Beranda Nasional Pelayanan Publik Hujan, Lumpur, dan Hari Desa di Banjarsari

Hujan, Lumpur, dan Hari Desa di Banjarsari

361

BANDUNG (Aswajanews.id) — Jumat pagi (23/1/2026), Lapangan Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, dingin dan basah. Hujan turun sejak pagi, angin sesekali menyapu lapangan. Tanah lembek, sepatu basah. Namun peringatan Hari Desa Nasional (Hardesnas) Tingkat Kabupaten Bandung tetap digelar.

Sejumlah peserta merapatkan jaket. Ada yang menggosokkan telapak tangan, ada yang menghentakkan kaki ke tanah, sekadar mengusir dingin. Payung dan jas hujan jadi pemandangan biasa. Upacara berlangsung singkat, tanpa banyak seremoni.

FA1AF8E5 2140 46BB 8237 B5A2710791C0 scaled

Bupati Bandung Dadang Supriatna berdiri sebagai inspektur upacara. Ia didampingi Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb. Di sekelilingnya, jajaran Forkopimda, pimpinan DPRD, sekretaris daerah, camat, kepala desa, serta tamu undangan lain bertahan di udara Pangalengan yang menusuk.

Dalam sambutannya, Kang DS, sapaan yang lebih sering terdengar ketimbang nama lengkapnya, tidak berpanjang kata. Ia langsung bicara soal desa.

“Desa hari ini bukan lagi penonton,” katanya. “Desa sudah jadi aktor pembangunan.”

Kalimatnya pendek. Pesannya jelas. Pembangunan, menurut dia, tidak bisa terus dilihat dari atas. Desa bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan ruang hidup yang menentukan ketahanan pangan, sosial, budaya, hingga ekonomi kerakyatan.

Peringatan Hardesnas 2026 di Kabupaten Bandung dipusatkan di Pangalengan dan dirangkai dengan Program Bunga Desa, Bupati Ngamumule Desa. Melalui program ini, pemerintah daerah membuka berbagai layanan publik di lokasi kegiatan. Sejumlah warga tampak memanfaatkan layanan administrasi kependudukan, pemeriksaan kesehatan, hingga pelayanan sosial yang dibuka sehari penuh.

Di sela kegiatan, Kang DS meluncurkan program Sapoci Kades, Sepasang Pohon Cinta Kepala Desa. Program ini mengajak para kepala desa bersama pasangan menanam dan merawat sepasang pohon di lingkungan masing-masing sebagai simbol komitmen menjaga alam.

“Mencintai desa berarti menjaga alamnya,” ujar Kang DS.

Dalam rangkaian Hardesnas ini pula, pemerintah daerah melantik pejabat kepala desa persiapan, yakni Desa Persiapan Mekarwangi di Kecamatan Pangalengan, Pandanwangi di Kecamatan Cileunyi, dan Giriwangi di Kecamatan Cilengkrang, sebagai upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Bupati Bandung juga menyampaikan capaian pembangunan desa yang menunjukkan tren positif. Saat ini, tercatat 199 desa berstatus mandiri, 69 desa berstatus maju, dan dua desa berstatus berkembang. Tidak ada lagi desa berstatus tertinggal di Kabupaten Bandung.

Menjelang sore, kegiatan Hardesnas ditutup dengan pagelaran wayang golek. Hujan masih turun tipis saat peserta mulai meninggalkan lapangan. Tapak sepatu tertinggal di tanah basah, menandai satu hari desa yang dijalani dalam dingin dan lumpur, tapi tetap selesai.

(Reporter: Uus)


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.