Beranda Nasional Politik dan Pemerintahan Ini Fakta Bukan Mitos, Tak Lulus SR Bisa Menjadi Wakil Presiden

Ini Fakta Bukan Mitos, Tak Lulus SR Bisa Menjadi Wakil Presiden

138
Adam Malik (22 Juli 1917 – 5 September 1984) adalah seorang politikus Indonesia dan mantan jurnalis yang menjabat sebagai wakil presiden ketiga

DALAM hidup dan kehidupan selalu ada pengecualian yang tidak diketahuinya (unknown exception). Satu atau dua orang tidak sama dengan kebanyakan orang. Teu guyub, teu ilahar, kata urang Sunda mah.

Dalam hal pendidikan misalnya. Semua orang menganggap sekolah itu sebuah keniscayaan. Harus itu. Biaya sekolah anak itu masuk dalamaAPBK (Aggaran Pendapatan dan Belanja Keluarga). Tidak sekolah makan di mata umum adalah suatu aib. Maka ramai ramai-ramailah orang bersekolah, lebih tinggi sekolah dianggap lebih meningkat harga diri dan gengsinya.

SMA mo dadi opo mengko? Kuli bangunan  atau sukot? (supir angkot). D3 saja dianggap kagok gak nyampe eselon bergengsi. Kata orang Sunda mah “Kaluhur teu sirungan, kahandap teu akaran”.

Tapi kecuali yang satu ini, yang mahiwal tadi. Boro-boro jadi sarjana, sekolah dasar saja yang waktu itu namanya Sekolah Rakyat (SR) dia tidak tamat. Pernah masuk Inlandshool, sekolah untuk anak-anak Inlander anak-anak kaum terjajah, hanya sampai kelas dua.

Dia keluar. Sempat sekolah Agama di madrasah Islam Pawallin Parabek Bukittinggi. Disana cuma bertahan satu setengah tahun. Caw lagi. Kali itu dia pulkam membantu orangtuanya berdagang di kampung halaman.

Ayahnya itu Abdul Malik Batubara seorang saudagar kaya raya di Pematang Siantar Sumatera Utara. Si Mahiwal itu ketika dewasa tertarik ke bidang politik dan perjuangan kebangsaan. Ia masuk Partai Indonesia, Partindo. Dalam usia 17 tahun di sudah dipercaya menjadi ketua cabang Partindo di Pematang Siantar.

Merasa bahwa Pematang Siantar terlalu kecil dibanding misi politik dan perjuangan kebangsaannya, awal tahun 1937 dia merantau ke Jakarta. Ternyata dia itu punya minat dan bakat sebagai wartawan. Di sering menulis di koran pewarta Deli, Medan POS dan Sumut POS.

Sampai di Jskarta yang waktu itu namanya Betawi di bergabung dengan tenan teman sesama wartawan. Di luar dugaan tanggal 13 Desember 1937 bersama temannya Mr Soemanang AM ((Albert Manumpak) Sipahoetar dan Pandu Kartawiguna mendeklarasikan berdirinya Lembaga Kantor Berita (LKBN) Antara dengan nama resmi NV LKBN Antara.

Mr. Soemanang ditunjuk sebagai Direktur sementara si Mahiwal menjadi wakil seorang redaktur.

Dengan modal sebuah mesin tik dan sebuah mesin roneo Skinski serta satu stel meja yang sudah goyang kekiri goyang ke kanan kaya korban Tsunami Aceh, mereka  bekerja di Kantor pusatnya Jl Kantor Pos besar nomor 53 Menteng Jakarta.

LKBN Antara mensuplai berita-berita ke sejumlah koran di Jakarta Lalu merambah ke daerah-daerah.

Tonjok rasa congcot

Dan kemudian, si Mahiwal yang drop out dari kelas dua SR itu terus berkiprah di dunia politik.

Tahun 1959 bersama 14 tokoh perjuangan lain diangkat Presiden Sukarno menjadi duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Unie Soviet dan Polandia.

Ada cerita yang sedikit menarik soal pengangkatan menjadi ambasador itu. Presiden Sukarno mau mengembangkan politik Demokrasi dan Ekonomi Terpimpin. Tapi itu orang-orang kritis harus disingkirkan dulu sebab nanti bisa berisik kalau ada di dalem.

Maka terjadilah, 15 orang diangkat jadi Dubes dan menteri. Ada yang bercanda, sebenarnya mereka itu ditonjok tapi mereka merasa justeru dikasi congcot, itu peribahasa nasi liwet, makanan khas di tatar Sunda.

Dia, si drop out SR itu acuh beybeh dengan candaan tonjok rasa congcot itu. Toh di negara sana dia sempat merasa bahagia ketika dipanggil Mr Ambasador. Hidungnya mendadak berkembang. Kalau tak fs langit langit s saya buka saja siapa sesungguhnya si Mahiwal itu

Dia itulag si Mahimal yang tiada lain adalah Adam Malik.

Adam Malik lahir tanggal 23 Juni 1917 di Pematang Siantar. Anak ketiga dari sepuluh bersaudara dari saudagar kaya raya Abdul Malik Batubara.

Tahun 1966 sepulang dari Eropa dia diangkat jadi menteri Perdagangan. Lalu tahun 1970 ditugaskan presiden Suharto menjadi menteri Luar Negeri. Jabatan itu membuat dia terpilih menjadi ketua Majelis Umum PBB.

Dalam buku outobiografi berjudul “Adam Malik Mengabdi Republik”, di sidang umum PBB ia telah menegaskan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Dia juga berupaya membendung paham komunisme yang berembus dari Barat (Uni Soviet) dan dari Timur (Tiongkok).

Tahun 1975 Adam Malik masuk Golkar yang mendorongnya jadi ketua DPR/MPR. Dia itu memang cerdas, trengginas dan piawai berdiplomasi. Karena itu teman-temannya menjulukinya dengan sebutan “Si Kancil”.

Tahun 1978 si Kancil terpilih menjadi Wakil Presiden ketiga menggantikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang lengser keprabon.  Dan ternyata Adam Malik hanya bertahan satu periode, iapun melepas jabatan Wakil Presiden tahun 1983. Kanker liver menggerogoti tubuhnya yang sedikit kerempeng itu.

Pada tanggal 15 September 1984 malaikat Izrail mendapat Sprindik untuk menjemput si Kancil pulang ke Rahmatullah. Adam Malik pun melepas napas terakhir di Setrasari, rumah peristirahatan keluarga di Kota Bandung

Salah satu tugas yang berhasil dilakukan oleh si Kancil antara lain menyukseskan pembentukan ASEAN, suatu kekuatan di Asia Tenggara.

Sekarang tentu ditunggu Adam Malik-Adam Malik lainnya untuk membawa bangsa ini mengisi kemerdekaan sehingga bangsa ini akan lebih cepat menuju masyarakat sejahtera yang adil makmur.**

Penulis: DEDI ASIKIN (Wartawan Senior)

www.youtube.com/@anas-aswaja


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.