Ungkapan qurrota a’yun bukanlah istilah asing dalam khazanah Islam. Dalam bentuk sebagai frasa yang syarat makna, doa, dan harapan mendalam orang tua kepada anak-anaknya. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt.
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
Artinya: “Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Ayat ini menunjukkan bahwa sejatinya qurrota a’yun bukan sekadar gambaran kebahagiaan emosional saja. melainkan manifestasi dari ketenangan batin, kebanggaan spiritual dan keberlanjutan nilai kebaikan dalam keluarga dan masyarakat. Generasi qurrota a’yun adalah generasi yang tidak hanya membahagiakan orang tuanya secara lahir, tetapi juga menenangkan jiwa mereka karena ketaatan, akhlak, dan kontribusi sosial anak-anaknya.
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh distraksi, krisis nilai, dan tantangan moral, harapan melahirkan generasi qurrota a’yun menjadi semakin relevan sekaligus menantang. Anak-anak hari ini tumbuh dalam realitas digital, arus globalisasi, dan perubahan sosial yang cepat. Oleh karena itu, membangun generasi qurrota a’yun tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan doa, keteladanan, pendidikan, dan lingkungan yang kondusif.
Makna Qurrota A’yun dalam Perspektif Islam
Secara bahasa, qurrota a’yun berarti “penyejuk mata”, yakni sesuatu yang membuat mata sejuk ketika memandangnya karena menghadirkan ketenteraman, kebahagiaan, dan rasa syukur. Dalam tradisi Arab, mata yang sejuk adalah simbol kebahagiaan terdalam, bukan kebahagiaan semu yang bersifat sementara.
Dalam perspektif Islam, anak disebut sebagai qurrota a’yun apabila kehadirannya semakin mendekatkan orang tua kepada Allah Swt., bukan sebaliknya. Anak yang shalih bukan hanya berprestasi secara akademik atau sukses secara materi, tetapi juga memiliki integritas moral, ketaatan ibadah, dan akhlak mulia pada akhirnya menjadi kebanggaan bukan karena status sosial, melainkan karena nilai hidup yang dipegangnya.
Dengan demikian, generasi qurrota a’yun adalah generasi yang menghadirkan kesejukan spiritual, keberkahan hidup, dan kesinambungan amal kebaikan. Rasulullah saw. menegaskan bahwa doa anak shalih termasuk amal yang tidak terputus pahalanya bagi orang tua setelah wafat. Hal ini menunjukkan betapa strategisnya peran generasi shalih dalam Islam.
Berbakti kepada Orang Tua sebagai Pilar Utama
Salah satu karakter utama generasi qurrota a’yun adalah birrul walidain berbakti kepada orang tua. Dalam Islam, berbakti kepada orang tua ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi, bahkan disandingkan dengan perintah bertauhid kepada Allah Swt. Banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa kebaikan kepada orang tua merupakan indikator utama kesalehan seorang anak.
Generasi yang berbakti kepada orang tua adalah generasi yang memahami makna pengorbanan, rasa syukur, dan adab. Mereka tidak hanya patuh secara lahir, tetapi juga menjaga perasaan, menghormati pendapat, dan mendoakan orang tua dalam setiap kesempatan. Dalam konteks kekinian, berbakti tidak selalu berarti tinggal serumah, tetapi memastikan bahwa orang tua tetap merasa dihargai, diperhatikan, dan tidak ditinggalkan secara emosional.
Sayangnya, realitas sosial menunjukkan adanya pergeseran nilai. Sebagian anak tumbuh dengan sikap individualistis, kurang empati, dan cenderung memandang orang tua sebagai beban. Fenomena ini menjadi alarm penting bahwa pendidikan akhlak dalam keluarga dan lembaga pendidikan harus diperkuat kembali. Generasi qurrota a’yun hanya dapat terwujud apabila adab didahulukan sebelum ilmu dan karakter dibangun sebelum prestasi.
Akhlak Mulia sebagai Identitas Generasi
Akhlak adalah fondasi utama dalam membangun generasi qurrota a’yun. Dalam Islam, akhlak tidak bersifat opsional, melainkan inti dari ajaran agama. Rasulullah saw. bahkan menyatakan bahwa misi utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Generasi yang shalih bukan generasi yang bebas dari kesalahan, tetapi generasi yang memiliki kesadaran moral, kemampuan mengoreksi diri, dan komitmen pada nilai kebaikan. Akhlak seperti jujur, amanah, rendah hati, tanggung jawab, dan empati harus ditanamkan sejak dini melalui keteladanan nyata, bukan sekadar nasihat verbal.
Di era media sosial, akhlak menghadapi ujian serius. Budaya pamer, ujaran kebencian, dan relativisme moral mudah menyusup ke dalam kehidupan anak-anak. Oleh karena itu, membangun generasi qurrota a’yun berarti menyiapkan anak-anak agar memiliki filter nilai, kecerdasan moral, dan keberanian untuk tetap berada di jalan kebaikan meskipun arus zaman bergerak ke arah sebaliknya.
Peran Orang Tua: Doa, Keteladanan, dan Pendidikan
Tidak dapat dimungkiri bahwa orang tua memegang peran sentral dalam membentuk generasi qurrota a’yun. Doa orang tua adalah senjata spiritual yang tidak pernah lekang oleh waktu. Doa yang tulus, istiqamah, dan disertai usaha nyata akan menjadi cahaya yang membimbing langkah anak-anak.
Namun, doa saja tidak cukup tanpa keteladanan. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Orang tua yang menginginkan anak shalih harus terlebih dahulu menunjukkan kesalehan dalam perilaku sehari-hari. Kejujuran, kesabaran, cara menyelesaikan konflik dan komitmen ibadah orang tua akan terekam kuat dalam memori anak.
Selain itu, pendidikan yang holistik menjadi kunci. Pendidikan tidak boleh dipahami semata sebagai proses akademik, tetapi juga pembinaan karakter dan spiritualitas. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bersinergi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang menumbuhkan nilai-nilai Islam secara kontekstual dan relevan.
Generasi Qurrota A’yun di Tengah Tantangan Zaman
Membangun generasi qurrota a’yun di era modern bukanlah perkara mudah. Tantangan datang dari berbagai arah: kemajuan teknologi, krisis keteladanan publik, disrupsi budaya, hingga tekanan ekonomi. Anak-anak hidup dalam dunia yang serba cepat, instan, dan kompetitif.
Namun, tantangan ini tidak boleh dijadikan alasan untuk pesimistis. Justru di tengah kompleksitas zaman, nilai qurrota a’yun menjadi semakin penting sebagai jangkar moral dan spiritual. Generasi yang shalih bukan berarti generasi yang tertinggal dari perkembangan zaman, tetapi generasi yang mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dengan nilai dan etika.
Generasi qurrota a’yun adalah generasi yang religius sekaligus rasional, berakhlak sekaligus produktif, taat beragama sekaligus kontributif bagi masyarakat. Mereka mampu menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara nilai spiritual dan tuntutan profesionalisme.
Pada akhirnya, generasi qurrota a’yun bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari ikhtiar panjang dan kesungguhan kolektif. Ia lahir dari doa yang tidak putus, keteladanan yang konsisten, pendidikan yang bermakna, dan lingkungan yang mendukung.
Harapan orang tua untuk memiliki anak yang shalih, berbakti, dan membanggakan adalah harapan yang sangat manusiawi sekaligus religius. Namun, harapan tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab dan kesadaran bahwa membentuk generasi qurrota a’yun adalah proyek peradaban, bukan sekadar urusan keluarga.
Jika setiap keluarga berkomitmen menanamkan nilai iman dan akhlak, jika setiap lembaga pendidikan menempatkan karakter sebagai inti, dan jika masyarakat menghadirkan keteladanan sosial yang baik, maka generasi qurrota a’yun bukan hanya akan menjadi doa, tetapi kenyataan yang hidup dan menghidupkan.
Meskipun pada prakteknya terkadang butuh waktu jangan sampai menyerah dan terbebankan namun tetaplah bersemangat dan jangan patah menyerah. Karena generasi inilah yang kelak tidak hanya menyejukkan mata orang tuanya, tetapi juga menyejukkan wajah bangsa dan peradaban dengan cahaya kebaikan, keteladanan, dan keberkahan.
Aamiin ya rabbal alamin
Wallahu a’lam bishowwab
*A’isy Hanif Firdaus, S. Ag. (Mahasiswa Program Pascasarjana FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis Keislaman, LTN PCNU Kabupaten Brebes)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































