Beranda Opini MENYUSUR PINTU MABRUR

MENYUSUR PINTU MABRUR

163
Oleh: H. Dedi Asikin (Wartawan Senior)

Jemaah haji asal Majalengka sudah tiba kembali di Bandara Kertajati. Ini merupakan kloter terakhir dari rangkaian penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Sebanyak 221 ribu umat Islam dari negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia telah memenuhi panggilan Allah seraya menggemakan kalimat talbiyah: “Labbaik Allahumma labbaik. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah.”

Alhamdulillah, saya sendiri bersama istri (almh. Hj. Ai Rukmini), pada tahun 1994 mendapat kesempatan menunaikan rukun Islam yang kelima.
Ada beberapa kebetulan yang justru memperkaya pengalaman ibadah kami saat itu—kenikmatan batin yang sulit dilukiskan.

Bersama Aa Gym

Kebetulan pertama, saya satu rombongan dengan KH. Abdullah Gymnastiar, yang lebih dikenal dengan panggilan akrab Aa Gym. Saat itu, beliau baru memulai kiprahnya sebagai penceramah. Namun, talentanya sebagai juru dakwah sudah mulai tampak jelas.

Sebelum berangkat, dalam perjalanan, hingga di Tanah Suci, beliau senantiasa memberi tausiyah kepada rombongan. Saat wukuf di Arafah, Aa Gym menjadi imam dan khatib salat wukuf. Saya mulai mengagumi gaya penyampaiannya—tutur kata yang rapi, doa yang disampaikan dengan penuh penghayatan. Hampir seluruh jemaah terisak haru, minimal berlinang air mata.

Disapa Menteri

Kebetulan kedua, saya bertemu dengan Bapak Harmoko, Menteri Penerangan tiga periode, yang saat itu bertugas sebagai Amirul Hajj.
Suatu senja selepas salat Isya, beliau dan rombongan datang ke maktab kami di Aziziya, Mekkah.

Yang membuat saya terharu adalah, beliau masih mengenali saya, padahal kami sudah 11 tahun tidak bertemu.
Terakhir kali kami bertemu pada Rakernas SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar) di Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat, tahun 1982. Saya saat itu sekretaris SPS Jawa Barat dan beliau (masih) Ketua Umum PWI. Tahun berikutnya (1983), beliau diangkat menjadi Menteri Penerangan.

Begitu tiba di maktab, beliau langsung menghampiri saya, menyalami erat, bahkan cipika-cipiki. Beliau kemudian berbalik ke arah jemaah dan berkata, “Ini teman saya, wartawan dari Bandung.”

Kebanggaan saya saat itu luar biasa. Sekitar 200 jemaah yang menghuni maktab itu menjadi saksi momen hangat itu. Selama ini, tidak banyak yang tahu bahwa saya seorang wartawan, kecuali beberapa teman satu regu dari Baleendah. Bahkan ketua Kloter 182, Mohammad Alcaf (dari angkatan muda Parmusi), baru mengetahuinya saat itu—dan sejak saat itu, sikapnya menjadi lebih hormat dan bersahabat.

Saya mengenal Harun Mohammad Kohar (nama asli Harmoko) sejak tahun 1976, saat mengikuti Karya Latihan Wartawan (KLW) tingkat redaktur di Cipayung, Bogor. Kesan saya: orangnya supel, rendah hati, berjiwa pekerja keras, dan memiliki ingatan kuat. Ia memanggil semua teman dekatnya dengan sapaan “bung”, dan senang jika dipanggil dengan sapaan serupa.

Haji Nekat Chairun Nasihin

Ada juga kebetulan lain, meski tidak terlalu signifikan—satu angkatan haji dengan Chairun Nasihin, pria paruh baya dari Lamongan, Jawa Timur. Dua tahun sebelumnya (1992), ia nekat menyelinap naik pesawat Garuda Indonesia yang mengangkut jemaah haji dari Embarkasi Juanda, Surabaya.

Namun, ia ketahuan oleh pramugari saat sembunyi di kursi istirahat kru. Maka terbongkarlah identitasnya sebagai haji ilegal. Ia pun dipulangkan ke Surabaya dengan pesawat kosong dari Jeddah. Berita ini menghebohkan seantero negeri—bahkan hingga ke luar negeri.

Ternyata, dua tahun kemudian (1994), Chairun diberangkatkan secara resmi oleh Dahlan Iskan, pemimpin Jawa Pos. Bahkan dengan ONH Plus. Peristiwa itu membawa berkah tersendiri bagi Jawa Pos karena berhasil mengangkat tiras mereka secara signifikan.

Pengalaman saya selama berhaji kemudian saya tulis dalam lima seri di Harian Mandala, dengan judul: “Menyusur Pintu Mabrur.”


Haji Mabrur

Haji mabrur adalah impian semua jemaah. Doa yang umum dipanjatkan bagi calon jemaah selalu:
“Semoga hajinya mabrur.”
Saya pun menerima doa serupa dari banyak orang sebelum berangkat. Namun, dalam sisi batin, kadang doa itu justru terasa seperti beban.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW disebutkan: “Tiada balasan bagi haji yang mabrur, kecuali surga.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadits itu begitu jelas, kuat, dan penuh harap. Maka saya pun merenungi makna “mabrur” itu. Haji mabrur bukan hanya selesai secara syariat, tapi diiringi perubahan akhlak dan ibadah selepasnya.
Kajian tentang mabrur ini layak dibahas khusus dalam tulisan lain, insyaallah.


Nikmat-nikmat Kecil Tapi Dalam

Selama 40 hari berhaji, saya merasakan beberapa nikmat batin yang membekas hingga kini.

Pertama, saat antri pemeriksaan imigrasi di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, tiba-tiba lengan saya ditarik oleh seorang askar.
Dia meminta seluruh dokumen haji saya, lalu membawa saya melewati antrean panjang langsung ke ruang tunggu.
“Haji, halal!” teriaknya sambil mendorong saya masuk.

Saya sempat bingung, tapi akhirnya menyadari bahwa itu adalah pertolongan Allah—tak bisa dijelaskan, hanya disyukuri.

Kedua, doa yang mustajab.
Selama seminggu di Mekkah, saya mencari adik saya, Enung Haryati, dan suaminya (alm.) Uun Darmadi. Kami berangkat dari kloter berbeda—mereka dari Tasikmalaya, kami dari Bandung.

Karena dua minggu tak ada kabar, keluarga di Tasik resah.
Lelah mencari, akhirnya selepas Subuh saya berdoa di Multazam, tempat yang diyakini sebagai lokasi doa paling mustajab.
Sore harinya, menjelang Magrib, tiba-tiba saya melihat kepala ipar saya muncul di antara deretan jemaah yang duduk menunggu salat.

Saya berteriak: “Uuunnn!”
Dan yang terjadi setelah itu adalah pelukan haru dan tangis empat orang yang rindu—disatukan di tanah suci oleh doa.

Ketiga, saya membawa lima pasang sandal jepit, karena katanya lantai Masjidil Haram dan Nabawi sangat panas.
Nyatanya, satu pasang pun tidak sampai habis. Semua kembali ke rumah dalam kondisi utuh.

Sebaliknya, banyak jemaah yang kehilangan alas kaki dan kepanasan. Bahkan Aa Gym sempat harus digendong karena sandalnya hilang di pintu Masjidil Haram.


Jika dihitung-hitung, ibadah haji memang berat:
Lelah, capek, kadang penuh cobaan. Tapi di atas semua itu: bahagia. Bahkan membuat ketagihan.

Tanyakanlah pada siapa pun yang baru pulang haji. Hampir semua akan menjawab: “Kalau bisa, ingin kembali lagi.” ***

www.youtube.com/@anas-aswaja


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.