Beranda Nusantara Terkecoh Infiltrasi Snouck Hurgronje

Terkecoh Infiltrasi Snouck Hurgronje

154
Oleh DEDI ASIKIN (Wartawan Senior)

PEMERINTAH kolonial Belanda di Nederland kelimpungan. Dahi Raja Willem III makin sering bekernyit dan melebar saja meski rambut belakangnya tetap hitam dan lebat.
Salah satu yang menjadi persoalannya adalah Perang Diponegoro (1825-1830) telah menguras segala energi, mulai uang sampai pasukan.

Perang Jawa itu telah menghabiskan dana sebesar 20 juta gulden. Kalau diukur dengan rupiah sekarang sekitar 2.000 triliun (Rupiah). Korban manusia mencapai 15.000 orang, 8.000 tentara mancung dan 7.000 pasukan Jawa.

Yang membuat dahi Raja Willem III tambah berkerut adalah saat itu juga sedang berlangsung gerakan Pan Islamisme, yaitu gerakan islamisasi seluruh dunia yang dirancang dari Arab Saudi. Raja Willem III terpaksa minta bantuan Rektor Universitas Leiden mencari jalan keluar alias way out.
Rektor kemudian menyodorkan Doktor Christian Snouck Hurgronje. Dia itu lahir 8 Februari 1857 di Austerhout Belanda) Hurgronje adalah dosen ilmu Islam dan bahasa Arab.

Dia dipandang cocok mengingat perang di tanah jajahan (Hindia Belanda) dipicu kaum muslim dengan tokoh sentral kiyai dan santri.
Maka, awalnya Hurgronje diangkat menjadi penasihat raja urusan tanah jajahan.

Tapi karena terjadi kesulitan dalam pelaksanaan maka Hurgronje sendiri yang berangkat ke Hindia Belanda (Indonesia).
Awal 1889 ia sampai di Jeddah Arab Saudi. Disana menyatakan masuk Islam dan mengganti nama menjadi Abdul Gaffar. Tapi ia menjadi mualaf hanyalah strategi doang.

Dalam surat kepada seorang sahabatnya, Hurgronje mengaku masuk Islam supaya bisa merusak Islam dari dalam.

Dengan memahami hukum Islam dia mudah bertemu dan bergaul dengan beberapa orang ulama Nusantara yang sedang bermukim di Arab Saudi. Misalnya Syeikh Nawawi al-Bantani dari Banten, Abubakar Jayadiningrat dari Pandeglang, Hasan. Mustofa dari Garut dan Mh Thaib dari Ciamis.

Selama hampir setahun di Arab Saudi, Hurgronje sempat mnikah dengan perempuan asal Jeddah, Snouck Hurgronje meneruskan petualangannya dan sampai di Betawi akhir 1889. Ia langsung ke Ciamis menemui MhThaib yang sudah menjabat Khalifah di kabupaten Ciamis.

Sebagai mualaf yang ahli dalam Agama Islam tentu Mh Thaib menerina dengan tangan terbuka. Bahkan kemudian menjadi menantunya setelah menikah dengan putri Mh Thaib bernama Sangkana dan memperoleh lima orang anak.

Hurgronje meneruskan misi penyusupannya dengan mendatangi sejumlah kiyai di berbagai pondok pesantren di Jawa Barat khususnya di Priangan Timur. Dalam kunjungannya ia menyebarkan paham sekuler yaitu pemisahan antara agama dan negara.

Para kiyai dan ustad boleh mengajarkan agama tapi jangan mengganggu negara dan pemerintahan. Paham ini bertentangan denganSunni dan ahlussunnah wal jamaah yang sudah tumbuh di Nusantaea yang mayoritas menganut madzhab Imam Syafi’i.

Untuk sementara para kiyai menerima paham Hurgronje. Pertama karena yang menyampaikan mualaf ahli hukum Islam dan jago bahasa Arab, sementara para kiyai yang berada di kampung-kampung belum terlalu paham baik ilmu tentang Islam dan juga belum fasih bercakap bahasa Arab.

Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika mulai tumbuh paham kebangsaan dan perjuangan untuk kemerdekaan, maka paham sekuler ala Doktor Christian Snouck Hurgronje itu mulai disoal dan ditentang.

Sementara itu Snouck Hurgronje harus berangkat Aceh untuk menyelesaikan perang Aceh yang berkepanjangan. Tahun 1891Iapun berhasil menyeberang ke Aceh dan tinggaldi Kutaraja.

Tapi yang dia lakukan bukan menyelesaikan perang, justru mwngadu domba antara kelompok pejuang muslim dengan kerajaan. Dengan demikian Perang Aceh tak pernah tuntas.

Pada akhirnya setelah misi penyusupan baik di Jawa maupun di Sumatra dianggap gagal maka tahun 1906 dia dipanggil pulang ke Nederland. Disana dia membuktikan kebohongan mualafnya dan kembali memeluk agama Kristen protestan.

Hurgronje meninggal di Leiden tahun 1936 setelah sempat menikah lagi dengan perempuan disana sesama pemeluk Kristen Protestan.***


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.