Beranda Nasional Ekonomi, Bisnis dan UMKM Bahlil Tegaskan 2026 Indonesia Stop Impor Solar, RDMP Balikpapan Jadi Kunci

Bahlil Tegaskan 2026 Indonesia Stop Impor Solar, RDMP Balikpapan Jadi Kunci

158

JAKARTA (Aswajanews) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk menghentikan impor solar mulai tahun 2026. Kebijakan tersebut akan direalisasikan seiring beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Agenda kami pada tahun 2026 itu tidak ada impor solar lagi,” ujar Bahlil di Jakarta, Minggu (28/12/2025).

Menurut Bahlil, apabila RDMP Balikpapan telah beroperasi penuh, maka pasokan solar dalam negeri diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan nasional. Namun demikian, ia menegaskan bahwa kebijakan impor tetap bersifat situasional dan akan disesuaikan dengan kesiapan produksi dalam negeri.

“Kalau memang pasokan sudah siap, untuk apa impor? Tapi kalau belum siap dan kebutuhan mendesak, daripada tidak ada stok, ya bisa saja dilakukan sementara,” jelasnya.

Bahlil menyebut kemungkinan impor hanya akan dilakukan secara terbatas apabila pada awal 2026, seperti Januari atau Februari, pasokan dalam negeri belum sepenuhnya optimal. Namun, opsi tersebut masih dalam tahap perhitungan dan evaluasi bersama Pertamina.

Selain menyoal pasokan, Bahlil juga menegaskan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas BBM solar ke depan.
“Upayanya akan ke sana, dan akan terus kita lakukan yang terbaik,” ujarnya.

Sebelumnya, Bahlil juga telah melaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia menargetkan tidak lagi mengimpor solar mulai 2026. Target tersebut dinilai realistis berkat beroperasinya RDMP Balikpapan yang akan meningkatkan kapasitas produksi solar nasional secara signifikan.

Tak hanya mengandalkan kilang, pemerintah juga terus mendorong pengembangan bahan bakar nabati melalui implementasi kebijakan biodiesel B50. Bahlil menyebut kombinasi antara produksi RDMP dan kebijakan B50 berpotensi menciptakan kelebihan pasokan (oversupply) solar.

“Kalau ini berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin ke depan Indonesia justru bisa mengekspor solar,” pungkasnya.

(Red)


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.