Beranda Nusantara KH Subhan Ma’mun: Haul Massal Menyambungkan Ruh dengan Para Leluhur

KH Subhan Ma’mun: Haul Massal Menyambungkan Ruh dengan Para Leluhur

91
KH Subhan Ma'mun

BREBES (Aswajanews) – Haul Massal bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi momentum spiritual yang menyambungkan ruh manusia yang masih hidup dengan para leluhur yang telah wafat. Hal tersebut disampaikan oleh KH Subhan Ma’mun dalam pengajian Haul Massal dan Halal Bihalal di Desa Jagalempeni Selatan, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Ahad (5/4/2026) bertepatan dengan 16 Syawal 1447 H.

Di hadapan ratusan jamaah, Pengasuh Pondok Pesantren As Salafiyah Luwungragi itu menjelaskan bahwa sedekah dan bacaan Al-Qur’an yang dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal akan sampai dan memberi manfaat bagi mereka. Ia menekankan pentingnya niat dan penyebutan dalam amalan tertentu, khususnya pada bacaan tahlil dan Al-Qur’an.

“Sedekah maupun bacaan Qur’an yang dihadiahkan kepada leluhur itu sampai kepada mereka. Hanya saja, untuk bacaan perlu disertai kalimat khusus, sedangkan infak dalam bentuk uang tidak harus disebutkan secara khusus,” ujarnya.

Lebih lanjut, KH Subhan menegaskan bahwa amal jariyah berupa infak dalam kegiatan haul memiliki nilai pahala yang utuh bagi setiap arwah yang diniatkan. Ia mengilustrasikan, jika satu rumah menginfakkan Rp30 ribu untuk sepuluh arwah, maka masing-masing tetap memperoleh pahala penuh, bukan dibagi.

“Matematika Allah tidak sama dengan matematika manusia,” tegasnya.

20CFB7E3 B73A 4F52 AAFD 1874AD6EBA59 scaled

Selain sebagai bentuk doa, Haul Massal juga merupakan wujud nyata birrul walidain atau berbakti kepada orang tua. KH Subhan mengutip ajaran dalam kitab Risalatul Qusairiyyah tentang pentingnya memuliakan orang tua, termasuk melalui sedekah yang pahalanya dihadiahkan kepada mereka.

Dalam tausiyahnya, ia juga mengisahkan pengalaman sebuah desa di Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, yang sebelumnya kerap dilanda bencana. Setelah masyarakat setempat rutin menggelar haul massal dan mengirim doa kepada leluhur, bencana tersebut tidak lagi terjadi.

“Di situlah pentingnya menyambungkan ruh dengan para leluhur. Bisa jadi di antara mereka terdapat kekasih Allah yang membawa keberkahan bagi lingkungan,” ungkapnya.

KH Subhan juga menyebut bahwa kawasan pemakaman di Jagalempeni Selatan diyakini menyimpan banyak wali Allah yang hidupnya sederhana dan tidak menampakkan kemuliaannya, namun memiliki derajat tinggi di sisi-Nya.

Kegiatan Haul Massal dan Halal Bihalal di Jagalempeni Selatan sendiri telah berlangsung sejak era 1970-an dan terus dilestarikan hingga kini. Rangkaian acara diawali dengan khataman Al-Qur’an 30 juz di mushola, masjid, dan makbaroh, dilanjutkan pembacaan arwah, serta istighotsah dan tahlil pada malam harinya.

Acara puncak turut dihadiri Sekretaris MWC NU Wanasari Akhmad Sururi, jajaran pengurus ranting NU Jagalempeni Selatan, badan otonom NU, serta tokoh masyarakat seperti H. Akhmad Sujai, H. Akhmad Junaidi, dan Kyai Akhmad Suduri. (Red/Nas)


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.