Beranda Pendidikan Jambore Literasi SD 2025 di Pangalengan, 6.000 Peserta Asah Kreativitas dan Budaya...

Jambore Literasi SD 2025 di Pangalengan, 6.000 Peserta Asah Kreativitas dan Budaya Baca

339

PANGALENGAN (Aswajanews) – Jambore Literasi 2025 yang digelar di kawasan wisata Tirta Camelia, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, menjadi ajang apresiasi sekaligus penguatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 15–17 Desember 2025 ini, diikuti sekitar 6.000 peserta dari sekolah dasar se-Kabupaten Bandung, guru PAUD, serta PKBM.

Jambore Literasi merupakan puncak dari Program Tantangan Literasi selama sembilan bulan yang digagas Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung bekerja sama dengan Komunitas Literasi Leksam Bedas (Literasi Edukasi Keluarga Sekolah, Anak, dan Masyarakat). Komunitas tersebut telah dikukuhkan oleh Bupati Bandung melalui SK Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Nomor: 421.2/2754.1-Disdik/2021.

Ketua Pelaksana Jambore Literasi 2025, Hildawati, S.Pd., M.AP, dalam laporan kegiatannya menyampaikan bahwa jambore ini bukan sekadar kegiatan berkumpul, tetapi menjadi ruang tumbuh imajinasi, kreativitas, dan pemikiran kritis peserta didik.

“Selama tiga hari, Tirta Camelia bertransformasi menjadi taman bermain literasi yang dipenuhi kata-kata, ide, buku, dan imajinasi tanpa batas. Jambore Literasi adalah pernyataan sikap bahwa literasi merupakan kunci utama membuka masa depan yang cerah,” ujar Hildawati.

Menurutnya, literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami dunia, memecahkan masalah, berpikir kritis, serta menumbuhkan empati melalui bahasa dan informasi. Selain itu, jambore menjadi ajang mengasah kreativitas, menemukan kekuatan dalam cerita dan buku, serta membangun jejaring persahabatan antar sekolah se-Kabupaten Bandung.

CBB669D1 5474 48B8 8D97 CA7E50FE52D9

Kegiatan jambore secara resmi dibuka pada hari pertama oleh Asep Kusumah, S.Sos., M.Si, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan literasi dan numerasi di lingkungan sekolah.

“Mari terus kita jaga nyala literasi dan numerasi sebagai pilar utama peradaban. Teruslah berhitung, beranalisis, dan berkarya demi kemajuan pendidikan daerah menuju Indonesia Emas,” ujarnya.

Pelaksanaan Jambore Literasi dibagi berdasarkan 10 kecamatan per hari, dengan jumlah sekitar 2.000 peserta setiap harinya. Konsep kegiatan dikemas dalam bentuk outing class, yang mendorong siswa belajar secara kontekstual dan kreatif, dilengkapi dengan pembagian hadiah serta pemberian apresiasi kepada guru dan siswa yang aktif dalam Gerakan Literasi Sekolah.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Abdul Kadir dari BBGTK Jawa Barat, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan jambore. Ia menilai kegiatan ini berkontribusi positif dalam peningkatan mutu dan kualitas pendidikan, baik bagi guru maupun peserta didik.

(Uus)


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.