahan seutuhnya (tawakal) kepada Sang Pencipta. Ayem dalam tasawuf sebagai buah dari zuhud (penataan hati) dimana seseorang memainkan seni kehidupannya dalam memandang dan menggenggam dunia di tangan tanpa menaruhnya di dalam hati, sehingga jiwa manusia tetap merdeka dan tidak diperbudak oleh materi. Melihat dunia sebagai alat untuk mencapai bukan tujuan yang hendak dicapai.
Ayem didapat bila dalam beribadah menikmati setiap proses ritual yang dijalaninya, baik saat salat atau berzikir, tidak tergesa-gesa (kemrungsung) ingin cepat selesai. Pikiran ayem fokus total menghadap Allah, seolah-olah dunia di luar sana sedang berhenti berputar.
Ayem beribadah dibangun tidak bisa lepas dari Ikhlas tanpa syarat, murni karena mengharap rida Allah, bukan karena ingin dinilai salih, dermawan, atau terpandang oleh masyarakat (sepi ing pamrih).
Selanjutnya kita juga akan mendapatkan ayem dalam ibadah dan kehidulan dunia ketika Menerima takdir (Rida). Semua yang terjadi karena Allah Swt. dan yakin bahwa skenario Allah Swt lah yang terbaik untuk kehidupan dunia dan menyelamatkan di kwhidupan akhirat kelak.
Secara sederhana dari perilaku kondisi ayem merupakan kondisi psikologis yang tercipta sebagai hasil akhirnya
Psikologi Jawa Ayem
Ki Ageng Suryomentaram mengatakan ayem bukanlah pemberian dari luar, melainkan kemampuan orkestrasi internal manusia dalam mengelola keinginan-keinginannya sendiri.
Ayem menjadi ajaran orang jawa, yang penuh akan nasehat: “Ojo mburu seneng, nanging mburu ayem” (Jangan mengejar kesenangan duniawi yang candu, tetapi kejarlah ketenteraman hati).
Ki Ageng tidak hanya menjelaskan makan tentang ayem semata, tetapi juga mengajarkan bagimana ayem sebagai kedamaian batin dengan mengenali karep (keinginan) diri sendiri, dengan konsep Mulur-Mungkret (keinginan yang mengembang dan mengempis). Artinya orang dapat memyandang predikat ayem jika mampu mengendalikan karep dan tidak diperbudak oleh rasa senang yang semu.
Ayem menjadi pilar utama dalam ajaran jawa Nrimo ing Pandum (Menerima Pemberian): Sikap rida menerima segala ketetapan hidup tanpa rasa iri atau serakah, yang menjadi kunci utama jiwa yang tenang.
Sareh (Sabar dan Tenang): bagaimana menghadapi segala persoalan dengan kepala dingin, tidak tergesa-gesa (kemrungsung), dan percaya semua yang terjadi ada waktunya.
Welingeling (Ingat Asal dan Tujuan): Sebuah kesadaran bahwa hidup di dunia hanyalah mampir minum (mampir ngombe), sehingga tidak perlu terlalu ngotot mengejar duniawi.
Alon-alon Waton Kelakon (Pelan tapi Selamat): Menghargai proses hidup langkah demi langkah demi keselamatan dan kedamaian, bukan sekadar kecepatan hasil.
Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe (Ikhlas Berbuat): Bekerja dan membantu sesama dengan sungguh-sungguh tanpa mengharapkan pujian atau pamrih yang bisa mengotori hati.
Ki Ageng Suryomentaram juga mengatakan “Semua manusia di dunia ini rasa senang dan susah-nya adalah sama.” Orang kaya punya susahnya sendiri, orang miskin punya senangnya sendiri. Maka rasa ayem yang sejati lahir saat kita berhenti membandingkan nasib dan mulai terampil menonton serta mengendalikan laju keinginan di dalam dada kita sendiri. Mudah-mudahan ada manfaatnya. (*)




















