Beranda Nusantara PBNU Sepakati Muktamar Ke-35 NU Digelar Secepatnya untuk Akhiri Konflik Internal

PBNU Sepakati Muktamar Ke-35 NU Digelar Secepatnya untuk Akhiri Konflik Internal

131

KEDIRI (Aswajanews) – Rapat Konsultasi Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama para Mustasyar PBNU yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12/2025), menyepakati penyelenggaraan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dalam waktu secepat-cepatnya. Kesepakatan ini diambil sebagai langkah konstitusional untuk menyelesaikan konflik internal yang tengah berlangsung di tubuh PBNU.

Rapat yang berlangsung pada 4 Rajab 1447 H tersebut diinisiasi oleh Syuriyah PBNU dan dihadiri langsung oleh Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU, para Mustasyar PBNU, serta sesepuh Nahdlatul Ulama.

Juru Bicara Pertemuan Lirboyo, Abdul Muid Shohib (Gus Muid), menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil melalui musyawarah yang mendalam dengan mengedepankan kemaslahatan dan keutuhan Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

“Forum sepakat bahwa jalan terbaik untuk mengakhiri polemik yang berkepanjangan adalah menggelar Muktamar Ke-35 NU sesegera mungkin. Ini merupakan ikhtiar islah demi menjaga keutuhan dan kemaslahatan Jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Muid dalam keterangan resminya.

Menurutnya, rapat konsultasi ini juga mencerminkan keprihatinan para ulama dan sesepuh NU terhadap eskalasi konflik internal PBNU yang belum menunjukkan titik temu. Oleh karena itu, muktamar dinilai sebagai forum tertinggi dan paling bermartabat untuk menyelesaikan persoalan secara organisasi.

“Keputusan ini bukan lahir secara tiba-tiba, melainkan puncak dari rangkaian musyawarah para ulama dan sesepuh NU, mulai dari pertemuan di Ploso, Tebuireng, hingga Musyawarah Kubro di Lirboyo,” tambahnya.

Gus Muid menjelaskan, pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU akan diselenggarakan oleh Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dengan melibatkan para Mustasyar PBNU, sesepuh NU, serta pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, dan kepanitiaan.

“Pelibatan para mustasyar, sesepuh, dan pengasuh pesantren dimaksudkan agar muktamar benar-benar menjadi ruang islah, persatuan, serta penguatan khidmah NU bagi umat dan bangsa,” tegasnya.

Ia berharap keputusan hasil Pertemuan Lirboyo dapat diterima dengan lapang dada oleh seluruh elemen NU dan menjadi momentum konsolidasi organisasi ke depan.

“Semangat utama yang ingin dijaga adalah persatuan. NU harus kembali solid agar dapat menjalankan peran keumatan dan kebangsaan secara maksimal,” pungkas Gus Muid.

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) kembali menghadiri pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo untuk memenuhi undangan para kiai sepuh dan Mustasyar NU. Undangan tersebut tertuang dalam surat resmi bernomor 064/A/AZM/P2L/XII/2025 yang ditandatangani Pengasuh Ponpes Lirboyo, KH M. Anwar Manshur.

“Ini merupakan bentuk ta’dzim kami kepada para sesepuh, sekaligus komitmen untuk terus membuka ruang dialog dan mencari solusi terbaik bagi jam’iyah,” ujar Gus Yahya.

Pertemuan di Lirboyo ini merupakan tindak lanjut dari rangkaian silaturahim dan musyawarah sebelumnya yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso (30 November 2025), Pondok Pesantren Tebuireng (6 Desember 2025), serta Musyawarah Kubro di Lirboyo (21 Desember 2025).
Agenda utama pertemuan bertajuk Silaturahim Bersama Mustasyar, Syuriyah, dan Sesepuh Nahdlatul Ulama ini dimulai pukul 10.00 WIB. ***


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.