Beranda Nusantara Belajar dari Presiden Prabowo: Demokrasi dan Misi Menemukan Pemimpin Sejati Berjiwa Pandawa

Belajar dari Presiden Prabowo: Demokrasi dan Misi Menemukan Pemimpin Sejati Berjiwa Pandawa

147
Oleh : Kamas Wahyu Amboro, S.Ag, M.Pd

Indonesia adalah negara yang dikaruniai kekayaan alam melimpah, namun ironisnya, kemakmuran tersebut belum sepenuhnya dinikmati oleh rakyat. Dalam buku Strategi Transformasi Bangsa Menuju Indonesia Emas, Prabowo Subianto membedah secara tajam akar permasalahan ini: sebuah paradoks di mana sistem demokrasi yang seharusnya menjadi alat kedaulatan rakyat, justru telah dibajak oleh kekuatan modal dan oligarki yang serakah.

Realitas Pahit Demokrasi Berbiaya Tinggi (High Cost Politics)

Tantangan terbesar demokrasi Indonesia saat ini bukanlah ketiadaan orang baik, melainkan sistem “Demokrasi Liberal” yang memaksa kontestasi politik menjadi ajang adu modal. Prabowo memberikan ilustrasi konkret dari lapangan: untuk menjadi kepala desa saja, seorang calon bisa menghabiskan hingga Rp1 miliar, sementara untuk jabatan publik yang lebih tinggi, biayanya jauh lebih fantastis.

Bahaya Laten: Dari “Kacung” hingga Penjajahan Ekonomi

Dampak dari politik uang bukan hanya korupsi, melainkan hilangnya harga diri bangsa. Ketika pemimpin terpilih karena uang terutama jika uang tersebut berasal dari kekuatan asing maka ia tidak lagi melayani rakyat, melainkan melayani penyandang dananya.

Prabowo menegaskan sikap mental yang harus dimiliki pemimpin Indonesia dengan kalimat yang sangat kuat:

“I want to be your friend. I want to be your partner, but I can not be your peon.” (Saya ingin jadi sahabatmu, tapi saya tidak mau jadi kacungmu).

Mentalitas menolak menjadi “kacung” inilah esensi dari kepemimpinan berjiwa Pandawa. Pemimpin harus berani melihat negara asing setara, bukan sebagai majikan yang bisa mendikte kebijakan dalam negeri hanya karena kita terjerat utang budi politik.

Jalan Keluar: Kembali pada Jati Diri Bangsa

Partai Gerindra, yang basis utamanya adalah petani, nelayan, dan rakyat kecil, merasakan betul beratnya melawan arus demokrasi liberal ini. Namun, menyerah bukanlah pilihan. Transformasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan syarat mutlak: kembalinya etika dalam berpolitik.

Kita membutuhkan pemimpin dengan filosofi Pandawa:

Yudhistira (Integritas): Jujur dan tidak bisa dibeli.
Bima (Keberanian): Berani berkata “tidak” pada penjajahan asing dan oligarki.
Arjuna (Kecerdasan): Memahami strategi geopolitik dan ekonomi global.
Nakula & Sadewa (Pengabdian): Setia pada rakyat kecil, bukan pada elit. ***


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.