SEMARANG (Aswajanews.id) – Peringatan Haul ke-10 Al Maghfurlah KH Muhamad Wahib Nyatnyono menjadi momentum bagi ribuan jamaah untuk mengenang sekaligus meneladani perjuangan beliau. Acara yang digelar di kompleks makam keluarga, Dukuh Gondang, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Rabu (27/8/2025), berlangsung khidmat dengan dihadiri para ulama, habaib, dan ribuan jamaah dari berbagai daerah.
Dalam Mauidzah Hasanah-nya, KH Ahmad Wafi Maemun atau yang akrab disapa Gus Wafi, putra dari Al Maghfurlah KH Maemun Zubair, menekankan pentingnya meneladani kehidupan para asabiqul muqoribin—orang-orang terdahulu yang dekat dengan Allah SWT.
“Menjadi orang baik bukan hanya dalam pandangan mata manusia. Kadang kita melihat seseorang sangat baik dalam bermuamalah dengan sesama, dermawan, dan sopan santun, tetapi lalai dalam ibadah. Padahal, kebaikan yang sesungguhnya adalah keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia,” tutur Gus Wafi di hadapan ribuan jamaah.
Gus Wafi menegaskan, memperingati Haul ulama tidak sekadar mengenang, tetapi juga bagian dari adab dan akhlak dalam menghormati guru serta pewaris ilmu agama.
Kehadiran Ulama dan Jamaah
Acara Haul ke-10 ini dihadiri para tokoh, di antaranya Gus Wafi, Gus Gumilang, KH Said Latif Hakim, dan KH Mahyani Ahmad. Ribuan jamaah membanjiri lokasi sejak pagi, termasuk jamaah manaqiban, jamaah tarekat, serta para santri dari lembaga pendidikan RA, MI, dan MTs Ma’arif Nyatnyono—lembaga yang didirikan langsung oleh Al Maghfurlah KH Muhamad Wahib.
Putra beliau, KH Abdul Rohman (Yai Dur) yang juga menjabat sebagai Ketua DPW FKDT Jawa Tengah, menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah dan tamu undangan.
“Alhamdulillah, para kiai dan ulama yang kami undang bisa hadir semua. Kehadiran mereka menjadi kehormatan bagi keluarga besar kami. Semoga doa dan kebersamaan hari ini menjadi wasilah keberkahan untuk Al Maghfurlah KH Wahib,” ungkap Yai Dur.
Kiprah KH M. Wahib Semasa Hidup
Semasa hidup, KH Muhamad Wahib dikenal sebagai ulama kharismatik yang menjabat Rois Syuriyah NU Ranting Nyatnyono hingga wafat pada tahun 2015. Beliau juga menjadi badal mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dengan murid dan jamaah yang tersebar luas.
Selain berdakwah, beliau aktif dalam pembangunan desa, termasuk membuka akses jalan, serta mendirikan lembaga pendidikan formal MI dan MTs Ma’arif Nyatnyono yang hingga kini menjadi pusat pendidikan agama di wilayah tersebut.
Haul ke-10 ini bukan hanya menjadi ajang mengenang sosok KH Muhamad Wahib, tetapi juga sarana memperkokoh semangat umat untuk terus menjaga ibadah, akhlak, dan perjuangan para ulama. (Red)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.