Beranda Nusantara Memaknai Mudik Lebaran: Silaturahmi, Pengorbanan, dan Saling Memaafkan

Memaknai Mudik Lebaran: Silaturahmi, Pengorbanan, dan Saling Memaafkan

111
Penulis : Fajar Shiddiq

Mudik Lebaran di Indonesia bukan sekadar perjalanan pulang kampung. Ia telah menjelma menjadi tradisi tahunan yang sarat makna—tentang kerinduan, kebersamaan, dan keinginan untuk kembali menyambung tali silaturahmi.

Di balik hiruk-pikuk arus mudik, tersimpan kisah-kisah haru yang menyentuh hati. Salah satunya datang dari seorang pemudik asal Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah.

Sebut saja Slamet (35), yang memilih menempuh perjalanan panjang menggunakan sepeda motor dari tempatnya bekerja di Tangerang menuju kampung halamannya. Ia tidak sendiri. Bersama istri dan anaknya yang masih balita, Slamet menembus panas terik matahari dan guyuran hujan di sepanjang perjalanan.

Bagi Slamet, mudik bukan soal kenyamanan, melainkan tentang kebahagiaan yang tak ternilai. Rasa lelah seakan terbayar lunas oleh satu tujuan sederhana: bertemu orang tua dan berkumpul kembali dengan keluarga tercinta.
“Capek pasti, tapi semua terbayar saat bisa pulang dan kumpul keluarga,” ungkapnya dengan senyum penuh harap.

Kisah Slamet menjadi potret nyata bahwa mudik adalah wujud pengorbanan sekaligus cinta. Di momen Idulfitri, perjalanan panjang itu bukan hanya soal jarak yang ditempuh, tetapi juga perjalanan hati untuk saling memaafkan.

Sejalan dengan itu, ulama kharismatik KH Hasyim Asy’ari menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai jalan keberkahan hidup.

Allah SWT berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahmi).” (QS. An-Nisa: 1)

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun tentang memaafkan, Allah SWT berfirman: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)
Dalam ayat lain ditegaskan: “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)

Hal ini sejalan dengan pesan KH Abdullah Gymnastiar, yang mengingatkan bahwa Idulfitri adalah momentum untuk membersihkan hati. “Tidak ada kebahagiaan sejati tanpa saling memaafkan. Membuka pintu maaf adalah kunci ketenangan jiwa,” ujarnya.

Lebaran pun menjadi waktu yang tepat untuk melebur kesalahan, mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang, serta menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan. Karena sejatinya, mudik bukan hanya tentang pulang ke rumah, tetapi juga kembali ke hati—menguatkan silaturahmi dan membuka pintu maaf seluas-luasnya. ***


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.