Hari raya idul fitri menjadi momentum yang paling sakral, mengikat ranting-ranting yang bercerai berai, baik disebabkan oleh dunia kerja (pekerjaan) ataupun rumah tangga (pernikahan). Menghentikan kesibukan rutinitas harian beralih kekesatuan dan persatuan keluarga, mencurahkan rasa kangen melalui silaturahmi dengan kedua orang tua dan saudara maupun teman-teman masa lalu di kampung halamannya, lewat tradisi mudik (mulih dilik) pulang sebentar.
Usai mudikpun, kembali lagi ketempat kerja dan meninggalkan kedua orang tua yang sudah tidak muda.
Orang tua yang kini ditinggal sudah terlihat keriput, rambut berubah warna dan hidupnya tidak sekuat dulu, dalam aktivitas keseharianpun memerlukan bantuan orang lain. Baik dalam mengurus diri sendiri maupun kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga sudah mulai terserang gangguan penyakit lupa.
Menjadi tua itu pasti dan kembali mudah tidak mungkin. Anak yang dulu dikandungnya, lahir didunia, hidup bersama keluarga, sekolah, bekerja dan ketika sudah menikah hidup bersama pasangnya. Menjalani siklus kehidupan yang diberikan Allah Swt. Dari awal, hidup bersama kedua orang tua bermanja-manjaan penuh suka dan cerita. Selanjutnya harus hidup bersama orang lain membangun keluarganya sendiri. Anak yang dulu selalu berada pada ketergantungan orang tua, kini harus meninggalkan keduanya. Berpisah dan kembali sesaat.
Kesendirian dalam hidup sungguh terasa berat kalau hanya direnungkan semata. Saat anak-anak masih kecil bila ia di tinggal akan menangis namun sebaliknya saat dewasa para orang tualah yang menangis tatkala ditinggal oleh anak-anaknya.
Disaat kesendirian, tidak ada yang dimintai bantuan, anak-anak tidak berada dalam satu rumah. Mereka tinggal di rumah sendiri masing-masing bersama keluarganya. Maka salah satu jalan untuk dapat membuat suasana roda rumah tangga lansia terasa hidup kembali, orang tua harus bisa mandiri disisa-sisa tenaga yang masih setia bersamanya.
Dalam kesendirian ada kemandirian yang harus dilakukan dan dijaga dengan tetap mengacu pada standar tingkat kemampuan fisik (tenaga) yang dimiliki, seperti saat membawa maupun memindahkan barang, maka harus mempertimbangkan beberapa hal; 1). Berat atau bobot barang. Hindari mengangkat, menggeser, atau membawa barang yang berat, diluar kemampuannya. Sekiranya tidak mampu membawanya maka harus rela meninggalkannya. 2). Dalam waktu bekerja, janganlah terlalu lama, menguras tenaga banyak tetapi perbanyak istirahat. 3). Dari sisi jarak tempuh, tidak terlalu jauh dalam berjalan yang akan membuat cepat capai. 4). Melihat kondisi jalan yang akan dilalui, tidak licin dan naik turun yang curam, hal ini akan berakibat membahayakan diri dalam perjalanannya.
Satu lagi sifat yang menempel pada lansia (lanjut usia) identik dengan sering lupa (demensia) suatu gangguan yang menyebabkan seseorang mengalami gejala sering lupa. Baik tentang diri sendiri maupun mengingat yang lain. Seperti lupa jalan maupun menaruh sesuatu. Hal ini disebabkan oleh penurunan memori, daya ingat dan pola pikir, perubahan sikap dan bicara, gangguan gerak dan sering berhalusinasi. Oleh karena itu buatlah pembiasaan dalam menaruh sesuatu dan piliahlah warna yang kontras dan mudah diingat pada barang yang dimilikinya.
Lansia sendiri menandakan tahap akhir dalam perkembangan dan pertumbuhan manusia yang ditandai dengan proses penuaan pada fisik, psikologis, dan psikososial. Serta memerlukan perhatian khusus terkait kesehatan serta kesejahteraan sosial.
Bagi seorang anak yang memiliki orang tua lansia diharapkan adanya pendampingan yang cukup, agar orang tua nyaman dalam memenuhi aktivitas kebutuhan keseharianya sendiri, baik makan dan minum serta yang lainnya. Bila anak masih tinggal bersama orang tua.
Apabila orang tua tinggal sendiri, sedangkan anak-anaknya sudah tidak serumah lagi. Maka diperlukan pendampingan jarak jauh, melalui komunikasi lewat dunia maya, baik telpon, WhatsApp, Fecebook maupun Vidio Call. Hal ini dilakukan untuk mengingatkan kembali keluarga dan agar orang tua tidak berada dalam kebingungan maupun kesepian.
Membangun Kemandirian
Bagi lansia dalam menuju kemandirian diperlukan persiapan dan dibuat, kemandirian bukan datang dengan sendirinya. Menjadi mandiri dapat melalui dengan pendekatan yang holistik. Mulai dari fisik, kognitif, sosial dan spiritual.
Aktivitas fisik lansia agar bisa tetap mandiri, dapat dengan cara berolah raga ringan seperti senam dan jalan santai. Agar tetap terjaga mood dan untuk mengurangi depresi. Tidak ketinggalan pula menggerakan fisik dengan membiasakan menyapu lantai rumah dan halaman, memasak sendiri dan berjalan menuju tempat ibadah untuk menjalankan sholat jamaah. Ditambah istirahat yang cukup dan asupan gizi yang seimbang pula. Sehingga Kondisi fisik tetap terjaga.
Pendekatan kognitif, melalui usaha menstimulan otak dengan aktifitas permainan yang merangsang berfikir seperti bermain catur, puzzle, teka-teki silang. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar ingatan tetap tajam. Menajamkan kognitif dapat pula melalui membaca, menghadiri pengajian (Majlis Takkim) maupun menulis atau membuat ketrampilan-ketrampilan baru dan memecahkan masalah sendiri. Dengan akal selalu diajak untuk berfikir dengan baik akan dapat mengurangi gangguan ingatan dan ketergantungan pada orang lain ketika ada masalah yang sedang dihadapi.
Dukungan sosial dan emosional, Bagaimana seminimal mungkin para orang tua kita tidak kesepian. Berusaha untuk selalu mendegarkan cerita mereka, agar merasa dihargai dan tidak sendirian. Berusaha selalu menyapa baik secara langsung maupun lewat media elektronik. Bagi orang tua sendiri diharapkan tetap berusaha aktif dalam kegiatan sosial maupun keagamaan. Sehingga masih tercipka komunikasi yang baik terhadap lingkungannya.
Memperbanyak nilai-nilai spiritual untuk menghindari post-power syndrome, mendapatkan ketenangan jiwa dan memenuhi kebutuhan aktualisasi diri mencari ridho Allah Swt. Menjalankan perintah-Nya, berdzikir, ikhlas menerima atas semua ketetappan-Nya. Sebagai penegasan terakhir dalam tulisan ini, tetaplah terus berusaha agar saat kembali kepada Sang Pencipta dalam kondisi menggapai ridho-Nya, husnul hotimah. Aamiiin. ***
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































