Indonesia adalah bangsa besar yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Perbedaan suku, agama, bahasa, budaya, dan tradisi bukanlah sekadar fakta sosial, melainkan identitas yang melekat pada kepribadian bangsa. Dalam konteks ini, menjaga harmoni bukan pekerjaan mudah. Upaya tersebut menuntut kesadaran kolektif, kearifan, dan kehadiran institusi sosial yang mampu merawat perbedaan agar tetap menjadi sumber kekuatan, bukan konflik. Pada titik inilah Nahdlatul Ulama (NU) hadir dan mengambil peran strategis.
Sejak kelahirannya pada tahun 1926, NU tidak hanya memosisikan diri sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan sosial dan kebudayaan masyarakat. NU tumbuh dari rahim tradisi, hidup di tengah masyarakat akar rumput, serta mengakar kuat pada realitas sosial Indonesia. Ketika banyak organisasi kehilangan relevansi karena tercerabut dari konteks sosial, NU justru bertahan dan terus berkembang karena kesadaran kolektif untuk merawat tradisi dan budaya yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Dalam era globalisasi dan disrupsi nilai yang bergerak begitu cepat, keberadaan NU menjadi semakin penting. Tantangan terhadap harmoni sosial, menguatnya politik identitas, serta arus puritanisme yang kerap menafikan kearifan lokal menuntut NU untuk kembali meneguhkan jati diri. Peran tersebut dijalankan bukan sebagai organisasi yang nostalgik, melainkan sebagai gerakan hidup yang terus beradaptasi tanpa kehilangan akar.
Salah satu kekuatan utama Nahdlatul Ulama terletak pada kemampuan membaca realitas masyarakat secara jernih dan membumi. NU memahami bahwa agama tidak hadir di ruang hampa. Ajaran Islam selalu berdialog dengan budaya, tradisi, dan konteks sosial tempat agama itu dipraktikkan. Oleh karena itu, NU tidak memandang tradisi sebagai ancaman terhadap agama, melainkan sebagai medium dakwah dan sarana merawat harmoni sosial.
Tradisi-tradisi seperti tahlilan, yasinan, selametan, haul, maulid Nabi, dan berbagai ritual sosial-keagamaan lainnya bukan sekadar praktik keagamaan, melainkan ruang perjumpaan sosial. Dalam ruang-ruang tersebut, solidaritas dibangun, empati dirawat, dan perbedaan dilebur dalam kebersamaan. NU menjaga tradisi-tradisi ini bukan karena romantisme masa lalu, tetapi karena nilai sosial dan kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.
Dalam masyarakat majemuk, pendekatan kultural semacam ini terbukti lebih efektif dalam membangun harmoni dibandingkan pendekatan yang kaku dan eksklusif. NU tidak memaksakan keseragaman, melainkan menumbuhkan kesadaran bersama bahwa perbedaan merupakan sunnatullah. Prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i‘tidal (adil) bukan sekadar jargon ideologis, tetapi nilai hidup yang dipraktikkan dalam keseharian warga NU.
Lebih jauh, NU memainkan peran penting dalam menjaga integrasi nasional. Sejarah mencatat keterlibatan NU di garda terdepan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Resolusi Jihad 1945 menjadi bukti nyata bahwa NU tidak memisahkan agama dari tanggung jawab kebangsaan. Hingga hari ini, komitmen NU terhadap Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika tetap terjaga secara konsisten.
Di tengah menguatnya narasi transnasional yang kerap bertentangan dengan nilai kebangsaan, NU hadir sebagai penyangga ideologis. NU menawarkan Islam yang ramah, kontekstual, dan selaras dengan kepribadian bangsa Indonesia. Islam yang tidak memusuhi budaya, tidak alergi terhadap perbedaan, serta tidak menjadikan agama sebagai alat konflik sosial.
Keberlangsungan NU hingga hampir satu abad bukanlah kebetulan. Kondisi tersebut merupakan hasil dari kemampuan NU untuk terus beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri. Ketika masyarakat berubah, NU tidak menutup diri. Pesantren-pesantren NU tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga membuka ruang bagi ilmu pengetahuan modern, teknologi, dan wacana global. Seluruh pembaruan tersebut tetap dijalankan dengan berpijak pada nilai-nilai tradisi dan akhlak.
NU juga bertahan karena struktur organisasi yang berlapis dan mengakar kuat. Dari pusat hingga ranting, dari kota hingga pelosok desa, NU hadir dalam kehidupan nyata masyarakat. NU bukan organisasi elitis, melainkan organisasi sosial-keagamaan yang menyatu dengan denyut kehidupan umat. Kondisi inilah yang membuat NU tidak mudah goyah oleh perubahan politik maupun arus zaman.
Dalam konteks harmonisasi masyarakat majemuk, peran NU semakin relevan ketika ruang publik dipenuhi oleh ujaran kebencian, polarisasi, dan konflik identitas. Melalui para kiai, ulama, dan warga, NU terus menyuarakan pentingnya akhlak sosial, dialog, dan persaudaraan. NU tidak memproduksi narasi permusuhan, tetapi menghadirkan narasi kesejukan dan persatuan.
Merawat tradisi dan budaya lokal juga berarti merawat memori kolektif bangsa. NU menyadari bahwa bangsa yang tercerabut dari tradisinya akan mudah kehilangan arah. Oleh karena itu, menjaga budaya lokal bukan sikap anti-modernitas, melainkan strategi kebudayaan untuk memastikan bahwa proses modernisasi berjalan tanpa menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan demikian, NU bukan hanya organisasi yang masih bertahan, tetapi organisasi yang hidup. NU berdenyut bersama masyarakat, tumbuh seiring perubahan, dan terus berikhtiar menjaga keberlangsungan hidup sosial, budaya, serta kebangsaan Indonesia.
Meneguhkan peran Nahdlatul Ulama dalam harmonisasi masyarakat majemuk bukanlah upaya glorifikasi semata, melainkan pengakuan atas kontribusi nyata yang telah dan terus diberikan NU bagi bangsa Indonesia. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, NU hadir sebagai jangkar moral dan kultural yang menjaga keseimbangan kehidupan bersama.
Dengan merawat tradisi dan budaya yang melekat pada kepribadian masyarakat Indonesia, NU membuktikan bahwa agama dan budaya bukan dua entitas yang saling meniadakan, melainkan saling menguatkan. NU mengajarkan bahwa keberagamaan yang sehat adalah keberagamaan yang menumbuhkan kedamaian, bukan kegaduhan; keberagamaan yang merawat kehidupan, bukan memecah belah.
Pada point ini saya berharap kedepan, tantangan NU tentu tidak semakin ringan. Namun, selama NU tetap setia pada akar tradisi, terbuka terhadap perubahan, dan konsisten merawat harmoni sosial, NU akan terus hidup dan relevan. NU akan tetap hadir bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai penjaga peradaban dan penyangga keberlangsungan hidup bangsa Indonesia yang majemuk. Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.
*A’isy Hanif Firdaus, S. Ag. (Mahasiswa Program Pascasarjana FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis Keislaman, LTN PCNU Kabupaten Brebes)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.































