Kemarin saya naik angkot dari rumah menuju pusat kota. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 10 kilometer.
Di tengah perjalanan, seorang pria naik. Sepertinya dia juga sopir angkot, hanya saja sedang tidak narik alias sedang off. Begitu naik, ia langsung mengobrol akrab dengan sopir angkot yang membawa kami. Bahasa yang mereka gunakan tentu saja bahasa “terminal”, bahasa sehari-hari para sopir yang akrab dan lugas.
Rupanya mereka sedang membicarakan pemilihan ketua organisasi sopir angkot.
“Bener moal ketua anyar téh, euy?” tanya sopir angkot.
“Teuing atuh kumaha behna,” jawab yang satunya. Artinya, dia sendiri belum tahu pasti, nanti saja lihat bagaimana hasilnya.
Lalu ia melanjutkan,
“Hese atuda milih pamimpin nu bener tur pinter mah. Ari nu pinter hungkul mah loba, ngan teu balener. Di pusatna gé kitu, pinter tapi teu balener. Korupsi wae paheula-heula.”
Sambil berkata begitu, ia melirik ke arah saya. Saya hanya tersenyum kecil tanpa berkomentar. Kebetulan saya juga sudah hampir sampai tujuan. Saya turun dan membayar ongkos lima ribu rupiah.
Di Kota Tasikmalaya, tarif angkot memang lima ribu rupiah, jauh dekat sama saja. Tarif itu naik sejak kenaikan BBM tahun 2022. Sebelumnya hanya empat ribu rupiah. Para sopir angkot sepakat menaikkan tarif menjadi lima ribu rupiah. Meski tidak ada keputusan resmi dari pemerintah daerah, masyarakat pun tampaknya tidak keberatan.
Namun yang menarik bagi saya justru ucapan sopir yang sedang off tadi. Ia mengatakan bahwa di negeri ini orang pintar banyak, tetapi tidak semuanya benar atau jujur.
Ucapan itu mengingatkan saya pada pesan dari tokoh perempuan besar Jawa Barat, Raden Dewi Sartika. Dalam perjuangannya mendirikan sekolah bagi perempuan, beliau pernah menyampaikan bahwa manusia—baik laki-laki maupun perempuan—harus memiliki lima sifat utama: cageur, bageur, bener, pinter, tur wanter.
Artinya, manusia harus sehat, baik hati, benar atau jujur, pintar, dan berani.
Nilai-nilai itu sebenarnya sejalan dengan ajaran dalam Islam. Seorang manusia, terlebih lagi seorang pemimpin, harus memiliki sifat siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas), dan tabligh (mampu menyampaikan kebenaran secara terbuka).
Dengan kata lain, kepintaran saja tidak cukup. Kepintaran harus disertai kebenaran, kejujuran, dan keberanian untuk menegakkan nilai-nilai yang benar.
Karena itu, seperti kata para sopir angkot tadi, mencari pemimpin yang pinter tur bener memang tidak selalu mudah. Tetapi justru itulah yang paling dibutuhkan oleh masyarakat dan negeri ini. ***
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































