Beranda Nusantara Watak Kiyai dan Santri, “Darehdeh, Someah Hade Ka Semah”

Watak Kiyai dan Santri, “Darehdeh, Someah Hade Ka Semah”

184
Oleh DEDI ASIKIN (Wartawan Senior)

JIKA harus membanding-bandingkan dengan siapa paling enak bergaul?. Jawabannya adalah dengan kiyai dan santri. Mereka yang umumnya tinggal di pondok di pedesaan sangat ramah, bicaranya tersusun rapi dan disampaikan dalam bahasa yang lembut halus. Orang Sunda bilang mereka itu darehdeh someah hade ka semah.

Di Pondok Pesantren Darul Inayah Kampung Cipeusing, Desa Kertawangi. Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat misalnya, kami rombongan “Tour de Pasantren” yakni wartawan peliput Kemenag, diterima di gerbang pondok disambut dengan tulisan spanduk “Selamat Para Wartawan Pokja Kemenag”.

Selanjutnya kami diiring kiyai, ustadz dan semua santri berjalan menuju aula yang berjarak sekitar 100 meter, disambut suguhan drumband dengan irama qasidah ditambaj iringan musik rebana dan gecrek.

Saat itu kami merasa seolah berada di Iran atau Irak di Timur Tengah sana. Ketika acara resmi penyembuhan dan ta’aruf kami disuguhi cemilan khas kampung daerah Lembang yang kesohor sayur mayurnya

Seupan (rebus) sampeu alias singkong, rebus pisang dan seupan suuk (kacang tanah).
” Makanan ini hasil tanam para santri di kebun belakang pondok,” kata kiyai pimpinan pondok KH Asep Sodikin.

Di belakang pondok memang tersedia lahan sekitar 2 hektare yang dipenuhi tanaman sayuran sebangsa kol, timun, buncis, kacang tanah, jagung. Juga ada jamur merang.
Semua santri secara bertahap giliran kebagian tugas menanam, memelihara dan memanen produksi pertanian itu.

“Sebagian untuk dimakan seidnrii para santri, dan sisanya kalau ada, kami jual,” ucap putra tertua Kiayi Hamzah Nur Ali, S.E., didampingi istrinya Nita Karlina, S.E.
Masya Allah inilah bukti kebaikan kiyai dan santri. Ketika pamit pulang setelah disuguhi makan siang, tahu-tahu di mobil sudah teronggok 2 karung, besar berisi segala jenis sayuran. Ada kol, timun, buncis, jagung dll.

“Bilih bapa-bapa wartawan palay ngaraosan sayuran hasil tatanen para santri,” ucap kiyai Asep sambil manggut-manggut penuh hormat.

“Repot repot pak kiyai dibekelin segala,” kata beberapa wartawan
“Pami sekarung deui sae pisan,” ucap Boys Iskandar bercanda sambil melengos yang dijawab ketawa wartawan lain.

Ini;ah mungkin yang ma,amua dalam babasan Sunda, balakatriktrik balakacombrang,
beuteung bucetrik berekat meunang. Sudah perut buncit, dibekelin lagi. Inilah rezeki bertandang ke pondok pesantren, bertemu kiyai dan santri.

Wartawan juga kiyai

Ini pengalaman yang saya tulis ulang. Pengalaman menyenangkan yang tak mungkin terlupakan.

Pada hari ketiga perjalanan Tour de Pasantren, kami harus mendatangi lagi Pondok Pesantren Mansyaul Huda di Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka.
Pimpinan pondoknya seorang doktor lulussan S3 bernama Dr. Sarkosih Subki. Para santri memanggilnya Mama Oci. Gelar itu diperoleh secara otodidak.

Malam harinya dalam acara resmi ta’aruf, tiba-tiba saja pak kiyai seperti slip of thonge alias keseleo lidah. Tiba-tiba saja keluar ucapan, wartawan juga kiyai. Karuan saja kami mendadak terkesiap.

da Yanto Suprianto wartawan bertubuh kerempeng, itu kalau saja tidak ada langit-langit atap rumah yang menghalangi mungkin tubuh dia sudah melesat bagai sputnik ke luar angkasa saking kagetnya.

Sebelum kami mati bengong, pak kiyai meneruskan pidatonya.

Wartawan ‘kan men-support yang benar dan mengkritik yang tidak benar. Itu namanya amar makruf nahi mungkar. Sama seperti kiyai. Jika ada satu dua wartawan yang nakal, ‘kan tidak ada jaminan semua kiyai masuk surga.

Allah telah menutupi aib manusia secara kasat mata. Itu permintaan kita ketika duduk tasyahud. Rabighfirlii warhamni wajburni…

Banyak ulama menafsirkan wajburni itu tutuplah aibku. Dan itu sudah dikabulkan oleh Allah secara kasat mata. Dan itulah yang tidak pernah saya lupakan sampai sekarang, ucapan mama Oci bahwa wartawan juga kiyai, mengajak berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran. Amar Makruf nahi mungkar. **


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.