Beranda Pendidikan Penguatan Ghirah Ahlussunnah wal Jamaah: Menjaga Marwah, Meneguhkan Arah Perjuangan

Penguatan Ghirah Ahlussunnah wal Jamaah: Menjaga Marwah, Meneguhkan Arah Perjuangan

0
Oleh: A'isy Hanif Firdaus, S.Ag., M.Pd.*

Di tengah arus zaman yang semakin kompleks, keberadaan Nahdlatul Ulama bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai kontrol sosial masyarakat dan penjaga nilai, penjaga tradisi, dan penuntun arah umat. Maka bagi seluruh pengurus dan badan otonom, amanah yang telah dimandatkan bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa manhaj Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah tetap hidup, kuat, dan tidak tergoyahkan.

Kita harus menyadari bahwa tantangan hari ini tidak selalu datang dalam bentuk yang terang. Ada upaya-upaya yang mencoba masuk secara halus membawa narasi, membungkus kepentingan, bahkan memanfaatkan ruang organisasi untuk tujuan yang tidak sejalan dengan arah gerak NU. Inilah bentuk ujian bagi kita: apakah kita cukup kuat menjaga prinsip, atau justru lengah dan memberi ruang bagi penyimpangan.

Ahlussunnah wal Jamaah bukan hanya simbol, melainkan sistem nilai yang harus dijaga dengan kesadaran penuh. Nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal harus menjadi karakter yang melekat dalam setiap gerak organisasi. Namun nilai itu tidak akan berarti tanpa ghirah semangat juang yang lahir dari pemahaman, keikhlasan, dan rasa memiliki terhadap perjuangan para ulama.

Oleh karena itu, penguatan ghirah menjadi sebuah keniscayaan. Kita tidak boleh hanya aktif secara struktural, tetapi harus hidup secara ideologis. Setiap pengurus dan badan otonom harus menjadi benteng pertama dalam menjaga arah perjuangan. Tidak mudah terpengaruh, tidak mudah diarahkan, dan tidak mudah dipecah belah.

Saya menarasikan sebagai langkah nyata:

  1. Perkuat pemahaman Aswaja An-Nahdliyah secara mendalam dan berkelanjutan.

  2. Bangun soliditas internal, karena perpecahan kecil bisa menjadi pintu masuk bagi kepentingan luar.

  3. Tegas dalam prinsip, tanpa kehilangan adab dan kebijaksanaan.

  4. Waspada terhadap setiap bentuk infiltrasi pemikiran dan gerakan, sekecil apapun.

  5. Rawat kaderisasi, agar generasi penerus memiliki fondasi yang kokoh dan tidak mudah goyah.

Hari ini Kita tidak sedang menghadapi sekadar perbedaan, tetapi potensi pengaburan arah yang bisa merusak marwah organisasi. Maka sikap kita harus jelas: tidak reaktif tanpa arah, namun juga tidak diam tanpa sikap. Kita bergerak dengan ilmu, berdiri dengan prinsip, dan melangkah dengan kebersamaan.

Menjaga marwah NU adalah menjaga kehormatan ulama itu sendiri. Menguatkan ghirah adalah memastikan perjuangan tetap berada di relnya. Dan bersikap tegas adalah bentuk tanggung jawab terhadap amanah yang kita emban.

Jika barisan ini kokoh, maka tidak akan ada kekuatan yang mampu mengacak-acak organisasi. Namun jika kita lengah, maka celah sekecil apapun bisa menjadi pintu masuk bagi kepentingan yang merusak.

Walhasil Mari kita teguhkan langkah, kuatkan barisan, dan pastikan bahwa Nahdlatul Ulama tetap berjalan pada jalan Ahlussunnah wal Jamaah bukan untuk ditarik oleh kepentingan, tetapi untuk menuntun umat menuju kemaslahatan.***

*A’isy Hanif Firdaus, S.Ag., M.Pd., Alumni Program Studi Magister FAI Unwahas Semarang, Sekretaris PRNU Kedawon, LTN PCNU Kabupaten Brebes


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.