Setiap akhir tahun pelajaran Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) diselenggarakan kegiatan Imtihan dan Akhirus Sanah. Kegiatan tersebut menjadi tradisi yang mengakar semenjak berdirinya MDT yang dulu disebut dengan Madrasah Diniyah atau sekolah arab. Sampai sekarang tradisi tersebut masih berjalan dimana mana tepatnya pada bulan Sya’ ban.
Kata “Imtihan” artinya ujian, karena dalam kegiatan tersebut setiap murid MDT diuji satu persatu dengan naik ke panggung. Sang penguji adalah Guru MDT masing masing dengan berbagai pertanyaan yang sebelumnya sudah dihafalkan oleh murid MDT. Dulu saat Penulis belajar pengujinya dari guru MDT tetangga desa yang tidak mengajar di MDT yang menyelenggarakan kegiatan Imtihan beberapa hari setelah ujian tes tertulis.
Imtihan ini menjadi bagian uji mental dalam bentuk ujian lisan yang diperlihatkan kepada seluruh wali murid MDT. Pertanyaan di awali dengan siapa namamu, siapa ayahmu, dan dimana rumahmu dengan bahasa Arab. Setelah itu pertanyaan terkait dengan materi pembelajaran sesuai dengan kelas masing masing. Biasanya memakan waktunya yang lumayan panjang. Hal tersebut karena seluruh murid MDT dari kelas 1 sampai dengan kelas 4 diuji semua secara berurutan.

Malam hari setelah sorenya diselenggarakan Imtihan dilanjutkan dengan pengajian umum akhirus Sanah. Makannya di backdrop tertulis Pengajian Imtihan dan Akhirus Sanah. Untuk pengajian ini mendatangkan Mubaligh atau penceramah yang menyampaikan pesan-pesan keagamaan untuk wali murid dan masyarakat.
Tradisi Imtihan lahir dari Pesantren Salaf yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren tersebut. Santri santri diuji dengan bebas oleh tamu undangan yang hadir pada saat Imtihan tersebut tanpa sebelumnya memberitahukan kepada santri yang akan diuji. Beberapa Pesantren Salaf masih mempraktikkan tradisi ini meskipun dibeberapa Pesantren lain berfokus kepada pengajian Akhir Sanah atau khataman.
Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang lahir dari rahim Pesantren Salaf. Oleh karena itu tradisi Imtihanpun akhirnya menjadi tradisi MDT yang dirangkai dengan Akhirus Sanah. Sebagai penerus tradisi Pesantren, MDT mengajarkan keilmuan berbasis Pesantren.
Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi Imtihan dan Akhirus Sanah bukan hanya di MDT. Saat ini lembaga pendidikan formal SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA dan SMK juga menyelenggarakan kegiatan akhir tahun pelajaran dalam bentuk pengajian dengan judul pelepasan peserta didik.
Tradisi Imtihan dan Akhirus yang sudah mengakar perlu kita pertahankan sebagai warisan para pendahulu di lingkungan MDT. Substansi Imtihan diharapkan bisa memperlihatkan potret kompetensi lulusan MDT. Lebih dari itu pengajian akhir sanah dapat memberikan pencerahan dan motivasi kepada masyarakat terhadap pentingnya pendidikan keagamaan untuk masa depan generasi bangsa. ***
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































