BANDUNG (Aswajanews) – SMP Prima Cendekia Islami (PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung, kembali menggelar kegiatan unggulannya, PCI Serial Lecture, sebuah agenda bulanan yang menghadirkan guru besar, akademisi, birokrat, serta praktisi untuk memberikan kuliah umum kepada para siswa.
Pada edisi kali ini, PCI Serial Lecture menghadirkan Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus Kepala Museum Pendidikan Nasional Indonesia. Dalam kuliah umumnya yang digelar pada Senin, 26 Januari 2026, Prof. Leli memperkenalkan konsep Smart Museum kepada para siswa SMP PCI.
Dalam pemaparannya, Prof. Leli menegaskan bahwa pembelajaran dari masa lalu tidak hanya bersumber dari buku dan arsip tertulis, tetapi juga dari artefak sejarah yang tersimpan di museum. Menurutnya, museum saat ini telah bermetamorfosis dari sekadar “gudang artefak” menjadi ruang inspirasi, imajinasi, serta digitalisasi.
Salah satu contoh transformasi tersebut adalah yang tengah dikembangkan oleh Museum Pendidikan Nasional UPI. Museum ini menampilkan diorama, artefak, miniatur, hingga koleksi langka dari masa prasejarah hingga era modern. Sebagai museum pendidikan, pengunjung diajak menjelajahi evolusi pendidikan dari zaman kuno hingga modern.
“Kita tidak boleh hanya terpaku pada masa lampau, tetapi harus berorientasi ke masa depan. Museum Pendidikan Nasional menjadi bukti bahwa sejarah masa lalu dapat dinikmati dan diapresiasi untuk masa kini dan masa depan,” ujar pakar museologi asal Ciamis tersebut.
Lebih lanjut, Prof. Leli menjelaskan bahwa Museum Pendidikan Nasional UPI hadir untuk mengubah citra museum yang selama ini terkesan kuno dan hanya mengoleksi barang antik. Melalui konsep Smartcity Museum, museum diharapkan menjadi institusi yang dirindukan, menyenangkan, serta mampu menghadirkan komunikasi interaktif antara masa lalu dan masa kini di era digital.
Transformasi menuju Smart Museum dilakukan dengan pemanfaatan teknologi mutakhir untuk meningkatkan pengalaman pengunjung, pelestarian artefak, serta digitalisasi koleksi. Museum tidak lagi sekadar tempat pameran benda kuno, tetapi menjadi jembatan antara sejarah dan era digital.
Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah teknologi imersif, seperti Augmented Reality (AR) yang mampu “menghidupkan” objek statis melalui rekonstruksi digital atau pemulihan warna asli artefak. Selain itu, Virtual Reality (VR) memungkinkan pengunjung “berpergian” ke lokasi bersejarah atau ke era asal artefak berada.
Ke depan, Museum Pendidikan Nasional UPI juga akan mengintensifkan interaktivitas digital melalui layar sentuh interaktif, galeri arsip digital yang dapat diakses secara bersamaan, serta gamifikasi seperti berburu harta karun digital untuk meningkatkan keterlibatan anak-anak dan remaja.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, dalam waktu dekat Museum Pendidikan Nasional UPI akan menjalin kerja sama dengan Faculty of Archaeology Cairo University serta The National Museum of Egyptian Civilization (NMEC), museum terbesar di dunia yang menampilkan sejarah peradaban Mesir secara komprehensif.
“Kolaborasi ini diharapkan memperkaya pengembangan Smart Museum dan memperluas wawasan generasi muda terhadap sejarah dan peradaban dunia,” pungkas Prof. Leli. (red)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.































