Beranda Nusantara Nahdlatul Ulama Abad Kedua: Dijaga Allah, Dikuatkan Khidmah, Diberkahi Peradaban

Nahdlatul Ulama Abad Kedua: Dijaga Allah, Dikuatkan Khidmah, Diberkahi Peradaban

139
(Opini Spesial Harlah NU ke-103 Hijriyah / 100 Masehi)

Seratus tiga tahun Hijriyah dan satu abad perjalanan Masehi merupakan fase kematangan peradaban bagi Nahdlatul Ulama. Pada usia inilah NU tidak hanya diuji oleh waktu, tetapi juga oleh tanggung jawab sejarah. Melalui Doa “Allāhumma iḥfaẓ Nahdlatil ‘Ulamā’ quwwatan wa barakah” merepresentasikan keyakinan kolektif bahwa NU senantiasa berada dalam penjagaan Allah, dikuatkan dalam perjuangan dan khidmah, serta dilimpahi keberkahan dalam setiap langkahnya.

Dalam kerangka Ahlussunnah wal Jama’ah, NU berdiri di atas prinsip al-muḥāfaẓah ‘alal qadīmis ṣāliḥ wal akhdzu bil jadīdi al-aṣlaḥ yang berarti menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih maslahat. Prinsip inilah yang menjadi fondasi teologis sekaligus metodologis NU dalam merespons perubahan zaman. Penjagaan Allah (ḥifẓullāh) terhadap NU tampak dari kemampuannya merawat kesinambungan sanad keilmuan klasik, tanpa terjebak pada romantisme masa lalu ataupun gegabah menerima modernitas yang lepas nilai-nilai luhur.

Kekuatan (quwwah) NU bersumber dari nilai-nilai Aswaja yang moderat (tawassuṭ), seimbang (tawāzun), adil (i‘tidāl), dan toleran (tasāmuḥ). Nilai-nilai ini bukan jargon semata, melainkan etos hidup yang diinternalisasikan dalam praktik keagamaan dan sosial warga NU. Dalam konteks kebangsaan, tawassuṭ mencegah NU dari sikap ekstrem; tawāzun menjaga harmoni antara agama dan negara; i‘tidāl menegakkan keadilan sosial; dan tasāmuḥ merawat kemajemukan sebagai sunnatullah. Di sinilah quwwah NU menemukan maknanya: kuat dalam prinsip, lentur dalam pendekatan, dan bijak dalam tindakan.

Sementara itu, Islam Nusantara menjadi manifestasi kultural dari nilai Aswaja yang membumi. Islam Nusantara bukan Islam yang direduksi oleh lokalitas, tetapi Islam yang menjiwai kebudayaan lokal dengan nilai tauhid, akhlak, dan kemaslahatan. Sebagaimana kaidah fikih al-‘ādah muḥakkamah, tradisi dapat menjadi medium dakwah selama tidak bertentangan dengan syariat. Melalui pendekatan inilah NU mampu menghadirkan Islam yang ramah, santun, dan berkeadaban Islam yang tidak hadir dengan wajah marah, tetapi dengan keteladanan dan kebijaksanaan.

Keberkahan (barakah) NU terletak pada kesinambungan amal jama’i yang dilandasi keikhlasan. Dalam perspektif ulama Aswaja, barakah lahir dari niat yang lurus, proses yang benar, dan tujuan yang maslahat. Pesantren, madrasah, majelis dzikir, hingga gerakan sosial NU menjadi ruang-ruang keberkahan yang menumbuhkan ketahanan moral umat. Keberkahan NU juga tampak pada kontribusinya dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai dārul ‘ahdi wasy-syahādah negara kesepakatan dan kesaksian sebuah konsep kebangsaan khas NU yang berakar pada fikih siyasah dan realitas keindonesiaan.

Memasuki abad kedua, tantangan NU semakin kompleks: disrupsi digital, krisis otoritas keagamaan, polarisasi identitas, dan degradasi etika publik. Namun, nilai Aswaja dan spirit Islam Nusantara menyediakan kompas peradaban yang kokoh. Dengan ijtihād jamā‘ī, NU memiliki kapasitas untuk menjawab persoalan kontemporer tanpa kehilangan akar tradisi. Dengan khidmah yang berorientasi maslahat, NU tetap relevan sebagai penjaga umat dan bangsa.

Akhirnya, doa “Allāhumma iḥfaẓ Nahdlatil ‘Ulamā’ quwwatan wa barakah” adalah ikhtiar spiritual sekaligus kesadaran ideologis. Ia menegaskan bahwa kekuatan NU bukan pada kuantitas massa semata, melainkan pada kualitas nilai; bukan pada simbol, tetapi pada substansi khidmah. Selama NU setia pada manhaj Aswaja dan terus merawat Islam Nusantara sebagai jalan dakwah, selama itu pula penjagaan Allah, kekuatan perjuangan, dan keberkahan langkah akan senantiasa menyertai Nahdlatul Ulama.

Akhir kata, Semoga seluruh pengurus Nahdlatul Ulama, baik secara struktural diberbagai tingkatan PRNU, MWCNU, PCNU,PWNU dan PBNU maupun warga Nahdliyin kultural, senantiasa diberikan kemudahan dalam setiap urusannya, dikuatkan langkah dan hatinya, serta tetap istiqamah dan kokoh dalam berkhidmat di jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini.

Izinkan menutup opini sederhana ini dengan pernyataan yang mencerminkan arah gerak NU abad kedua yang menempatkan kemanusiaan dan perdamaian global sebagai agenda utama.

“Nahdlatul Ulama hadir untuk menjaga martabat kemanusiaan dan membangun peradaban dunia yang damai.” –
DR (H.C) KH. Yahya Cholil Staquf
Ketua Umum PBNU Masa Khidmat 2022-2027

Allāhumma waffiq abnā’a Nahḍlatil ‘Ulamā’ fī kulli mawāqi‘i khidmatihim, warbiṭ ‘alā qulūbihim, wajma‘ kalimatahum ‘alal-khair, waṣrif ‘anhumul-fitan mā ẓahara minhā wa mā baṭan. “Wallāhu a‘lam bis–ṣawāb”

Oleh: A’isy Hanif Firdaus, S. Ag. (Mahasiswa Program Magister FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis Keislaman, LTN PCNU Kabupaten Brebes)


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.