Beranda Nusantara Halal bi Halal PSIB : Menjalin Ukhuwah Santri dan Alumni untuk Mengembangkan...

Halal bi Halal PSIB : Menjalin Ukhuwah Santri dan Alumni untuk Mengembangkan Pikiran Nasionalisme, dari Santri untuk Negari

100
Oleh : Akhmad Sururi (Alumni PP Lirboyo angkatan Tahun 2000)

Dalam hitungan hari perhelatan akbar yang diselenggarakan oleh Persatuan Siswa Islam Brebes ( PSIB ) bersama dengan HIMASAL Kab Brebes akan berlangsung di lapangan desa Tegalreja Kec Banjarharjo Kab Brebes. Perhelatan yang berpuncak pada hari Jumat Malam Sabtu, 27 Maret 2026 M bertepatan dengan 7 Syawal 1447 H mengusung tema “Menjalin Ukhuwah Santri dan Alumni untuk Mengembangkan Pikiran Nasionalisme dari Santri untuk Negeri”.

Tema tersebut menjadi spirit perhelatan akbar yang menghadirkan ribuan alumni dan santri dalam besutan Halal bi Halal Santri dan Alumni. Barisan santri yang tergabung dalam PSIB bersama barisan alumni dalam lembaga HIMASAL (Himpunan Santri Alumni Lirboyo) menyatu dalam ukhuwah persaudaraan dalam rangka membangun peradaban di negeri. Hal tersebut tersirat dari diksi Santri untuk Negeri.

Pesan Ukhuwah Santri dan Alumni menjadi sangat penting mengingat keduanya menjadi entitas bangsa yang memiliki kekuatan membangun peradaban masa depan bangsa. Santri dan alumni menjadi garda terdepan untuk mewujudkan generasi bangsa yang berakhlak mulia sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Searah dengan hal tersebut tiga fungsi Pesantren sebagaimana termaktub dalam UU No 18 tahun 2019 tentang Pesantren, meliputi Pendidikan, Dakwah dan Pemberdayaan maka kehadiran Santri dan Alumni di tengah tengah masyarakat memiliki makna yang siginifikan. Irisan fungsi Pendidikan, santri dan alumni terdidik dengan keilmuan dan akhlak yang menyatu dalam satu tarikan nafas untuk mewujudkan generasi yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.

Menurut beberapa pakar pendidikan, Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang sampai hari ini lebih mengedepankan akhlak atau adab. Menjunjung tinggi akhlak dan adab menjadi tradisi kehidupan sehari sehari. Meskipun tradisi akhlak kepada seorang guru pernah diciderai oleh oknum tertentu akan tetapi sebagai santri tidak bisa dilepaskan dari nilai dan tradisi akhlakul karimah.

Irisan fungsi pendidikan tersebut tidak hanya berhenti di balik tembok pesantren. Ketika santri kembali ke masyarakat dan bergabung dalam barisan alumni, mereka membawa misi besar: Dakwah dan Pemberdayaan. Di sinilah letak urgensi tema “Dari Santri untuk Negeri”. Nasionalisme bagi seorang santri bukanlah jargon politik, melainkan manifestasi dari keimanan (Hubbul Wathan Minal Iman).

Namun, tantangan zaman hari ini menuntut santri dan alumni untuk lebih dari sekadar penjaga moral. Di tengah arus digitalisasi dan polarisasi pemikiran, ukhuwah yang dijalin oleh PSIB dan HIMASAL harus menjadi penawar (filter) bagi paham-paham yang mencerabut akar budaya bangsa. Santri adalah pemegang estafet pemikiran Islam moderat (wasathiyah) yang mampu berdiri tegak di atas keberagaman.

Mengembangkan pikiran nasionalisme dari bilik pesantren berarti meyakini bahwa kemajuan Indonesia tidak boleh lepas dari nilai-nilai spiritual. Alumni Lirboyo, dengan jaringannya yang luas di Kabupaten Brebes, memiliki potensi ekonomi dan sosial yang masif. Jika ukhuwah ini dikelola secara produktif, maka pemberdayaan masyarakat baik di bidang ekonomi kerakyatan maupun pendidikan karakter akan menjadi kontribusi riil yang dirasakan langsung oleh warga Brebes.

Lebih jauh lagi, ukhuwah yang terjalin antara PSIB dan HIMASAL harus bertransformasi menjadi ekosistem intelektual dan ekonomi. Di era disrupsi ini, tantangan santri bukan lagi sekadar mempertahankan tradisi, melainkan bagaimana tradisi pesantren mampu menjawab persoalan kontemporer mulai dari kemiskinan, ketimpangan akses pendidikan, hingga krisis moral di ruang digital.

Nasionalisme santri adalah nasionalisme yang solutif. Ketika alumni Lirboyo di Brebes bersatu, mereka bukan hanya sekumpulan massa, melainkan kekuatan pemberdaya. Alumnus yang terjun di dunia usaha, birokrasi, pendidikan, hingga pertanian, harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai kepesantrenan ke dalam profesionalisme mereka. Inilah esensi dari “Mengembangkan Pikiran Nasionalisme”: menjadikan nilai sholeh secara individu sekaligus muslih (membawa perbaikan) secara sosial.

Kegiatan di Tegalrejo nanti harus menjadi pemantik bagi gerakan yang lebih sistematis. Santri dan alumni harus hadir sebagai perekat sosial di tengah potensi perpecahan masyarakat. Dengan modal kemandirian yang ditempa di pesantren, santri adalah aktor utama yang mampu menggerakkan ekonomi lokal dan memperkuat ketahanan nasional dari akar rumput.

Sebagai penutup, perhelatan Halal bi Halal ini adalah janji setia santri kepada ibu pertiwi. Bahwa selama pesantren masih berdiri dan ukhuwah alumni tetap terjaga, maka api nasionalisme tidak akan pernah padam. Kita berangkat dari mengaji, untuk kemudian berbakti. Karena bagi santri, mengabdi pada negeri adalah bagian tak terpisahkan dari pengabdian kepada Sang Ilahi. ****


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.